karya pertama ini sedikit tidak layak untuk di baca, takutnya kalian baca malah jadi pening kepala 😅
"kamu itu hanya istri keduaku, jadi jangan banyak bertingkah"
perasaanku hancur seketika mendengar ucapan suami ku sendiri.
mengapa takdir seolah ingin mempermainkan ku.
apa istri pertama nya tau bahwa suaminya telah menikah lagi, bagaimana perasaan nya kalau tau suaminya telah menikah dengan ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riska Almahyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
memilih
pagi itu Laras terbangun dengan rasa sakit di seluruh bagian tubuhnya karena tertidur di sofa.
Laras berjalan ke meja makan dengan wajah bantalannya. melihat suami dan madunya sedang menikmati sarapan mereka.
Laras duduk di meja makan memperhatikan rambut suami dan madunya yang basah.
"kalian pamer sekali padaku, sengaja tidak mengeringkan rambut" batin Laras kesal.
Laras mengambil dua potong roti dan mengoleskan selai coklat di atasnya.
hatinya sakit melihat Danu yang membersihkan selai di ujung bibir bila.
"kalau makan pelan-pelan biar tidak belepotan" ucap Danu perhatian.
dengan sengaja Laras memakan rotinya tidak beraturan agar selainya menempel di bibirnya, berharap Danu akan membersihkan bibirnya seperti yang dia lakukan pada bila.
"aku tunggu kamu di kamar" ucap mas Danu pada bila sambil mengelus puncak kepala bila dengan lembut.
Laras memajukan bibir kesal melihat Danu yang berjalan pergi meninggalkan meja makan tanpa memperhatikan nya.
"ini mba tisu" ucap bila menyodorkan satu kotak tisu.
Laras merasa bahwa bila sedang mengejeknya dengan menyodorkan tisu ke hadapan nya.
"tidak perlu" jawab Laras singkat dan berlalu dari meja makan.
Laras berjalan ke kamarnya untuk melaksanakan mandi pagi. setelah selesai mandi ia duduk memandangi ponselnya melihat wallpaper foto pernikahan nya dengan Danu setitik air mata turun begitu saja, Laras merasa tidak kuat menjalani ini semua, meminta cerai pun ia tidak sanggup bukan hanya karena anak di perutnya yang butuh sosok ayah, Laras juga ingin pernikahan utuh, ia hanya berharap bila akan pergi dari Danu.
kepalanya pusing memikirkan itu semua, Laras menelpon Bima.
"halo mas" panggil Laras saat telponnya tersambung.
"iya ada apa Laras"
"Laras ingin bertemu boleh?'
"oke mas jemput yah"
"iya mas, nanti aku kirim alamat nya" Laras menghela nafas panjang.
Laras butuh teman berbagi, seseorang yang mau mendengarkan keluhan nya.
betapa terkejutnya Laras saat sampai di tempat ruang tv melihat suami dan madunya itu sedang berciuman.
"tolong ya jangan seenaknya seperti ini, kalian tidak tinggal berdua di rumah ini" bentak Laras tidak suka.
Danu melepaskan pagutan mereka. menatapku dengan tatapan yang tidak bisa ku artikan.
"kamu mau kemana?" Danu bertanya.
"aku keluar sebentar" Laras menjawab singkat dan berjalan keluar.
sesampainya di luar gerbang Laras melihat mobil Bima sudah terparkir di sana, dengan cepat Laras masuk ke mobil.
"maaf ya mas lama" ucap Laras tidak enak hati.
"gak papa ko..... kita mau ke mana?" tanya Bima sambil menyalakan mobilnya.
"kemana aja terserah mas, aku tidak pernah pergi ke mana-mana selama di sini" Laras berusaha tersenyum menutuli rasa sakitnya melihat kejadian barusan.
"tempat seperti apa yang kamu mau?" tanya Bima kembali sambil fokus menyetir.
"tempat yang tidak terlalu ramai" jawab Laras serak menahan air matanya, namun gagal air mata sialan itu turun begitu saja.
Bima memperhatikan Laras yang terisak di sebelahnya.
"kenapa kamu menangis seperti ini....apa kamu tidak bahagia dengan pernikahan mu?, padahal aku selalu berusah untuk mengikhlaskan kamu dengan pria lain,
tapi melihat kamu seperti ini aku tidak tega... rasanya aku ingin egois dan merebut mu kembali ke dalam pelukanku" batin Bima berusaha fokus menyetir sambil sesekali melirik ke arah Laras.
Bima mengambil tangan Laras yang berbeda di pangkuannya, menggenggam tangan Laras erat untuk memberi sedikit pada mantan kekasih nya. Laras membalas pegang an Bima dengan begitu eratnya.
dengan berat hati Bima melepaskan tangannya mengelus jilbab Laras penuh sayang.
Bima menghentikan mobilnya, keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Laras, menuntut Laras perlahan sampai di kursi taman yang cukup sepi karena ini hari kerja.
"sebenarnya apa yang terjadi ras, tolong cerita kan" pinta Danu sambil menggenggam tangan Laras.
Laras mentap mata Bima terlihat pancaran kemarahan dari wajahnya.
tangis nya pecah saat mengingat semua kejadia dua hari ini di rumah barunya.
"da..da..Danu mas" ucap Laras terbata sambil menghapus air matanya.
"ada apa dengan suamimu?" tanya Bima tidak sabaran.dia menikah dengan wanita lain " ucap Laras sedikit meninggi di ikuti tangis yang terdengar menyayat hati Bima.
"brengsek" batin Bima kesal.
"dan kami tinggal satu atap bersama" Laras mencoba mengeluarkan rasa sakit hatinya pada Bima.
"bahkan pagi ini aku memergoki mereka" ucapan Laras terhenti karena rasa sakit yang menghujam dadanya.
"berciuman" lanjut Laras dengan suara lirihnya.
Bima membawa Laras ke pelukannya, mengusap punggung Laras perlahan, mencoba menenangkan mantan kekasihnya itu.
Laras cukup lama menangis di pelukan Bima menumpahkan semua rasa sakit hatinya, sampai baju Bima basah karena air mata.
Bima membersihkan wajah Laras yang basah karena air mata dengan tangganya.
menatap mata sendu Laras, hidungnya memerah.
di tatap seperti itu oleh Bima Laras hanya bisa tersenyum kikuk, Laras menundukan kepalanya karena malu.
"rasanya aku ingin egois saat ini" batin Bima.
Bima turun dari duduknya. dan berjongkok tepat di depan Laras.
Laras terkejut bukan main melihat Bima yang berjongkok di depannya.
"mas" panggil Laras dengan lirih.
"aku mohon kembali lah dengan ku ras, tinggal kan pria brengsek itu, aku akan merawat kamu dan anak yang ada di perut mu, aku berjanji akan menyanginya seperti anak kandung ku"
Laras bangkit dari duduknya, mengangkat tangannya Bima untuk mengikuti Laras yang berdiri. setelah Bima berdiri Laras memeluk nya dengan erat.