Aditya , seorang remaja miskin , karena dosa yang tidak sengaja dia buat , terpaksa di kejar kejar dua kelompok gangster .
lalu ada lagi para pembunuh bayaran yang mengincar nyawa nya , atas suruhan seseorang .
Ada pula sekelompok preman , yang mencari nya , juga atas suruhan seseorang .
Dapatkah Aditya mengatasi masalah nya .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvinoor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siuman .
Aurelia dan Siska menatap kearah Aditya yang terbujur diam di atas tempat tidur itu ,
Air mata kedua wanita jelita ini mengalir deras di pipinya .
Nafas anak muda itu harus dibantu dengan alat bantu nafas , sedangkan di sekujur tubuh nya , di tempelkan berbagai macam kabel dan peralatan lain nya .
Monitor menampilkan rekam detak jantung nya yang tinggal satu satu itu .
Sedangkan di pergelangan tangan nya , terlihat jarum infus tertanam disana .
Isak tangis Aurelia kian pilu , sambil mengangkat tangan anak muda itu , dan di tempelkan ke pipi nya .
"Dit !, bangun dong sayang , bukalah mata mu , jangan tidur terus !" bisik Aurelia di telinga Aditya , di sela sela Isak tangis nya .
"Iya Dit !, maafin kakak yang lengah jagain Didit !, kami sayang Didit kok !" bisik Siska juga ."
Evelyne membuang pandangan nya ke luar jendela , tidak ingin melihat dua orang wanita cantik itu menangis pilu .
Siang malam , ketiga wanita cantik ini bergantian menjaga Aditya yang masih belum sadar kan diri nya .
Pada hari ke empat , saat malam hari nya , Siska dan Evelyne sedang berbincang di ruang tamu ruang VIP itu , dan Aurelia yang menunggui Aditya sendirian .
Aurelia baru saja membersihkan tubuh Aditya dengan kain basah sambil berbicara dengan remaja itu , meskipun dia tahu jika anak muda itu tidak bakalan merespon nya .
Di cium nya kedua belah pipi Aditya sambil berbisik di telinga anak muda itu , "Dit !, sebentar lagi kakak akan memeriksakan anak kita ke klinik , kakak sangat berharap Didit menemani kakak nanti , meskipun ini kerjaan kita yang tak disengaja , tapi kakak suka Dit , Didit senang enggak menjadi papa muda ?" Aurelia Mengambil tangan Aditya , dan di letakan nya telapak tangan anak muda itu di pipi nya .
Kembali di tatap nya wajah pucat anak muda itu , entah untuk yang ke berapa kali nya , air mata wanita cantik itu luruh kembali di pipi nya .
Tiada lagi tingkah polah jenaka Aditya , tiada lagi ngambek dan rajukkan nya , burung Nuri yang selalu berkicau di tingkap itu kini terdiam membisu entah untuk berapa lama lagi .
Aurelia meletakan wajah nya di perut Aditya , di tumpahkan nya seluruh kesedihan hati nya , dengan isakan lirih yang keluar dari mulut nya .
Hati nya benar benar hancur melihat Aditya yang biasa nya selalu ceria itu , kini terdiam tanpa daya .
Berbagai alat bantu kehidupan yang melekat di tubuh anak muda itu , menambah kepiluan hati nya .
"Katakan , apa lagi yang harus kulakukan sayang , agar kau mau bangkit dari tidur panjang mu ini , katakan !, meskipun aku harus memindahkan jantungku untuk mu , pasti kulakukan , asal kau mau bangun , jangan mendiami Kaka seperti ini Dit !, Didit tidak sayang sama kakak , sama anak kita !" Isak tangis Aurelia terdengar menyayat hati , dengan segala kesedihan yang ia tumpahkan .
Namun tiba tiba Aurelia terkejut sekali setelah merasa jari tangan Aditya yang dia tempelkan di pimpin nya itu , tiba tiba bergerak sendiri .
Di layar monitor , terlihat detakan jantung Aditya mulai menguat dan ritme nya menjadi lebih cepat dari semula .
Kembali Aurelia menempelkan telapak tangan Aditya di pipi nya yang basah oleh air mata itu .
"Dit !, bangun lah Dit !, ayo gapai kesadaran mu sayang !, kau laki laki hebat , penakluk dua wanita sekaligus , itu hebat Dit !, meskipun cermin hidup kita retak terbelah , tetapi kau dapat menyatukan nya , ayo gapai kesadaran mu sayang !, demi kak Aurel dan kak Siska , juga demi kedua anak anak kita Dit !, jangan biarkan dia lahir tanpa papa nya , ayo bangkitlah sayang !, kau pasti bisa !" bisik Aurel di telinga Aditya, disela sela Isak tangis nya .
Tiba tiba jari tangan Aditya terasa bergerak di pipi Aurelia , mulai perlahan , lalu gerakan tangan Aditya membelai pipi Aurelia dengan lembut nya .
Aurelia menatap wajah Aditya , nampak kelopak mata nya mulai bergerak , meskipun belum terbuka sepenuh nya .
jari tangan Aditya meremas jari Aurelia dengan sangat erat sekali .
"Kau sudah sadar sayang ?" tanya Aurelia berbisik di telinga Aditya .
Akhirnya Aditya membuka mata nya perlahan , tetapi karena agak silau , dia menutup mata nya kembali beberapa saat , namun tangan nya masih menggenggam tangan Aurelia dengan erat .
"Kak !, kita dimana ?" tanya Aditya dengan suara yang lemah .
Sambil berurai air mata , Aurelia menempelkan jemari mereka yang saling bertaut itu ke pipi nya .
"Kita di rumah sakit sayang !, sudah empat hari Didit koma , Alhamdulillah hari ini Didit sadar , Sis !, Siska !, Didit sadar Sis !" jawab Aurelia sembari memanggil Siska .
Siska berlari dari ruang tamu menuju ruang dalam , tempat ranjang yang ditempati Aditya tidur , berada .
Di belakang nya , Evelyne melangkah dengan santai mengikuti nya .
"Didit !, kamu sudah sadar sayang ?, Alhamdulillah ya Allah , kau kembalikan suami kami !" ucap Siska sambil duduk di sisi tempat tidur , menggenggam jemari Aditya dan Aurelia yang masih bertaut itu .
Airmata haru berderai membasahi kedua pipi wanita cantik ini .
"Apa yang terjadi dengan ku kak ?" tanya Aditya nampak bingung .
"Kau di keroyok sekelompok orang , coba kau ingat ingat dulu !" jawab Siska .
Aditya berusaha mengingat semua nya yang telah terjadi.
Perlahan , kejadian demi kejadian yang telah menimpa diri nya , berputar kembali di ingatan nya .
"Ya !, ya Didit ingat sekarang , hari itu , para murid pulang lebih awal , karena ada rapat dewan guru , karena Didit beberapa kali menghubungi kakak berdua , minta di jemput seperti biasa nya , tetapi tidak di angkat , iseng iseng Didit berjalan kaki hingga sampai di depan TPU kak , Didit berhenti sebentar , berbincang bincang dengan nenek penjual bunga , ketika Didit mau meneruskan perjalanan , datang Roy , dan tujuh orang anak buah nya yang langsung memukuli Didit bersama sama , meskipun Didit melawan mereka , mereka berdelapan dan saya sendirian , saya kalah kak , lalu saya tidak ingat apa apa lagi !" ujar Aditya menceritakan semua nya .
"Mereka semua nya , akan menerima balasan nya , akibat dari perbuatan mereka itu , kupastikan pada adik , jika satu persatu mereka itu akan menerima nya !" terdengar suara Evelyne dari luar sambil berjalan masuk .
"Kakak ? , kakak juga ada di sini ?" tanya Aditya, melihat Evelyne berjalan kearah nya .
"Ya adik !, seorang remaja pemulung membawa mu ke rumah sakit ini !" kata Evelyne sambil mencium dahi Aditya .
"Apakah ayah dan ibu tahu ?" tanya Aditya pelan .
"Kalau papa sampai tahu , kau mungkin tidak akan bisa membayangkan tindakan yang akan beliau lakukan , aku tahu betul siapa papah kita !" jawab Evelyne .
Aditya menarik nafas lega , "syukurlah ayah dan ibu tidak tahu keadaan saya kak , kasihan ibu akan sangat sedih bila mengetahui nya !" ...
Dokter Ruly bersama seorang perawat datang untuk memeriksa keadaan tubuh Aditya .
"Waah , syukurlah kau sudah sadar , mungkin beberapa hari lagi , sudah bisa pulang !" kata dokter Ruly sambil tersenyum ramah .
Dokter muda tersebut keluar dari ruangan itu , setelah memberi beberapa arahan pada Aditya , dan menyuruh para petugas melepas alat monitor dan beberapa alat bantu lain nya .
Kini Aditya duduk sambil bersandar di tempat tidur nya .
Di tatap nya wajah Aurelia yang masih menangis haru , "kak !, Didit lapar !" kata nya .
"Adik tidak boleh makan yang keras keras dulu , yang lembek aja dik !" kata Evelyne mengingatkan nya .
"Kalau begitu bubur ayam , mau ?" tanya Aurelia sambil mengeluarkan handphone nya .
"Terserah kakak aja deh !" jawab Aditya sambil memejamkan mata nya .
Aurelia segera menelpon mang Ayin , minta di belikan seporsi bubur ayam .
Tidak terlalu lama , mang Ayin datang dengan membawa seporsi bubur ayam .
Aurelia segera menyuapi Aditya dengan bubur ayam yang baru di beli itu .
...****************...