Padahal tujuan Mashka hanya ingin belajar terus menerus dan mendapatkan peringkat satu, serta menjadi murid yang berprestasi.
tapi kenapa dia malah masuk ke dalam novel? dengan adegan pertama kali satu kamar dengan Raja? padahal tubuh yang dia tempati adalah seorang Maid.
dan dia teringat tentang alur cerita ini, dimana dia menjadi korban kambing hitam dan harus tiada di usia muda karena hamil anak raja.
"aku tidak akan pernah membiarkan harga diriku jatuh begitu saja."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violaww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34
Keenan makan dengan sangat lahap, ini adalah makanan ter-enak yang pernah dia coba.
Tidak tanggung-tanggung dia sampai menambah dua kali, bodo amat lah di sini hanya ada keluarganya saja dan Lady Oliv, dia memang kelaparan.
Duke Raiden juga menambah, dia sedikit kalem dari pada Keenan, dia harus menjaga martabatnya, padahal dia juga ingin makan dengan lahap seperti anaknya itu.
Anastasia menahan tawanya, dia makan seperti biasa, karena memang dia sudah sering memakan ini sebelumnya, jadi tidak terburu-buru.
Sementara Airen dan Oliv, mereka meneguk ludah mereka dengan susah payah.
Sedikit lagi, sedikit lagi makanan yang ada di piring mereka akan habis.
Mereka merasa masih kurang, tapi sungkan ingin menambah, jadi sengaja mereka memperlambat makan mereka agar makanan di piring mereka masing-masing tidak cepat habis.
"Anastasia, apa ini akan di simpan sampai makan malam?"
Keenan ingin menghabiskan ayam, tapi takutnya saat makan malam tidak ada lagi.
"Tidak kak, habiskan saja, nanti saat makan malam ada lagi. Sayang kalau tidak di habiskan sekarang."
Keenan tersenyum lebar "baguslah kalau begitu."
"Yah, memang harus di habiskan, tidak baik menyisakan makanan." Ucap Duke Raiden juga.
Tangannya sambil mengambil satu potong ayam lagi yang baru.
Anastasia melirik ke arah Oliv "Lady, Lady bisa ambil satu ayam lagi, jika tidak maka mungkin yang tersisa ini akan dibuang."
Lady Oliv berdeham "baiklah, karena kamu yang memaksa aku akan tambah satu lagi."
Dengan cepat Oliv memilih dan mengambil satu dada ayam yang besar dan menaruhnya di piringnya sendiri.
Duchess Airen? Sengaja tidak Anastasia tawarkan, biarlah. Anastasia masih kesal dengan perempuan itu.
Mau tambah silahkan saja, dia tidak perduli.
Anastasia kembali acuh.
••••
Marquess Zayne masih setia berada di Istana Ratu, tempat tinggal kakaknya.
Dia jauh-jauh datang kesini, tidak mungkin pulang dengan begitu cepat.
"Paman!"
Saat Zayne sedang bersantai, ada suara yang memanggilnya dengan riang.
Siapa lagi kalah bukan Gerald.
Zayne tersenyum lebar dan dia merentangkan tangannya pada Gerald yang sudah berlari menuju ke arahnya.
GREP..
Mereka berdua saling berpelukan satu sama lain untuk sesaat.
Gerald lumayan dekat dengan Zayne, dibalik sifat Lorin yang kacau, ada sang adik yang berhati lembut dengan Gerald.
"Paman kenapa tidak ke tempatku saja?"
Tak di pungkiri bahwa Gerald kurang suka di istana ini, dia ingin Pamannya mengunjungi kediamannya saja.
"Paman ada urusan sebentar dengan Ibu mu."
Terlihat raut wajah sedih Gerald yang tak suka jika pamannya kesini hanya ingin menemui Ibunya yang jahat itu saja.
"Zayne?"
Ratu Lorin mendekat, dia menggunakan gaun yang warnanya sangat mencolok dan perhiasan pun tidak ketinggalan.
Gerald langsung bersembunyi di belakang tubuh Zayne.
Suasana yang canggung, sebenarnya Gerald ini anak siapa? Takut dengan Lorin dan malah dekat dengan Zayne.
"Gerald, kenapa kau disini? Kembali belajar." Nada Ratu Lorin lumayan tegas, memerintahkan anaknya itu untuk segera pergi dari kediamannya.
Zayne cukup tidak suka dengan sifat kakaknya itu, semakin hari semakin kasar dengan Gerald.
"Kakak, biarkan dia disini aku yang akan mengajaknya bermain."
Kakaknya tidak perlu repot-repot untuk mengajak Gerald bermain, biar dia saja yang akan melakukan nya.
Tapi ucapan Zayne semakin membuat Lorin tidak suka.
"Inilah yang tidak aku sukai darimu, Zayne! Selalu membela anak itu, dia harus belajar agar bisa menjadi pemimpin yang hebat! Itu sebabnya aku tidak suka kau terlalu mengunjungi Istana."
Memang benar, Ratu Lorin sangat membatasi Zayne untuk datang, karena jika adiknya itu datang maka Zayne akan terus mengajak Gerald untuk bermain, Ratu Lorin tidak suka itu.
Zayne mengerutkan keningnya "jadi kakak tidak suka aku disini?"
Dia bertanya secara terang-terangan saja, pantas saja saat dia selalu mengirimkan surat bahwa dia ingin berkunjung, kakaknya itu melarangnya dan beralasan sibuk.
Kali ini dia tidak mengirimkan surat dan datang secara mendadak.
Tanpa ragu Ratu Lorin mengangguk "karena kamu membuat Gerald jadi malas untuk belajar. Sekarang Gerald harus pergi."
Tapi Gerald menggeleng, dia masih setia memegang erat baju Zayne dan masih setia untuk berlindung di balik tubuh pamannya ini.
Zayne tentu tidak terima "tidak bisa Kakak, aku kesini untuk mengunjungi kakak, tapi balasan Kakak malah seperti ini."
Ratu Lorin melipat tangannya di depan dada "aku sibuk, Zayne. Bukankah kamu sudah menjadi Marquess? Sebaiknya lakukan tugasmu dengan baik."
Zayne menarik nafasnya dalam "itu saat aku bekerja, sekarang waktu keluarga. Aku akan membawa Gerald pergi. Syukurlah kalau kakak baik-baik saja, walaupun kehadiran ku tidak di sambut dengan baik."
Sejak menjadi Ratu, Kakaknya itu semakin keras kepala dan merasa paling tinggi.
Zayne benci itu.
"Mau kau bawa kemana Gerald, Zayne?!"
"Belajar, seperti yang kakak ucapkan."
"Jangan berbohong!"
Teriakkan Kakaknya itu tidak di dengarkan lagi oleh Zayne, dia langsung membawa keponakannya itu.
Terserah dia ingin mengucapkan apa, yang penting bawa Gerald kabur dulu.
"Maaf paman, membuat Paman dan Ibu jadi bertengkar."
Saat mereka berjalan pergi, Gerald membuka topik pembicaraan.
Zayne terkekeh pelan dan mengangguk, dia memusut surai rambut keponakan nya itu dengan sayang.
"Hahaha.. tidak masalah Gerald, dia memang seperti itu, paman tidak pernah memasukkan semua kata-kata ke hati, karena yang di ucapkan ibumu selalu mengandung sampah."
Zayne tidak mudah runtuh, dia tidak mudah dihasut.
Oleh sebab itu dia bisa menjadi Marquess di umurnya yang muda, siap sebagai pengganti ayahnya, karena dia mempunyai abisi yang besar dan berpendirian kuat.
Gerald cukup kagum dengan sifat yang di miliki oleh Pamannya ini, terkesan tegas dan sama sekali tidak mudah untuk di hancurkan.
Dia jadi termotivasi.
••••
"Kamu boleh membuat untuk makan malam, tapi hanya duduk manis dan memerintahkan para koki, tidak perlu terjun langsung."
Duke Raiden menasehati Anastasia sedikit, tentunya di depan Keenan dan Duchess Airen.
Lady Oliv? Sudah pulang ke kediaman nya sendiri, sejak makan siang itu dia jadi tidak enak dengan Anastasia, lebih tepatnya dia jadi malu.
Mereka sedang duduk santai di ruang tengah.
Mungkin hanya Anastasia, Keenan dan Duke Raiden yang santai, tidak bagi Duchess Airen yang dimana tangannya sudah bergetar.
"Tidak apa-apa ayah, aku tidak lelah melakukan semua itu, aku suka. Aku bisa banyak gerak."
"Anastasia, kami sangat takut terkena amukan dari Jayden, kau tahu Anastasia? Mungkin dia akan mengamuk jika tahu ibu dari anak-anaknya di perlakukan buruk."
Keenan sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar jelas oleh Airen.
Membuat Airen kembali sukses dibuat ketakutan.
Duke Raiden menatap Keenan, dia membiarkan saja anaknya itu berkata-kata dengan asal.
"Memangnya Jayden seperti itu?" Tanya Anastasia.
Keenan mengangguk "tentu saja, dia yang paling nakal di keluarga ini, sudah tidak di ragukan lagi bagaimana kelakuan dia."
"Kenapa kalian semua membahasku?"