NovelToon NovelToon
Tiga Bayi Tersembunyi: CEO Menyesal Seumur Hidup

Tiga Bayi Tersembunyi: CEO Menyesal Seumur Hidup

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Anak Genius / Penyesalan Suami / Teman lama bertemu kembali
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Lima tahun lalu, Keira diusir dari keluarga Mulyono saat perutnya baru membesar.
Tidak ada yang tahu dia sedang mengandung tiga anak sekaligus — anak-anak dari pria paling berkuasa di Jakarta: Kevin Hartono, CEO Hartono Group.
Tanpa uang, tanpa keluarga, tanpa nama — dia membesarkan ketiga anaknya sendirian. Diam-diam, dia membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Menjadi CEO SH Corporation. Menjadi dokter jenius yang dipanggil "Dr. Mira." Menjadi ahli chip SSS-level yang dicari seluruh dunia dengan nama "Ainara."
Sekarang, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai gadis yang pernah dibuang. Tapi sebagai wanita yang bisa menghancurkan siapa saja yang pernah menyakitinya.
Masalahnya? Kevin Hartono — mantan suami yang bahkan tidak tahu dia pernah hamil — baru saja menemukan bahwa putranya, Darren, punya saudara kembar yang identik.
Dan dia tidak akan berhenti sampai menemukan ibu mereka.
"Kei... kamu bisa membenciku. Kamu bisa memukulku. Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi."
Tapi Keira sudah bersumpah: *dia yang membuangku, sekarang harus berlutut untuk mendapatkanku kembali.*
Siapa bilang balas dendam terbaik bukan hidup bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Aroma mawar itu belum benar-benar hilang dari rumah Keira ketika Pak Hadi menelepon dengan suara yang jarang sekali terdengar panik.

"Nona Keira, maaf mengganggu. Tuan Muda Darren terus memanggil Mommy sejak tadi pagi. Pak Kevin sudah mengizinkan Nona datang ke Hartono Estate, kalau Nona berkenan."

Keira sedang menutup kotak obat kecil di atas meja rias. Di dalamnya ada jarum perak setipis rambut, kapas steril, dan botol kecil berisi cairan antiseptik yang selalu ia bawa sejak bertahun-tahun lalu.

Ia menatap Ethan dan Tiffany yang duduk di sofa.

"Mommy mau ke rumah Ren?" tanya Tiffany.

"Hanya sebentar."

Ethan langsung berdiri. "Aku ikut?"

"Tidak hari ini. Kamu sekolah daring dulu dengan Tiffi. Rio akan menemani."

Ethan ingin protes, tetapi melihat wajah Keira, ia menelan kata-katanya. "Kalau ada apa-apa, Mommy kirim lokasi."

Keira mengusap rambut putranya. "Selalu."

Lima hari setelah bunga dan kartu itu memenuhi halaman rumah, Keira kembali melangkah masuk ke Hartono Estate. Gerbang besi tinggi terbuka tanpa interogasi. Para penjaga menunduk lebih cepat dari sebelumnya.

Pak Hadi sudah menunggu di depan lobi utama.

"Ren di taman belakang?" tanya Keira.

Pak Hadi membuka mulut, tetapi belum sempat menjawab, suara gaduh datang dari arah koridor timur.

"Dokter! Cepat!"

Keira menoleh.

Dua pelayan berlari membawa kotak medis. Feng muncul dari ujung koridor dengan wajah pucat. Di belakangnya, Kevin berjalan cepat sambil memegang ponsel, rahangnya mengeras seperti batu.

"Siapkan mobil ambulans pribadi," perintah Kevin. "Tidak, jangan tunggu izin rumah sakit. Dokter jantung harus sampai dalam sepuluh menit."

Keira langsung tahu ada yang salah.

"Apa yang terjadi?"

Kevin berhenti saat melihatnya. Ada sekejap keterkejutan di matanya, lalu ia kembali bergerak. "Engkong kambuh. Jantung."

Keira tidak menunggu penjelasan lain. Ia mengikuti langkah Kevin menuju kamar utama di lantai dua.

Pintu kamar Engkong Hartono terbuka lebar. Di dalam, udara terasa berat oleh bau minyak angin, alkohol medis, dan ketakutan orang-orang kaya yang tiba-tiba sadar uang tidak bisa membeli waktu.

Engkong Hartono terbaring di ranjang besar, wajahnya kelabu, napasnya pendek-pendek. Dokter keluarga Hartono sedang memeriksa tekanan darah sambil berkeringat. Monitor portabel di samping ranjang berbunyi tidak stabil.

"Tekanan turun lagi," kata perawat.

Kevin berdiri di sisi ranjang, tangan terkepal. "Dokter."

Dokter keluarga itu menelan ludah. "Pak Kevin, kami sudah beri obat darurat, tapi responsnya lemah. Riwayat jantung Pak Tua terlalu berat. Kita harus bawa beliau ke rumah sakit sekarang."

"Perjalanan ke rumah sakit dua puluh menit."

"Itu pilihan terbaik."

Keira melihat grafik denyut di layar. Tidak banyak waktu.

Ia melangkah maju.

"Biarkan saya mencoba."

Semua orang menoleh.

Dokter keluarga itu mengerutkan kening. "Nona, ini kondisi jantung akut. Tolong jangan mendekat kalau tidak punya izin medis."

Keira membuka tas kecilnya. Kilau jarum perak muncul di antara lipatan kain hitam.

Kevin menatap benda itu. "Kamu bisa pengobatan Tionghoa?"

"Aku bisa menjaga beliau bertahan sampai bantuan datang."

"Itu bukan jawaban."

Keira mengangkat wajah. "Kalau kau ingin jawaban lengkap, tanyakan setelah Engkongmu bernapas normal."

Untuk pertama kalinya hari itu, Kevin terdiam.

Dokter keluarga langsung menolak. "Pak Kevin, tindakan tanpa prosedur bisa memperburuk aritmia. Saya tidak bisa bertanggung jawab."

Keira sudah mencuci tangan dengan alkohol. "Kalau Anda terus menunggu, Anda juga tidak akan punya pasien untuk dipertanggungjawabkan."

Kalimat itu tajam, tetapi tidak sombong. Ia mengatakannya seperti orang yang sedang membaca hasil laboratorium.

Kevin memandang monitor, wajah Engkong, lalu Keira.

"Beri dia ruang."

"Pak Kevin!"

"Saya yang bertanggung jawab."

Kamar itu hening.

Keira duduk di tepi ranjang. Ia menyentuh nadi Engkong Hartono di pergelangan tangan, lalu di leher. Ujung jarinya tenang, tidak ada gemetar sedikit pun. Kevin berdiri di sampingnya, cukup dekat untuk melihat bulu mata Keira yang turun ketika ia berkonsentrasi.

Darren tiba-tiba muncul di pintu, ditahan Pak Hadi.

"Engkong..." Suaranya kecil.

Keira tidak menoleh, tetapi ia berkata lembut, "Ren, tunggu di pintu. Mommy sedang bantu Engkong."

Darren berhenti menangis.

Kevin mendengar kata Mommy itu, tetapi kali ini ia tidak punya ruang untuk terkejut. Seluruh perhatiannya tertahan pada tangan Keira.

Jarum pertama masuk di titik dekat pergelangan.

Dokter keluarga menarik napas tajam. "Titik itu..."

Jarum kedua dan ketiga menyusul. Keira bergerak cepat, presisi, seperti ia sudah menghafal tubuh manusia bukan dari buku, melainkan dari medan perang yang pernah menuntutnya memilih antara terlambat satu detik atau kehilangan nyawa.

Satu jarum di dada bagian atas.

Satu di sisi lengan.

Satu di dekat tulang selangka.

Kevin melihat dua belas jarum perak tertanam dalam pola yang tidak ia pahami, tetapi entah bagaimana membuat udara di kamar itu berubah.

"Matikan suara monitor, kecilkan saja," kata Keira.

Perawat memandang dokter.

Dokter yang tadi menentang kini menatap jarum-jarum itu dengan mata membesar. "Ikuti dia."

Bunyi monitor mengecil. Yang terdengar hanya napas Engkong yang patah-patah dan hujan tipis yang mulai mengetuk kaca jendela.

Keira memutar salah satu jarum sangat pelan.

Kevin melihat keringat muncul di pelipisnya. Ia ingin mengambil tisu, tetapi takut gerakan kecil pun mengganggu.

"Napaskan pelan, Engkong," bisik Keira. "Ikuti saya. Jangan buru-buru."

Seolah mendengar suara itu, dada Engkong Hartono yang sejak tadi naik turun kacau mulai menemukan ritme.

Satu menit.

Tiga menit.

Lima menit.

Garis di monitor yang tadi melonjak liar perlahan turun.

Perawat menutup mulut. "Tekanannya naik."

Dokter keluarga segera memeriksa ulang. "Tidak mungkin..."

Kevin menatap layar. Angka yang tadi membuat semua orang pucat kini bergerak ke batas yang jauh lebih stabil.

Pada menit kelima belas, Engkong Hartono mengeluarkan napas panjang.

Wajahnya masih pucat, tetapi warna abu-abu mematikan itu mulai hilang.

Keira baru menarik tangannya.

"Sekarang bisa dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lengkap. Jangan pindahkan beliau dengan posisi duduk. Siapkan oksigen. Obat darurat yang tadi boleh diteruskan, tapi dosis berikutnya tunggu hasil EKG."

Dokter keluarga memandangnya seperti melihat hantu.

"Ini bukan akupunktur biasa," gumamnya. "Ini teknik klinis tingkat tinggi. Nona, Anda sebenarnya dokter level apa?"

Keira membersihkan jarum satu per satu. "Level orang yang tidak suka kehilangan pasien."

Kevin menatapnya.

Jawaban itu terdengar ringan, tetapi di baliknya ada sesuatu yang gelap dan panjang. Sesuatu yang belum pernah ia sentuh.

Dari ranjang, Engkong Hartono membuka mata perlahan.

"Kev..."

Kevin langsung membungkuk. "Engkong."

"Ribut sekali." Suara lelaki tua itu serak, tetapi masih punya nada galak. "Aku belum mati. Jangan bikin rumah seperti pasar."

Beberapa pelayan menunduk sambil menahan tangis lega.

Keira berdiri hendak mundur, tetapi tangan tua Engkong tiba-tiba bergerak dan menangkap ujung lengan bajunya.

"Kamu yang menolongku?"

Keira membungkuk sopan. "Saya hanya membantu sampai dokter bisa membawa Engkong ke rumah sakit."

Engkong menatap wajahnya lama. Matanya yang keruh oleh usia tiba-tiba menyipit, penuh minat.

"Cantik. Tenang. Tangannya juga berani."

Kevin menekan pangkal hidung. "Engkong, jangan banyak bicara dulu."

"Diam, aku sedang lihat calon cucu menantuku."

Ruangan itu membeku.

Keira ikut membeku.

Darren yang masih berdiri di pintu tiba-tiba tersenyum kecil.

Engkong Hartono menggenggam lengan Keira sedikit lebih kuat. "Anak baik, menikahlah ke keluarga Hartono kami. Kevin ini memang wajahnya dingin, tapi hatinya masih bisa dipakai."

"Engkong," suara Kevin turun berbahaya.

"Apa? Aku sedang menyelamatkan masa depanmu."

Untuk sesaat, ketegangan yang menyesakkan kamar itu pecah oleh tawa tertahan para pelayan.

Keira menarik napas, antara malu dan ingin tertawa. "Engkong harus pulih dulu. Urusan masa depan bisa dibahas setelah tekanan darah stabil."

Engkong tampak puas. "Berarti belum menolak."

Kevin menatap Keira.

Keira pura-pura sibuk memasukkan jarum ke kotaknya.

Ambulans pribadi tiba beberapa menit kemudian. Saat Engkong dibawa turun, Keira memberi instruksi singkat kepada dokter tentang titik yang tidak boleh ditekan dan obat yang harus dihindari sebelum pemeriksaan lanjutan. Semua orang mendengarkan.

Termasuk Kevin.

Di koridor, ia berjalan di samping Keira.

"Kenapa kamu selalu membawa jarum itu?"

"Kebiasaan."

"Kebiasaan orang biasa tidak bisa menstabilkan jantung Engkong dalam lima belas menit."

Keira berhenti. "Pak Kevin, kalau kau ingin terus bertanya, setidaknya tunggu sampai aku selesai menyelamatkan keluargamu."

Kevin juga berhenti.

Tatapannya tidak lagi hanya curiga.

Ada kekaguman di sana. Dalam. Diam. Lebih berbahaya daripada semua pertanyaan yang pernah ia ajukan.

"Setiap minggu," kata Keira lebih dulu, "Engkong butuh terapi lanjutan. Aku bisa datang seminggu sekali. Tapi syaratnya, pemeriksaan rumah sakit tetap dilakukan dan semua obat dicatat."

"Dan Darren?"

Keira menoleh.

Kevin berkata pelan, "Kamu juga bisa menemuinya setiap datang."

Keira tidak menjawab cepat. Di ujung koridor, Darren masih memeluk saputangan berhuruf K dan menatapnya seolah takut ia menghilang lagi.

"Baik," katanya akhirnya.

Malam itu, setelah ambulans pergi dan Hartono Estate kembali sunyi, dokter keluarga berdiri di ruang kerja Kevin dengan wajah belum pulih dari keterkejutan.

"Pak Kevin," katanya ragu, "saya pernah melihat pola jarum seperti itu di jurnal internasional lama. Hampir dua puluh tahun lalu ada artikel tentang dokter muda yang mengguncang forum medis Asia. Nama penanya Dr. Mira."

Kevin mengangkat mata.

Dokter itu menelan ludah.

"Tapi Dr. Mira sudah lama menghilang. Kalau Nona Keira bisa memakai teknik yang sama, berarti dia murid langsungnya..."

Kevin menatap ke arah jendela, tempat mobil Keira baru saja keluar dari gerbang Hartono Estate.

"Atau," katanya pelan, "dia sendiri Dr. Mira."

1
sunaryati jarum
Kamu minta maaf bukan merasa bersalah hanya takut perusahaan kamu koleb
sunaryati jarum
Berarti ibu Rosalind masih hidup
Tri Septi
apakah Leon kakaknya Kevin? dia mirip Raymond ayahnya Kevin ya 🤔🤔🤔
Tri Septi
lanjut thor🙏🙏🙏🙏
Tri Septi
mama keira hilang diculik, mama Kevin juga ada di mana ??? makin rumit aja
Tri Septi
semangat Kevin 💪 terima kasih author meski sedikit 😁🙏🙏🙏
Tri Septi
Kevin, ayo buktikan bahwa kamu bersih dan mereka yang berbuat jahat terbukti bersalah /Casual/
Tri Septi
sepandai-pandai tupai melompat suatu saat akan gagal juga....niat jahat semoga dpat digagalkan😆💪🙏
Tri Septi
orang bertopeng ini apakah sama dengan yang mengambil Darren waktu bayi ya......banyak yg terlibat, musuh keira banyak😠 semoga bisa segera terungkap 💪🙏
Tri Septi
penyesalan selalu di akhir
Tri Septi
mama Rosalind mungkin jenius, sehingga ada yg berniat menyembinyikan dan memanfaatkan nya /Frown//Frown//Frown/
Tri Septi
selamat datang kembali "Kei" 😍😍😍
Tri Septi
ada konspirasi....apa motifnya ya /Casual/
Siti Maryati
sampe.ikut berdesir mambaca "kamu punya aku"
Tri Septi
yang dibelakang Maya patut diwaspadai /Casual/ makin penasaran thor😄😄😄
sunaryati jarum
Berarti saudara seibu artinya ayahnya beda
sunaryati jarum
Semoga kalian cepat bersatu
Tri Septi
Kevin mau pdkt apa menyelidik? 🤣🤣🤣
Tri Septi
seperti induk ayam yang melindungi anak2nya, keira semangat 💪💪💪
Tri Septi
musuh dalam selimut 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!