Selama sua tahun, Kiara menjalin hubungan dengan Vino, hubungan mereka berjalan dengan sangat baik, bahkan sampai bertunangan. Namun tiga bulan terakhir semua perhatian Vino beralih kepada wanita bernama Shela. Wanita yang katanya adalah keponakan Vino yang baru datang. Kiara meredam cemburu, menelan kekecewaan, dan terus percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya.
Namun, pengorbanan ada batasnya. Kebohongan yang terus dikemas rapi akhirnya terkuak saat Kiara menemukan fakta bahwa kedekatan Vino dan Sheila melampaui ikatan keluarga yang selama ini digembar-gemborkan. Di titik itulah Kiaramenyadari, dia bukan sekadar dikhianati, melainkan tak pernah benar-benar dijadikan yang utama.
Tanpa amarah yang meledak-ledak, Kiara memilih meletakkan kembali seluruh perasaannya. Dia mengembalikan semua kenangan dan melangkah pergi. Saat Vino akhirnya tersadar dan mencoba mengejar, Kiara hanya menyisakan satu kenyataan dingin. Masa berlaku cintanya telah habis, dan tidak ada kesempatan kedua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kiara 23
Vino menyandarkan kepalanya yang berdenyut hebat pada lingkar kemudi. Suara deru hujan yang menghantam kaca depan bertabrakan dengan bisikan gila di dalam kepalanya sendiri. Rasa penyesalan itu meremas dadanya begitu kuat hingga ia harus membuka mulut lebar-lebar hanya untuk meraup sedikit udara.
Dengan telapak tangan yang memerah dan gemetar, ia menatap cincin di genggamannya. Ingatan malam itu berputar kembali, menghantamnya tanpa ampun.
"Kenapa, Vin? Kenapa harus datang malam itu?!" raungnya pada diri sendiri di dalam mobil yang sepi.
"Dia cuma pura-pura... Kamu tahu dia cuma pura-pura!"
Di dalam benaknya, percakapan telepon malam itu di koridor rumah sakit terulang kembali setiap kata, setiap nada suara Kiara yang lembut namun jebakan yang jujur, kini terasa seperti sembilu.
'Mas lagi di mana?' tanya Kiara lewat telepon malam itu, suaranya tenang tanpa curiga.
'Mas... Mas masih di kantor, Ra. Ada urusan penting mendadak sama klien luar kota yang harus selesai malam ini juga,' sahut Vino waktu itu, berpaling sedikit dari ruang rawat Shela.
'Benar di kantor, Mas? Nggak lagi di tempat lain?' Kiara memberikan satu kesempatan terakhir. Kesempatan emas yang sia-sia.
'Iya, Sayang. Mana mungkin Mas bohong? Udah ya, Mas lanjut kerja dulu. Kamu cepat tidur. Besok Mas jemput,'
Vino memukul lingkar kemudi dengan kepalan tangannya berulang kali.
"Bohong... Kamu malah milih bohong, Vino gila! Padahal Kiara ada di sana... Dia nungguin kamu jujur!"
Ia ingat betul bagaimana Shela tersenyum samar dari atas ranjang rumah sakit tepat setelah ia menutup telepon dari Kiara.
'Makasih ya, Mas Vin... Cuma kamu yang peduli sama aku. Kalau kamu nggak datang, aku nggak tahu harus minta tolong sama siapa lagi di kota ini,' bisik Shela malam itu dengan nada lemah yang dibuat-buat, memegang jemari Vino.
'Udah, Shel. Kamu fokus istirahat aja. Aku bakalan di sini sampai kondisi kamu membaik,' jawab Vino malam itu, merasa bangga menjadi pria yang dibutuhkan.
"Pahlawan kesiangan..." bisik Vino dengan tawa sumbang yang pecah menjadi isakan.
"Kamu bukan pahlawan, Vin. Kamu cuma cowok tolol yang mau dibodohi air mata palsu!"
Kini bayangan wajah Pak Dimas, Papanya, kembali terngiang. Kata-kata pedas yang diucapkan dengan mata memerah itu terus terngiang di telinganya.
'Kamu pikir kamu kasihan sama Shela, Vino?! Kamu cuma takut kenyamananmu terganggu! Kamu tukar wanita sekelas Kiara, wanita yang mau terima kamu apa adanya demi manipulasi murah dari wanita yang bahkan kamu tahu sendiri bagaimana dia dan ibunya pandai memanipulasi segala situasi. Dan sampai saat ini spertinya kamu tak juga sadar dengan kebohanmu,!'
"Papa benar..." rintih Vino, menenggelamkan wajahnya di antara kedua tangannya. "Papa benar... Aku yang merusak semuanya."
Ponselnya yang tergeletak di jok sebelah, dengan layar yang retak berat akibat ia lempar sebelumnya kembali bergetar. Sebuah notifikasi pesan dari Shela tampak menyala samar di antara pecahan kaca:
'Mas Vino, kenapa nggak bales pesan aku? Kenapa kamu diam saja? Tolong kesini aku takut Mas... Perawat juga jutek semua karena aku belum bayar uang rumah sakit... Kamu kesini ya, mas... Aku tak tahu harus minta tolong pada siapa lagi... Aku sepupu kamu...'
Melihat pesan itu, Vino merasakan gelombang mual dan kemarahan yang amat sangat. Ia menyambar telepon pintar yang hancur itu, membukanya dengan paksa, lalu mengetik balasan dengan jemari yang tremor parah.
“Jangan pernah hubungi aku lagi, Shela. Jangan pernah muncul di depan mukaku lagi. Kamu puas sekarang? Hidupku hancur! Dan ini semua karena aku terlalu bodoh pernah peduli sama kamu! Bayar sendiri uang rumah sakitmu! Aku sekarang tak punya apa-apa. Aku gelandangan di usir oleh papa dan semua fasilitasku sudah di tarik!"
Tanpa menunggu balasan, Vino memblokir nomor baru Shela lagi dan menyimpan ponselnya kembali. Dia kembali menarik cincin pertunangan Kiara ke bibirnya, mencium permata dingin itu sambil meratapi nasibnya sendiri.
"Masa berlaku cintaku untuk kamu sudah habis..." suara Kiara kembali terngiang. Begitu dingin, begitu tuntas.
"Ra... Maafin Mas, Ra..." bisik Vino dalam kesendirian malam yang legam.
"Mas yang habisin masa berlaku itu... Mas yang buang kesempatan dari kamu... Tolong kembalikan Kiara yang dulu, Tuhan... Tolong... Aku sangat mencintai Kiara... Aku tak mau kehilangan Kiara..."
Namun tidak ada jawaban. Hanya suara hujan yang terus turun, menemani seorang pria yang baru menyadari bahwa ia telah menukar permata sejati dalam hidupnya demi sekerikil kepalsuan.
Malam semakin melarut, namun tidak ada kegelapan yang lebih pekat daripada kehampaan di dalam kepala Vino. Di dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan sepi, napasnya memburu. Pikirannya buntu, panik, dan rasa frustrasi yang luar biasa menyergapnya dari segala arah. Ia memukul kemudi, meremas rambutnya, lalu mengerang keras meluapkan amarah pada dirinya sendiri.
"Gila! Aku gila!" cerocos Vino seorang diri, suaranya parau dan bergetar hebat.
"Gimana bisa semuanya hancur dalam satu malam?! Gimana caranya aku perbaiki ini semua?!"
Ia menyalakan kembali ponselnya yang retak, mengabaikan puluhan pesan masuk dari Shela, dan dengan nekat mencoba menelepon nomor Kiara.
'Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.'
Vino mencoba lagi. Sekali. Dua kali. Lima kali. Tetap suara mesin otomatis yang menjawabnya. Rasa frustrasi itu membuatnya hampir meledak. Dengan napas memburu, ia mencoba menghubungi Rania, adiknya.
"Ran! Tolong Mas, Ran!" cerocos Vino begitu panggilan diangkat, suaranya panik tak terkontrol.
"Kiara gimana? Dia ada di kamarnya kan? Tolong hubungi Kiara, Mas mau bicara sebentar aja, Ran! Ran tolong minta dia buka pintu rumahnya dan bicara dengan Mas!"
Dari balik telepon, suara adiknya terdengar begitu dingin dan muak.
“Mas Vin sadar nggak sih?” potong Rania dengan napas berat.
“Mbak Kiara udah ngeblokir semua akses buat Mas. Papa juga udah wanti-wanti, kalau Mas berani nginjakkin kaki di rumah ini lagi malam ini, Papa sendiri yang bakal panggil sekuriti kompleks buat usir Mas. Stop bikin malu, Mas! Mbak Kiara udah selesai sama kamu! Urus saja tuh sepupumu yang paling menderita di dunia ini!"
Bip. Sambungan diputus sepihak.
"Rania! Ran! Bangsat!" Vino berteriak histeris, melempar ponselnya ke dashboard.
Frustrasinya memuncak karena ia sadar, tembok yang dibangun Kiara tidak bisa ditembus oleh manipulasi, air mata, atau rasa kasihan murahannya lagi. Vino merasa seperti orang tenggelam yang tidak bisa meraih apa pun untuk selamat.
atasan dan rekan kerja well come dengan kedatangan kamu, Kiara.Semoga kesuksesan kamu ada di sini dan menemukan jodoh yang setia.
lingkungan baru n suasana baru, org² baru
nanti km ketularan rabies ,,