Sepasang suami-istri bernama Arvan dan Lasmi berpindah ke rumah baru. Sebuah hunian yang dibeli bekas ditinggali oleh lelaki tua bernama Pak Sodikin. Tidak disangka, ternyata di sana mereka dihadapkan pada sebuah kisah masa lalu yang begitu mengerikan.
Adalah seorang wanita tua bernama Bu Tedjo dan anaknya Sulis, menjadi tetangga satu-satunya Arvan dan Lasmi di sana, siap menjadi teror atas kehadiran pasangan suami-isteri itu selanjutnya.
Lantas apa hubungannya dengan Bu Tedjo yang merupakan seorang dukun tersebut? Ternyata sosok inilah yang menjadi biang kerok dari semua permasalahan yang ada. Demi membahagiakan Sulis, dia rela mengguna-gunai Arvan hingga rumah tangga mereka goyah. Namun, sosok yang terkubur di dalam rumah tersebut, justru bangkit untuk membantu. Sekaligus membalas dendam atas apa yang diterimanya dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewa Payana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 30
...MISTERI MAYAT TERPENDAM...
...Dewa Payana...
...Bagian 30...
Entah apa yang merasuki pikiran Lasmi. Seketika itu pula, perempuan tersebut —seolah-olah— melupakan begitu saja hal yang dilakukan oleh suaminya barusan di luar. Kini malah sibuk memberikan sisa dari perbuatan Arvan bersama seorang perempuan yang tidak dikenal. Seakan-akan pula ingin melanjutkan terhadap kejadian tadi pagi, dimana dia memergoki lelaki itu tengah hal memalukan di kamar.
Setelah dirasa tuntas, lelaki itu pun lantas melepaskan diri dari hadapan istrinya. Tersenyum-senyum sendiri seraya melangkah menjauhi menuju luar rumah.
"Aaahhh!" jerit Lasmi begitu terbebas. Jatuh terduduk dengan mulut terbuka dan mata melotot perih, termuntah-muntah. "Ooeekkk! Ooeekkk!" Dia mengeluarkan kembali sisa cairan yang belum sempat terminum. Lantas terbatuk-batuk sesak menyakitkan dada.
"Maasss ….!" panggil Lasmi lirih seraya menoleh ke arah Arvan. Namun lelaki itu tidak menggubris. Dia malah bergegas memasukkan kendaraan bermotornya ke dalam rumah dengan raut wajah santai.
"Kenapa, Las? Kamu belum puas?" tanya Arvan diiringi seringai yang memuakkan. "Entar aja, ya. Aku capek. Pengen tidur."
Lagi-lagi tanpa berbelas kasihan, lelaki tersebut tidak mempedulikan Lasmi yang masih terduduk bersimpuh di lantai dengan napas tersengal-sengal.
"Mas!" panggil kembali Lasmi seraya bangkit terhuyung dan mengejar suaminya ke kamar. "Mas, jangan dulu tidur. Aku pengen bicara sama kamu."
Arvan sudah bersiap-siap hendak merebahkan diri, membuka baju dan hanya mengenakan celana pendek.
"Aku capek, Las. Besok aja ngomongnya," balas Arvan cuek sambil menaiki tempat tidur. "Atau kamu minta jatahmu, ya? Tunggu saja nanti sampe hasratku balik lagi."
Lasmi termangu. Dia sama sekali tidak mempermasalahkan hal yang baru saja mereka lakukan, akan tetapi melihat sikap Arvan tersebut benar-benar membuatnya muak.
"Enggak, Mas. Bukan masalah itu," ujar perempuan itu bersikukuh meminta suaminya agar tidak beranjak tidur terlebih dahulu, "aku hanya ingin tahu, kenapa sikap kamu seperti ini?"
"Sikap apaan? Aku ya aku seperti yang biasa kamu kenal selama ini," elak Arvan tampak kesal karena acara tidurnya terganggu. "Kamu ini kenapa, sih?"
"Justru kamu yang kenapa-kenapa, Mas?" tuding Lasmi kesal dan ingin marah-marah. "Udah pulang telat, main gila, terus kamu barusan …."
"Benar, 'kan? Kamu emang lagi pengen minta jatahmu?" tandas Arvan begitu menyebalkan. "Sudahlah, besok saja. Pagi-pagi aku gumuli kamu sampe puas."
Lelaki itu memiringkan badan, hendak tidur. Namun Lasmi segera mendekat dan menarik-narik tubuh Arvan agar menghadap ke arahnya.
"Aku belum beres ngomong, Mas," seru Lasmi hampir menangis.
"Apa-apaan sih kamu ini, Las?" seru Arvan seraya menepis tangan Lasmi dari bahunya dengan kasar. "Aku bilang besok ya besok. Ngerti gak sih kamu?"
Dia kembali memiringkan badan. Namun lagi-lagi Lasmi menariknya.
"Diam!" bentak Arvan dengan suara menggelegar.
Lasmi tersentak dengan wajah memucat kaget. Ini baru pertama kali terjadi, suaminya bersikap kasar seperti itu.
"M-mas ….," ucap Lasmi lirih dan benar-benar menangis kini. Air matanya menetes, menyusuri pipi. "K-kamu membentakku?"
Arvan bangkit dari goleknya. Mendengkus dengan keras dan mengumpat kesal, "Huh, sialan! Ada saja gangguan ini!" Lantas melirik sejenak, menatap istrinya dengan sorot mata jengkel. "Bisa gak sih aku istirahat dengan nyaman di rumah sendiri? Kalo tahu begini, lebih baik aku gak pulang sama sekali tadi."
"Ya, Tuhan … Mas," desah Lasmi semakin lirih. Tidak percaya jika suaminya telah berkata demikian. "Aku dari tadi nungguin kamu pulang, gak ada kabar sama sekali. Begitu aku bangun, aku lihat kamu tadi … ah, setan apa yang ngerasukin kamu ini, Mas?"
"Elu setannya!" umpat Arvan semakin jengkel dibuatnya.
"Astaga ….," gumam Lasmi seraya mengelus dada.
Usai berkata kasar barusan, lelaki tersebut beranjak turun dari atas kasur. Hanya mengenakan celana pendek, dia bergegas keluar kamar.
"Mas, mau ke mana?" tanya Lasmi tambah bingung dan berusaha mengikuti. Namun sesaat, dia menoleh ke belakang, tepatnya pada sosok Lintang yang tergolek dengan tenang. Seperti tidak terusik sama sekali akan suara-suara nyaring yang diucapkan oleh Arvan tadi. Setelah itu, kemudian dia menyusul suaminya.
Aneh …, hanya beberapa detik memalingkan muka dari sosok Arvan barusan, Lasmi celingukan mencari-cari kini. Tiba-tiba saja lelaki tersebut sudah tidak tampak. Dicari-cari ke luar rumah, dapur, bahkan bagian bagian-bagian lain dari rumah, tetap saja tidak kunjung ditemukan.
"Mas? Mas Arvan?" panggil Lasmi kebingungan dengan nada suara lirih menahan sedu sedan. "Mas di mana? Mas Arvan!"
Tidak mungkin suaminya itu menghilang begitu saja. Kendaraan bermotornya pun masih ada di ruangan tengah. Lantas ke mana dia kini? Bahkan hingga berlari ke pinggir jalan sekalipun, sosok Arvan tidak juga terlihat. Memang, karena suasana alam begitu gelap pekat. Hingga wujud jemari pun tidak sampai ….
"A-apa ini ….?" desis Lasmi kini terheran-heran. Mendadak semuanya menjadi serba hitam. "D-di mana aku?"
Perempuan tersebut mengangkat tangan ke depan, meraba-raba dalam kegelapan, hendak menggapai sesuatu. Namun tidak ada sesuatu pun yang bisa disentuh. Bahkan untuk melihat jemari tangan sendiri saja, sama sekali sulit.
"M-maaasss ….!" panggil Lasmi mulai ketakutan diantara isaknya yang belum habis berkesudahan. "Mas Arvan … tolong, Mas! Tolong aku!" Dia berteriak. Berharap Arvan datang mendekat dan segera menuntunnya agar keluar dari keadaan tersebut.
Lasmi mencoba mengayunkan langkah sedikit demi sedikit, di atas permukaan basah dan beraroma lembab. Seperti bau tanah kering yang baru saja ditimpa hujan sesaat. Begitu khas dan dia hafal betul baunya.
"D-di mana ini? Kenapa semuanya mendadak gelap?" Bertanya-tanya kembali sosok perempuan tersebut diantara dera kebingungan dan Isak yang kembali menguar pelan. "Rumahku … Lintang ….," katanya tiba-tiba teringat pada anak lelaki semata wayangnya. Tergolek sendirian di kamar saat ditinggalkan tadi.
Lasmi benar-benar bingung, mengapa semuanya mendadak berubah? Apakah ini hanyalah sebuah ….
Tiba-tiba sebuah tangan menggapai lengan Lasmi. Tentu saja perempuan itu menyentak kaget.
"Haahhh!" teriak Lasmi dalam keterkejutan yang luar biasa. "Siapa kamu?"
Tidak tampak seorang pun di dekatnya. Padahal jelas sekali, baru saja lengan Lasmi terasa seperti ada yang menyentuh. Semuanya serba hitam atau gelap gulita.
"Ikutlah bersamaku ….," kata seseorang tanpa terlihat wujudnya. Terdengar pelan seperti sebuah bisikan nyata menggaung di ruang dengar Lasmi. "Ayo, ikuti aku sekarang."
"S-siapa kamu?" tanya Lasmi tidak serta-merta menuruti apa yang didengarnya barusan. Dia masih celingukan, memutar arah pandang ke segala penjuru. Namun sosok yang berbicara tadi, tetap tidak tampak sama sekali.
"Ikuti saja. Jangan banyak bertanya," ujar suara tanpa wujud tersebut.
Lasmi tersurut mundur. Takut sekali jika pemilik suara itu bermaksud buruk terhadapnya.
"Ikuti aku. Jangan mundur," imbuh kembali suara tersebut.
Lasmi tercekat. 'Dia bisa melihatku dalam kegelapan. Tapi aku sama sekali tidak mampu melihat wujud itu,' gumamnya di dalam hati. 'Dari suaranya, jelas sekali dia adalah seorang perempuan sepertiku.'
"Ayo, ikuti aku, Kak Las."
...BERSAMBUNG ...