Rui Naru sebenarnya capek jadi pewaris yang hidupnya diatur-atur kakeknya. Baru bahagia sebentar saja bisa pulang ke Indonesia untuk memeluk sang bunda, kakek masih saja menjadi bayang-bayang yang terus mengekangnya.
Satu-satunya hiburan buat dia cuma Nuha, cewek polos berkuncir air mancur yang diam-diam dia taksir. Setiap kali bertemu, ada saja kesan yang membuatnya kian ingin mendekat.
Makanya, waktu tahu Nuha lagi diincar dan mau dimanfaatin sama cowok narsistik paling populer di sekolah, Naru enggak bisa tinggal diam lagi. Ini saatnya dia bertindak.
Naru nekat lepas total atribut mewahnya dan menyamar masuk ke sekolah Nuha lewat jalur yayasan ibunya. Dia rela jadi cowok "biasa" demi bisa jagain Nuha dari dekat sekaligus jadi pembatas dari gangguan Dilan.
Bisa tidak Naru sukses melakukan penyamarannya tersebut sampai akhir? Apa sih yang dia cari sebenarnya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Nurhuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Bukti & Doa Terakhir
"Kalian bertiga saya tahan di sini sampai esok pagi!" bentak Muha di kalimat terakhir, suaranya menggelegar di dinding ruangan. "Jika sampai orang tua kalian tidak bisa hadir besok, kalian akan ditahan lebih lama lagi di sini!"
Seketika, mental Dika dan Bagas ciut ke dasar bumi. Jantung mereka berdegup kencang diliputi ketakutan luar biasa, sampai-sampai lutut Bagas bergetar hebat tak sanggup menopang tubuhnya. Rencana yang semula dianggap sempurna kini hancur lebur hanya dalam hitungan jam.
Bukan tanpa alasan Muha semurka itu.
Dilan membawa-bawa nama adiknya sebagai sumber segala dendam yang membara. Dia telah melangkah terlalu jauh dengan membalas dendam secara licik, memfitnah geng Nuha sebagai pelaku pengrusakan laboratorium. Namun, sepandai-pandainya dia bermain api, kebenarannya kini terungkap.
Beberapa menit sebelumnya, ruang keamanan akademi mendadak geger setelah seorang satpam menemukan sebuah flashdisk tergeletak di atas meja pos keamanan. Tak seorang pun tahu bahwa benda itu sengaja ditinggalkan Naru sesaat sebelum ia bergabung ikut jalan-jalan di Malioboro.
Begitu isi flashdisk dibuka, seluruh orang yang berada di ruang keamanan langsung terpaku. Rekaman di dalamnya memperlihatkan dengan sangat jelas aksi sabotase yang dilakukan Dilan dan kedua anak buahnya di laboratorium komputer.
Rupanya, Naru tidak hanya merekam seluruh kejadian menggunakan ponselnya. Saat Dilan dan komplotannya sibuk merusak berbagai komponen, ia diam-diam menyambungkan kembali kabel LAN CCTV yang sebelumnya diputus.
Kamera pengawas pun kembali aktif dan merekam seluruh aksi mereka tanpa disadari. Setelah semuanya selesai, kabel itu kembali dicabut agar tak menimbulkan kecurigaan.
Petugas keamanan segera mengulang tayangan kamera pengawas itu. Hasilnya sama persis dengan video yang ada di dalam flashdisk. Kedua bukti itu saling menguatkan dan membuat ruang untuk mengelak nyaris tak ada.
Namun, berbeda dengan kedua 'ekor'nya, Dilan justru mendengus remeh. "Ayolah ... jangan bawa-bawa orang tua segala," cetusnya santai. "Kalau akhirnya ketahuan, ya sudah. Gue siap tanggung jawab. Berapa sih uang ganti rugi yang kalian mau? Gue sanggup bayar sekarang juga."
Mendengar respons sombong dan meremehkan itu, urat di leher Muha mengeras. Tangannya refleks terangkat hendak melayangkan tamparan keras ke wajah Dilan.
Greb!
Yuki dengan kilat menahan pergelangan tangan sahabatnya sebelum mendarat telak, "Muha, kendalikan emosimu," tegurnya pelan namun penuh penekanan. "Kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah."
Tap ...
Tap ...
Tap ...
Langkah kaki tegap terdengar dari arah pintu. Hartono Rudi akhirnya tiba di ruangan tersebut dengan aura kepemimpinan yang amat dominan.
Melihat sosok pria berwibawa itu melangkah masuk, keangkuhan Dilan runtuh seketika. Ia menyurutkan langkahnya dengan mata membola sempurna. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya saat menyadari siapa yang berdiri di hadapannya.
Sahabat kepercayaan Daddy?
Bagaimana bisa dia ada di sini?!
Rudi menatap Dilan dengan pandangan menilai yang sangat dingin sebelum akhirnya mengalihkan perhatian ke pihak keamanan. "Bawa mereka bertiga ke kantor pusat saya dan tahan di sana malam ini. Besok pagi, saya pastikan 'Daddy' anak ini datang tanpa alasan apa pun."
Glek!
Dilan menelan ludah dengan susah payah. Titik terlemahnya telah tertembak tepat di sasaran. Dengan panik, ia kembali bersuara mencoba mengelak.
"Su-- sudah gue bilang nggak perlu bawa-bawa orang tua! Gue sanggup tanggung jawab sendiri! Gue siap bayar ganti ruginya sekarang! Beres, kan?!"
Rudi hanya melirik Dilan tipis, lalu menoleh ke arah Muha dan Yuki dengan senyum sarat makna. "Anak ini ... cuma terlalu takut sama Daddy-nya."
Seketika, tawa remeh bernada ejekan bergema halus di ruangan pemeriksaan itu, meruntuhkan sisa-sisa harga diri Dilan hingga tak berbekas.
"Cih ... anak Daddy rupanya."
Sementara malam terus bergulir di Yogyakarta untuk menyelesaikan urusan hukum Dilan yang membalikkan keadaan, keheningan justru menyelimuti perjalanan panjang rombongan siswa lainnya kembali ke Solo.
Kasus perusakan lab yang mendadak menyeret nama Dilan menjadi bahan bisik-bisik hangat sepanjang jalan, meninggalkan rasa penasaran yang besar di antara para murid.
Empat bus rombongan akhirnya tiba dan terparkir rapi di jalan sekolah dengan selamat tepat pukul sembilan malam. Satu persatu murid yang tertidur mulai terbangun dan mengemas barang bawaan mereka.
Di dalam salah satu bus, tiga anggota Kuartet Multimedia tampak kewalahan mencoba membangunkan Nuha. Gadis itu begitu lelap di kursinya, hampir seperti orang mati akibat kelelahan mental yang menguras tenaganya seharian.
Naru yang baru saja turun dari bus sebelah mendengar sedikit kehebohan itu segera melangkah menghampiri. "Biar saya yang membawanya turun," potongnya tenang.
"Heh, tunggu!" cegah Asa cepat, merentangkan tangan. "Gue seratus persen enggak percaya sama lo. Lebih baik lo jangan sok dekat-dekat sama Nuha!"
Naru menatap Asa datar, lalu memasang ekspresi meyakinkan tanpa ragu sedikit pun. "Saya ditugaskan langsung oleh kakaknya untuk menjaganya selama di sini. Kalian tahu sendiri, kan, di mana posisinya sekarang?" bohongnya begitu mulus.
Asa mundur selangkah.
Ucapan Naru ada benarnya. Tak ingin memperpanjang perdebatan di halaman sekolah yang sepi, Asa mulai bimbang.
"Coba aja dulu," bisik Sifa pelan di samping Asa. "Daripada si tukang tidur itu kebawa pulang sama Pak Sopir ke garasi bus, bisa makin berabe urusannya."
Tak lama kemudian, Naru keluar dari pintu bus dengan Nuha yang sudah berada di dalam gendongan punggungnya (piggyback). Gadis itu masih tertidur lelap tanpa terganggu sedikit pun.
"Bereskan barang-barangnya, lalu masukkan ke dalam mobil saya," perintah Naru singkat.
Glek!
Ketiga anggota Kuartet Multimedia mendadak tak berkutik. Nada bicara Naru yang sopan itu justru menyemburkan aura intimidasi yang begitu dominan. Di dalam benak mereka, muncul dua spekulasi yang saling bertabrakan: apakah cowok ini benar-benar peduli pada Nuha, atau sekadar memiliki akal-akalan tersendiri?
Tanpa menunggu lama, Naru merebahkan tubuh Nuha secara perlahan di kabin belakang mobilnya, membiarkan paha kokohnya dijadikan tumpuan kepala bagi gadis itu.
"Sudah ... barang-barangnya udah di bagasi," ujar Sifa rapi, lalu menatap Naru dengan pandangan memohon. "Tapi, tolong ... tolong dengan sangat, bawa Nuha pulang dengan selamat, ya? Jangan diapa-apain. Tolong banget ..."
"Jalan, Pak."
"Baik, Tuan," sahut sang sopir pribadi patuh, melajukan mobil mewahnya membelah kegelapan malam.
Dari tepi jalan, Sifa memperhatikan mobil itu hingga menghilang di tikungan. Ia memegang dadanya yang berdebar kencang. "Omegat ... aura anak sultannya pekat banget! Pakai dipanggil 'Tuan' segala lagi!"
"Lo jangan sampai terkecoh, Sifa!"
"Iya, iya, Asa! Cuma kagum dikit, kok!"
Berbekal alamat yang tertera di kartu identitas Nuha, mobil mewah itu akhirnya berhenti di depan sebuah pelataran rumah. Rumah itu tergolong mungil, namun memiliki gaya minimalis yang sangat rapi dan estetis.
Naru melangkah turun, berganti menggendongnya secara horizontal dengan satu lengan menopang punggung dan lengan lainnya menopang lipatan lutut. Sepasang matanya meneliti bangunan di hadapannya dengan takjub.
"Rumahnya kecil banget ..." gumamnya heran. Di dalam pikirannya, luas ruang tamu di kediaman mewahnya saja bahkan jauh lebih besar daripada seluruh luas bangunan rumah Nuha ini.
Tok! Tok! Tok!
Tak lama kemudian, pintu dibuka. Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat muda dan anggun muncul dari balik pintu. Begitu matanya menangkap sosok pemuda asing yang tengah membopong putrinya, wanita itu kaget setengah mati.
"Astaga, Nuha! Apa ... apa yang terjadi dengan putri saya?!" tanyanya panik, tangannya refleks menangkup pipi Nuha yang masih terkulai lemas di pelukan Naru.
"Dia tertidur lelap sejak di perjalanan dan sulit sekali dibangunkan," jawab Naru tenang, berbohong tipis demi menutupi fakta bahwa Nuha kelelahan. "Saya harus menaruhnya di mana?"
"Oh, Tuhan ... iya, maaf. Maaf merepotkanmu, nak," ujar sang Ibu bergegas mempersilakan masuk dengan rasa tak enak hati. "Rebahkan saja di sofa dulu, nanti biar Ibu bangunkan perlahan supaya dia pindah ke kamarnya."
Naru melirik sofa kecil di ruang tamu, lalu kembali menatap wajah polos Nuha yang terlelap di dadanya. Ia menggeleng pelan. "Bisakah saya langsung membawanya ke kamar saja, Bu? Sepertinya dia benar-benar sangat kelelahan."
"Maaf merepotkanmu sekali lagi. Kalau begitu, tolong ya, nak," sahut Ibu seraya menuntun Naru naik ke lantai dua melewati tangga yang lebarnya tak sampai satu meter.
Sesampainya di depan kamar, Ibu berkata, "Tunggu sebentar ya, Ibu buatkan minum dulu."
"Terima kasih, Bu," angguk Naru santun.
Pria itu melangkah masuk dan perlahan merebahkan tubuh Nuha ke atas ranjang berukuran single. Kasur itu begitu empuk, membuat Nuha seolah tenggelam di antara kelembutan.
"Lain kali, jangan dandan ala emo lagi, ya. Seram, aku nggak suka," bisik Naru seraya mengelus lembut pipi Nuha dengan punggung jarinya.
Dengan perlahan, ia menyelipkan buku The Golden Forest ke dalam dekapan gadis itu, lalu menarik selimut hingga menutupi dadanya.
Naru mengedarkan pandangan, menyusuri setiap sudut kamar yang sempit itu. Merekam setiap jengkal detailnya ke dalam ingatan. Ruangan itu sarat akan barang, namun tertata begitu rapi dan terasa hangat di bawah pendar lampu bernuansa oranye.
"Aku benar-benar nggak sopan sampai harus begini," gumamnya pelan. "Tapi bagiku, hanya aku yang boleh memahaminya. Aku harus mengerti segala hal tentang dia, sekecil apa pun itu."
Pandangannya tertambat pada sebuah bingkai foto yang menampilkan sosok Nuha tengah tertawa bahagia di samping ayahnya.
Naru bertumpu pada tepi meja, menunduk hingga air matanya menetes tanpa bisa ditahan. "Kakek, berikan aku kebebasan ... Aku mohon," bisiknya lirih, dipenuhi keputusasaan yang mendalam. "Aku berjanji tidak akan mengkhianatimu. Hanya satu yang kuminta ... jadikan Nuha masa depanku."
.
.
. NEXT》Bab 24. Sampai jumpa 👋
🤣🤣 Udah dibangun tegang, romantis, deg-degan, eh ditutup dengan panggilan Bambang.
🤣 malah ngajak tinggal bareng di kos biar bisa nyiksa mentalnya pelan-pelan. Musuh paling bahaya emang yang senyumnya paling kalem. 😭👌
Selama ini dia kebanyakan gaya dan ngerasa semua bisa diselesain pake duit, eh giliran nama bokapnya dibawa langsung ciut. Karma emang nggak pernah salah alamat. 😂🔥
kak nama2 tokoh mu unik2 yx ,,
lanjut kak
Kan dia suka sama Naru.