Narendra sang pengusaha sukses terjebak dalam situasi yang mengharuskan dirinya untuk bertanggung jawab untuk menikahi Arania, putri dari korban yang ia tabrak hingga akhirnya meninggal. Karena rasa bersalahnya kepada Ayah Arania akhirnya Rendra bersedia menikahinya sesuai wasiat Ayah Arania sebelum meninggal. Akan tetapi kini dilema membayangi hidupnya karena sebenarnya statusnya telah menikah dengan Gladis. Maka dari itu Rendra menikahi Arania secara siri.
Akankah kehidupan pernikahan mereka akan bahagia? Mari kita ikuti ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rose Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seseorang dari Masa Lalu
Gladys berhasil melepaskan dekapan tangan pria itu dari mulutnya, kemudian mendorong dada bidangnya yang penuh bulu hingga tubuh pria itu tersentak ke belakang, hingga mengurai jarak diantara mereka.
Srertt..
Gladys dengan cepat mengambil selimut yang menjuntai di lantai untuk membungkus tubuh polosnya. Sedangkan pria itu hanya menyeringai dengan keadaan yang masih tetap sama dengan pusaka yang masih berdiri kokoh.
Pria itu kembali mendekat perlahan pada Gladys dengan seringaian di wajahnya.
"Stop! Jangan mendekat!"
"Lama tak berjumpa, Gladys. Tak ku sangka sambutan selamat datang mu membuatku caandu dan bahagia." Ujar nya dengan suara datar namun terkesan berat.
"Siapa kau sebenarnya?!" Sentak Gladys dengan mata tajamnya menyorot pria yang tak dikenalnya.
Pria itu tersenyum menyeringai. Kemudian membuka kacamata beningnya yang tadi sempat digunakannya. "Apa sekarang kau sudah mengingat ku?" Ucap pria yang penuh bulu di area rahang hingga ke dagunya.
"Kau siapa?! Aku tidak mengenalmu, berengsek!" Gladys semakin geram pada pria itu.
Lagi-lagi pria itu menyeringai, "Tunggu sebentar!" Pria itu menuju ke kamar mandi untuk membersihkan bulu-bulu yang tumbuh di area wajahnya.
Kesempatan itu langsung di gunakan Gladys untuk memungut pakaiannya yang tergeletak di lantai kemudian memakainya kembali dengan cepat. Setelah berpakaian wanita itu berlari ke arah pintu ingin melarikan diri sebelum pria asing itu kembali. Namun sayangnya Gladys tak dapat membuka pintu kokoh yang masih terkunci. Kemudian pandangannya mengitari area kamar mencari-cari card ataupun kunci di sekitar kamar itu namun tetap saja tidak menemukannya.
Gadis terus menghentak-hentakan handle pintu tersebut serta menggedor-gedornya dari dalam seraya berteriak minta tolong. akan tetapi sayang sekali suaranya bahkan tak sampai ke luar ruangan itu, sehingga tak satupun orang bisa mendengar teriakan minta tolongnya.
Di tengah rasa putus asa yang menderanya, tiba-tiba pria itu kini telah berdiri di belakangnya memperhatikan usaha yang sedang dilakukan Gladys dengan bersedekap tangan di dadanya. Kini ia telah menggunakan celana pendeknya saja dengan area dada yang penuh otot dengan perut sixpacknya masih terlihat dengan jelas di mata Gladys.
"Gladys..." Panggil pria itu.
Sontak Gladys menoleh ke belakang, merasa suara yang memanggilnya terdengar tak asing di telinganya. Setelah mengetahui siapa yang kini berada di hadapannya Gladys terlihat syok dengan tangan yang refleks menutupi mulutnya yang telah menganga.
"Bagaimana kau masih mengenalku, honey?"
Jelas saja Gladys masih mengenali pria itu. Karena pria itu adalah seorang pencuri. Pencuri kegadisannya di masa silam.
"Kau bajingan Aston Allexio! Sampai mati aku tidak akan pernah melupakan mu. Dasar kau manusia berhati iblis! Kau tusuk teman mu sendiri dari belakang untuk memenuhi ambisi mu! Bajingan!" Kata Gladys dengan amarah yang muncak di hatinya.
"Hahaha... Ingatan mu sangat tajam, honey. Saat itu keinginan ku tidak neko-neko hanya satu, yaitu merenggut kegadisan mu. Setelah itu silahkan! Derren yang pungut."
"Kurang ajar!" Gladys berjalan cepat ke arah Aston dengan kemarahan yang memuncak di hati serta kepalanya. Ia meninju wajah Aston berkali-kali tanpa perlawanan hingga wajah tampan itu kini mengeluarkan darah di sudut bibirnya.
Aston hanya tersenyum miring dengan perlakuan yang di dapatkan dari Gladys. Wanita yang selama ini di cintainya dalam diam dan sembunyi-sembunyi. Karena saat itu dia kalah cepat dari sahabatnya Darren untuk mendapatkan gadis cantik yang sejak pertama kali bertemu ia langsung jatuh hati padanya. Namun sebenarnya Aston tak langsung menyerah kala itu karena diapun selalu mengejar Gladys. Akan tetapi karena kelicikan Darren yang berhasil memperdaya Gladys akhirnya Darren lah yang berhasil memacarinya. Aston marah. Ia tidak ingin begitu saja menyerah pada keadaan. Ia harus bisa mendapatkan dan membalas kelicikan Darren dengan cara mengambil kegadisan Gladys saat itu. Itu terpaksa ia lakukan, karena rasa cinta yang teramat dalam pada Gladys akan tetapi tak mampu di jangkaunya.
"Kau sama nikmatnya dari awal aku menyentuh mu, hingga semalam, honey."
"Bangsat! Enyahlah kau dari muka bumi saja, Aston!" Geram Gladys kemudian memukul kembali dada bidang berbulu itu dengan sekuat tenaganya.
Aston menangkis tinju yang di layangkan padanya dari tangan lentik itu. Gladys yang frustasi karena tidak dapat menyentuh pria itu hanya bisa menangis dengan nelangsa. Aston meraih tubuh yang bergetar itu untuk dipeluknya. Dipeluk dengan rasa sayang serta kerinduan yang teramat dalam kepada wanita itu.
"Gladys... Aku sangat rindu. Jadilah milikku, sayang."
Gladys terus menangis tersedu-sedu di dada bidang itu, sedang tangan besar Aston terus membelai lembut kepala Gladys dengan rasa sayang yang membuncah di hatinya setelah sekian lama tertahan.
***
***
Setelah beberapa saat Rendra pergi dari rumah. Arania menghampiri sang mertua ke kamar mereka.
"Perlu bantuan ku Mih?" Ujar Arania dari ambang pintu kamar mertuanya yang terbuka.
Ny. Ratih menoleh ke arah Arania. "Masuklah, sayang. Kami sudah selesai beberes. Kamu ndak perlu membantu kami."
Arania masuk ke kamar itu kembali duduk di sofa yang tersedia di sana. Ny. Ratih serta Tn. Herry pun ikut duduk bersama menantu cantiknya.
"Ara.. nanti ada 2 Art yang akan datang ke rumah ini. Mamih mengambil mereka dari yayasan atas nama Rendra dan namamu, sayang."
"Tapi mengapa harus nama ku Mih, bukan Nyonya Gladys saja. Karena pernikahan ku dan Mas Rendra masih menjadi rahasia kan."
"Maka dari itu perlahan nanti semua orang bakal mengetahui hubungan kalian juga. Kamu tak perlu khawatir."
"Lalu.. bagaimana jika semua orang tak menyukai ini, Mih?"
"Itu suatu resiko yang harus kalian hadapi bersama. Tak perlu menghindar. Karena menghindar tak akan menyelesaikan masalah. Hadapilah dengan ketenangan, keberanian dan kejujuran. Biarkan orang akan menilai apa yang penting kalian tetap saling mencintai dan berkomitmen. Jangan sampai opini orang lain yang buruk merusak kebahagiaan kalian. Tetaplah bersama-sama menghadapi situasi yang sesulit apapun, sayang."
Arania mengangguk. "Baiklah, Mi. Aku akan berusaha mencobanya."
Ny. Ratih tersenyum hangat.
"Aku bangga dan bersyukur karena putraku tak salah memilihmu sebagai istrinya. Tidak seperti kesalahan yang kami lakukan dengan perjodohan mereka. Saat itu kami terlalu terburu-buru mengambil tindakan, sehingga kami tak mepercayai putra kami sendiri." Ujar Tn. Herry pilu. Pada dasarnya saat akan melakukan perjodohan itu Rendra sempat menolaknya karena ingin memilih pasangannya sendiri. Akan tetapi karena desakan mereka akhirnya Rendra terpaksa menyetujui perjodohan itu.
Tak lama suara bel berbunyi. Arania dengan terpaksa memutus percakapan dengan sang mertua untuk membukakan pintu karena ia ingat saat ini Bik Erna sedang beristirahat di kamarnya setelah tadi meminum obat dari Arania.
Terlihat dua orang wanita sekitar umur 40 tahunan berada di ambang pintu.
"Maaf Nona, apakah benar ini kediaman Tuan Narendra Wibisana?" Tanya salah satunya pada Arania.
"Benar. Kalian ada perlu apa ya?" Arania ingin memastikan kedatangan kedua wanita itu agar tidak salah sangka.
"Kami dari Yayasan X, kami dipesan oleh Nyonya Arania Wibisana untuk dipekerjakan sebagai Art di rumah ini. Apakah benar?"
"Ah ya benar. Saya Arania."
Kedua wanita itu saling pandang. Di pikiran mereka tidak mengira jika gadis cantik yang berpakaian sederhana ini adalah seorang Nyonya yang telah memesan mereka.
Arania mengeryitkan dahinya melihat respon mereka. "Ada apa ya? Kalian tepat kok. Ini kediaman keluarga Wibisana." Ujar Arania dengan sabar.
"Jadi Anda adalah Nyonya Arania Wibisana? Ah.. kalau begitu perkenalkan saya Marni dan ini Yuni." Merekapun jabat tangan Arania.
"Saya Arania. Baiklah.. mari silahkan masuk."
Merekapun masuk dengan membawa tas mereka.
"Siapa yang datang, sayang?" Ny. Ratih dan Tn. Herry terlihat telah siap meninggalkan rumah itu. Supir mereka terlihat membawakan tas baju sang majikan menuju ke mobil yang tengah dipanaskan.
"Orang dari Yayasan, Mih." Ujar Arania.
"Jadi mereka sudah datang?" Kata Ny. Ratih.
Kedua wanita itu menyalami Ny. Ratih dan Tn. Herry dengan penuh hormat.
"Kalian bekerjalah dengan baik di rumah ini. Layanilah Nyonya dan Tuan kalian. Ini Nyonya kalian, Nyonya Arania. Dialah yang akan menggaji kalian. Ingat! Bekerjalah dengan serius dan tak usah bergosip di rumah ini, jika masih ingin bekerja di sini. Tutup rapat-rapat rahasia yang ada di dalam rumah ini. Jika tidak, kalian akan tau sendiri akibatnya. Mengerti?!"
"Me-mengerti Nyonya besar."
"Mang Udin, tolong antarkan mereka ke kamar mereka." Titah Arania pada mang Udin.
"Baik Neng, eh.. Nyonya."
Arania tersenyum lembut kepada mang Udin.
"Nah.. Mba Marni dan Mba Yuni, sekarang beristirahat saja dulu. Biar nanti saya ke kamar kalian saja." Titah Arania.
Kedua Art baru itu beserta Mang Udin meninggalkan Arania dan mertuanya di ruang tamu, menuju kamar pelayan yang letaknya bersebelahan dengan kamar Arania yang dulu.
"Ara... Mamih dan Papih akan pulang, nanti kalau kalian senggang pulanglah ke Bogor. Tengoklah kami sesering mungkin. Kami selama ini jarang kedatangan anak dan menantu kami. Bahkan selama pernikahan Rendra dan Gladys selama 4 tahun, hanya beberapa kali Rendra pulang ke Rumah, sedangkan Gladys hanya 2 kali saja menemui kami." Ujar Ny. Ratih dengan bibir yang manyun.
"Insyaallah... Arania dan Mas Rendra akan sering-sering mengunjungi kalian di Bogor, Mih Pih." Ujar Arania.
Ny. Ratih yang cemberut mengembangkan senyumnya. Wanita tua itu terlihat bahagia dengan perkataan Arania yang akan sering mengunjungi mereka.
"Terimakasih, sayang. Kami tunggu kedatangan kalian di Bogor ya. Ingat jangan bohong hanya untuk memberi kami harapan."
Arania menggeleng. "Aku janji, Mih Pih. Jika kami bohong Mami bisa menelepon kami untuk menagihnya."
Kemudian kedua orang tua Rendra meninggalkan rumah mewah itu dengan membawa harapan kelak akan mendapatkan cucu dari pernikahan Rendra dan Arania.
Semoga saja!
***
boleh jd orang baik, tp jangan terlalu baik sampai mengabaikan kesehatan sendiri
dah, sebel aku sam authornya kenapa bikin karakter Ara ky gini 😤
lagian masa ga ada asisten di dlm rumah yg standby gitu, Ara nya sendiri jg suka ngeyel jd orang ga usah terlalu baik lihat jg kondisi diri sendiri gausah terlalu memaksakan diri smpe mencelakakan diri sendiri, yg ada cm penyesalan nantinya
jadi.. semua hal bs terjadi ya Gladys, apalagi kehamilan kamu baru 4 bulan, udh bagus bgt itu jenis kelamin lgs kelihatan jelas 😁
semangat kak ditunggu selalu update story nya👍
Terimakasih, semoga riders semua sehat dan murah rejekinya. aamiin