NovelToon NovelToon
Tujuh Elemen

Tujuh Elemen

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Akademi Sihir / Perperangan / Elf / Pusaka Ajaib / Barat
Popularitas:22.2k
Nilai: 5
Nama Author: Muhamad Saefulloh

Zaid, anak seorang petani miskin pergi ke hutan bersama pamannya, ia jatuh ke jurang. Beruntungnya ia selamat karena di dasar jurang terdapat aliran air. Ia tak tahu harus ke mana karena di kanan kirinya hanya ada dinding tebing. Jadi ia hanya terus berenang mengikuti aliran air hingga ia tak sanggup lagi untuk berenang dan perlahan ia tenggelam.
Tetapi anehnya ia selamat. Ternyata di dalam air tempatnya tenggelam, ia tak sengaja masuk ke portal yang memindahkannya ke planet Imub. Planet yang sangat mirip dengan Bumi. Planet berisi orang-orang yang mempunyai kekuatan sihir alami.
Ketika ia sadar, ia sudah berada di kamar, berbaring di atas ranjang kayu sederhana. Ia diselamatkan salah satu perempuan remaja yang ada di planet Imub. Chiara.
Chiara mengatakan Zaid tak mungkin kembali ke bumi. Tetapi, bukan itu masalahnya, planet Imub sedang dalam kekacauan dan membutuhkan bantuan Zaid.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Saefulloh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertarung

"Sekarang, kalian berlatih denganku," kata Laks.

Keempat anak itu kaget.

"Ah, ya... Aku tak masalah jika harus berlatih dengan siapapun," kata Ryan, "kapan mulai latihannya? Besok?" Tanya Ryan. Napasnya masih ngos-ngosan.

"Sekarang," kata Laks datar namun tegas.

"Hah? Apa? Yang benar saja," keluh Ryan.

"Ya, aku tak main-main. Sekarang latihannya."

"E, Kakek Laks, tapi kami baru saja berlari lumayan jauh," kata Faris, "dan itu cukup menguras tenaga kami."

Laks membentuk pisau es di tangannya dan melemparkannya tepat ke arah Faris.

Faris sedikit kaget, namun ia berhasil menghindar. Pisau itu menancap di samping belakangnya lalu menghilang sebab Laks menyerap kekuatan esnya kembali.

Faris berkata, "Kakek Laks, apa yang kau-"

"Kau masih bisa menghindari pisau itu," kata Laks, "jadi kau masih mempunyai cukup banyak tenaga, Gadis Kecil." Laks lalu membentuk tunggul pohon dari energi tumbuhan miliknya dan duduk.

Ryan, Zaid dan Rezz menahan tawa.

Gadis kecil? pikir Ryan.

Muka Faris memerah. "Hmmm... Kakek Laks, aku bukan gadis kecil, aku bukan perempuan," jelasnya.

"Oh, maaf, Gadis Kecil," kata Laks. Ia sengaja memancing Faris. "Habisnya rambutmu panjang."

Faris geram, ia melompat maju dengan deru angin, dengan tongkat harmonikanya mengayun, menyerang Laks.

Zaid dan yang lain terkejut.

Laks berkelit, melompat mundur menghindari tongkat harmonika.

Faris berlari mendekati Laks, mengayunkan tongkat harmonikanya beberapa kali secepat angin, mengandalkan kecepatan untuk membuat lawan kewalahan.

Laks diam di tempat, ia juga menggunakan kekuatan angin untuk menghindar dengan cepat. Laks sekarang sudah menghindari serangan Faris yang ke 31.

Zaid, Ryan dan Rezz menganga. Mereka tidak dapat melihat dengan jelas ayunan tongkat harmonika Faris, dan juga Laks yang menghindar tak kalah cepat.

Namun jika dalam mode slow motion, Laks menghindar dengan gerakan yang aneh.

Sebenarnya, pikir Rezz, Kakek Laks hanya mengulur-ulur waktu sampai lawannya kelelahan. Sebenarnya ia bisa saja langsung menendang Faris.

Apa yang dilakukan si bodoh itu, pikir Ryan.

"E, hei, Faris, sudahlah, hentikan," kata Zaid.

Merasa bahwa dirinya tak bisa menyerang Laks, Faris akhirnya menyalurkan energi petir ke tongkat harmonikanya dan menyerang Laks dengan petir yang ia sambarkan lewat tongkat.

Laks berteleportasi, sekarang kakinya sudah berada di atas pohon.

Faris mencoba mencari di mana Laks dengan amarah yang cukup meledak-ledak.

Laks yang berada di dahan pohon berjongkok lalu duduk. Setelah tertawa menghinakan, ia berkata, "Nak, meski kau mengakui kau itu bukan perempuan, tapi... Dengan kemampuanmu yang hanya seperti itu, apakah kau pantas disebut sebagai laki-laki?" Laks lalu tertawa kecil dan menghela napas sejenak. "Bisa jadi kau perempuan yang menyamar."

Faris geram. "Kurang, ajar!"

"Hah! Kau yang kurang ajar, Nak. Berani-beraninya kau menghajar aku si Tua yang usianya terpaut jauh denganmu. Mungkin kau harus belajar adab lebih lama lagi."

"Tapi, kau juga tidak punya adab, Kakek Tua! Kau tidak pantas hidup di dunia ini," kata Faris berlebihan.

Faris berlari, lalu meloncat tinggi dan mengayunkan tongkat harmonikanya yang kini diselimuti es ke dahan pohon tempat Laks duduk, dahan pohon yang cukup tebal itu terpotong.

Laks tidak terjatuh, ia mendarat dengan sempurna bersamaan dengan Faris yang juga mendarat.

"Giliranku," kata Laks. Tangannya diselimuti api, meninju.

Faris menangkisnya dengan tongkat harmonika, bunga api bercipratan.

Tangan Faris bergetar, tinju tadi jelas menggunakan hampir seluruh tenaga.

"Teman-teman," kata Zaid, "bahaya jika kita terus membiarkan Faris bertarung sendirian, Kakek Laks mungkin akan tidak apa-apa, tapi Faris bisa saja terluka.

"Kita juga tidak mungkin melerai keduanya," jelas Zaid lagi, "yang bisa kita lakukan adalah membantunya, jangan sampai Faris terluka."

"Baik, mari kita bantu dia," kata Rezz.

"A-apa? Yang benar saja?!" Kata Ryan.

"Kau mau dia terluka?" Tanya Zaid.

"E-e, tentu saja tidak!" Kata Ryan.

"Baiklah, kalau begitu kau juga harus membantu," kata Rezz.

Ia langsung melompat maju dengan kekuatan angin, di udara ia membuat bola api dan melemparkannya pada Laks.

Laks mengeluarkan jurus, melindungi dirinya dengan tembok tanah setengah lingkaran. Bola api itu cukup merusak, namun tidak sampai tembus ke dalam.

Bagus, pikir Laks, mari berlatih denganku, anak-anak. aku ingin tahu sampai mana kemampuan kalian terlebih dahulu.

5 menit kemudian...

Zaid, Rezz, Faris, Ryan, keempatnya sudah tergeletak di tanah. Mereka kalah.

Lain kali aku tidak akan macam-macam padanya, pikir Rezz, entah Tuan Zhang dan Kakek Laks jika bertarung siapa yang menang.

Laks menghela napas. "Latihan pertama yang baik, anak-anak." Laks lalu membersihkan jubahnya yang sedikit kotor dengan tangan. "Tapi sayang, kalian bertarung berempat, mengeroyokku, membuatku jatuh saja masih belum bisa. Yah, tapi tidak apa, masing-masing dari kalian pasti bisa menjatuhkanku, bahkan mungkin jauh lebih hebat dariku suatu hari."

Ternyata dia memancingku, pikir Faris yang tergeletak, semua itu dilakukan agar secara tidak langsung kami berempat 'latihan' seperti yang dikatakannya. Haduh...

Dia kuat sekali, pikir Ryan.

Zaid perlahan bangkit duduk. Kepalanya sempat terbentur pohon karena dilempar oleh Laks. Zaid berkata setelah mengaduh. "Kakek Laks, kau harus mengganti 2 ikat bambu yang sebelumnya kami tinggalkan di hutan bambu.

"Oh, maksudnya 2 ikat bambu ini?" Tanya Laks, yang memanggul 2 ikat bambu dengan satu tangannya.

Zaid kaget. "Lho? Kok? Kakek Laks ada dua?" Tanya Zaid. "Yang mana yang asli?"

Ryan, Rezz dan Faris yang masih tergeletak juga kaget. Ketiganya juga memiliki pertanyaan yang sama.

Kakek Laks yang baru meletakkan 2 ikat bambu langsung berkata, "Ini diriku yang asli. Sedangkan yang bertarung dengan kalian hanya kloninganku."

Zaid dan yang lain terkejut. Ternyata mereka dikalahkan oleh kloningan.

Kloningan Laks langsung menghilang, mungkin durasinya memang sudah habis.

"Bisa kau jelaskan secara rinci Kakek Laks, kami terlalu bodoh sampai tidak menyadarinya," kata Ryan, ia lalu mencoba bangkit duduk, juga Rezz dan Faris.

"Aku sebenarnya diminta oleh Tuan Zhang langsung untuk melatih anak-anak di panti asuhan," kata Laks mulai menjelaskan, "terutama yang sudah berusia 12 tahun ke atas. Karena aku memang tidak terlalu sibuk, kurasa tidak ada salahnya untuk menerima tawarannya. Dia juga memberiku bayaran."

"Namun sebelumnya aku ingin mengetahui seberapa jauh kemampuan setiap anak dalam bertarung, maka aku mengikuti kalian selama dalam perjalanan tadi sampai sekarang.

"Saat di hutan bambu, aku meminum ramuan kloning lalu mengikuti kalian dengan memanjat batang-batang bambu, aku bersama kloninganku menyerang kalian diam-diam dengan anak panah dan jarum sebagai 'pemanasan' untuk kalian. Itulah kenapa serangannya muncul di kanan dan kiri. Dan itulah kenapa saat kalian berlari, deretan bambu di kanan dan kiri bergoyang, itu aku dan kloninganku."

Ryan menyela, "Apa? Pemanasan katamu? Kami hampir saja-"

"Dan untungnya kalian tidak terluka," potong Laks.

"Aku tetap di batang bambu selama beberapa menit kalian bertarung bersama kloningan, baru sesaat kemudian aku ingat kalian meninggalkan 2 ikat bambu, maka aku langsung kembali untuk mengambilnya. Dan sesampainya aku ke sini lagi, kalian sudah tergeletak."

Ternyata seperti itu, pikir Ryan.

"Baiklah, untuk latihan terakhir, kalian bawa dua ikat bambu ini sampai ke panti," titah Laks.

"Haaaaah?!"Ucap keempatnya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
Ans Anshar
cemen satu bab perhari paling dikit lima lah atau sepuluh
༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Alur ceritanya sudah lumayan bagus 👍👍
Muhamad Saefulloh
Jangan lupa untuk vote dan tonton iklan karena itu adalah ibadah (karena jika anda melakukannya, anda telah membuat author senang, dan membuat orang senang adalah suatu ibadah. Anda akan mendapat pahala/ganjaran dari-Nya).
Tiana
semangat up
Desia
zaidnya ego ya....sok banget/Smug/
Desia
kok zaidnya dicerita ini belagu ya...bukannya trimakasih ditolongin/Smug/
Kolen Rumegang
kurangenarik ceritanya...terlalu bertele2 dan puter2...pusing aq membacanya
The Fool [Klein]
latar planet imub jaman apa?
Muhamad Saefulloh: Sebenarnya, latar di planet Imub itu seperti abad 19/20 untuk kebanyakan tempat, dan teknologi planet Imub sebenarnya sangat maju. namun hanya ada 3 kota teknologi yang ada di planet ini. Karena 'kesederhanaan' sudah melekat bagi banyak orang, hanya sedikit orang yang menggunakan tekonologi, meski kebanyakan orang memahaminya.
total 1 replies
CahNdablek
tata bahasa sudah bagus dan kalimat dan pengetikan juga bagus bahkan tanda dalam pengetikan sudah pas pada letak nya
lanjutkan 👍👍
CahNdablek
dalam pemantauan
kalo bagus lanjut
Muhamad Saefulloh: Dan semoga memang bagus di mata siapapun.
total 1 replies
Dimas Setiawan
gass
Dimas Setiawan
kipassss
Muhamad Saefulloh: apa maksudnya 'kipas'?
total 1 replies
Dimas Setiawan
gollllll
Qean
tiriz
Muhamad Saefulloh: tiris
total 1 replies
Qean
Lanjutkan
WiraBP
lanjut! semangat terus🔥
Zed Analytical Number Nine
Berhati-hatilah Zaid, tanpa sadar kau sudah memasuki kawasan yang belum diketahui sebelumnya.

hai kak, Zed mampir ya🙏
WiraBP
lanjut! 👍
Tomorrow
semangkuy~~ update nya
WiraBP
lanjut Thor!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!