NovelToon NovelToon
The Stellar Blood Swordmaster'S

The Stellar Blood Swordmaster'S

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:168
Nilai: 5
Nama Author: EAGLE EZ

Di sudut tergelap Distrik Kumuh Oakhaven, Ren bertahan hidup sebagai pelayan di sebuah rumah bordil sekaligus tempat penampungan anak-anak telantar. Di balik fisiknya yang tampak biasa dan otaknya yang encer, Ren menyembunyikan kutukan sekaligus berkah: ia adalah keturunan Vampir terakhir yang murni, terpaksa menahan dahaga darah agar tidak memicu kecurigaan Gereja Suci.

​Dunia Ren runtuh ketika sekelompok Ksatria Suci berzirah perak—yang seharusnya menjadi simbol kehormatan—membantai tempat tinggalnya demi menutupi skandal korupsi ordonya. Di ambang kematian, Ren merangkak ke ruang bawah tanah rahasia dan menemukan Crimson, roh pedang kuno yang haus darah. Demi membalaskan dendam dan mengubah takdirnya, Ren memulai jalannya sebagai Sword Master yang tidak biasa: memadukan teknik pedang legendaris dengan kekuatan darah yang terlarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5.menyelinap dalam sarang serigala

Kelulusan Ren dengan nilai sempurna di ujian praktik langsung menjadi buah bibir di asrama nomor tujuh, tempat berkumpulnya para murid dari kalangan warga biasa. Namun, Ren sama sekali tidak memedulikan omongan orang. Baginya, setiap detik di Akademi Ksatria Kekaisaran adalah pertaruhan nyawa.

Malam hari adalah waktu di mana pertahanan Ren paling kuat, sekaligus paling berbahaya.

Di dalam kamar asramanya yang sepi, Ren duduk bersila di atas ranjang. Ia menggulung lengan baju kirinya, mengungkap sebuah tato hitam berbentuk pedang mini yang terukir di kulitnya. Tato itu tiba-tiba memancarkan cahaya merah samar, dan sesosok bayangan kabur berwujud energi keluar dari sana, melayang di hadapan Ren.

**"Tempat ini benar-benar membuatku muak, Bocah,"** Crimson mendengus, suaranya berdesis pelan di dalam kepala Ren. **"Setiap sudut koridor dipasangi batu suci *Lumina*. Baunya seperti besi berkarat yang dicelupkan ke air suci. Menjijikkan."**

"Tahan egomu, Crimson," balas Ren dengan bisikan yang hampir tak terdengar. Matanya menatap tajam ke luar jendela, ke arah menara utama akademi tempat para ksatria tingkat tinggi berkumpul. "Kaelen Vance ada di menara itu. Aku bisa merasakan sisa aura zirah peraknya dari jarak satu kilometer. Tapi perlindungan di sekitarnya terlalu ketat."

**"Hmph, tentu saja. Dia salah satu dari lima Komandan Ordo Perak. Tapi kau cerdas, bukan? Kau pasti sudah punya rencana."**

Ren tersenyum tipis, sebuah seringai dingin yang penuh perhitungan. "Tentu saja. Akademi ini memiliki sistem faksi. Para murid bangsawan tunduk pada Ordo Perak, sementara murid warga biasa diabaikan. Aku akan memanfaatkan faksi warga biasa untuk naik ke puncak, memancing perhatian para petinggi, dan mengambil misi luar akademi yang dipimpin langsung oleh faksi Kaelen."

### Pelajaran Pertama: Provokasi Sang Bangsawan

Keesokan paginya, di lapangan latihan utama yang beralaskan rumput hijau, kelas taktik dan teknik pedang dasar dimulai. Murid-murid dibagi menjadi dua kubu yang jelas: kubu bangsawan dengan zirah berkilau yang disesuaikan, dan kubu warga biasa dengan seragam standar akademi yang agak kusam.

Instruktur hari ini adalah seorang pria paruh baya bersikap tegas bernama Master Vargas. Ia meletakkan sebuah batu kristal pengukur Mana di atas meja batu.

"Hari ini kita akan menguji penyelarasan teknik pedang dengan *Mana output* kalian. Siapa yang mau maju pertama?" tanya Master Vargas.

Seorang pemuda dengan rambut pirang klimis dan jubah berlogo keluarga Baron melangkah maju dengan angkuh. Namanya **Julian van Asche**. Ia melirik Ren dengan tatapan meremehkan yang amat ketara.

"Biar saya, Master," ucap Julian sombong. Ia menghujamkan pedang besinya ke dekat batu kristal, lalu mengalirkan Mana miliknya. Batu itu bersinar terang dengan warna biru keemasan.

"Julian van Asche! Mana Tingkat 3 Menengah! Teknik pedang faksi angin. Bagus!" puji Master Vargas sambil mencatat.

Julian berbalik, berjalan melewati Ren, lalu berbisik dengan nada mengejek yang cukup keras agar terdengar oleh murid lain. "Kudengar ada tikus keberuntungan dari perbatasan yang menang kemarin hanya karena penguji sedang lengah. Sayang sekali, di akademi ini, bakat murni dan darah bangsawan adalah segalanya. Warga biasa tetaplah warga biasa."

Beberapa murid bangsawan di belakangnya tertawa kecil. Sementara murid-murid warga biasa hanya bisa menunduk, sudah terbiasa ditindas.

Namun, Ren tidak menunduk. Ia justru melangkah maju, melewati Julian, dan berdiri di depan batu kristal. Tatapannya datar, seolah Julian tidak lebih dari sekadar kerikil di pinggir jalan.

"Master Vargas, boleh saya mencoba?" tanya Ren tenang.

"Silakan, Ren. Perlihatkan kemampuan Mana-mu," jawab Vargas dengan ketertarikan tersendiri setelah melihat laporan ujian kemarin.

Ren menggenggam gagang pedang latihan standarnya. Di dalam tubuhnya, ia mengaktifkan *Blood Circulation* secara terbalik—menekan energi vampirnya sedalam mungkin, dan hanya membiarkan sisa Mana buatan yang ia serap dari monster di hutan mengalir ke permukaan.

*WUUUSH!*

Saat Ren menyentuhkan pedangnya ke kristal, batu itu tidak bersinar terang seperti milik Julian. Alih-alih, kristal itu bergetar hebat, mengeluarkan warna merah redup yang sangat pekat dan stabil, membentuk riak energi seperti air yang tenang namun bertekanan tinggi.

Mata Master Vargas terbelalak. "Ini... ini bukan volume Mana yang besar, tapi kerapatan energinya... mutlak! Kontrol kompresi Mana Tingkat 4!"

Julian yang baru saja ingin duduk langsung membeku. Kontrol kompresi tingkat 4 adalah sesuatu yang biasanya hanya dikuasai oleh ksatria yang sudah berpengalaman bertahun-tahun di medan perang, bukan oleh remaja belasan tahun.

Ren berbalik perlahan, menatap Julian dengan senyuman tipis dan dangerous smirk khasnya. Satu matanya sengaja berkilat merah sesaat di balik bayangan rambutnya, memberikan tekanan mental yang membuat Julian refleks meraba gagang pedangnya sendiri karena ketakutan.

"Maaf, Tuan Bangsawan," ucap Ren dengan nada yang sangat sopan namun sarat akan penghinaan. "Sepertinya 'tikus' ini tahu cara mengompres energi lebih baik daripada darah murnimu."

### Benih Konflik Baru

Sore harinya, saat Ren sedang berjalan di koridor sepi menuju perpustakaan untuk mencari peta topografi wilayah perbatasan, langkahnya dihentikan oleh sesosok gadis.

Gadis itu mengenakan seragam akademi, namun penampilannya agak berantakan dengan syal abu-abu yang menutupi lehernya. Matanya yang tajam seperti kucing menatap Ren dengan penuh selidik. Dia adalah **Lyra**, murid tahun kedua dari kelas intelijen yang dikenal sebagai pencuri berbakat dari dunia bawah sebelum direkrut akademi karena bakat khususnya.

"Hei, Anak Baru," Lyra bersandar di dinding, melipat tangannya. "Gerakanmu saat memojokkan ksatria penguji kemarin... aku pernah melihat gaya sejenis itu di sudut tergelap pasar gelap Oakhaven sebelum tempat itu dibakar habis dua bulan lalu."

Ren menghentikan langkahnya. Tangannya yang berada di dalam saku jubah perlahan meraba tato Crimson, siap melepaskan segel pembunuh jika gadis di depannya ini mengetahui terlalu banyak.

"Apa maksudmu? Aku tidak paham," jawab Ren dingin.

Lyra berjalan mendekat, lalu berbisik pelan di samping telinga Ren. "Jangan tegang begitu. Aku benci Ordo Perak sama sepertimu. Aku tahu rumah bordil itu dihancurkan oleh Kaelen Vance untuk menutupi korupsi mereka. Dan aku... punya informasi tentang misi rahasia yang akan dipimpin Kaelen bulan depan ke perbatasan."

Lyra mundur satu langkah, memberikan senyuman penuh arti. "Bagaimana kalau kita bekerja sama, Ren? Atau... siapa pun nama aslimu."

Ren menatap Lyra dalam-dalam, menganalisis setiap perubahan mikro di wajah gadis itu menggunakan persepsi vampirnya untuk memastikan ia tidak berbohong. Detak jantung Lyra stabil—ia jujur.

**"Hahaha! Menarik! Tikus kecil lain yang ingin menggigit singa perak,"** Crimson tertawa geli di kepala Ren. **"Terima saja tawarannya, Bocah. Kita butuh mata di dalam kegelapan."**

Ren menurunkan kewaspadaannya, lalu senyuman dinginnya kembali muncul. "Kerja sama, ya? Baiklah.

1
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Coba bikin yang murim 👍🏻
EAGLE EZ: oke untuk bab pertama dulu bree kalo ingin di tambah mohon bantu juga bree👍
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!