Satu persatu, lembar demi lembar buku harian istrinya dibaca olehnya. Bagaimana dirinya mulai dicintai, hingga gadis itu menyembunyikan cintanya.
Hingga pada halaman tertentu, dirinya mengetahui. Hidup sang istri hanya tinggal 100 hari dari sejak hari pernikahan mereka.
Istrinya yang mengatakan pergi berlibur? Apa berlibur ke Surga? Air matanya mengalir mengingat betapa buruk perlakuannya pada istrinya.
"Liburan? Kamu berbohong bukan? Kamu pergi hanya untuk mati?"
Tepat pada hari ke 90, surat cerai yang telah ditandatangani dikirimkan istrinya. Mengatakan agar dirinya dapat hidup bahagia.
Dari sanalah segalanya dimulai. Pencarian besar-besaran untuk menangkap seorang wanita yang sakit keras.
"Kita akan bersama dalam kehidupan atau pun kematian." Ucap sang suami, tertawa dalam tangisannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Bilang-bilang
"Menurutmu aku harus bagaimana? Tetap diam seperti perintah Jeremy. Atau memberikan nasehat pada Satya?" Tanya Philip padanya.
Gery berfikir sejenak, mengernyitkan keningnya. Dirinya mulai tersenyum."Jika Satya mengetahuinya, dia akan melemparkan wanita itu pada Jeremy. Wanita yang mungkin akan membuat hubungan Jeremy dan istrinya merenggang. Mungkin memang lebih baik biarkan saja! Pura-pura tidak tahu."
"Begitu? Tapi wanita itu, dia..." Kalimat Philip disela.
"Sudah! Aku ada janji dengan pacarku Jasmine." Ucap Gery meraih kunci mobil miliknya. Membuat Philip membulatkan matanya, nama itu terdengar lagi. Ini tidak salah kan? Apa pacar mereka orang yang sama?
"Gery! Tunggu!" Ucap Philip mengejar.
"Sudah! Lebih baik jika pun tau, sebaiknya kamu diam saja. Ini bukan bagian dari kepentinganmu." Itulah yang diucapkan Gery menbuat Philip terdiam menelan ludahnya.
Dirinya tidak boleh bicara kemungkinan tiga orang ini menyukai wanita yang sama. Membiarkan Gery pergi, membuat Philip tertegun, mengetahui betapa indahnya dunia ini.
"Lebih baik jomblo, dari pada kehilangan kehormatan dan harga diri sebagai pria..." Gumamnya mengingat Satya, Gery dan Jeremy sudah seperti saudara kandung. Bagaikan Satya anak tertua, Gery anak tengah dan Jeremy si bungsu. Itulah hubungan persahabatan mereka.
Dirinya menghela napas kembali berfikir."Aku akan mencari wanita biasa-biasa saja yang setia." Tekadnya.
Sedangkan Gery berjalan di tempat parkir sembari bersiul. Dirinya akan bertemu dengan Jasmine. Tidak ada yang lebih baik dari ini.
Namun, langkahnya terhenti kala menatap hal yang aneh.
"Windy?" Gumamnya menatap ke arah sang mantan yang baru saja turun dari mobil.
Perbuatan yang masih terbayang dalam benaknya hingga saat ini. Hal-hal yang membuat Windy membencinya.
Gery menutup mulutnya sendiri. Hendak berlari mengingat Windy akan mengamuk setiap bertemu dengannya.
Namun pemuda yang berada di kursi pengemudi hendak pergi itu menatap aneh. Windy hanya melihat ke arahnya, kemudian berbalik bagaikan tidak saling mengenal.
"Windy?" Gumamnya, menatap ke arah penyebabnya ingin menjalin hubungan yang lebih serius dengan Jasmine. Jasmine yang dianggapnya memiliki kemiripan sifat dengan Windy.
Tapi Windy berubah lebih jauh lagi. Taruhan? Ini berasal dari sebuah taruhan, dimana dirinya bertaruh dapat pacaran dan meniduri mahasiswi tercantik dari jurusan kedokteran.
Dirinya mendekatinya seperti mendekati wanita pada umumnya. Hingga berhasil menidurinya.
Tapi.
Satu hal yang tidak diduga olehnya. Dirinya yang ditaklukkan oleh Windy, gadis lucu, manis dan pintar. Sang playboy menjalani hubungan serius pada akhirnya.
Tapi semua kandas setelah Windy mengetahui dirinya hanya bahan taruhan. Bahkan para mantan Gery mendatanginya.
Saat itulah pacarnya yang manis dan lucu, berubah menjadi bar-bar. Menjambak rambutnya, hingga membuat keributan, keributan yang hanya dapat dihentikan pihak kepolisian.
Benar! Pasangan kekasih itu sempat menginap di sana dengan penampilan acak-acakan setelah berkelahi di depan umum.
Namun.
Sejauh apapun pergi dirinya merindukan Windy. Gery terlalu takut untuk memperbaiki gelas yang pecah. Karena itu, dirinya dengan cepat berganti kekasih, mencari seseorang yang seperti Windy. Seseorang yang dapat menggantinya. Jasmine, lucu dan baik hati, juga setia, sifat yang mirip dengan Windy nya.
Wanita yang pada awalnya hanya berkelahi dan saling mengumpat setiap bertemu. Kini berubah semakin menjauh saja. Dirinya bagaikan tidak ada di mata Windy kali ini.
Entah kenapa Gery terdiam. Setetes air mata yang mengalir tidak disadarinya."Dia tidak menyerangku seperti biasanya?"
Ada kalanya dibenci lebih baik, daripada dianggap tidak ada. Pemuda yang menghirup napas dalam-dalam, apa yang terjadi dengan dirinya? Bukankah ini lebih baik?
Hingga kala wanita itu hendak memasuki area restauran seorang pria datang. Pria berkacamata dengan pakaian rapi.
Tertawa di depan area restauran bersama Windy. Gadis yang menyelipkan rambut di telinganya sendiri. Menggerak-gerakkan kakinya terlihat manis, salah tingkah seperti kala Gery mendekatinya dulu.
"Dia menemukan pengganti..." Gumamnya, merasakan dadanya yang semakin sesak.
*
Perbedaan kenyataan dan bukan memang sulit kala banyak hal membahagiakan yang terjadi. Seperti hari ini, Jeremy tertidur sembari memeluknya.
Wanita yang membuka matanya menatap wajah indah suaminya. Bolehkah dirinya tidak tidur untuk dapat menghabiskan lebih banyak waktu? Hanya itulah pertanyaan dalam otaknya.
"Jangan bekerja hari ini..." Ucap Jeremy membuka matanya, mengecup seluruh wajah Laverna.
"Aku akan bekerja. Tapi mungkin akan sedikit terlambat." Jawab Laverna kembali memeluk Jeremy erat.
"Kenapa?" Tanya Jeremy padanya.
"Karena... dingin..." Ucap Laverna mengingat hujan deras di luar sana.
"Benar, dingin..." Tawa Jeremy terdengar, istrinya benar-benar manis. Bagaimana dirinya tidak jatuh cinta perlahan padanya.
Hari ini mereka benar-benar terlambat. Laverna membutakan sarapan, memakannya bersama. Segelas kopi hangat terhidang.
"Kamu seperti kopi." Laverna menghela napas kasar.
"Aku tidak hitam kan?" Jeremy mengernyitkan keningnya.
"Mengandung kafein yang membuatku bersemangat." Jawab Laverna, membuat pemuda itu tertawa.
Tangannya menarik Laverna ke dalam pangkuannya."Seperti kekasih bukan?" tanyanya, dijawab dengan anggukan kepala oleh Laverna.
"Suapi aku." Jeremy membuka mulutnya. Namun wanita itu malah menciumnya. Pasangan yang tertawa, kembali berpangutan setelah beberapa kali kecupan.
Sinar matahari memasuki celah tirai ruangan. Mengantarkan kerinduan akan memori yang tidak terlupakan nantinya. Sama seperti sebelumnya, sebuah handycam merekam kegiatan mereka.
Tujuannya? Entahlah, jika Jeremy menanyakannya maka Laverna akan berkata hanya ingin.
Ciuman sang pemuda yang turun ke area leher, menyesapnya gemas. Meninggalkan bekas keunguan bagaikan menandakan lahan yang belum dibajak ini adalah miliknya.
"I...ini!" Laverna menghentikan kegiatan Jeremy. Mendorong kepalanya setelah menikmati kala pemuda itu membuat tiga tanda.
"Itu...jangan pernah ditutupi!" Tegas Jeremy padanya.
"Kenapa!?" Tanya Laverna setengah berteriak tidak mengerti dengan watak Cookies-nya yang berubah tiba-tiba.
"Kontrak pernikahan kita. Dalam kontrak kamu tidak boleh menjalin hubungan istimewa dengan pria lain. Omong-ngomong, buka sedikit kancing kemejamu, aku ingin membuat beberapa disini." Ucap Jeremy menunjuk ke arah dada Laverna yang masih tertutup kemeja.
"Aku mau! Tapi tidak! Tidak! Tapi mau! Tapi tidak. Jika dilanjutkan Cookies akan keterusan. Kemudian..." Laverna menghela napasnya tidak ingin Jeremy menyadari ada yang salah dengan tubuhnya.
"Kamu mau menjadi bayi besar?" Tanya Laverna dijawab dengan gelengan kepala oleh Jeremy.
"Mau!" Isi otak sebenarnya dari sang pemuda.
"Tidak aku hanya ingin memastikan kamu tidak berhubungan dengan pria lain." Alasannya, seperti biasanya. Modus! Modus! Modus!
"Aku tidak akan berhubungan dengan pria lain selama masa kontrak." Laverna turun dari pangkuan Jeremy antara rela dan tidak.
"Setelahnya?" Tanya Jeremy memeluk Laverna dari belakang, kala wanita itu tengah mencuci piring.
"Menurutmu?" Laverna bertanya balik.
"Menurutku..." Jeremy tersenyum mengigit pelan bahu wanita itu gemas.
"Mau mencoba lebih?" Tanya pemuda yang bahkan belum menyatakan perasaannya.
"Mau, aku akan memasak lebih banyak nanti malam." Laverna berbalik mengecup bibirnya. Kemudian tertawa melarikan diri.
"Aku semakin menyukainya." Gumam Jeremy menghela napas berkali-kali.
...Aku menyukai wajah cemberut mu. Aku menyukai bentakan mu....
...Aku menyukai mulut cerewet mu. Bahkan jerawat dan bisulmu juga....
...Karena cintaku, menyukai kelemahanmu. Hanya menganggap kelebihanmu sebuah bonus....
Jeremy.
sakit