Tujuannya untuk membalas dendam sakit hati 7 tahun lalu justru membuat seorang Faza Nawasena terjebak dalam pusara perasaannya sendiri. Belum lagi, perasaan benci yang dibawa Ashana Lazuardi membuat segalanya jadi semakin rumit.
Kesalahpahaman yang belum terpecahkan, membuat hasrat balas dendam Faza semakin menyala. Ashana dan perusahaan ayahnya yang hampir bangkrut, tak memiliki pilihan selain berkata 'ya' pada kesepakatan pernikahan yang menyesakkan itu.
Keduanya seolah berada di dalam lingkaran api, tak peduli ke arah mana mereka berjalan, keduanya akan tetap terbakar.
Antara benci yang mengakar dan cinta yang belum mekar, manakah yang akan menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LYTTE 34 — Fall
Ashana cukup ragu saat ia sampai di depan lemari orang tuanya. Sudah dua jam ia mencari jurnal yang dimaksud Bartha, tapi, di ruang kerja hingga tempat ayahnya menyimpan berkas-berkas, jurnal itu tak kunjung ia temukan.
“Hanya tinggal lemari ini yang belum aku periksa,” gumamnya. Satu tangannya yang memegang kunci terulur ke depan, mencoba mencocokkan kunci dengan lubang di tengah lemari itu.
“Aku mohon, semoga jurnalnya ada di sini,” pinta Ashana dengan mata setengah terpejam.
Bunyi ‘klik’ yang timbul setelah ia memutar kunci menjadi tanda bagi Ashana untuk segera mencari. Lemari itu berisi barang-barang pribadi dan berharga milik ibu dan ayahnya. Ada perhiasan dan beberapa surat yang Ashana yakin sangat penting.
Meraba perhiasan yang dimiliki sang ibu, kedua mata Ashana jadi memanas, matanya mulai berair. Ia yakin dalam sekali kedip, bulir itu pasti akan jatuh. Rasa rindu yang tiba-tiba menyeruak, memenuhi dadanya dengan sesak.
Ashana sudah banyak kehilangan sesuatu dalam hidupnya, dan kehilangan yang paling menyakitkan baginya adalah kehilangan kedua orang tua yang paling disayanginya.
Tapi, tak ada waktu baginya untuk bersedih. ia sudah berjanji akan melanjutkan hidup dengan lebih baik. Selama beberapa saat mencari, ia akhirnya menemukan jurnal yang dimaksud oleh Bartha.
Ashana mengambil jurnal dengan sampul warna hitam itu dengan hati-hati lalu mengunci kembali pintu lemarinya setelah menutupnya dengan sangat pelan dan hati-hati.
Ia mulai membuka jurnal itu, membaca catatan tangan ayahnya halaman demi halaman. Ternyata, Danendra selalu menuliskan hal-hal yang berkaitan dengan keluarganya di sana. Jurnal itu lebih tepat disebut sebagai diary karena berisi ungkapan hati Danendra sebagai seorang suami dan ayah.
Pelupuk mata Ashana mulai mengembun saat membaca jurnal itu. Tak pernah ia sangka ayahnya akan memerhatikan keselamatan dan kebahagiaan dirinya dengan begitu rapi dan sempurna.
“Ayah … ayah tak perlu melakukan semua ini untukku,” isaknya pelan seraya memeluk jurnal itu di depan dadanya.
“Aku bahagia dengan apa yang kumiliki. Tapi kenapa, kenapa ayah melakukan semua ini?” lirihnya saat membaca halaman di mana Danendra mengungkapkan alasannya membohongi Ashana dengan memberinya foto-foto palsu agar perempuan itu membenci Faza.
“Aku sudah salah paham padanya. Pria itu … pasti sangat terluka. Astaga … apa yang sudah kulakukan?” rutuk Ashana pada dirinya sendiri.
Ia selalu berpikir bahwa selama ini, Faza-lah yang bersalah, pria itu sudah mengkhianati dirinya dan menghancurkan hati Ashana. Padahal yang terjadi adalah sebaliknya.
Menghapus kasar bekas air matanya, Ashana membawa jurnal itu bersamanya dan berniat untuk menemui pria itu sekarang juga. Apapun yang terjadi. Ia harus menjelaskan semuanya dan meluruskan semua kesalahpahaman itu.
Ia juga berkewajiban untuk meminta maaf atas semua kesalahan yang sudah diperbuat ayahnya pada Faza. Tekadnya sudah bulat dan langkahnya sangat mantap. Dengan tergesa ia menuruni tangga.
Namun sayang, kakinya justru terpleset di anak tangga yang ke-lima, membuat tubuhnya seketika langsung jatuh ke bawah. Rasa sakit tak lagi tertahan. Ashana terpekik nyeri.
Faza yang kebetulan baru saja tiba terkejut saat melihat Ashana terjatuh dari tangga. Ia sontak berlari menghampiri perempuan itu dengan setengah berlari.
“Apa ada yang sakit? Bagian mana yang sakit? Bagaimana bisa kau jatuh?” panik Faza sambil memeriksa beberapa bagian tubuh Ashana.
Sementara itu, Ashana masih cukup terkejut dengan kehadiran Faza di hadapannya. Belum sempat bertanya kenapa pria itu ada di rumahnya, Faza sudah langsung menggendongnya menuju sofa.
“Kau diamlah, biar aku periksa kakimu dulu,” kata Faza setelah mendudukkan perempuan itu dengan hati-hati di sofa. Tak lupa ia mengganjal satu kaki perempuan itu dengan bantal sofa.
“Auw!” pekik Ashana kesakitan. “Pelan-pelan, sakit! Jangan menekannya begitu!”
Faza langsung mengangkat kedua tangannya ke atas saat Ashana menjerit, “Maaf, aku tak sengaja. Apakah sangat sakit?”
“Kakiku terkilir, jangan ditekan seperti itu," protes Ashana sambil mencoba menggerakkan kakinya yang terasa nyeri.
Faza meringis saat melihat kaki Ashana yang kemerahan. “Maaf. Kau … kau dokter, kau bisa memberitahu apa yang seharusnya aku lakukan untuk mengobati kakimu itu.”
“Kau sedang apa di sini?” Ashana justru bertanya. Penasaran dengan niat pria itu mendatangi rumahnya selarut ini.
“Aku sedang menonton kakimu yang terkilir!” sarkas Faza gemas. “Apakah penting menanyakan hal itu sekarang?”
“Tentu saja.”
Faza melipat tangannya di depan dada. “Kau yakin? Kau tidak mau mengobati kakimu dulu? Dengar, Ashana. Aku tidak mau memiliki seorang istri yang lumpuh, ya.” Faza memberi ultimatum.
“Hah? Aku tidak lumpuh, aku cuma terkilir, tahu?” imbuh Ashana kesal. Kenapa pria di hadapannya selalu saja asal bicara.
“Bisa kau katakan apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak mungkin diam saja melihatmu begitu kesakitan.” Faza menggulung lengan kemejanya hingga sebatas siku.
Meski agak heran dengan sikap Faza yang mendadak peduli itu, sejujurnya Ashana cukup senang. “Kau bisa ambil es batu untuk mengompres kaki yang terkilir,” kata Ashana, jari telunjuknya menunjuk ke arah dapur.
Faza mengangguk lalu bergegas ke dapur, membuka freezer, kemudian mengambil beberapa es batu dan meletakkannya di sebuah wadah. “Aku tidak bisa menemukan kompresan yang kau maksud, apakah menggunakan sapu tangan bisa?” tanyanya yang langsung diangguki Ashana.
Dengan sangat pelan, Faza mengompres kaki Ashana yang terkilir dengan es batu yang dibalut sapu tangan miliknya. “Katakan padaku jika terasa sakit.”
Ashana tersenyum lembut, “Terima kasih.”
“Kau bilang apa tadi? Bisa kau ulangi? Aku tidak mendengarnya dengan jelas,” kata Faza pura-pura tak mendengar ungkapan terima kasih dari Ashana.
“Aku bilang TERIMA KASIH, kau puas?” ucap Ashana dengan menekankan kata ‘terima kasih’ dalam kalimatnya.
Pria itu hanya tersenyum samar, ia merasa senang karena akhirnya Ashana tersenyum padanya dengan tulus.
“Kau tidak mau memberitahuku apa alasanmu datang ke sini?” tanya Ashana ketika Faza sudah selesai membantunya. Kakinya masih terasa sedikit sakit, tapi ia yakin akan baik-baik saja setelah dikompres.
“Kau tidak mau memberitahuku kenapa kau bisa jatuh dari tangga?” Faza balik bertanya. Ia mengambil duduk di samping Ashana.
Lov Yu till the end ... ekspektasiku bakal ada salah satu yg meninggoy, lalu yg satunya akan minum racun atau menceburkan diri ke laut while saying "i lov you till the end, my lovely."
(cinta apa bego ya🥴) but it was in my mind✌️