"Sakit, Mas! Apa yang kamu lakukan ke aku itu sangat menyakiti hatiku! Gimana bisa kamu ngelakuin ini ke aku, dan itu adalah adikku sendiri. Lalu kamu, kenapa kamu tega sama kakak mu ini haah!!"
Suara Swastamita bergetar hebat ketika berkata demikia kepada suaminya, Erdio Rasmaluyo.
Betapa tidak bergetar, rasa sakit di hatinya sangat nyata. Suami yang memintanya untuk melepaskan karinya demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya ternyata malah berselingkuh dengan adik tirinya.
Yang lebih mengejutkan adalah, perselingkuhan yang dilakukan Erdio dan Medini itu diketahui oleh sang ibu.
Sakit hati Swastamita ketika mengetahui bahwa di rumah itu hanya dirinya yang tak tahu apa-apa.
Adik tiri yang sangat ia sayangi melebihi dirinya sendiri tega menjadi duri dalam daging pada rumah tangganya. Dan suami yang ia jadikan imam, malah menorehkan luka yang begitu dalam.
Bagaimana Swastamita menghadapi rasa sakit yang dirasakannya tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAKIT 34
Erdio tak banyak bisa melakukan apapun.Ia hendak meminta cuti lagi pada tempatnya bekerja, namun tidak diizinkan.
"Kamu sudah banyak meminta cuti. Kalau kamu melakukannya lagi, maka akan ada SP buat kamu."
Begitulah peringatan dari pihak HRD. Alhasil, Erdio tak lagi bisa lagi mengambil libur demi mencari Mita dan memohon untuk tidak diceraikan. pada hari sabtu dan minggu juga, Erdio tak bisa melakukannya karena perusahaannya sedang ramai pesanan, sehingga kerja lembur pun diperlukan.
Dua minggu sudah setelah terakhir Erdi bertemu dengan Mita. Ia seolah kehilangan Mita. Semua kontak Mita tak berhasil dihubunginya. Dari nomor telepon sampai media sosial. Seolah Mta benar-benar hilang di telan bumi.
Malam terasa begitu sepi dan pagi seolah tak ada arti. Erdio berangkat dan pulang kerja layaknya robot yang sama sekali tak memiliki tujuan dan keinginan.
Drtzzz
Ponselnya berdering, dia berharap itu adalah Mita tapi ternyata salah. Itu adalah Medi, yang menelpon dan rajin mengiriminya pesan adalah Medi.
Dulu Erdio merasa sangat bersemangat saat bergelung panas dengan wanita itu, sampai-sampai dia tak sabar bertemu. Tapi sekarang, setelah pernikahannya hancur akibat ulahnya sendiri, Erdio merasa sangat kesal dan marah setiap wanita itu menghubunginya.
Drtzzz
Panggilan kedua masuk. Awalnya Erdio tak ingin melihatnya, namun panggilan itu berkali-kali hadir. Ia menepikan mobilnya untuk melihat siapa yang menghubunginya. Nama sang ibu tertera di layar handphone, Erdio pun segera menjawabnya.
"Ada apa Bu? Katanya udah nggak mau lagi urusin aku," ucap Erdio dengan nada kesal. Dia masih ingat bagaimana kedua orang tuanya mengusir dirinya waktu itu dan menolak membantunya untuk kembali bersama Mita.
"Cuma mau ngasih tahu. Keputusan cerai dari pengadilan ada di rumah. Surat itu dikirimkan pihak pengadilan ke sini. Dah gitu aja. Sekarang kamu sama Mita udah bukan suami istri, jadi jangan ganggu Mita lagi,"jawab Jumilah diseberang sana.
"Apa, putusan cerai? Kenapa cepet banget sih bukannya proses cerai itu butuh waktu lama?"
Erdio terkejut, pagi yang terasa sangat tidak nyaman ini ternyata malah berlanjut ditambah dengan kabar yang begitu buruk.
"Ya nggak tahu. Ibu bukan pegawai pengadilan, jadi ya mana ibu tahu. Ya udah, gitu aja."
"Tungg~"
tuuuuut
Belum selesai Erdio berbicara, panggilan telepon itu sudah lebih dulu diakhiri oleh ibunya.
Arghhh!!
dugh dugh dugh
Erdio berteriak di dalam mobil sambil memukul-mukul setir kemudinya. Dia sangat marah. Sudah dua minggu mencoba menghubungi Mita namun tidak bisa, dan tiba-tiba sekarang mendapat kabar bahwa dirinya sudah resmi bercerai dengan wanita itu.
"Nggak, nggak bisa. Aku nggak bisa cerai dari Mita!" pekiknya lagi.
Erdio mengacak rambutnya kasar, lalu setelah itu dia pun menangis. Sesal, itulah yang saat ini dirasakan. Rasa sesal yang sudah tak akan bisa diperbaiki lagi itu menyelimuti dirinya.
Wanita yang baik, cantik, dan sangat mencintainya itu kini tak lagi ada. Dan dirinya hanyalah tinggal sendiri meratapi sepi yang entah sampai kapan akan berakhir.
Berbeda dengan Erdio, Mita yang menerima putusan cerai dari pengadilan sungguh merasa sangat senang. Senyumnya begitu sangat lebar, dan tak terasa air mata itu luruh.
Semua orang yang ada di meja makan saat in terkejut melihat Mita menangis. Tentu saja Lingga yang terlihat paling khawatir diantara semuanya.
"Mit, are you ok?" tanya Lingga sambil mengambilkan sebuah tissu dan memberikannya kepada ita.
"Saya baik-baik aja, Pak. Ini karena saya senang. Akhirnya saya benar-benar lepas dari orang itu. terimakasih Pak Lingga, Pak Wilson dan Mas Bari, terimakasih untuk bantuan dan dukungan kalian semua,"ucap Mita penuh dengan haru. Dia sungguh bersyukur karena berhasil melewati masa itu. Meski sebenarnya Mita juga bertanya-tanya, mengapa proses perceraiannya tampak begitu cepat.
Namun apapun itu, dia sangat bersyukur karena semuanya sudah berakhir.
"Nah Mit, sekarang kamu bebas. Kamu nggak lagi terikat sama orang itu, jadi hiduplah lebih baik lagi,"ucap Wilson. Meski memang irit bicara, tapi siapa sangka Wilson menjadi orang yang terasa hangat saat ini.
"Makasih Pak Wilson, ya saya akan hidup lebih baik lagi setelah ini. Sekali lagi terimakasih,"ucap Mita. Dia memeluk erat surat putusan cerai itu.
Hidupnya benar-benar seperti rollercoaster, naik turun dan mengejutkan. tapi Mita bersyukur karena dia dikelilingi oleh orang-orang yang baik.
"Sekarang, ayo berangkat bekerja. Banyak pekerjaan yang harus kamu kerjakan," ucap Lingga sambil menyeruput kopinya.
"Siap, laksanakan Pak Bos!" jawab Mita penuh semangat.
Lingga tersenyum tipis, nyaris tidak terlihat. Tapi baik Bari maupun Wilson tentu bisa melihatnya. Mata mereka langsung tajam jika itu menyangkut atasan mereka.
"fix, dia beneran suka sama Mit," ucap Bari dalam hatinya. Matanya memicing, dan hati serta otaknya semakin berisik.
TBC
typo kak
stidak nya kasih epilog lh,spya tau lingga nnggu Mita menerima perasaannya brapa lama,,