Seorang murid SMA yang tertabrak train-kun dan di reinkarnasi ke dunia lain bersama seorang dewi, namun bukan kebahagiaan ataupun kemampuan cheat yang diperoleh olehnya melainkan tubuh tanpa tambahan kekuatan.
Mungkinkah bagi Rein untuk dapat bertahan hidup di dunia penuh sihir yang dipenuhi oleh makhluk mengerikan?
Saksikanlah petualangan yang menguras emosi. Hidup baru yang dimulai dari nol, dengan kerja keras, dan semangat bersama seorang dewi yang tidak berguna!
Cover by: Narachii1 (IG)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raraey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 33: Hari yang Santai (1)
Semalam Rein dan Pasitheia menginap di loteng tempat yang tidak digunakan oleh Koki Eron. Mereka dapat tinggal di sana secara gratis hanya untuk satu malam, dan pria tua tersebut meminta bayaran 40 koin perak setiap bulannya jika mereka ingin menepatinya.
Bagi Rein, itu bukan sebuah penawaran yang buruk. Dia dapat menghemat uang dan menerima tawarannya begitu saja. Terlebih lagi, tempat itu memiliki dua ranjang yang memisahkan mereka.
Dengan begitu, Rein tidak pernah khawatir tentang bagaimana Pasitheia akan memarahinya seperti yang lalu-lalu.
Di pagi hari yang cerah, Rein sudah terbangun. Dia merentangkan tangannya dan membuka jendela loteng yang menghadap langsung ke luar.
Dunia ini benar-benar luar bisa dan hanya dengan melihatnya saja, Rein tahu bahwa ini adalah sebuah pemandangan yang tidak akan pernah dia lihat di bumi, tempat dia tinggal dulu.
Kuda yang menarik kereta milik pedagang yang dipenuhi oleh barang bawaan, orang-orang yang saling bercengkerama, tanaman hias aneh yang memiliki bentuk cantik, dan burung-burung yang menari indah di langit.
Bau tanah yang basah dapat dia rasakan dan itu terlihat lembab. Tidak heran jika udara menjadi dingin. Dia sama sekali tidak menyadarinya, beruntung dia dapat menemukan selimut usang yang tidak dipakai lagi di salah satu kotak penyimpanan.
Sinar mentari yang merambat masuk ke dalam ruangan membuat Rein sadar dengan kondisi tempat ini. Semalam dia terlalu ngantuk untuk menyadarinya dan tertidur begitu saja setelah menyeret Pasitheia yang mabuk.
Berbagai macam bentuk jaring laba-laba tersangkut dan bergelayutan di langit-langit dinding. Beberapa bagian atap telah bocor dan beberapa lainnya sudah rapuh. Dia ragu jika tempat ini layak dihuni, tetapi kembali lagi dengan biaya sewa yang murah.
Dia menemukan sapu rusak di salah satu sudut ruangan yang sempit dan kotor itu. Pada awalnya dia berniat untuk membersihkannya dan membuang kotoran melalui jendela, namun dia akan mengganggu pengguna jalan lainnya.
Rein turun ke bawah dan mendapati Koki Eron sedang memasak. Tak terpikirkan oleh Rein sendiri bagaimana pria ini dapat menjadi begitu kuat tanpa tidur sama sekali.
“Oh, selamat pagi, Rein! Apa tidurmu nyenyak semalam?” sambut Koki Eron.
“Selamat pagi, Koki Eron. Ya, itu tempat yang bagus, hanya saja mungkin beberapa bagian perlu diperbaiki,” balas Rein.
“Aku tidak memiliki cukup waktu untuk memberikan perhatian khusus pada ruangan itu. Pada awalnya itu adalah kamar anakku, tetapi berubah menjadi gudang setelah dia pergi ke kota. Jika kau memiliki waktu untuk memperbaikinya, aku akan sangat senang.”
Memang itu tujuannya dari awal. Tanpa perlu dikatakan, Rein akan selalu berada di sana sampai dia merasa cukup kaya untuk menyewa ataupun membeli sebuah rumah baru.
“Koki Eron, aku akan meminjam kotak sampah milikmu untuk membersihkan kamar.”
“Lakukan sesukamu, Rein.” Koki Eron membalas tanpa memperhatikan, dia benar-benar sibuk karena pagi hari adalah jam di mana banyak orang pergi ke restorannya untuk membeli sarapan.
Rein mengambil kotak sampah, itu terbuat dari kayu dan beratnya cukup untuk memaksa pemuda itu mengeluarkan sedikit tenaga, ditambah dengan tangga untuk sampai di atap, benar-benar membebaninya.
Rein berhasil sampai di loteng dan mendapatkan Pasitheia yang tertidur lelap di atas kasur. Dia ragu untuk membangunkannya dan kemudian mengabaikannya setelah menutupi tubuh Pasitheia dengan selimut.
Dia tidak ingin debu yang menjadi target dibersihkan malah mengotori wanita itu dan menjadikan dirinya kembali sebagai kambing hitam atas apa yang terjadi.
Rein mengambil sebuah sapu tangan berukuran sedikit besar yang dapat dia gunakan sebagai masker, kemudian siap untuk membasmi semua jaring laba-laba.
Rein mengangkat sapu dan memutarnya, dia membuat sapu itu menjelajahi langit-langit yang menjadi atap dari tempat mereka bernaung.
Rein menarik kembali sapunya setelah cukup banyak jaring laba-laba yang terperangkap. Dia memasukkannya ke dalam kotak sampah, mencoba untuk membersihkannya, dan kembali melanjutkan pekerjaan.
Rein juga mulai menyapu, dia membersihkan dinding dan juga lantai. Tanpa terasa, 1 jam telah berlaku dan Pasitheia juga tak kunjung terbangun.
Dia menghembuskan nafas pelan, berniat untuk kembali setelah semua tempat berhasil dirapihkan.
Beberapa lainnya masih dipenuhi oleh kardus-kardus, namun Rein ragu untuk memindahkannya tanpa sepengetahuan dari Koki Eron. Jika berdasarkan apa yang pria tua itu jelaskan, mungkin kotak-kotak itu berisi barang berharga.
Dia kembali ke bawah dengan menyeret kotak sampah yang memiliki beban lebih banyak berat daripada sebelumnya.
Koki Eron melihat ke arah Rein dan mengerutkan keningnya. “Apa kau baru saja membawa kotak sampah itu ke atas?”
“... ya, apa ada yang salah?” Rein khawatir, dia takut melakukan sebuah kesalahan.
“Ah, tidak, bukan begitu maksudku. Hanya saja, aku memiliki kotak sampah yang lebih ringan dan kau malah membawanya. Aku menjadi bangga pada anak zaman sekarang, mereka terlalu kuat dan rajin melakukan sesuatu.”
Rein membalas dengan tersenyum, dia kemudian bertanya, “Di mana aku perlu membuangnya?”
“Itu tidak perlu, taruh saja di sini dan seseorang akan membawanya untuk dibakar. Aku tidak ingin uang yang aku gunakan untuk membayar seorang tukang sampah menjadi sia-sia.”
Rein mengangguk, dia mengerti betul apa yang dimaksud oleh Koki Eron karena dia juga mengalami hal yang sama. Tukang sampah dibayar untuk memberikan layanan dan jasa, tentu mengurangi pekerjaan mereka akan merugikan. Bukan bermaksud buruk, tetapi memang itu faktanya.
“Selain itu, Rein, kau bisa menggunakan kayu dan peralatan lainnya di belakang. Aku telah menyiapkannya dan jika kurang, aku akan memberikan uang tambahan. Maaf karena memintamu secara langsung untuk melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan oleh pengunjung sepertimu.”
Rein sama sekali tidak masalah dengan hal itu, dia menanggapinya menggunakan senyuman.
“Itu tidak seperti kau harus berterima kasih kepadaku, Koki Eron. Berkatmu, aku mendapatkan penginapan dengan cepat dan dapat menghemat uang. Aku sangat terbantu.”
Setelah menanggapinya, Rein merasa harus segera bergerak. Dia harus bekerja sebelum matahari bergerak dan berada tepat di atas kepala. Hari ini, dia berniat untuk memulai dengan pergi ke pasar dan membeli perlengkapan seperti apa yang telah dia rencanakan.
Koki Eron menjadi begitu senang kepada Rein karena sikapnya yang baik dan pekerja keras. Dia tidak merasa bersalah untuk memberikan kamar anaknya kepada Rein, dan merasa bersyukur untuk bertemu dengannya.
Walau, sifat Pasitheia itu sedikit mengganggu, dan dia harus segera membuat ketentuan baru bagi pengguna voucher agar hanya dapat mendapatkan makanan gratis sehari sekali.
Selain itu, dia berniat untuk menghargai kerja keras Rein dalam melakukan perbaikan dengan memberikannya makanan gratis untuk kali ini. Tentu, hidangan terbaik harus segera disiapkan.
“Ya, aku harap semua anak-anak dapat mencontoh sikap pekerja kerasnya itu.”
payah. . . . !
(RYUJI THE GOD OF ELEMENTS)
mungkin ini novel bercerita kayak kehidupan sehari-hari tapi anda akan seperti menonton anime seperti gintama, Naruto, fairy tail dan lainnya jangan bilang "males ah" ayo mampir dulu wokeh di sana sudah ada 1 prolog 5 Episode Episode 6 akan rilis sekitar 1 atau 2 hari saya tunggu kedatangan kalian