Dia menikah, semata-mata hanya untuk terbebas dari siksaan keluarga. Namun, nyatanya, semua itu tidak sesuai harapan. Pernikahan dini yang dipaksakan, bukanlah pernikahan impiannya.
Seiring berjalannya waktu, semua perlahan berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan
Laki-laki itu tertegun di ambang pintu, tapi dia belum menyerah. Bagaimana pun kedatangannya ke rumah sakit adalah untuk melihat kondisi Wulan yang dikabarkan satpam sekolah terluka dan dilarikan ke rumah sakit.
Dari tempatnya berdiri ia memperhatikan ranjang di mana Wulan berbaring menutupi seluruh tubuh. Rasa cemas semakin berkumpul banyak, membuatnya bertekad untuk merangsek masuk.
"Tuan! Tuan! Anda tidak diizinkan masuk, Tuan!" cegah suster panik, tapi laki-laki itu menyingkirkannya dengan sangat mudah.
Ditariknya selimut yang menutupi tubuh Wulan, terlonjak gadis itu. Sontak saja ia duduk, menatap penuh amarah pada sosok laki-laki di depannya.
"Sudah aku katakan sebaiknya Anda pergi dan jangan menggangguku. Aku ingin beristirahat, aku lelah, aku butuh ketenangan. Apakah Anda tidak mengerti?" bentak Wulan tak segan.
Sorot matanya dipenuhi kemarahan, tak ingin lagi mendapat masalah karena kedatangannya. Seperti kemarin, di mana dia harus menjelaskan kepada Sandi yang dibakar api cemburu.
Arya tercenung, tak berapa lama dia tersenyum. Bukannya pergi, justru duduk di kursi sembari memindai wajah Wulan yang memerah marah.
"Aku suka melihat kamu marah seperti ini, tapi aku senang dan lega karena ternyata kamu baik-baik saja," katanya seraya terkekeh.
Wulan meremas seprei, sungguh menjengkelkan laki-laki satu itu. Sebenarnya Wulan tidak membenci Arya, laki-laki itu baik dan tidak pernah menyakitinya. Hanya saja, Wulan tidak ingin mendapat masalah karena kedekatan mereka.
"Jika Anda sudah mengetahuinya, maka silahkan pergi. Aku benar-benar tidak butuh perhatian Anda, Tuan. Aku baik-baik saja," ujar Wulan menahan geram.
Matanya berkali-kali melirik pintu khawatir Sandi akan muncul tiba-tiba dan melihat mereka berada di dalam ruangan yang sama.
"Nona meminta Anda untuk pergi, Tuan. Sebaiknya Anda segera keluar dari ruangan ini," sambar suster ikut terbakar marah.
"Siapa kamu? Wulan saja tidak bisa mengusirku dari sini, aku tidak akan pergi. Aku hanya ingin memastikan Wulan baik-baik saja. Aku ingin melihat keadaannya," cerocos Arya tanpa menggubris tatapan tajam sang suster.
Wanita berseragam putih itu menganga, tapi tak ada kata yang ia ucapkan. Sudah pasti Sandi akan menyalahkan dirinya atas kedatangan laki-laki itu. Arya melirik Wulan yang bergeming di atas ranjang, gelisah jelas terlihat di wajah gadis itu.
"Kamu terlihat gelisah, ada apa?" tanyanya penuh perhatian.
Wulan menatap, sorot mata yang keras berganti lemah. Memohon agar Arya meninggalkannya.
"Kumohon, pergilah! Aku tidak ingin mendapat masalah, aku sudah lelah," mohon Wulan dengan lemas.
Namun, Arya bergeming, tak mengindahkan permohonan Wulan. Ditelisiknya wajah gadis itu, dahi Arya mengernyit saat melihat bekas kebiruan di salah satu sudut bibir Wulan.
"Apa ini?" Dia bangkit dari duduk dengan tangan terangkat hendak menyentuh bibir Wulan.
Dengan gerakan cepat, tangan Wulan menepis dan berpaling.
"Jangan lancang, Tuan! Pergilah, aku tidak membutuhkan Anda di sini," usir Wulan dengan tegas.
Arya terdiam, rasa di dalam hatinya bergejolak. Melihat gadis yang dia cintai terluka, sungguh Arya tak dapat menerimanya.
"Siapa yang melakukan ini padamu, Wulan? Berani sekali mereka!" tanyanya geram. Suara Arya tak selembut sebelumnya, Wulan tahu laki-laki itu marah, tapi untuk apa?
"Anda tidak perlu tahu, Anda bukan siapa-siapa bagiku. Pergilah, Tuan, sebelum masalah menghampiriku. Aku hanya ingin ketenangan," ucap Wulan seraya berbaring sambil menarik selimut menutupi tubuhnya kembali.
Memunggungi Arya sambil berharap dia akan segera pergi sebelum Sandi datang ke ruangannya. Namun, laki-laki itu bergeming, memaku tatapan pada seonggok tubuh yang bersembunyi di dalam selimut.
Mendengar ucapan Wulan, sungguh hati Arya terasa sakit, tapi ia menganggap itu hanyalah angin lalu semata. Wulan hanya butuh waktu untuk menerima keberadaannya. Butuh perjuangan lebih untuk menaklukkan hati Wulan, dan Arya yakin seiring berjalannya waktu dia akan berhasil mendapatkan hati sang pujaan.
"Kenapa kamu selalu bersikap seperti ini terhadapku, Wulan? Apa perjuanganku selama ini tidak terlihat di matamu?" lirih Arya menatap muram tubuh yang terbungkus itu.
Tidak seperti itu, Anda laki-laki yang baik dan pantas mendapatkan yang terbaik pula. Bukan seperti diriku yang hanya akan menyusahkan hidup Anda. Lagipula, aku sekarang sudah menikah dan suamiku sangat baik.
Wulan bergumam di dalam hati, setetes cairan jatuh dari mata yang segera disapunya. Perjuangan Arya tidaklah main-main, Wulan bukannya buta akan hal itu. Ia hanya menutup mata agar hatinya tak goyah yang pada akhirnya menerima Arya dengan segala resiko yang akan dia dapatkan.
"Jawab, Wulan! Kenapa kamu selama ini selalu menolakku? Apa ada sesuatu yang menghalangimu untuk menerima diriku?" tanya Arya lagi dengan hati yang perih.
Wulan bergeming, tak ingin menyahut karena sudah mengatakan alasannya berkali-kali.
"Wulan!" Arya kembali menyibak selimut Wulan, hatinya diliputi kemarahan. Marah karena gadis itu tetap tidak mengacuhkannya.
Dada yang terbakar emosi kembang kempis karena sesak. Wulan bangkit dan menghadapnya, menatap nyalang sosok Arya yang begitu keras kepala.
"Tuan, pergilah! Anda mengganggu waktu istirahat Nona," pinta suster lagi memberanikan diri mendorong tubuh Arya keluar.
"Lepas! Aku ingin mendengar jawabannya!" Ia menghempaskan tubuh suster tersebut hingga ambruk di sofa. Lalu, beralih pada Wulan yang masih diam membisu.
"Katakan padaku, Wulan. Apa yang membuatmu menolakku terus menerus? Aku mencintaimu dan kamu tahu itu," tuntut Arya.
Wulan menghela napas, mencoba menahan perasaannya yang campur aduk. Ada rasa kasihan, iba, dan juga kesal yang saling bertumpuk. Sulit untuk dijelaskan.
"Kesenjangan di antara kita sangat jelas terlihat. Anda adalah orang hebat dan terhormat, sedangkan aku hanyalah seorang Upik Abu yang tidak memiliki apa-apa. Dunia akan menertawakan Anda jika aku berdiri di samping Anda. Lagipula, aku tidak ingin mendapat masalah karena berani mendekati Anda, Tuan. Sudah banyak masalah yang menimpa pada hidupku. Tolong, jauhi aku. Tolong, jangan tambah masalah dalam hidupku."
Wulan menjelaskannya dengan tenang dan suara yang lembut. Berharap agar laki-laki itu mengerti dan menjauhi dirinya. Ia sudah merasa tenang dengan Sandi di sisinya sebagai suami. Laki-laki itu meski orang-orang menganggapnya tak berguna karena lumpuh, tapi Wulan menganggapnya sebagai berkah dan penyelamat.
Dia tidak membutuhkan yang lain, hanya Sandi seorang. Wulan menegaskan itu di dalam hatinya.
Mendengar kalimat panjang Wulan tadi, Arya tertawa getir. Ada kesedihan yang jelas tertangkap darinya. Tak hanya Wulan, tapi suster pun dapat merasakannya.
"Jadi itu alasanmu kenapa selama ini menolakku, Wulan. Aku tidak masalah jika dunia menertawakanku, aku bisa meninggalkan seluruh dunia demi dirimu, Wulan. Asal kamu ada di sisiku, apapun bisa aku lakukan karena aku tidak akan membiarkan masalah sekecil apapun mendatangimu. Percaya padaku, Wulan," mohon Arya tetap keras kepala.
Wulan membisu, ada kesungguhan di sorot mata itu, tapi ia tetap meyakinkan hati hanya Sandi yang terbaik.
"Kamu sudah terlambat mengatakan itu padanya. Dia tidak membutuhkan orang lain untuk berdiri di sisinya!"