NovelToon NovelToon
Jangan Paksa Suamiku Selingkuh

Jangan Paksa Suamiku Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mandul / Konflik etika
Popularitas:629
Nilai: 5
Nama Author: Vitamaya

Vonis dokter menjadi titik balik dalam hidup Zulfa dimana dirinya hanya bisa memiliki anak melalui program bayi tabung. Di tengah harapan yang rapuh, sang ibu mertua yang selama ini tampak penuh dukungan, diam-diam menyusun rencana yang mengguncang, ia menyuruh Arslan, putra semata wayangnya, untuk berselingkuh.

Arslan menolak keras tunduk pada keinginan ibunya. Ia tetap berdiri di sisi sang istri, menguatkan setiap langkah Zulfa meski harapan berkali-kali runtuh. Namun, konflik tak berhenti di sana. Sang ibu sengaja menghadirkan masa lalu Arslan ke permukaan, mengancam keutuhan rumah tangga yang mereka bangun dengan susah payah.

Di tengah tekanan, air mata, dan kegagalan program bayi tabung yang terus menerpa, Zulfa dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya, antara terus berjuang atau berhenti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vitamaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lingerie Baru

Setelah menempuh perjalanan udara selama kurang lebih dua belas jam, mereka akhirnya tiba di sebuah negara yang sering disebut sebagai "negeri dua benua." Letaknya yang membentang di antara Asia dan Eropa membuat wilayah ini memiliki keunikan geografis tersendiri. Ditambah lagi dengan keindahan alamnya serta iklim empat musim yang khas, tempat ini juga dikenal luas sebagai "negeri empat musim."

Begitu keluar dari bandara, mereka langsung dijemput oleh sopir yang telah disiapkan pihak hotel. Namun ada satu hal yang membuat Arslan sempat mengernyit. Hotel yang dipesan ternyata bukan hotel di pusat kota seperti yang ia bayangkan sebelumnya, melainkan sebuah resort mewah yang terletak cukup jauh dari keramaian. Yaitu di kota Antalya.

Untuk mencapainya saja, mereka harus menempuh perjalanan tambahan dengan dua kali perpindahan transportasi, termasuk penerbangan domestik singkat, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan darat sekitar empat puluh menit.

Letaknya yang terpencil membuat suasana di sekitarnya terasa lebih tenang, jauh dari hiruk pikuk kota. Bangunan hotel itu sendiri berdiri megah dengan desain menyerupai kapal pesiar raksasa, mengingatkan pada kemewahan kapal Titanic.

Meski perjalanan terasa panjang dan melelahkan, Arslan memilih untuk tidak mempermasalahkannya. Vania sebelumnya telah menginformasikan bahwa koleganya, Osman, memang secara khusus memilih lokasi tersebut untuk pertemuan bisnis ini.

Dan Arslan menghormati keputusan itu. Setibanya di lobi hotel, suasana yang menyambut mereka terasa sangat tenang. Tidak banyak keramaian. Hanya beberapa staf yang bersiaga menyambut tamu VIP yang datang. Dengan standar layanan resort bintang lima, setiap tamu diperlakukan secara eksklusif tanpa terkecuali.

Arslan dan Zulfa segera diarahkan menuju area check-in khusus. Sementara itu, Zulfa masih tampak kelelahan setelah perjalanan panjang, bahkan sejak di pesawat ia lebih banyak tertidur.

Arslan menatapnya sekilas dengan lembut, lalu menghela napas pelan. Sesampainya di kamar, ia segera merapikan dirinya. Tanpa sempat beristirahat lama, Arslan mengganti pakaian dengan kemeja yang telah disiapkan oleh Zulfa di dalam koper.

Sarapan pun hanya sempat ia lakukan di dalam mobil—itu pun hanya beberapa potong roti dan air mineral saja. Kini, sambil berdiri di depan cermin, Arslan mengancingkan kemejanya satu per satu. Gerakan tangannya sedikit melambat, bukan karena kesulitan, tetapi karena rasa lelah yang baru mulai terasa setelah perjalanan panjang itu. 

Arslan mengaitkan kancing-kancing kemejanya yang terasa begitu sesak, bukan karna tidak cukup, tetapi ukuran kemeja ini menyesuaikan tubuh Arslan yang berbentuk atletis. Namun di balik penampilannya yang rapi dan berwibawa, jelas terlihat bahwa tubuhnya juga baru saja melewati perjalanan yang menguras tenaga.

"Mau langsung bertemu Mr. Osman sekarang?" tanya Zulfa yang sudah melihat suaminya berpakaian rapi. Arslan memakai sepatu pantofel hitamnya sambil menjawab, "Iya, biar urusannya cepet selesai." Lalu Arslan berdiri dari tempat duduknya, menghampiri istrinya yang masih terlihat lelah.

"Kamu bisa sarapan dulu di restoran, habis itu istirahat lagi." Arslan mengelus lembut dagu runcing istrinya. " Atau biar ku suruh buttler hotel untuk menyiapkan sarapan ke dalam kamar." Melihat istrinya yang masih kelelahan membuat Arslan tak tega jika menyuruhnya sarapan di restoran.

"Iya deh gampang. Nanti kalau aku udah mulai lapar aku akan menghubungi room service." Zulfa menanggapi ucapan suaminya sambil menggelayutkan tubuhnya di tubuh Arslan yang sudah wangi. Rasanya Zulfa enggan sekali melepas dekapan hangat suaminya. Tak lama kemudian suara bell berbunyi dari balik pintu, seorang anak buah Osman sudah datang menjemput untuk mengantar Arslan bertemu atasannya.

"Aku berangkat dulu, ya. Nanti kalau urusanku udah selesai, kita jalan-jalan keluar." Zulfa mengangguk lalu mengantar Arslan keluar kamar.

Saat Arslan sibuk dengan urusan bisnisnya, Zulfa harus menghadapi satu hal yang paling ia benci ketika bepergian bersama sang suami, yaitu menunggu. Merasa bosan berada di dalam kamar, ia memilih berbaring santai di sofa empuk yang terletak di balkon suite mereka. Dari sana, hamparan laut biru membentang sejauh mata memandang, berpadu dengan kolam renang berkelok indah yang tampak berkilauan diterpa cahaya matahari pagi.

Tak banyak yang bisa ia lakukan selain menggulir layar ponselnya. Sesekali Zulfa mengangkat kamera, mengabadikan pemandangan yang menurutnya terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja. Beberapa foto langsung ia unggah ke media sosial, sekadar untuk menyapa para pengikutnya yang jumlahnya hampir menembus satu juta akun..

Meski begitu, Zulfa tidak pernah merasa dirinya seorang selebgram. Baginya, media sosial hanyalah tempat berbagi hal-hal yang ia sukai. Pemandangan indah, sudut kota yang unik, bunga-bunga yang menarik perhatian, atau momen sederhana yang membuat hatinya bahagia, seperti memposting hasil masakannya. Namun entah mengapa, unggahan-unggahan sederhana itu selalu berhasil menarik perhatian banyak orang.

Tentu bukan hanya karena hasil fotonya yang estetik. Zulfa juga memiliki pesona yang sulit diabaikan. Sesekali ia muncul dalam unggahannya sendiri, membagikan foto saat berlibur atau menikmati waktu bersama keluarga. Dengan atau tanpa banyak pose, wajah cantiknya selalu berhasil mencuri perhatian para pengikutnya.

Apakah Arslan keberatan? Tentu tidak.

Arslan bukan tipe suami yang gemar mengatur setiap langkah istrinya. Selama apa yang dilakukan Zulfa membuatnya bahagia dan tidak melanggar batas yang mereka sepakati, Arslan akan selalu mendukungnya. Begitulah cara pria itu mencintai. Memberi ruang tanpa mengurangi rasa sayang.

Setelah seluruh urusan bisnisnya dengan Osman selesai, Arslan akhirnya menepati janji yang sejak awal ia ucapkan kepada istrinya. Hari itu sepenuhnya ia dedikasikan untuk Zulfa.

Mereka menghabiskan waktu berkeliling menikmati keindahan kota Antalya yang terletak di pesisir Mediterania barat daya Turki. Dari jalan-jalan yang dipenuhi deretan pohon rindang, kafe-kafe cantik di tepi pantai, hingga berbagai macam kapal laut yang berjejer rapi di pesisir laut.

Memang tidak semua tempat berhasil mereka kunjungi. Namun bagi Zulfa, kebersamaan itu jauh lebih berharga daripada tujuan wisatanya sendiri. Selama ada Arslan di sisinya, perjalanan sesederhana apa pun akan terasa menyenangkan. Tanpa terasa, matahari mulai bergerak turun menuju garis cakrawala. Langit perlahan berubah warna, dari biru cerah menjadi semburat jingga keemasan yang memanjakan mata.

Sebelum kembali ke hotel, mereka memutuskan untuk singgah sejenak di sebuah pantai. Duduk berdampingan di atas pasir yang mulai dingin, keduanya menikmati pertunjukan alam yang selalu berhasil membuat siapa pun terpukau.

Mereka kembali mengingat-ingat moment bulan madu mereka di negri ini, tempat Arslan dilahirkan. Sebenarnya Arslan sudah sering mengajak Zulfa ke Turki, sebab pria berwajah timur tengah itu masih memiliki beberapa saudara yang masih tinggal disini, namun untuk kali ini Arslan belum berniat untuk mengunjungi saudaranya tersebut.

Deburan ombak terdengar silih berganti. Angin pantai berembus lembut, memainkan ujung jilbab Zulfa dan rambut Arslan. Di hadapan mereka, matahari perlahan tenggelam, meninggalkan jejak cahaya keemasan yang memantul di permukaan laut. Tak heran jika banyak wisatawan rela menunggu berjam-jam hanya untuk menyaksikan momen itu.

Dan tentu saja, Zulfa tidak ingin melewatkannya begitu saja. Ia mengeluarkan ponselnya lalu meminta bantuan seorang wisatawan yang kebetulan berada tak jauh dari tempat mereka duduk. Beruntung, orang yang dimintainya tolong ternyata cukup mahir mengambil gambar.

Beberapa kali kamera ponsel berbunyi, menghasilkan foto-foto yang begitu indah hingga membuat Zulfa sendiri terkejut saat melihat hasilnya. Senyumnya langsung merekah. Tanpa pikir panjang, ia mengunggah salah satu foto terbaik mereka ke media sosial.

Dalam hitungan menit, unggahan itu dibanjiri ribuan tanda suka dan komentar. Sebagian besar memuji keindahan senja yang mereka abadikan. Sebagian lagi mengagumi keharmonisan pasangan itu yang masih terlihat seperti sepasang pengantin baru meski telah menikah selama bertahun-tahun.

Selain itu, wajah Arslan yang  selalu di tutup stiker juga tak luput dari pujian mereka.  Walau wajah sang suami tak pernah Zulfa tampilkan secara langsung  di halaman media sosialnya.  Bagi Zulfa, identitas sang suami yang berasal dari keluarga konglomerat ternama adalah sesuatu yang harus dijaga kerahasiaannya. Karena itulah, ia selalu berhati-hati dalam setiap unggahan yang dibagikannya.

Namun para pengikutnya mampu menebak-nebak kalau suami idolanya pasti sangat tampan. Mereka bisa melihat dari postur tubuh yang di miliki pria itu. Tinggi, tegap dengan badan atletisnya.

Apalagi Zulfa juga pernah menulis dalam unggahannya kalau suaminya berdarah Turki. Tentu membuat para fans-nya semakin yakin kalau suami Zulfa memang tampan. Sebab Turki terkenal sebagai negara yang memiliki banyak pria berwajah tampan.

Tanpa Zulfa sadari di tempat lain, ada seorang pria yang sedang menatap foto yang sama dengan perasaan yang jauh berbeda. Bukan perasaan kagum, bukan juga rasa penasaran. Melainkan kecemburuan yang perlahan menggerogoti dirinya saat melihat Zulfa tampil begitu mesra bersama suaminya.

***

Setelah menikmati makan malam romantis yang telah dipersiapkan Arslan dengan begitu istimewa, keduanya memutuskan untuk kembali ke kamar. Malam semakin larut. Koridor hotel yang semula ramai kini mulai lengang, menyisakan suasana tenang yang terasa begitu nyaman.

Arslan berjalan berdampingan dengan Zulfa sambil sesekali menggenggam tangan sang istri. Senyum tipis tak pernah lepas dari wajah pria itu sejak tadi. Entah mengapa, akhir-akhir ini Arslan merasa semakin sulit berjauhan dari Zulfa. Mungkin karena kesibukan pekerjaan yang kian padat. Mungkin juga karena di tengah segala tekanan dan tanggung jawab yang ia pikul, hanya bersama Zulfa ia bisa benar-benar merasa tenang.

Bagi Arslan, istrinya bukan sekadar pasangan hidup. Zulfa adalah rumah tempat ia kembali setelah lelah menghadapi dunia. Sesampainya di kamar, Arslan membuka pintu dan membiarkan Zulfa masuk lebih dulu. Tatapannya mengikuti langkah sang istri yang terlihat anggun di bawah cahaya lampu temaram.

Zulfa tentu menyadari perubahan sikap suaminya belakangan ini. Pria itu menjadi lebih perhatian, lebih manja, dan lebih sering mencari waktu berdua dengannya. Alih-alih merasa terganggu, Zulfa justru bersyukur. Sepuluh tahun pernikahan ternyata tidak membuat rasa sayang mereka berkurang. 

Malam itu, Zulfa sudah menyiapkan penampilan khusus untuk suaminya.

Bukan karena diminta.

Bukan pula karena kewajiban.

Melainkan karena ia ingin membuat malam ini terasa lebih berkesan. Sama seperti Arslan yang selalu berusaha memberikan kejutan-kejutan kecil untuknya, Zulfa pun ingin menunjukkan bahwa cinta mereka masih tumbuh dengan hangat seperti tahun-tahun sebelumnya. Zulfa menyadari hal itu, ia bahkan sudah menyiapkan pakaian terbaiknya yang akan ia gunakan malam ini, berupa satu set lingerie yang diam-diam ia beli saat sedang berada di pusat perbelanjaan bersama Arslan.

Dan di tengah suasana romantis yang menyelimuti kamar hotel itu, keduanya memilih menikmati malam perayaan mereka dengan cara yang hanya dimengerti oleh sepasang hati yang telah berjalan bersama selama satu dekade. Karna penatnya urusan kantor membuat Arslan butuh suntikan energi dari tubuh istrinya itu. 

Arslan sudah duduk di atas ranjang bersandar pada headboard, ia mengamati istrinya yang sudah merubah pakaiannya, dari yang tertutup rapat menjadi terbuka lebar. Membuat tubuh berototnya semakin panas melihat pemandangan liar itu. Kali ini Arslan tak mengijinkan Zulfa mendominasi permainan, ia ingin memulainya terlebih dahulu. 

"Wah... lingerie baru, ya?"

Arslan melangkah mendekati istrinya dengan senyum tipis yang sulit disembunyikan. Tanpa mengalihkan pandangan dari Zulfa, jemarinya bergerak perlahan membuka satu per satu kait pengancing yang terasa menyesakkan di tubuhnya.

Aroma sampo dari rambut Zulfa menyapa indra penciumannya. Arslan menarik napas pelan, lalu menyibakkan rambut hitam legam itu ke satu sisi. Bibirnya mengecup lembut leher jenjang sang istri, menghadirkan sentuhan yang membuat suasana di antara mereka semakin hangat.

"Seleramu selalu lebih bagus dariku. Belinya di mana?"

Zulfa terkekeh pelan, sengaja tidak langsung menjawab.

"Ada deh..."

"Mulai nakal, ya." Ucap Arslan sambil meremas pinggang ramping istrinya membuat Zulfa mendesis pelan. 

Arslan pun kembali melanjutkan aksinya. Tangan besar mulai meraba di area-area sensitif sang istri. Napas lembut Zulfa mulai terdengar tatkala bulu romanya terasa berdiri tegak hingga pori-pori kulitnya terlihat menonjol. Arslan memutar tubuh Zulfa hingga rambut panjangnya ikut bergerak, memposisikan tubuhnya saling berhadapan. 

 Zulfa kini bisa melihat tubuh suaminya yang sudah terlepas dari balutan kemeja. Semburat otot dan lemak perut yang terbagi menjadi enam bagian sangat terlihat di depan mata. Hanya melihat pemandangan ini saja sudah membuat miliknya terasa basah. Zulfa sampai malu karena Arslan mengetahuinya. Entah sejak kapan jemari Arslan sudah berada dibawah sana. Berputar-putar di area sensitif itu hingga membuat Zulfa melenguh nikmat.

Arslan mengangkat tubuh Zulfa dan secara reflek kedua kaki wanita itu melingkar pada pinggul Arslan. Tak lagi saling memandang mereka memilih untuk saling berpagutan mesra hingga sampai di atas ranjang. Kedua tubuh yang sudah panas perlahan mulai menyatu. Tubuh Arslan bergerak naik turun bersamaan dengan suara napas yang mulai menggema. Hanya dalam hitungan detik Arslan mampu melepas semua kain-kain yang mengganggu aksesnya untuk masuk ke dalam tubuh istrinya. 

Menit demi menit pun berlalu, hingga waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, pertempuran itu seketika berhenti. Kedua tubuh polos itu ambruk secara bersamaan. Dengan napas yang tersengal mereka saling berebut oksigen untuk mengisi paru-paru yang mendadak terasa begitu sesak.

Arslan merapatkan tubuhnya ke arah istrinya, selimut putih yang sedari tadi nampak tak berguna itu ia tarik untuk menutupi tubuh mereka yang basah karna peluh yang melekat. Seperti malam-malam sebelumnya pertempuran mereka selalu teras hebat.

Zulfa memeluk erat tubuh suaminya yang terasa lengket dan lembab. Tak ada rasa jijik, Zulfa justru begitu candu dengan aroma tubuh suaminya yang memiliki aroma khas.

Laut, iya laut. Zulfa selalu merasa aroma tubuh Arslan seperti aroma laut, yang bisa membuat Zulfa begitu tenang saat di dekapannya. Moment saat selesai bercinta adalah moment yang pas untuk saling mencurahkan isi hati. Itu yang sedang Zulfa lakukan, begitu banyak tanya yang ingin Zulfa utarakan kepada suaminya.

"Boleh aku tanya sesuatu ke kamu?" Arslan berdeham menanggapi pertanyaan istrinya, matanya terpejam namun ia sedang tidak tertidur.

"Gimana kalau pada akhirnya kita nggak bisa menua bersama?" Seketika Arslan membuka matanya yang terpejam, ada rasa terkejut mendengar istrinya bertanya seperti itu.

"Maksud kamu apa?" Alih-alih bisa segera mendapat jawaban, Arslan justru meminta Zulfa untuk mengulang lagi maksud pertanyaannya itu.

"Kita kan nggak pernah tau hidup kita ke depannya bakal kayak gimana? Ya, mungkin aja kita nggak bisa sama-sama terus." Tanpa berfikir panjang Arslan langsung menanggapi ucapan sang istri.

"Selama aku masih hidup, aku akan berupaya agar kita bisa selalu bersama. Tapi kalau pada akhirnya, aku gagal melakukan itu, lebih baik aku mati aja." Zulfa tersentak dengan jawaban Arslan ia bahkan sampai mendongakkan kepalanya menatap wajah Arslan dari arah bawah.

"Kok jawabannya gitu?"

"Ya, habis gimana, kamu itu udah jadi separuh nyawaku. Jadi kalau sampai aku kehilangan kamu, aku bakal kayak orang lumpuh. Mungkin ragaku masih hidup tapi jalanku udah nggak sempurna." Zulfa tersenyum mendengar jawaban suaminya. Tubuhnya terbangun mengikuti Arslan yang sudah duduk bersandar pada headboard ranjang.

"Makasih ya udah secinta itu sama aku." Ucap Zulfa yang kini sudah bersandar di dada bidang Arslan.

"Kan kamu duluan yang cinta mati sama aku."

"Dih ... " Zulfa tak terima dengan tuduhan Arslan.

"Mesti nggak terima kalau aku bilang kamu yang bucin duluan!!" Setelahnya mereka terus bertengkar dengan saling melempar bantal guling hingga akhirnya memilih berdamai dan melanjutkan urusan ranjangnya yang memasuki ronde kedua. Ya, begitulah cara mereka mendamaikan situasi.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!