Wulandari Putri Amelia gadis 19 tahun kuliah jurusan ekonomi dan bisnis tetapi mati karena insiden longsor yang menewaskan seluruh keluarganya di desa, selain jurusan ekonomi dan bisnis Wulan adalah seorang yang hobi memasak makanan, apapun itu, seolah memasak adalah hiburan baginya.
Lalu? Bagaimana saat dirinya masuk ke dalam tubuh putri Duke yang hanya tinggal sendiri di tengah kota, sebab kedua orangtuanya telah menggial akibat serangan bandit saat akan pergi ke istana, maka dari itu dirinya yang hanya seorang putri tunggal terpaksa harus menggantikan tugas kedua orang tuanya, begitu sulit sehingga banyak terjadi penyuapan dan korupsi besar-besaran di wilayah yang dipimpin oleh mendiang ayahnya.
“Aduh, nasib-nasib, malah jadi yatim lagi!” dengus Wulan memandang tubuh gadis berusia 18 tahun ini. “Untung nih bocah umurnya udah 18 tahun, tapi …! Kenapa tubuh gue harus kek bocil kekurangan gizi anjir!” teriak Wulan merasa kesal setengah mati, ingin pingsan saja rasanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _yan08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Oswald Imanuel De Almod
Keesokan paginya para prajurit sudah memulai perjalanan menuju kekaisaran dan sebagian ke wilayah Copatria, mereka mendengar di wilayah itu tengah terjadi konflik dengan para bandit yang menyerang secara mendadak, hanya itu yang didengarnya.
Untuk sampai di wilayah Copatria mereka membutuhkan waktu paling tidak tujuh jam lebih dan bisa di bayangkan sekuat apa mereka berjalan kaki, lain halnya dengan para petinggi yang diangkut menggunakan kereta kuda.
“Saya percayakan mereka semua pada anda ksatria Zhao!” ucap putra mahkota di tengah persimpangan jalan hutan.
“Terimakasih atas kepercayaan anda yang mulia!”
Para rombongan putra mahkota tiba di gerbang wilayah Copatria, di sana ada beberapa orang yang tengah berjaga. “Salam putra mahkota!” sambut mereka dengan wajah berseri-seri, sebab bala bantuan sudah datang.
Hansel mengangguk sekilas untuk membalas, dia diarahkan untuk masuk, keadaan kampung di dekat gerbang mengalami kerusakan yang cukup parah, para warga yang selamat terlihat memasuki dan mengumpulkan barang berharga mereka.
“Yang mulia putra mahkota, apakah kita akan langsung pergi ke penginapan?” tanya seorang prajurit.
“Tak perlu! Kita langsung pergi menuju kastil!” perintahnya.
Sesampainya di kastil keadaan cukup kacau, para mayat yang masih belum diurus terlihat mengenaskan di atas lantai dan pelantaran kastil, semuanya berubah dalam sekejap. “Kau, gunakan sihir pelacak milikmu, untuk menemukan sang duchess!” titahnya lanjut melihat sekelilingnya.
“Sebagian pergilah memberikan informasi untuk para prajurit yang masih hidup untuk mengungsikan para warga ketempat yang aman, dan jangan lupa datangkan para tabib untuk mengobati yang luka-luka! Dan sebagian lagi, bersihkan kastil ini.”
“Baik yang mulia!” Jawab mereka serentak lalu bubar untuk melakukan tugas mereka.
“Ini seperti diluar dugaanku,” ucap seseorang, dia adalah pengawal pribadinya Louis.
“Dari mana kau bisa mendapatkan surat itu Louis?” tanya Hansel cukup penasaran.
“Sebenarnya itu dikirimkan oleh adikku yang mulia, dia juga seorang prajurit pindahan atas perintah sang raja dulu, dan beberapa hari yang lalu dia sempat memberitahuku bahwa dia diangkat menjadi pengawal pribadi sang duchess, dia juga sempat menceritakan ada banyak sekali para prajurit dari pihak Copatria sendiri yang melakukan pengkhianatan pada sang duchess, maka dari itu saat penyerangan tiba, mereka pun kalah jumlah.” Jelas Louis dengan apa yang diceritakan oleh adiknya, yakni Luke pengawal pribadi Wulan yang hanya menjabat beberapa hari sebelum peristiwa berdarah itu tiba.
“Lalu dimana adikmu berada sekarang?”
“Dia sudah berada di rumah yang mulia, luka-luka di tubuhnya cukup parah, apalagi dia juga sempat terkena sihir beracun!”
Hansel mengangguk mengerti.
“Dan saya lupa mengatakan juga yang mulia, adik saya sempat menuliskan bahwa kita disuruh mencari sesuatu yang disembunyikan oleh sang duchess di sebuah ruang bawah tanah kastil, dan saya sempat mengingat ruang bawah tanah tersebut hanya bisa dilewati melalui kamar mendiang Duke dan duchess terdahulu, yang mulia!”
“Apa maksudmu?”
“Saya kurang tahu yang mulia.”
Tanpa banyak kata dia pun pergi menuju kamar mendiang Duke dan duchess, tetapi saat hendak membuka pintu tersebut mereka malah di halangi dengan kedatangan seseorang.
“Apa yang anda lakukan di sini yang mulia putra mahkota?!” tanyanya dengan sedikit nada marah dan tak suka.
Hansel menyerngit bingung dengan pertanyaan jenderal tua di depannya. “Memangnya kenapa? Apakah anda keberatan saya datang kemari?” tanyanya balik.
Dengan cepat jenderal Gariel mengubah mimik wajahnya. “Bukan seperti itu yang mulia putra mahkota, saya hanya sedikit terkejut,” jawabnya mengubah nada suaranya agar terkesan lembut dan penuh wibawa.
Hansel yang seorang putra mahkota dan cukup berpengalaman dalam melihat bentuk dan sifat manusia hanya menatap datar jenderal Gariel yang begitu sibuk memperbaiki citranya. “Dasar jenderal tak berguna!” sinisnya lalu pergi tak jadi masuk, dia akan masuk lain kali saja.
.
.
.
Di sebuah gubuk tua jauh dari kata kehidupan, terlihat seorang gadis duduk bersila dengan seorang nenek tua yang duduk di belakangnya sembari merapalkan mantra dengan warna sihir biru langit mengalir masuk ke punggung gadis tersebut.
“Dalam beberapa hari tenagamu akan pulih secara perlahan,” ucap nenek itu menaikkan baju gadis di depannya itu.
“Terimakasih sudah menolongku nenek!” balasnya dengan nada lemah, dia Wulan, setelah di rasuki oleh seseorang dan berujung pingsan dia malah bangun di sebuah gubuk tua di tengah hutan belantara.
“Sama-sama, kamu begitu istimewa nak, entah apa yang berada di dalam dirimu, tetapi nenek bisa merasakan bahwa sesuatu itu begitu besar dan kuat!”
“Benarkah? Aku bahkan tak bisa merasakannya nek, aku juga merasa diriku hanya sebuah beban yang hanya dilindungi oleh segelintir orang karena kasta diriku yang cukup tinggi, selebihnya aku tak memiliki apapun termasuk sihir!” ucapnya malah curhat.
“Jika boleh tahu, siapakah namamu nak?” tanya si nenek.
“Athenia Odelia De Almod,” jawabnya.
Si nenek cukup terkejut. “Jika boleh nenek tanya lagi, siapakah nama kedua orang tuamu nak?”
“Erasmus De Almod dan Valerie Dominguez!”
Nenek tua itu pun dengan sekejap menatap Wulan tak percaya. “Dia, bagaimana bisa!” batinnya terbelalak kaget. “Kau tak mengada-ada kan nak?” tanya si nenek memastikan lagi.
Wulan yang melihat keterkejutan si nenek seperti tak percaya, dia pun mulai curiga. “Sepertinya dia mengetahui sesuatu!” batin Wulan.
“Memangnya kenapa nek?”
Si nenek tua itu pun menggeleng. “Tak apa-apa nak, nenek hanya terkejut dengan kedatangan seorang bangsawan di rumah reot ini!” senyumnya mengembang.
Wulan mendekat kearah nenek tua itu. “Apakah benar nek? Tetapi kenapa nenek terlihat gugup?” tanyanya menatap aneh, dia cukup mendominasi sekarang meskipun sedang sakit.
“Tidak nak–”
“Jawablah aku dengan jujur nek, apa yang kau ketahui dengan masa lalu keluarga ku?” tukasnya memotong perkataan si nenek.
“Saya benar-benar tidak tahu apa–”
“Aku mohon nek, hanya kau yang bisa menjelaskan semuanya, tolong beritahu aku, apa yang nenek ketahui!” Wulan mulai mengeluarkan jurus andalannya yakni menangis. “Aku mohon nek, semuanya begitu abu-abu bagiku, mereka semua menyerang ku tanpa alasan, kali ini saja tolong jelaskan semuanya nek …!”
Si nenek menatap sendu ke arah Wulan lalu mengusap air mata di pipi gadis itu. Si nenek mengingat dahulu, bahwa sebelum anak mendiang Duke Almod lahir, terjadi sesuatu yang tak terduga pada mendiang duchess Valerie yakni bertemu dengan seorang nenek yang memegang perut hamil duchess Valerie, dulu sempat dia ingin mencegahnya tetapi duchess yang baik hati melarangnya.
“Biarkan saja, aku ingin anakku kelak tumbuh dengan keberkahan yang kalian doakan.” Senyum sang duchess menatap pelayan pribadinya.
Si nenek dulu hanya bisa diam dan menunduk patuh akan ucapan sang majikan. “Tepat saat kelahiran anda tiba, nenek tua yang sempat mengusap perut mendiang duchess terlihat datang lagi dan di sana dia duduk di bawa pohon dengan menggelar kain putih, waktu itu saya sempat untuk melapor pada yang mulia Duke, tetapi karena keadaan yang sangat mengkhawatirkan saya jadi tidak sempat–”
“Ceritakan yang lainnya saja, bagian yang ini aku sudah membacanya, ada bagian yang sobek di buku harian mendiang ibuku, aku penasaran di bagian yang itu!” tukas Wulan tak sabaran.
“Setelah anda lahir, konflik keluarga pun terjadi yang di mana adik dari mendiang Duke datang untuk menuntut sesuatu, membuat mendiang sang Duke begitu marah, sehingga terjadi perang dingin di antara kedua kakak beradik itu, tahun demi tahun sang Duke dan duchess pun akhirnya bisa melewati setiap rintangan dan fitnah dari berbagai macam manusia yang tak menyukai mereka, apalagi sasaran mereka dulu adalah anda yang tak memiliki sihir, mereka semakin menjadi-jadi mengucilkan anda di asrama dan membuat anda menjadi gadis pendiam dan jarang berinteraksi dengan para lady bangsawan yang lain.”
"Tiba saat akan menghadiri pesta kekeluargaan yang diadakan di istana, disitulah malam kedua orang tua anda menghembuskan nafas terakhirnya, banyak orang yang menduga bahwa kematian kedua orang tua anda dikarenakan serangan dari para bandit, tetapi saya tidak percaya begitu saja dengan pengurus jenazah yang menangani kedua orang tua anda, sebab bagaimana bisa seorang Duke dengan pengguna sihir tingkat master bisa mati begitu saja oleh para sekawan bandit!” jelas nenek tua itu menggebu.
Wulan pun mulai berpikir, benar apa yang dikatakan si nenek. “Lalu siapa nama adik dari mendiang ayah nenek?” tanyanya begitu penasaran, dia merasa konflik besar ini berasal dari mendiang adik ayahnya ini.
“Oswald Imanuel De Almod.”
apakah wulan mati .....
lanjutkan berkarya.nya
jadi bagaimana seharusnya si Wulan bertindak....