NovelToon NovelToon
Belenggu Janji Sang Penguasa

Belenggu Janji Sang Penguasa

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Mafia / Tamat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Redblue Vixx

Axel Alexander adalah pemimpin perusahaan raksasa yang dingin, tegas, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Hidupnya berubah saat Ayranza Geovan terpaksa datang padanya demi menyelamatkan usaha keluarga yang terancam bangkrut. Di mata Axel, Ayranza hanyalah tawaran yang mudah dikendalikan. Sampai pertemuan demi pertemuan membangkitkan perasaan yang tak ia inginkan. Di tengah tekanan bisnis dan ambisi besar, Ayranza harus menjaga adik‑adiknya, Angga dan Arshen Geovan, dari bahaya sekaligus melunakkan hati sang penguasa yang dikenal kejam itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Redblue Vixx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Balik Gerbang Besi

Pagi buta masih menyelimuti Milan saat mobil sedan hitam panjang berhenti tepat di depan penginapan sempit tempat Ayranza dan adik‑adiknya menginap semalam. Leonardo Rossi sudah menunggu di luar, sikapnya tetap dingin dan tepat waktu. Angga serta Arshen berjalan keluar membawa tas sederhana, wajah mereka penuh tanya dan cemas.

“Kita benar‑benar akan tinggal di sana?” tanya Arshen berbisik sambil menatap gedung‑gedung mewah yang terlihat di kejauhan.

Ayranza mengangguk pelan sambil menggenggam tangan adik bungsunya erat. “Tenang saja, yang penting kalian aman dan bisa sekolah kembali.”

Sesampainya di kediaman keluarga Alexander, gerbang besi tinggi berukir indah terbuka perlahan. Halaman luas tertata rapi dengan taman bunga musim gugur dan air mancur yang berkilau terkena sinar matahari pagi. Bangunan itu megah, berarsitektur klasik campur sentuhan modern yang mewah, namun terasa dingin dan angkuh.

Di teras utama sudah berdiri Mommy Xena Alexander. Wanita berpenampilan sempurna, pakaian berwarna lembut tapi berharga mahal, sorot mata tajam yang menilai Ayranza dari ujung kepala sampai kaki. Di sebelahnya, Daddy Xavier Alexander berdiri tegap, wajahnya serius, membawa wibawa besar seorang kepala keluarga. Axel ada di belakang mereka, bersandar di tiang pilar dengan tangan diselipkan di saku celana, tak sedikit pun tampak ramah.

“Jadi ini gadis yang kau pilih, Axel?” ucap Mommy Xena pelan, suaranya lembut namun menusuk. Ia menatap Ayranza sekilas lalu beralih ke Angga dan Arshen. “Kalian boleh masuk, tapi ingat satu hal, di rumah ini ada aturan tegas. Siapa pun yang melanggar, harus siap menerima akibatnya.”

Axel maju selangkah, berdiri tepat di samping Ayranza sehingga ia harus mendongak menatapnya. “Mulai hari ini, kalian menempati kamar di sayap timur. Leonardo akan mengantar dan menjelaskan jadwal serta larangan. Dan satu hal lagi,” suaranya turun menjadi berat, hanya terdengar oleh Ayranza, “Ingat posisimu. Kau istri kontrakku, bukan pemimpin rumah tangga. Jangan berharap lebih.”

Arshen hendak membuka mulut hendak bertanya, namun cepat ditahan Angga dengan pandangan berbisik. Mereka sadar, suasana di sini jauh lebih berat dari yang dibayangkan Ayranza kemarin.

Sore itu, setelah semuanya tertata di kamar masing‑masing, Ayranza duduk sendirian di tepi jendela kamar luasnya. Di dalam tas kecil terselip surat pendek dari Mommy Anggun yang ia bawa dari Medan: "Kuatlah, Nak. Tak ada badai yang tak berujung." Namun saat ia menatap gerbang besar yang kini terkunci rapat di bawah sana, hatinya berdesir dingin. Ia sadar, hidupnya dan adik‑adiknya baru saja masuk ke dalam dunia yang dijaga ketat oleh sang penguasa kejam. Dan tak ada yang tahu apakah mereka bisa keluar dari sana selamat pada akhirnya.

Leonardo membawa mereka ke sayap timur: lorong panjang berlantai papan berkilau, dinding berhias lukisan tua bernilai mahal. Kamar‑kamarnya luas dengan perabotan lengkap, namun sunyi dan dingin. Ayranza mendapat kamar terbesar, bersambung dengan dua kamar lebih kecil untuk Angga dan Arshen.

“Jam makan sudah ditetapkan,” ucap Leonardo sambil meletakkan selembar jadwal di meja. “Pukul tujuh pagi, satu siang, dan delapan malam. Dilarang terlambat. Kecuali ada izin tertulis dari Tuan Axel, kalian tak boleh ke sayap utama, ruang kerja, atau kolam belakang rumah.”

Angga mengerutkan dahi. “Seperti di dalam penjara saja.”

Leonardo menatapnya datar. “Di rumah ini aturan adalah hukum. Ikuti saja agar semuanya berjalan tenang.”

Setelah asisten itu pergi, Arshen langsung berlarian mengelilingi kamarnya yang penuh cahaya, sedikit melupakan rasa cemasnya. “Tempat ini besar sekali, Kak! Tidurnya pasti nyaman.”

Namun Angga tetap diam, duduk di tepi kasur sambil menatap Ayranza lekat‑lekat. “Kau yakin keputusan ini benar, Kak? Aku tak suka cara mereka memandang kita seolah kita beban.”

Ayranza mendekat, meremas bahu adiknya pelan. “Ini sementara saja, Angga. Demi utang Ayah dan biaya sekolah kalian. Aku sanggup menahan apa pun asal kalian baik‑baik saja.”

Saat sore mulai berubah jadi senja, pintu kamar Ayranza terbuka tanpa ketukan. Axel berdiri di sana, wajah kaku, matanya menyapu seluruh sudut ruangan seolah memeriksa sesuatu yang kurang.

“Besok pagi aku akan urus pendaftaran sekolah Angga dan Arshen,” katanya singkat, lalu menatap tajam ke arah Ayranza. “Tapi ada bayarannya. Mulai malam ini, kau akan hadir di meja makan kami, duduk di sebelahku, dan bersikaplah sopan layak istriku. Jangan bikin Mommy Xena atau Daddy Xavier kecewa sedikit pun.”

“Kalau mereka bertanya soal kita… apa yang harus kujawab?” tanya Ayranza hati‑hati.

Axel tersenyum tipis yang tak menghangatkan. “Kau cukup diam dan ikuti saja. Biar aku yang bicara. Ingat, Nona Geovan, mulai detik ini, nama baikku juga ikut terikat padamu.”

Ia pergi secepat kedatangannya, meninggalkan Ayranza yang kembali meremas surat kecil dari Mommy Anggun di saku gaunnya. Di luar jendela, lampu‑lampu taman mulai menyala satu per satu, menyoroti bayangan panjang gerbang tinggi yang menjebak mereka di sana.

 

Suasana hening kembali mengisi ruangan setelah langkah kaki Axel menjauh. Ayranza menarik napas panjang, berusaha menenangkan jantungnya yang berdebar. Angga dan Arshen datang mendekat, wajah mereka kembali penuh kekhawatiran.

“Kita benar‑benar tak bisa bergerak bebas ya?” tanya Arshen pelan, suaranya hilang di keheningan kamar yang luas itu.

Angga mengangguk setuju, matanya menatap kearah lorong yang gelap. “Rasanya setiap sudut rumah ini ada mata yang mengawasi.”

Ayranza merangkul kedua adiknya, berusaha tampil tegar meski hatinya bergemuruh. “Bertahanlah sebentar saja. Aku janji akan menjaga kalian. Kita lewati satu hari demi satu hari.”

Saat malam makin larut, suara jam besar di aula utama bergema perlahan: satu… dua… sampai sepuluh kali. Ayranza duduk di tepi jendela, menatap gerbang besar yang kini tertutup rapat dan dijaga ketat. Tak ada jalan keluar lain selain mengikuti aturan main Axel Alexander.

Di kejauhan, ia melihat lampu ruang kerja di sayap utama masih menyala terang. Di sanalah Axel duduk, diam‑diam memikirkan bagaimana menjaga perjanjian ini tetap berjalan tanpa celah dan tak sadar, ada rasa penasaran yang perlahan tumbuh terhadap wanita yang kini resmi menjadi istrinya.

Babak baru hidup mereka dimulai di bawah atap megah namun dingin ini, dengan janji berat dan rahasia yang belum terungkap satu per satu.

 

 

 

1
KZ2
Kenapa yang Black Eagle di hapus?
KZ2: Siap beb👍🏻
total 2 replies
Fahri Purba
smangt bossqueee.
Fahri Purba
mkanya jjur kw xavier biar gk lari binimu.
Murni Caem
🌟🌟🌟🌟🌟
Murni Caem
jahat x ferguso eh salah fabrizio ini anak² pun diracuni.
Jhony
tor cpetan hlangkan sih cindy, gedek liatny.😡
Jhony
good job👍👍
ShyLvia
smbg amat.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!