NovelToon NovelToon
Kenapa Menikahiku, Gus?

Kenapa Menikahiku, Gus?

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Keluarga & Kasih Sayang / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Konflik etika
Popularitas:176k
Nilai: 4.8
Nama Author: Danie A

Ini adalah novel religi pertamaku. Banyak banget yang butuh perbaikan sana sini. jika ada yang tidak sesuai, othor terima banget masukannya.

Tiba-tiba dilamar oleh seorang Ustad, membuat Arin berpikir dan melakukan berbagai cara untuk membatalkan pernikahan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 34

Huda menarik tangan Arin dengan lembut dan mendudukkan istrinya itu ke pinggiran ranjang. Sedangkan Huda berlutut di depan Arin sembari menggenggam erat tangan sang istri.

Huda menatap manik mata istrinya lekat-lekat, hingga membuat Arin tersipu. "Arin, Mas tanya sekali lagi. Kamu kasih izin ke Mas nggak? Mas bener-bener minta izin ke kamu sebelum pergi. Mas pergi ke Moyudan buat bantu orang-orang. Apa kamu mau kasih izin ke Mas buat pergi?" tanya Huda lagi-lagi membahas mengenai izin.

Wajah cemberut Arin ternyata membuat suaminya terusik. Huda sampai membuat-buat alasan, hanya demi bisa berbincang kembali dengan istrinya untuk menanyakan soal izin.

"Apa ada yang mengganjal di hati kamu sekarang? Kamu bisa utarain semuanya ke Mas," seru Huda.

Arin hanya diam. Wanita itu tak mempunyai keberanian untuk mengungkapkan kalau dirinya keberatan atas rencana sang suami yang ingin menjadi relawan ke desa Moyudan.

"Arin, kamu akan izinin Mas pergi, kan?" tanya Huda untuk kesekian kalinya.

"Kalau misalnya aku nggak kasih izin, gimana?" tanya Arin mulai membuka suara. "Gimana kalau aku nggak mengizinkan Mas pergi? Apa Mas akan tetep pergi?"

"Mas nggak akan pergi tanpa izin dari kamu. Kalau kamu nggak kasih izin, Mas nggak akan pergi!" tegas Huda.

Wajah cemberut Arin pun berubah menjadi sumringah. Jika memang Huda tidak akan pergi tanpa izinnya, maka Arin tidak akan memberikan izin untuk suaminya.

Wanita itu sudah bersiap untuk membuka mulut dan mengubah keputusannya. Tapi sayangnya ucapan Huda selanjutnya membuat Arin mengurungkan niatnya untuk melarang suaminya pergi.

"Nggak masalah kalau memang kamu nggak mau kasih izin. Mas nggak akan pergi ke mana-mana. Tapi gimana kalau situasinya dibalik? Kamu punya kegiatan yang pengen kamu lakuin, tapi Mas nggak kasih kamu izin. Apa menurut kamu ini bukan tindakan yang egois?" seru Huda kemudian. "Nggak masalah kalau Mas memang nggak boleh pergi. Tapi seenggaknya kamu bisa lihat dulu kan kegiatan apa yang akan Mas lakuin. Kamu harusnya bisa kasih toleransi, kan?"

"Mas yakin kok kamu bukan wanita yang egois. Jadi nggak mungkin kan kamu nggak kasih izin ke Mas?" sambung udah.

Wajah Arin yang tadinya sumringah pun kembali menjadi cemberut. Wanita itu bahkan melepas tangannya dari genggaman Huda.

Huda terkekeh melihat wajah kesal sang istri. "Senyum dong, Arin! Dari tadi kamu cemberut terus. Tolong kamu kasih izin yang ikhlas buat Mas," pinta Huda. "Mas janji, setelah pulang nanti, Mas akan ajak kamu jalan-jalan! Kita pergi ke Nepal Van Java sama-sama!"

"Nepal Van Java?" tanya Arin dengan mata berbinar.

"Setelah Mas pulang dari desa Moyudan, kita pergi liburan ke Nepal Van Java sama Riski. Gimana?" ajak Huda.

Arin terdiam sejenak karena. Rencana liburan yang diutarakan oleh suaminya mulai membuat Arin bersemangat. Tapi sayangnya Arin lebih ingin mengunjungi pantai daripada wilayah dataran tinggi.

"Kenapa harus Nepal Van Java? Gimana kalau kita pergi ke pantai aja?" usul Arin. "Aku pengen ke pantai, Mas. Aku lebih suka jalan-jalan di pantai."

Kini giliran Huda yang terdiam. Bukannya Huda tidak mau memenuhi keinginan istrinya. Tapi ada alasan khusus mengapa pria itu ingin mengajak istri dan juga putra angkatnya berlibur di tempat yang tinggi dan hijau.

"Gimana kalau kita ke Nepal Van Java dulu aja? Kita pergi sama Riski juga. Riski suka berlibur di wilayah pegunungan. Kamu juga tahu sendiri kan kalau Riski punya trauma sama air. Jadi nggak mungkin kita pergi ke pantai ngajak Riski," terang Huda meminta istrinya untuk memahami kondisi putra mereka.

"Nggak apa-apa kan kalau kita ke Nepal Van Java dulu?" tanya Huda lagi.

Jika memang karena Riski alasannya, Arin pun tak dapat memprotes tempat pilihan Huda. Lagipula tempat berlibur yang dipilih oleh Huda juga cukup bagus. Meskipun Arin memang sangat ingin mengunjungi pantai, tapi wanita itu bersedia mengalah demi Riski.

"Maaf, Mas. Aku sampai lupa kalau Riski takut sama air," seru Arin. "Nggak masalah sih kalau kita ke Nepal Van Java. Tempatnya juga bagus. Cocok buat liburan."

"Kita bisa pergi bertiga dan nginep di sana nanti. Tempat ini juga cocok banget buat bulan madu," celetuk Huda.

Arin membelalakkan mata begitu Huda menyebut-nyebut tentang bulan madu. Setelah menikah, keduanya belum sempat pergi berlibur bersama apalagi berbulan madu. Bahkan malam pertama pun belum sempat mereka lewati.

Liburan Arin bersama dengan Huda di Nepal Van Java bisa mereka manfaatkan menjadi acara bulan madu, sekaligus mencari momen untuk malam pertama mereka yang belum terlaksana. "Bulan madu, ya? Aku sampai lupa kalau aku belum diunboxing," batin Arin.

"Gimana menurut kamu? Kamu beneran setuju ngabisin waktu liburan pertama kita di Nepal Van Java sama Riski?" tanya Huda.

Tentu saja Arin tidak akan menolak. Wanita itu terlihat antusias menanti janji liburan dari sang suami.

Setelah dibujuk dengan iming-iming liburan, akhirnya Arin pun memberikan izin pada sang suami untuk berangkat ke desa Moyudan. "Mas pinter banget deh ngasih iming-iming!" gerutu Arin.

Huda tertawa sembari mengunyal-uyel pipi sang istri. "Jadi sekarang gimana? Mas boleh pergi ke desa Moyudan, kan?"

Arin mengangguk dengan wajah cerah. Setelah wanita itu terus-terusan menampakan wajah cemberut, akhirnya Arin memperlihatkan wajah sumringahnya. "Mas boleh pergi. Tapi Mas nggak boleh ingkar janji soal liburan!"

"Mas janji. Setelah Mas kembali dari desa Moyudan, kita pergi liburan sama-sama."

"Satu hal lagi! Ada syaratnya kalau Mas beneran pengen pergi ke Moyudan!" ujar Arin kemudian.

Huda mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. Ia pikir, tawaran liburan sudah cukup untuk membuat istrinya luluh. "Syarat apa?"

"Selama di desa Moyudan, Mas nggak boleh deket-deket sama Novi! Bukan cuma selama di desa Moyudan aja. Tapi di mana pun Mas berada, Mas harus menjauh dari Novi!" pinta Arin.

****

1
Sur Yanti
ayo thor knpa Lama sekali up nya? semangat lah thor nulis nya 💪💪
Sur Yanti
semangat up thore 💪💪
Lukman Suyanto
welcome back...
Sur Yanti
setelah 2thn akhir nya up lagi thore
semangat up nya thor 💪💪💪
Dek Raraaa
uplagi 2th kakkk ..
Danie a: bisa ae.
total 1 replies
JandaQueen
lha....kalo gini, ga bener ni si wirda. ada gejala mo nikung sptnya...
JandaQueen
lanjut baca, penasaran
JandaQueen
lha itu...
JandaQueen
lanjut baca
JandaQueen
simpan jejak dl
Ade Hadijah
semoga Arin selamat sampai tujuan. Nekad juga
Riza Umi Nurjannah
lama up nya thot
Danie a: hahahh, iya, othor nya lagi ngk jelas nih🤭
total 1 replies
Bayu Priyadi
arin baper
Raudatul zahra
heehhh??? kupikir sudah tamat, karna novel author yg lain yg kubaca episode nya pendek².. ini udah 60 bab belum tamat.. yaa nggak pp siih.. seneng² aja aku.. tp kok lama banget nggak update lg yaa thor????
Raudatul zahra
aku ikut sakit hati mikirin perasaan nya Arin😭😭😭
Raudatul zahra
Arin mendengar isakan novi
Raudatul zahra
menyingkirkan Novi thoorr
Raudatul zahra
maafin yaa mas Huda.. nama nya istri nya baru beranjak dewasa.. masih suka tantrum² gitu dehh.. masih cemburuan..
Raudatul zahra
lanjooootttt
Raudatul zahra
ada yang ngarepin suami orang doonnggg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!