Sebuah kejadian membuat Haris yang merupakan seorang pemimpi perusahaan besar langsung hancur.
Dia kehilangan segalanya dalam satu hari dan memilih untuk mengakhiri hidupnya tapi setelah mati, dia justru menemukan kenyataan kalau orang yang selama ini dia sembunyikan mengandung anaknya.
Hamka Haris Stuart, seorang anak buta warna yang lahir dari rahim adik angkat Haris yang terus di sakiti karena hanya seorang anak dari istri kedua.
Bagaimanakah Hamka bisa menemukan warna dalam hidupnya setelah dia tahu kalau ayah yang selama ini dia panggil Daddy bukanlah ayah kandungnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Haris
"Hiks... Hiks.. mau Lyra... Kenapa Hamka nggak boleh bawa Lyra.... Hiks.. Hiks..."
Suara tangisan Hamka terdengar ke penjuru rumah Langit tapi tidak terlihat dimana Hamka berada ataupun Liam putra mereka.
"Hiks... Papa.. Hamka mau ikut papa saja" ucapnya lagi
"Cari dimana dia" bisik Langit pada Altair dan Altair juga Andromeda saling berpegangan tangan dengan mata terpejam mencari keberadaan Hamka dan Liam.
"Aaaaaaaaa ada hantu!" Teriakan juga terdengar dari arah luar rumah, dan itu terdengar dari setiap rumah yang ada di perumahan itu.
"Kalian dengar kan? Daddy akan cek keluar, kalian jaga Ola" ucap Langit
"Hiks.. hiks..." Suara tangisan anak kecil itu terdengar sangat menyayat hati, bahkan sampai sesenggukan dan terus meracau ingin membawa Lyra bersamanya.
"Ini ada apa? Kenapa setiap rumah di perumahan ini ada suara tangisan anak kecil" Tanya Vandra yang di telepon semua orang di perumahan yang mengeluh mendengar suara tangisan anak kecil di rumah mereka, tapi orangnya tidak ada.
"Itu ulah Om Haris bang, mungkin dia sakit hati karena Hamka tadi tidak kita ijinkan bawa Lyra" jawab Langit
"Lalu sekarang bagaimana?" Tanya Leo yang terus di peluk Rachel karena ketakutan
"Hiks ... Huaaaaa papa! Mereka jahat pada Hamka!"
Teriakan itu sekarang terdengar di seluruh perumahan semakin membuat semua penghuni rumah takut dan berlarian keluar rumah mereka. Mereka tidak mau masuk karena di dalam rumah hanya terdengar tangisan Hamka yang tak berhenti.
"Aduh, panggil kak Haris dong pa, Zhafran kasihan sama Delisha, dia sedang menyusui di dalam di jaga mama Tatiana" ucap Zhafran
"Masuk ke rumah kalian masing masing, jangan ada yang keluar, aku akan bicara langsung dengan Haris!" Perintah Adrian dan semuanya menurut meski masih ketakutan dengan suara tangisan Hamka yang tidak berhenti.
Setelah suasana sepi, Adrian segera memusatkan energinya untuk memanggil Haris, dia juga mengeluarkan Samen yang sekarang sudah kembali bersamanya dan tinggal di dalam berlian Hitam yang jadi hiasan cincin pernikahan Adrian yang berbentuk ular naga.
Brak.
Haris melemparkan satu pot bunga ke arah Adrian tapi di tepis Samen, Jin berwujud naga hitam yang dulu sempat ikut Rukmini, tapi kembali pada Adrian.
"Kita bicara baik baik" ucap Adrian
"Kalian membuat anakku menangis, padahal dia baru saja merasa senang sudah bisa melihat satu warna dalam hidupnya!" Bentak Haris yang muncul dengan mata merah menyala.
"Hamka Ingin membawa Lyra pulang, dia masih bayi dan belum bisa jauh dari ibunya" jawab Adrian masih terlihat tenang
"Memangnya kenapa? Kalian kan bisa meminta Hamka untuk tinggal sementara di rumah Langit! Kenapa membentaknya!" Ucap Haris tak suka
"Kami tidak bermaksud membentaknya, itu hanya reflek saat Hamka ingin mengambil Lyra dari gendongan ku, kami hanya khawatir Lyra kenapa kenapa, Hamka belum pernah menggendong bayi kan" ucap Adrian masih berusaha menenangkan Haris.
"Lepaskan amarahmu itu, kamu hanya akan menyiksa anakmu yang sedang kamu sembunyikan! Berikan dia pada kami, karena dia seorang manusia, layaknya di asuh oleh manusia!" Ucap Samen dengan suara yang menggelegar
"Aku juga mampu mengurusnya! Apalagi Ivanka sekarang punya bayi, jadi perhatiannya terbagi!" Jawab Haris
"Kamu salah, Ivanka masih mengurus Hamka, bahkan kamu juga tahu itu, kenapa kamu harus merasa Hamka kekurangan perhatian, dia mendapatkan semua perhatian dari keluarga, kami juga keluarganya kan" bujuk Adrian lagi
"Aku mempercayakan anakku untuk kalian jaga, tapi kalian malah membuatnya menangis!" bentak Haris kembali menyerang Adrian tapi terus ditahan Samen.
"Maafkan kami, kami tidak bermaksud menyakiti hati Hamka" ungkap Adrian dan Haris sedikit melembut.
"Opa.. kasihan para penghuni perumahan ini, maafkan mereka ya, mereka tidak bermaksud membentak Hamka" ucap Liam menggenggam tangan Haris, karena tiba tiba dia ada di belakang Haris
"Bagaimana kamu bisa kembali kesini? Opa belum mengijinkan kamu pulang" Tanya Haris
"Hamka yang ajak pulang, katanya Lyra menangis karena rindu dia" jawab Liam
"Hamka pulang sendiri?" Tanya Haris sedikit melembutkan suaranya.
"Iya, Hamka sudah tidak menangis lagi, ayo bertemu Hamka dan adik Liam" jawab Liam menuntun tangan Haris agar lebih tenang.
"Bersihkan energi jahat dari perumahan ini" ucap Adrian dan Samen segera melesat ke setiap penjuru perumahan, Bahkan masuk ke setiap rumah untuk membersihkan energi jahat yang berasal dari Aura Haris.
"Dia berbahaya" ucap Samen ketika dia selesai membersihkan perumahan itu dari energi jahat Haris
"Dia hanya arwah yang tak bisa pulang, tertahan karena sekarang Hamka belum bisa melihat warna" jawab Adrian meminta Samen kembali dan dia akan memastikan Haris tidak melukai keluarga Langit.
Saat Adrian masuk ke dalam, ternyata Hamka sudah duduk sambil menggendong Lyra dengan pengawasan Safira dan Vania, bahkan Hamka terus tersenyum pada Lyra, senyuman pertamanya sejak dia lahir ke dunia, anak tanpa ekspresi itu sekarang memperlihatkan rasa bahagianya di depan semua orang untuk pertama kalinya.
"Kalian sambil makan ya" bujuk Langit menyuapi Hamka dan Liam
"Maafkan kami ya Hamka, kami tidak bermaksud membentak kamu tadi" ungkap Sagara mengusap rambut Hamka.
"Iya" jawabnya mengangguk masih terus tersenyum ke arah Lyra yang sedang menatapnya juga.
"Ini wana apa?" Tanya Hamka yang masih sesenggukan membuat Aurora merasa kasihan.
"Putih, ini kain berwarna putih" jawab Safira pada kain yang di jadikan selimut penutup tubuh Lyra
"Hamka tahu dua warna sekarang" ucap Hamka mendongak dan tersenyum pada Haris.
Haris merasa bahagia karena sekarang anaknya sudah bisa melihat dua warna dalam hidupnya, Haris kemudian menghilang dari sana setelah mengecup kening Hamka dan Lyra karena kemarahannya belum hilang dan dia tidak mungkin memperlihatkan kemarahannya di depan Hamka.
"Lyra, nanti kak Hamka akan ajak Lyra bermain ya, kita juga akan menikah nanti" celetuk Hamka membuat semua orang saling tatap.
"Kenapa?" tanya Hamka dengan wajah datarnya dan mata berkaca-kaca.
"Tidak.. Tidak kenapa napa, kamu di panggil Lyra lagi tuh" jawab Langit yang tidak mau Hamka menangis lagi dan Haris kembali marah.
"Kalau senyum Hamka telnyata tampan sekali, kamu kalah" ledek Kalingga pada Liam.
"Diam cadel" kesal Liam langsung di injak Kalingga yang merasa kesal.
"Hamka, lihat ke sini nak biar mommy foto kalian berdua" panggil Ivanka yang senang anaknya bisa tersenyum tapi saat handphone miliknya mengambil gambar Hamka, wajah Hamka kembali datar membuat Ivanka menghela nafasnya panjang.
"Sabar, Hamka mungkin butuh waktu yang lama untuk bisa punya banyak ekspresi dan mengenal warna" bujuk Lucas.