Hana seorang kariawan biasa yang harus menerima perjodohan dengan anak atasannya yang bernama Rico. Hana pun menyanggupi meski tak ada cinta antara mereka berdua. Ia rela berkorban asalkan atasannya bisa sembuh dan mau di operasi.
Namun, harapan tak selalu sesuai kenyataan. Sang atasan meninggal dunia di saat pernikahannya yang belum genap 24 jam.
Karena merasa tak ada lagi alasan untuk bertahan, akhirnya Rico memutuskan secara sepihak untuk bercerai.
Hana merasa terluka dan di campakkan. Namun, ia juga tak bisa memaksa untuk mencoba menjalani pernikahan mereka. Putusan perceraian keluar. Hana harus menjadi janda perawan.
Tiga bulan setelah perceraian, nasib buruk menimpa Hana hingga membuatnya hamil dan pergi sejauh mungkin.
Mampukah Rico menemukan Hana dan bertanggung jawab. Atau hanya penyesalan yang menghantuinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna sweet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Day by day
Sekembalinya dari Jepang, mereka kembali ke rutinitas awal. Yang membedakan Hana dan Aksa kini pindah ke rumah utama dan rumah Hana dulu menjadi tempat tinggal para asisten rumah utama.
"Mom, hari ini di antar Papa aja!" pinta Aksa di sela sarapannya.
"Iya, pulangnya baru mom yang jemput."
Semakin kesini Aksa semakin lengket dengan Ryan.
"Pagi, sayang!" mengecup kening Hana "pagi juga anak Papa yang ganteng!" membelai kepala Aksa lembut.
"Pagi, Papa. Hari ini Aksa di antar Papa ya." rengeknya lagi.
"Iya, Kebetulan juga Aksa kan baru masuk sekolah jadi pas banget Papa yang antar." ucapnya sembari memakan sarapan yang sudah di siapakan Hana "makasih, sayang."
"Ayo, pa. Aksa sudah selesai." mengaitkan tasnya kebelakang.
"Sebentar, mom buatkan bekal." ujar Hana yang menyiapkan dua box bekal. Satu untuk Aksa dan satunya untuk Ryan.
"Mom, kami berangkat!" pamit mereka berdua dengan melambaikan tangan yang di balas lambaian oleh Hana.
Hana masih terpaku di teras luar rumah, ia tak menyangka setelah hidup penuh dengan drama akan mendapatkan kebahagian besar seperti ini. Beribu syukur ia lantunkan di setiap membuka mata akan nikmat hidup.
~
"Selamat pagi anak-anak!" sapa ibu guru yang sudah menunggu di depan pintu kelas satu.
"Pagi, bu." balas mereka serempak.
"Bagaiamana liburannya, seru!"
"Seru bu guru." jawab mereka lagi.
Hari ini hari pertama masuk sekolah. Ryan mendaftarkan Aksa di sekolah bertaraf internasional yang memiliki dua bahasa utama yaitu Indonesia dan Inggris.
~
"Sayang, kamu kenapa?" ujar Ryan yang mengkuatirkan keadaan istrinya yang sudah beberapa hari ini hanya berdiam di kamar dan tidak sanggup keluar.
"Aku nggak tau, kepala aku pusing banget."
Ryan memijit pelan kepala Hana "Besok kita ke dokter, yah!"
"Hmmmm..! Aksa sudah tidur?"
"Iya, sudah. Katanya kamu sering muntah-muntah juga. Pantes wajah kamu pucat banget."
"Nggak tahan cium bau, suka eneg. Ini aja parfum kamu nggak enak banget."
"Aku ganti baju dulu kalau gitu." buru-buru Ryan mengganti baju baru yang tanpa menggunakan parfum.
"Ya sudah besok kita harus ke dokter. Takut kenapa-napa kamunya."
"Iya..!" jawabnya lemah. Hana mencoba memejamkan matanya sembari menikmati pijatan ringan dari suaminya.
Baru saja Hana akan menikmati pijatan Ryan, dengan tergesa-gesa ia membuka selimut dan berlari ke kamar mandi.
hoek...hoek...hoek...
"Kamu tadi nggak makan ya makanya perutnya nggak enak. Jangan-jangan asam lambung kamu naik." Ryan masih membantu Hana dengan mengurut tengkut turun ke belakang Hana. Tangan sebelahnya memegang rambut Hana.
"Bantu aku keluar!" lirihnya lemah setelah merasa selesai dengan hasil lambungnya perih dan tenggorokanya sakit setelah mengeluarkan seluruh isi lambungnya.
Ryan langsung menggendong Hana menuju tempat tidur. Ia mencari minyak kayu putih dan mulai menyapu ke seluruh tubuh Hana agar hangat. Setelah muntah tadi tubuh Hana berkeringat dingin.
"Gimana sudah enakan?"
"Hmmmm..." Hana tak mampu menjawab tubuhnya lemah. Perutnya masih terasa bergejolak.
"Aku turun sebentar bikin teh hangat."
Tidak lama Ryan masuk dengan membawa teh hangat berharap Hana bisa meminumnya.
"Ini, minum dulu. Aku juga sudah meminta bibi buatkan bubur."
Dengan di bantu Ryan untuk duduk, Hana menenggak teh hangat sampai bersisa setengah.
"Udah. Makasih, sayang!"
Tok... Tok... Tok
Ceklek
"Masuk aja, bik!" ujar Ryan saat membukakan pintu kamar mereka.
"Nyonya kenapa, den?"
"Nggak tau, bik. Katanya kepalanya pusing terus muntah-muntah ini barusan." jelas Ryan.
Bibik mencerna ucapan Ryan, tidak lama ia tersenyum sumringah "Wah bakal rame ini, den."
Ryan yang masih tidak paham mengernyitkan kening butuh penjelasan.
"Kalau bibik nggak salah kemungkinan nyonya isi ini, den. Hamil maksudnya, den!" ucapnya menjelaskan.
"Benarkah!"
"Iya, den. Kalau dari ciri-cirinya ini. Tapi biar lebih yakin besok chek aja ke rumah sakit." ujar bibik meyakinkan lagi di sela menyuapi Hana dengan bubur yang ia buat.
"Sayang, coba kamu ingat-ingat kapan terakhir datang bulan?"
Hana mencoba mengingat kapan terkahir kali mens, dan ia baru sadar kalau bulan ini ia tak datang bulan lagi.
"Terakhir bulan lalu, bulan ini belum."
Ryan sumringah, ia memegang tangan Hana "Semoga ya ini beneran tanda kamu isi." ujarnya bahagia.
"Iya, sayang. Besok temenin periksa ya." ujar Hana juga tak kalah bahagia jika itu benar.
"Pasti, pasti sayang." sambutnya penuh antusias. Menunggu Hana menghabiskan bubur, ia memijit kaki Hana.
"Sudah, bik. Terima kasih." tolak Hana saat bibik ingin menyuapinya kembali dengan bubur.
"Kalau gitu saya permisi, den, nyonya!" pamit bibik setelah membersihkan bekas bubur dan membawanya keluar.
Bersambung
sprtny author ingin mmbuat hana kembali pd org lama yg justru menyakiti Hana. sedih.....
sprtny author ingin mmbuat hana kembali pd org lama yg justru menyakiti Hana. sedih.....