*DI BARENGI PERBAIKAN*
Serena adalah seorang gadis yatim piatu tomboy yang pintar beladiri. saat bekerja ia tak sengaja melihat novel diatas meja. karna tertarik Serena pun membacanya
Namun saat bangun dari tidurnya dipagi hari dirinya berada ditempat yang sangat asing untuk dirinya.
apa yang sebenarnya terjadi pada Serena?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Agustina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Mood Serena memburuk ketika dirinya bertemu Lucas. Ia sama sekali tak memiliki semangat untuk mencari Izen lagi. Pencarian ia serahkan sepenuhnya pada soul magicnya Luna.
Kakinya melangkah entah kemana. Dirinya mengikuti kemana saja kaki kecilnya membawanya. Tanpa sadar kakinya membawanya ketempat di dekat hamparan air biru luas yakni laut. Kerajaan Mediteran memang dibangun di dekat wilayah perairan laut sekitar satu km dari tepi laut.
Dirinya berada di tebing dengan hamparan bungan dandelion dan bunga soba yang mendominasi lahan hijau itu. Daun Semanggi turut meramaikan suasana hamparan tanah yang luas itu. Rumput paling tinggi hanya sebatas perut Serena saja. Selebihnya hanya setinggi kaki dibawah lutut.
Sangat indah dan terlihat terawat walau sebenarnya tidak ada yang merawat hamparan itu. Alam lah yang merawat ini semua. Keindahan yang bisa ia nikmati adalah hasil kerja keras alam.
"Indahnya kenapa aku tak pernah tau kalau di sini ada tempat seindah ini. Udaranya pun sangat bersih. Berbeda dengan duniaku dahulu."
Serena berjalan ke tengah tengah hamparan. Ada satu pohon yang berjarak sekitar lima meter dari ujung tebing. Pohon itu sangat rindang. Dibawah pohon tak ada satupun rumput yang tumbuh. Seperti seseorang sering ketempat itu.
Bahkan ada sepasang ayunan kayu dan seorang wanita yang sedang duduk di salah satu ayunan itu. Wanita itu menghadap kelaut. Rambutnya berwarna panjang hampir menyentuh tanah.
Serena memberanikan diri memanggil gadis itu. Dengan modal nekat Serena duduk di salah satu ayunan di samping gadis itu. Gadis itu tak merespon bahkan tak menyadari keberadaan Serena.
"Permisi."
Gadis itu tersentak ketika mendengar suara Serena. Gadis itu menoleh menampakkan iris keemasan yang tampak mengintimidasi. Bajunya berwarna ungu tanpa alas kaki.
"Apa aku sangat mengganggu? Aku bisa pergi jika kau merasa tidak nyaman."
"Tidak. Aku hanya sedikit terkejut tak ada seorang pun yang mengunjungi tempat ini selain tuanku dan Helios"
"Ah. Maaf tadi aku tersesat sehingga aku sampai kemari. Namaku Serena."
"Kau bisa memanggilku Ru Ai."
"Ru Ai? Itu terlalu sulit di ucapkan, bagaimana kalau Ai saja?"
"Terserah dirimu.”
Suasana hening menyelimuti keduanya. Tak ada yang berniat membuka pembicaraan. Mereka asyik terhanyut dalam pikiran masing masing sambil menatap lautan. Ru Ai melirik Serena.
"Sihir kegelapan?"
"Ah iya. Aku pengendali sihir kegelapan."
"Kau tidak takut mengendalikannya?”
"Sedikit. Aku awalnya memang sedikit takut karena kebanyakan pengguna sihir kegelapan sering dijauhi. Tapi sekarang sudah tidak papa aku terima saja toh aku tak bisa merubah apa pun."
"Ya. Kau benar pada akhirnya kita harus hidup dibawah takdir. Kita tak bisa memilih apa yang kita inginkan."
Ru Ai menunduk memandang tanah dibawah kakinya. Ia terlihat seperti memikul beban yang berat dan tak mampu ia tanggung sendiri.
"Tempat ini cukup menenangkan untukku jadi hampir setiap hari aku kesini menghabiskan waktu sendiri."
"Apa kau tidak merasa kesepian?"
"Sangat. Tapi aku sama sekali tak punya teman di sini. Karna terikat sumpah dan janji aku tak bisa meninggalkan kekaisaran Mediteran
Aku harus melindungi semua keluarga kekaisaran. Walau itu artinya aku harus membunuh adikku sendiri."
"Apa maksudmu? Kau bukan manusia? Siapa kau sebenarnya?"
"Kau bertanya banyak sekali. Aku jawab satu satu mulai dari pertanyaan terakhir. Sekali lagi perkenalkan aku Ru Ai pelindung kekaisaran Mediteran. Aku memang bukan manusia tapi siluman ular.
Mereka memanggilku pelindung pelindung kerajaan. Karena aku pelindung kerajaan, aku harus terlibat segala peperangan. Dan aku harus melawan pelindung kerajaan musuh yang tak lain adalah adik perempuanku Ru Bai."
"Aku... aku tak tau masalahmu sungguh berat."
"Aku tak memintamu mengerti. Manusia walau tidak banyak, namun sedari awal memanglah makhluk egois, kasar dan tamak."
"Kau benar. Dari semua kenyataan dan cerita di dongeng apapun makhluk paling serakah adalah manusia.”
"Kau tidak marah maksudku kau juga seorang manusia."
"Tidak. Karena aku pun merasakan hal yang sama. Terkadang aku malu sebangsa dengan mereka, sedikit menyakitkan untuk dikatakan."
Mereka tertawa bersama. Serena memegangi perutnya karena sakit sedangkan Ru Ai mengusap air mata di sudut matanya yang berair karena tertawa.
"Kau benar benar manusia yang aneh."
"Ku ambil sebagai pujian. Oh ya Ai kau bilang kau tak punya teman. Apa aku boleh menjadi teman pertamamu?"
"Huh. Aku ini monster. Sungguh lucu juga aku berteman dengan manusia. Terlebih manusianya seorang gadi kecil."
"Aku bukan gadis kecil."
Serena merengut. Dirinya dibilang gadis kecil. Di kehidupan yang lalu ia adalah seorang gadis yang dewasa. Hal itu hanya di tanggapi kekehan oleh Ru Ai.
"Jika ingin menjadi temanku jangan terkejut melihat wujud asliku."
Serena mengangguk mantap. Ru Ai berdiri dari ayunan. Ia berdiri beberapa langkah di depan Serena duduk.
Angin datang membentuk angin puyuh mengelilingi Ru Ai. Ekor ular berwarna merah muncul dari dalam angin. Angin perlahan memudar. Tampak tangan lentik dengan kuku yang cukup panjang. Pada jari jarinya tersemat beberapa cincin emas dengan rantai kecil menjuntai.
Serena melongo melihat perubahan Ru Ai. Bahkan Serena hampir tak berkedip. Sungguh halyang tak terduga.
"Inilah wujud asliku. Kau takut sekarang?"
susah di mengerti....
SEMOGAAA AJAAA CUMA KARENA HIATUS 1 TAHUN
selalu di nanti nih ceritanya.
bingung sumpah banyak teka-tekinya