Semuanya telah benar-benar berubah ketika mantan kekasih suami tiba-tiba kembali. Dan Elmira Revalina berpikir jika berita kehamilannya akan dapat memperbaiki hubungannya dengan suaminya— Kevin Evando Delwyn
Namun, sebelum Elmira dapat memberitahukan kabar baik itu, mantan kekasih suami— Daisy Liana muncul kembali dan mengubah kehidupan rumah tangga Elmira. Rasanya seperti memulai sebuah hubungan dari awal lagi.
Dan karena itu, Kevin tiba-tiba menjauh dan hubungan mereka memiliki jarak. Perhatian Kevin saat ini tertuju pada wanita yang selalu dicintainya.
Elmira harus dihadapkan pada kenyataan bahwa Kevin tidak akan pernah mencintainya. Dia adalah orang ketiga dalam pernikahannya sendiri dan dia merasa lelah.
Mengandalkan satu-satunya hal yang bisa membebaskannya, Elmira meminta Kevin untuk menceraikannya, tetapi anehnya pria itu menolak karena tidak ingin membiarkan Elmira pergi, sedangkan pria itu sendiri membuat kisah yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violetta Gloretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Kevin melangkah masuk ke dalam ruang VIP di restoran tersebut dan dahinya mengernyit ketika melihat kerumunan yang tidak terduga yang duduk di sekitar meja.
Kevin menoleh ke arah ayahnya— Anthony Bernard dengan tatapan penuh tanya. "Ada apa ini, Ayah? Ayah bilang kalau ayah ingin bertemu denganku untuk makan siang dan membicarakan sesuatu. Lalu ada apa dengan orang-orang ini?."
Anthony Bernard menatap ke arah putranya dan menunjuk sebuah kursi yang terletak di seberangnya. "Duduk dulu, Kevin. Kami semua di sini akan membahas upacara pertunangan mu dengan Daisy."
Mendengar hal itu, Kevin mengepalkan tangannya dan rahang tegasnya mengatup keras ketika ia merasakan kemarahan yang bergejolak di dalam dirinya. Sepertinya ayahnya telah membohongi nya untuk bertemu dengan orang-orang yang paling tidak ingin dirinya temui.
Daisy terlihat duduk di sebelah kursi kosong yang di peruntukkan untuk Kevin, sementara ibu tiri dan saudari tirinya duduk di sebelah Ayahnya.
Kevin mengernyitkan dahinya. "Aku tidak bisa membicarakan upacara ini tanpa kehadiran kakek." Katanya dengan tegas.
Mendengar hal itu, Anthony Bernard tak kuasa menahan amarahnya. Ia tampak seperti panci presto yang akan meledak. "Kevin, apa kamu merendahkan otoritas ayah karena kakek mu tidak memberikan perusahaan itu untuk di jalan di bawah kepemimpinan ayahmu ini? Ayah akui... Kamu adalah penerusnya, tapi aku adalah ayah mu! Kamu harus patuh denganku!."
Kevin kembali menoleh ke arah Ayahnya dan memasangkan raut wajah dinginnya. "Aku merendahkan ayah karena wanita penyihir yang Ayah bawa kedalam kehidupan kita! Maaf, ayah. Tapi selama wanita itu terus berbisik di telinga mu, tidak ada yang bisa Ayah katakan untuk mengubah hubungan kita!." Jawabnya.
"Kevin! Lihat, ini karena kakek mu sangat memanjakan mu! Leona adalah istri Ayah dan kamu harus menghormatinya!." Bentak Anthony.
Kevin melayangkan tatapan tajamnya kearah Anthony sebelum akhirnya meninggalkan ruangan tanpa menoleh atau melirik ke arah Daisy sedikit pun.
Sementara itu, kepanikan menyelimuti perasaan Daisy ketika ia melihat Kevin pergi. Ia menggerakkan kursi rodanya untuk mengejar Kevin. "Kevin, tunggu!."
Pada saat yang sama, di ruangan VIP itu, Leona meletakan tangannya di atas tangan Anthony. "Suami ku, maaf kan aku karena sudah membawa keretakan antara kamu dan putra mu."
Anthony menghela napas panjangnya. "Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Kevin. Dulu dia anak yang sangat baik ketika mending ibunya masih hidup. Apa kesalahan ku sampai dia seperti itu?."
Sesuatu terlintas di dalam tatapan mata Leona, tetapi wanita itu segera menyembunyikan nya. Ia tersenyum menatap Anthony. "Jangan salahkan dirimu, Sayang. Aku sangat menyesal karena kamu tidak akur dengan putramu... kalau saja aku juga punya seorang putra, kamu tidak perlu menekan Kevin dan kalian berdua akan tetap memiliki hubungan yang baik."
Anthony menoleh, menatap istrinya. Lalu menganggukkan kepalanya. "Sayang, sekali saja anak-anak ku tidak mendengarkan aku... rasanya aku seperti tidak berguna untuk mereka."
Leona mengelus lengan Anthony dan menghiburnya. "Jangan bersedih, sayang. Aku yakin Kevin akan sadar."
***
Sementara itu, Daisy terus mengejar Kevin.
Dan ketika Kevin hendak masuk kedalam mobilnya, Daisy kembali memanggilnya. "Kevin, tunggu dulu! Jangan pergi seperti ini!."
Kevin berbalik dengan tatapan tajamnya. "Kenapa kamu tidak memberitahu kalau kamu menemui ayahku untuk membicarakan pertunangan ini? Bukankah aku sudah bilang kalau pertunangan kita di tunda? Tapi kamu diam-diam bertemu dengan ayahku tanpa persetujuan ku!."
"Maafkan aku, Kevin. Aku tidak tahu kalau ayahmu merencanakan makan siang bersama ku... dia menelepon ku untuk menemuinya dan aku tidak sempat memberitahu mu. Aku sebenarnya mengira kalau kamulah yang mengatur pertemuan ini." Kata Daisy menjelaskan, tatapan matanya berkaca-kaca.
Kevin menatap Daisy, ia mengernyitkan dahinya. Daisy terlihat seperti wanita yang sama, yang selama ini ia kenal, Daisy yang lugu, baik hati dan semua Kata-kata yang keluar dari mulutnya terdengar masuk akal. Tetapi, mengapa saat ini dirinya meragukan kata-katanya?
Semenjak Daisy berbohong dan menjiplak karya Davina, kepercayaannya terhadap Daisy hancur lebur bagai tanah di bawah bukit yang lemah.
Melihat Kevin yang terdiam dan tidak mengatakan apa pun, Daisy kembali buka suara. "Kamu harus percaya padaku, Kevin. Aku tidak tahu kalau ayahmu merencanakan ini. Dan kalau aku yang sengaja melakukannya, aku pasti mengatakannya padamu."
Sebenarnya, Daisy lah yang menghubungi ibu tiri Kevin dan meminta dia untuk menyakinkan ayah Kevin agar mau bertemu. Setelah Davina menawarkan untuk mencari dokter ahli untuk merawat kakinya, Daisy menjadi marah dan merasa cemas.
Daisy merasa jika dirinya harus segera menikah dengan Kevin sesegara mungkin. Sebelum Kevin menyadari siapa Davina yang sebenarnya, ia harus menjadikan Kevin sebagai miliknya selamanya.
Tidak sulit untuk meyakinkan ibu tiri dan saudari tiri Kevin setalah menjadikan mereka sebuah keuntungan yang besar jika mereka berhasil mendesak Kevin untuk segera menggelar acara pertunangan. Namun, Daisy tidak menyangka jika rencana yang ia pikir sempurna, ternyata berakhir dengan kegagalan.
Daisy tetap menatap Kevin dengan air mata yang mengalir di kedua pipinya. "Aku merasa sangat senang ketika ayahmu menghubungi ku. Karena itu menunjukan kalau dia mendukung hubungan kita, meski pun aku terjebak di kursi roda ini. Jadi, aku tidak ragu dan setuju untuk bertemu dengannya."
Kevin terdiam setelah mendengar kata-kata Daisy. Ia menelan salivanya, mencoba menelan gumpalan rasa bersalah yang tertahan di tenggorokannya.
Kevin menarik napas panjangnya. "Sulit untuk mempercayai mu sekarang, Daisy. Aku tidak bisa membedakan kapan kamu berkata jujur dan kapan kamu berbohong."
"Tapi, aku usia tidak akan berbohong pada lagi, Kevin. Kamu harus tahu kalau aku sudah belajar dari kesalahan ku. Aku tidak suka ketika kamu marah padaku..." Jawab Daisy, sembari menetaskan air matanya.
Kevin mengernyitkan dahinya. Ia tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini. "Biar aku yang mengantar mu pulang."
Daisy tersenyum dalam hati. Selama dirinya tahu letak kelemahan Kevin, pria itu akan selalu berada di bawah kendalinya.
***
Beberapa saat kemudian, setelah Kevin mengantarkan Daisy ke rumahnya, pria itu menghubungi Aiden, sahabatnya di dalam perjalanan pulang dari rumah Daisy.
"Aiden, sudah sejauh mana penyelidikannya? Apa kau sudah menemukan sesuatu tentang rumah sakit yang pernah merawat Davina?." Tanya Kevin.
Sungguh demi apa pun itu, Kevin benar-benar tidak sabar dengan hasil penyelidikan Aiden dan anak-anak buahnya.
"Sayangnya, tidak. Aku belum menemukan apa pun... tapi apa pun niat mereka menutupi kasus ini, mereka sangat baik dalam menutupinya." Jawab Aiden dari seberang sana.
Kevin memijat pangkal hidungnya. "Sepetinya, semakin sulit untuk mencari informasi tentang Davina dan semakin besar juga keinginan ku untuk mengetahuinya. Aku perlu tahu apa yang di sembunyikan nya."
Di seberang telepon, Aiden tengah memperhatikan seorang wanita yang sedang memotret iklan di salah satu tokonya.
Dia menyeringai, menatap Sonia dengan penuh minat sebelum akhirnya buka suara. "Aku sudah menemukan cara yang lebih langsung dan menarik untuk menyelidiki, Kevin.