NovelToon NovelToon
Tidurkan Aku

Tidurkan Aku

Status: tamat
Genre:Single Mom / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Tamat
Popularitas:82.8k
Nilai: 4.7
Nama Author: Lalu Unaiii

Liam tidak pernah merasakan cinta sebelum bertemu dengan Lyra Maharani, perempuan yang masih terikat dengan masa lalunya hingga membuat Liam meradang lantaran cintanya tak kunjung disambut oleh Lyra.

"Menikahlah denganku." -Liam Malik

"Saya tidak bisa."-Lyra Maharani.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalu Unaiii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 34

Suasana meja makan di mansion Liam terasa sangat canggung. Makan malam bersama diadakan untuk pertama kalinya di dalam mansion setelah sekian lama. Lyra juga Bi Mirah sejak tadi saling memandang, hanya Sofia yang sedari tadi berceloteh tidak memperdulikan keadaan canggung tersebut.

Ide makan malam bersama ini memang direncanakan sendiri oleh Liam. Laki-laki itu meminta Bi Mirah untuk memasak banyak hidangan makan malam yang membuat Bi Mirah mengira bahwa Liam untuk pertama kalinya akan mengundang orang lain untuk makan malam di mansion.

Setelah makan malam dihidangkan di atas meja, Liam menyuruh Bi Mirah untuk memanggil Lyra dan Sofia di paviliun. Awalnya Bi Mirah tidak mengerti maksud Liam, namun saat dia, Lyra juga Sofia sampai di hadapannya, laki-laki itu menyuruh mereka untuk duduk di kursi meja makan untuk makan malam bersama dengannya.

Bagian paling canggungnya adalah Liam tidak membuat jelas maksud laki-laki itu dengan mengajak mereka makan malam bersama.

Suara sendok garpu yang beradu dengan piring mengisi ruangan. Sofia sedang fokus makan karna disuapi oleh Lyra. Bi Mirah makan dalam diam sembari mencuri-curi pandang pada Liam yang sekarang sedang memperhatikan Lyra dan Sofia.

Liam seperti biasa duduk di ujung meja, kursi di sisi sebelah kanannya diisi oleh Lyra, dan Sofia duduk di sebelah perempuan itu, sedangkan Bi Mirah duduk di sisi sebelah kiri.

Sejak mereka mulai menyantap makan malam, tatapan Liam tidak pernah lepas dari Lyra dan Sofia. Sesekali laki-laki itu tersenyum tipis. Bi Mirah hanya memperhatikan dalam diam.

Lyra yang menyadari tatapan Liam padanya tidak berani mengangkat wajanya, dia hanya fokus makan sembari menyuapi Sofia.

Hingga makan malam selesai Liam tidak juga membuka suara. Laki-laki itu terlihat sedang berfikir, sembari menatap pada Bi Mirah juga Lyra secara bergantian.

“Mama... Sofia ingin bermain dengan teddy,” cicit Sofia setelah beberapa saat.

“Sebentar ya..” Lyra membalas pelan.

Lyra sedikit merasa kikuk, haruskah dia mengantar Sofia ke paviliun?

“Kamu bisa pergi sebentar Lyra, saya ingin berbicara dengan Bi Mirah.” Liam menatap Lyra sebentar lalu beralih pada Sofia. “Sofia ingat yang kita bicarakan sebelumnya kan?” Tanya Liam pada Sofia yang dijawab anggukan oleh bocah itu.

“Sofia ingat Om, Sofia bisa menjaga rahasia,” balas Sofia sembari menutup mulutnya dengan telapak tangan.

“Bagus.” Liam tersenyum bangga.

Lyra dan Sofia meninggalkan Bi Mirah dan juga Liam yang sepertinya akan melakukan pembicaraan yang serius. Terlihat dari wajah Liam yang sudah mulai datar, senyum yang ditampilkannya saat berbicara dengan Sofia sebelumnya sudah hilang digantikan dengan ekspresi serius.

“Saya menyukai Lyra.” Liam menatap Bi Mirah lurus. Tidak ada keraguan di matanya saat mengatakan hal itu.

Bi Mirah yang mendengarnya pun tidak bisa tidak tercengang. Tidak ada basa basi dalam kalimat Liam. Laki-laki itu ingin memperjelas apa yang ingin dia sampaikan kepada Bi Mirah.

“Bibi adalah salah satu orang terpenting di dalam kehidupan saya,” ucap Liam masih dengan wajah seriusnya.

“Saya ingin memperjelas apa yang saya rasakan pada Lya, sebelum itu saya ingin Bi Mirah tahu.” Liam melanjutkan.

Bi Mirah hanya diam, perempuan itu masih belum bisa mengendalikan keterkejutannya.

“Saya ingin mendengar pendapat Bibi.” Liam sepertinya tidak ingin membuat Bi Mirah berfikir lama.

“Bibi tidak bisa mengatakan apa-apa, tapi Bibi cukup terkejut.” Bi Mirah menjeda, dia meneguk air putih di gelasnya.

“Semuanya terserah Tuan, yang paling penting adalah kebahagiaan Tuan, Bibi hanya bisa mendoakan yang tebaik untuk Tuan, tapi jika Bibi boleh bertanya, apakah Tuan sudah sangat yakin, maksud Bibi, Lyra-“

“Saya menerima apa pun yang sudah terjadi di masa lalu Lyra dan saya rasa saya cukup layak untuk menjadi Ayah sambung Sofia, jika hal itu yang Bibi khawatirkan.” Liam berucap sungguh-sungguh.

Bi Mirah tersenyum tipis. “Jika sudah begitu tidak ada yang perlu Bibi khawatirkan, Bibi mendukung apa pun keputusan Tuan asalkan hal itu bisa membuat Tuan bahagia,” ucap Bi Mirah dengan tatapan penuh kehangatan.

Pembicaraan itu pun tidak lama berakhir. Sekrang Bi Mirah tidak akan bertanya-tanya lagi tentang apa yang terjadi di antara Liam dengan Lyra. Laki-laki itu sudah membuatnya sangat jelas untuk Bi Mirah. Perempuan yang sudah merawat Liam itu adalah orang pertama yang mengetahui keseriusan Liam terhadap Lyra.

Lyra yang sebelumnya mengantar Sofia ke paviliun juga sudah kembali ke mansion tepat setelah Bi Mirah selesai membersihkan meja makan.

“Biar aku saja Bi,” cegah Lyra saat Bi Mirah hendak mencuci piring.

“Kau sedang sakit, biar Bibi saja,” tolak Bi Mirah.

“Tidak Bi, aku baik-baik saja.” Lyra kemudian membuka celemek yang dipakai oleh Bi Mirah lalu memakainya.

Bi Mirah tersenyum lalu mengangguk, “Kalau begitu Bibi duluan ke paviliun,” ucap Bi Mirah seraya menepuk bahu Lyra pelan.

“Bibi, apa ada sesuatu yang Tuan Liam katakan tentang aku?” Lyra bertanya menghentikan langkah Bi Mirah.

Bi Mirah menoleh. Dia kembali tersenyum. “Bibi mendukung apa pun keputusan kalian berdua, Bibi selalu berdoa agar kalian selalu bahagia.” Bi Mirah tidak menjawab pertanyaan Lyra sama sekali. Namun dari ucapannya Lyra bisa mengetahui apa yang Bi Mirah dan Liam bicarakan saat dia pergi tadi.

Setelahnya Lyra hanya melanjutkan pekerjaannya, mencuci piring bekas makan malam lalu dia akan kembali ke paviliun.

Suasana sepi mansion bukan hal yang baru lagi bagi Lyra. Dia sudah terbiasa dengan hal itu. Saat awal-awal bekerja Lyra memang sedikit merasa takut. Mansion ini sangat besar dan cukup menyeramkan jika sudah malam seperti ini.

Lyra mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Mencari keberadaan pemilik mansion yang sudah pasti tidak akan Lyra dapati di dapur ini.

Sesaat kemudian piring, gelas dan peralatan makan lain sudah selesai Lyra bersihkan dan sudah tertata rapi di dalam lemari piring. Lyra kemudian mengeringkan tangannya lalu melepas celemek yang melekat di tubuhnya.

“Apa sekarang kita bisa bicara?”

Lyra seketika menoleh ke belakang kala suara itu tiba-tiba memasuki indra pendengarannya. Rasa terkejutnya semakin bertambah kala mendapati Liam berdiri bersandar pada pantry dapur menatapnya dengan alis terangkat.

Sejak kapan laki-laki itu berada di sana?

“T-Tuan Liam.” Lyra segera mengendalikan ekspresinya.

“Ikut saya,” ucap Liam, ia kemudian beranjak dari sana diikuti oleh Lyra dari belakang. Entah apa yang akan mereka bicarakan kali ini.

Di ruangan kerja Liam, kali ini laki-laki itu tidak duduk di kursi kerjanya. Liam berjalan menuju sofa di ruangan itu, dia memilih duduk di single sofa sedangkan Lyra duduk di sofa panjang di sebelah kanan Liam.

Untuk pertama kalinya Lyra duduk di sofa dalam ruangan ini, biasanya jika Liam memintanya untuk menemuinya di ruangan kerja laki-laki itu, Lyra hanya akan berdiri di depan meja kerja Liam.

Sedikit terasa canggung namun karna Liam sendiri yang menyuruhnya maka Lyra tidak bisa menolak.

“Menikahlah denganku.” Liam menatap Lyra dengan serius, tidak ada keraguan dalam kalimat singkat itu.

Lyra terdiam cukup lama, dengan pelan dia menarik nafas dalam sebelum menjawab. “Saya tidak bisa.” Lalu dia menunduk dalam.

1
Fardiana Hamsah
Luar biasa
Alvivia
mulai meleleh
Alvivia
nina bobo...o..nina bobo..kalo kamu tidak bobo gue tabok
Alvivia
dulu om galak ..sekarang om baik
Alvivia
sabar om....
Alvivia
lanjutkan karya mu thor.....ceritanya bener2 menarik
Nini Munasari
bagus tulisannya rapi enk d baca
Nur HafniOctavia
keren
Nur HafniOctavia
Kecewa
Saeti Yayat
cerita yang mengangkan tapi lucu
Phoo
Mantan suami lyra aja belom dapet ganjaran. Eh udah slesae aja. Kenapa buru-buru banget sih thoor tamanya. Padahal baca dr awal udah menarik, eh kebelakang mengecewakan.
MiatY#penggemarnovel📚❤️📖
🌟🌟🌟
Nadi Rosmiaty Manaba
Buruk
Nadi Rosmiaty Manaba
Kecewa
Siti Sarifah
bagus critanyap
Siti Sarifah
bagus critanya
Inah Ilham
Luar biasa
Inah Ilham
bayi raksasa lagi tantrum 🤣🤣
Inah Ilham
akan kecil itu jujur om, belum bisa bohong 🤣🤣🤣
Vannya.bee@gmail.com Septiani.bee
akn jth cinta g ya Liamnya k Lyra?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!