Arabella Nandhita, gadis berusia 21 tahun, seorang mahasiswa dan pekerja paruh waktu di sebuah cafe ternama di kotanya, bekerja sambil kuliah, pilihan yang tepat untuk membantu meringankan beban kedua orangtua tercintanya.
Sifatnya yang manis, sopan dan periang membuatnya menjadi gadis supel dan mudah berteman dengan siapa saja.
Raka Brahmana, Seorang Rich Man berusia 27th yang kini menjabat sebagai CEO menggantikan ayahnya, Putra dari seorang pengusaha properti ternama di negeri ini, Indra Brahmana pendiri Brahmana Corp.
Sifat Raka yang cool dan sedikit introvert membuatnya selalu di segani.
Raka yang sering menghabiskan waktunya untuk nongkrong di cafe, jatuh hati pada salah satu karyawan cafe langganannya.
Ikuti kisah manis dan pahit perjalanan cinta mereka yukkk...
Happy Reading DarL..😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek Nanie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Seakan di telan bumi, keberadaan Ara pun sulit untuk di lacak, Beni pun sudah mendatangi rumah Ara dan memohon pada orangtuanya untuk memberitahukan dimana Ara, namun lagi lagi mereka menolak dengan halus dengan alasan demi kebaikan bersama.
Kebaikan yang mana yang di maksud? Raka bahkan tidak baik baik saja sekarang, semenjak Ara pergi, Raka tidak lagi ke kantor atau pun ke cafe, yang di lakukan nya hanyalah mengurung diri di kamar.
Raka bahkan tidak merawat dirinya lagi, kalau bukan dibantu Rama dan Mami mungkin Raka sudah mirip orang gila karena dia tidak peduli lagi pada diri dan penampilannya, kepergian Ara membawa dampak besar untuk Raka.
Sang papi sampai gusar sendiri, akibat kelakuannya, dia malah membuat anaknya lemah tak berdaya seperti ini, tapi nasi telah jadi bubur, Tuan Indra tidak dapat mengembalikan keadaan seperti semula, dia harus terus maju untuk memisahkan Raka dan Ara demi nama baik keluarganya.
"kau mau jadi apa jika terus terusan begini Raka?" sentak sang Papi ketika mendatangi kamar Raka, di ikuti oleh Rachel dan di sana ada Rama dan Mami yang sedang menggantikan baju Raka.
Raka tidak bergeming bahkan tatapannya kosong.
"apa kau tak salah bertanya seperti itu pada Raka? lihatlah kondisinya sekarang!!" sentak mami.
"dia terlalu lemah! hanya karena seorang wanita, dia bisa meninggalkan segalanya!!" ujar papi dengan gusarnya.
Rachel yang melihat kakaknya seperti ini, sebenarnya mulai merasa tidak tega, namun apalah dayanya, dia terlanjur mengikuti permainan sang papi.
"Raka tidak pernah jatuh cinta sebelumnya, wajar jika dia seperti ini! Ara adalah segalanya bagi Raka!!" teriak mami.
Papi tersentak mendengar mami berteriak karena hampir tidak pernah mami berlaku tidak sopan pada papi.
"mi, kenapa kamu jadi tidak sopan begini?" ujar papi tidak suka.
"maaf pi, mami benar benar kesal! kalau sampai mami tahu, siapa orang yang tega berbuat ini pada Raka, mami ga akan memaafkannya!!!" ujar mami.
Ucapan mami cukup membuat wajah papi memucat, ancamannya serasa menghujam jantung papi.
Papi berusaha menormalkan raut wajahnya, dan keluar dari kamar Raka.
Rama yang hanya bisa diam saja, segera menghampiri sang mami dan mencoba untuk menenangkannya, Rachel pun yang sempat terpaku, ikut keluar menyusul sang papi.
"apa yang terjadi pada keluarga ini nak?" ucap sang mami sambil terisak.
"ini cobaan mi, kita harus saling menguatkan untuk menghadapinya!" jawab Rama sambil memeluk sang mami.
Raka seolah mayat hidup, raganya hidup namun nyawanya tidak di sana, sepertinya Ara berhasil membawa separuh jiwa Raka pergi bersamanya.
Jadilah sang Papi kembali ke perusahaan untuk menggantikan Raka yang hampir tidak merespon siapapun yang berusaha berbicara dengannya.
Di kantor...
Rachel ke kantor untuk berbicara dengan papinya karena tidak mungkin dia bisa berbicara tentang hal ini di rumah,
"pi.. apa papi sibuk?" tanya Rachel yang muncul dari balik pintu ruangan sang papi.
"tidak terlalu.. masuklah!" titah sang papi.
Rachel masuk dan menutup pintu dengan rapat.
"pi,kita harus bagaimana sekarang? kak Raka semakin hari semakin tidak sehat!"
"entah lah, papi juga tidak menyangka akan sefatal ini akibatnya!" jawab Papi jengah.
"papi sudah mencoba mencari keberadaan Ara?"tanya Rachel.
"sudah! dan mereka tidak dapat melacak keberadaan gadis itu! dia pintar sekali bersembunyi!" jawab Papi sambil menerawang jauh keluar jendela kaca ruangannya.
"lalu apa langkah papi selanjutnya? bagaimana jika kak Raka terus seperti ini? aku semakin khawatir melihat keadaan kakak!" ujar Rachel dengan raut wajah cemas.
"papi juga pusing Rachel!!" sentak papi, papi menyisir kasar rambut hitamnya yang mulai di tumbuhi uban.
Rachel putus asa melihat sikap papi yang nampaknya tidak bisa berbuat apa apa, Rachel benar benar merasa bersalah pada Raka, Rachel tidak bisa membayangkan bagaimana murkanya sang mami dan yang lainnya jika tahu dia turut serta mengintimidasi Ara sampai gadis itu menghilang tanpa jejak.
Rachel berpikir untuk mendatangi rumah orang tua Ara,
"permisi...." ucap Rachel di depan pintu rumah Ara.
"iya..." sahut dari dalam, suara yang mampu membuat hangat hati Rachel seketika itu juga, entah kenapa, Rachel juga tidak tahu alasannya, yang jelas sekarang hatinya benar benar merasa nyaman berada disini.
Nampak ibunda Ara yang keluar, dan terpaku melihat Rachel, tanpa sadar bunda meneteskan air matanya, entah apa sebabnya, membuat Rachel tertegun melihatnya.
"maaf, apa ibu baik baik saja?" tanya Rachel yang melihat bunda tiba tiba menangis.
"eh maaf.. " sahut bunda sambil menghapus air matanya.
"mau cari siapa nak?" lanjut bunda bertanya, kata kata "nak" cukup menggetarkan hati Rachel.
"eh anu, saya adiknya kak Raka, saya kesini ingin berbicara dengan ibu, apa ibu ada waktu?"
"kalau kamu mau bertanya tentang dimana Ara sekarang, maaf ibu tidak bisa memberi tahukan apa apa!" jawab Bunda to the point.
"boleh saya duduk dulu?" ucap Rachel dengan sopan.
"oh iya sampai lupa, silahkan duduk!" ucap bunda lalu menyilahkan Rachel duduk di bangku teras depan rumahnya.
"bu, saya mohon, tolong beri tahu dimana Ara sekarang, kak Raka benar benar membutuhkan Ara bu!" ujar Rachel tanpa basa basi.
"maaf, saya tidak bisa memberitahukan apa apa!" sahut bunda bersikukuh.
"bu, apa ibu mau ikut saya ke rumah dan melihat sendiri keadaan kak Raka saat ini?" ucap Rachel berusaha meyakinkan ibunda Ara.
"ehm..." Bunda nampak berpikir, lagi lagi Rachel berusaha mendapat simpati dari Ibunda Ara,
"saya yakin bu jika Ara juga sama menderitanya dengan kakak saya! apa ibu yakin akan membuat mereka terus menderita seperti ini?"
Ibunda Ara nampak mengerutkan dahinya, sepertinya dia berpikir dan mulai menimbang ucapan Rachel barusan.
Seolah tahu isi pikiran Ibunda Ara, Rachel langsung menarik tangan bunda dan mengajaknya untuk melihat keadaan Raka.
Ibunda Ara hanya menurut saja ketika tangannya di tarik, dan sekarang bunda dan Rachel sedang dalam perjalanan menuju rumah keluarga Brahmana.
Sampai di sana, Rachel langsung membawa bunda ke kamar Raka,
Bunda Ara langsung melotot dan menutup mulutnya dengan kedua tangan, Bunda tidak sanggup menutupi keterkejutannya melihat keadaan Raka saat ini, penampilannya yang acak acakan dan tatapannya yang kosong cukup menggambarkan seberapa menderitanya dia setelah Ara pergi meninggalkannya.
Bunda menangis begitu saja, jika Raka sampai seperti ini, bagaimana dengan putrinya di sana? pikiran jelek mulai mengotori otak bunda.
Tanpa pikir panjang lagi, bunda minta di antar pulang kerumahnya lagi dan ketika sampai di rumah, sudah ada Ayah Ara yang baru pulang kerja.
Ayah Ara pun sama, langsung menitikkan air mata ketika melihat sosok Rachel untuk yang pertama kalinya,
"ada apa denganku? kenapa tiba tiba melankolis begini!" gumam Ayah dalam hati, sambil tangannya mengusap setitik air mata yang berhasil lolos keluar dan bermuara di pelupuk matanya.
Rachel pun lagi lagi merasakan hal aneh, kenapa hatiku berdesir hebat seperti ini? hanya dengan melihat orang tua Ara? batin Rachel bertanya tanya.
"k..kau siapa?" tanya Ayah sedikit tergagap.
"dia adiknya Raka yah!" sahut Bunda yang sudah berdiri di samping ayah.
"kenapa kau bisa bersamanya, darimana kalian?" tanya Ayah dengan ekspresi bingung.
"aku dari rumah Raka dan melihat keadaan Raka!"
"lalu?"
"yah, keadaan Raka benar benar mengenaskan! jika Raka seperti itu, bagaimana dengan Ara?" kata bunda dengan raut wajah khawatir.
"jadi?"
"sebaiknya kita beritahu kan saja pada mereka agar Raka dan Ara bisa bertemu kembali!"
"tapi kan kita sudah berjanji pada Ara bund!"
"apa ayah tega melihat anak kita menderita?"
"tentu saja tidak!"
"maka dari itu, sebaiknya kita pertemukan mereka sebelum semuanya terlambat!"
Ayah nampak berpikir lama membuat Rachel sedikit gusar menanti jawaban Ayah Ara, Rachel berharap mereka segera memberitahukan dimana Ara saat ini.
🔕🔕🔕🔕🔕🔕
pengorbanan ara sia² pdhl yg dia lakukan demi kamu dan anak istrimu..
mending Ara tinggalin aja Raka