Anggi sama sekali tidak bisa menolak ia harus menikahi seorang pria tajir yang belum pernah dilihatnya sekalipun.
Rumah tangga yang ia jalani ternyata penuh lika-liku karena seorang wanita muda mengaku-ngaku telah hamil anak Agus Soeripto.
Bagaimana nasib Anggi selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melakukan Sesuatu
Agus melihat Anggi menangis sambil memeluk baby boy padahal dokter mengatakan dia baik-baik saja.
"Sayang!" panggil Agus.
"Mas? Kau di sini?!" Agus tidak menjawabnya malah membawa Anggi masuk ke kamar pelukannya.
"Tenanglah aku di sini bersama Kalian," ucap Agus.
Anggi justru semakin menangis kuat hingga suara rengekan baby boy mengalihkan perhatian mereka.
"Dia menangis sayang," ucap Agus.
"Sayang, mami dan Daddy ada di sini," bisik Anggi sambil tenangkan.
"Bagaimana perkembangannya?" tanya Agus cemas.
"Hanya demam biasa," ucapnya.
"Oh, Anggi maaf aku tidak ada bersama kalian," lirihnya.
"Sudahlah mas, semuanya sudah berlalu." Anggi kembali menatap baby boy sudah terlihat tenang.
"Boleh kita bisa bicara sebentar?" kata Agus.
"Baik," jawab Anggi cepat.
Baby boy dijaga ketat perawat karena Anggi dan Agus menuju taman rumah sakit.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Agus pelan.
"Seperti yang kau lihat, aku baik," ucapnya.
"Maaf aku sudah mengecewakanmu dua kali." Anggi melihat mata Agus terlihat hitam.
Tubuhnya bahkan terlihat kurus dan kulitnya tidak terurus dengan baik.
Agus mengeluarkan benda yang bisa mengeluarkan asap lalu dia nikmati di depan Anggi.
"Aku sudah memikirkan dengan matang selama ini apa yang kulakukan salah. Termaksud dirimu aku tahan dan tidak memberikan kebebasan," ucapnya lalu melanjutkan menikmati benda yang berasap.
"Kau setuju kita bercerai?" potong Anggi.
"Ya, kau bisa mengurus baby boy sampai kapanpun. Mungkin dengan ini kehidupan kita akan berjalan dengan baik. Kedua, rumahku itu sudah ku alihkan atas namamu, soal pajak jangan khawatir kau hanya tinggal sana." Agus merasa bebannya tenang setelah memikirkan masalah yang terjadi.
Anggi justru menangis tidak terima apa yang dikatakan Agus, dia enggan bercerai dengan pria itu.
"Aku tidak mau bercerai denganmu mas," ucapnya.
"Apa? Katakan sekali lagi Anggi?!" pekik agus kareena dia tidak salah dengar.
"Mas, aku sudah mengetahui fakta yang sebenarnya," lirihnya.
"Dari siapa kau mengetahuinya?" tanya Agus karena tidak ada sama siapapun dia bercerita kecuali dengan sekretaris.
"Mas, aku ini adalah istrimu tahu semua apa yang terjadi." Agus jadi diam dia tidak tahu harus mengatakan apa kepada Anggi.
"Anggi, kalau itu yang kau katakan baik mari kita berdua membuka lembaran baru." Mereka berdua saling berpelukan dan mengeluarkan semua sakit yang selama ini ditahan.
Anggi tidak menyangka bisa kembali membuka perasaannya kepada Agus. Padahal dia sama sekali tidak mengetahui fakta yang sebenarnya.
"Aku minta maaf sayang," ucapnya.
"Sudahlah mas, aku sudah melupakan semuanya." Bentuk pertama kalinya mereka berdua tidak mau melepaskan pelukan.
"Mas ada apa denganmu kenapa kurus?" tanya Anggi.
"Selama ini aku hidup tidak sehat Anggi. Untuk menghilangkan pikiran yang terus kepada kalian berdua aku memutuskan jalanin hidup seperti ini," ucapnya sambil mengusap wajahnya.
"Bisa kau kembali seperti dulu mas? Aku dan baby boy saat ini membutuhkanmu,” ucap Anggi.
"Tentu, aku akan melakukan yang kau katakan sayang." Kembali mereka berdua berpelukan dan tidak menyadari kalau dua wanita sedang memperhatikan mereka berdua dari jarak jauh.
"Anggi, kau benar-benar wanita keras kepala tidak mau melepaskan mas Agus," ujarnya sambil menatap dingin.
"Halima, kau benar-benar yakin mau merebut Agus?" tanya Jesika hati-hati.
"Ya, kau harus kembali melakukan sesuatu kepadaku!" sentaknya.
"Apa? Aku?!" pekik Jesika sambil menunjuk dirinya sendiri tidak yakin yang dikatakan Halima.