Menikahi seorang duda beranak remaja di usia 19 tahun bukanlah impian Kinanti Larasati. Namun, jerat kemiskinan dan ijazah SMA yang tak bernilai memaksanya menerima perjodohan itu. Pria yang dinikahinya terpaut usia lebih tua darinya sebuah pernikahan yang awalnya ia kira didasari oleh ketulusan demi mengangkat derajat hidupnya.
Selama tiga tahun, Kinanti menelan semua kerumitan itu sendirian. Ia mengalah demi menjinakkan hati anak sambungnya, dan tetap bertahan meski mantan istri suaminya tiada henti mengusik ketenangan rumah tangga mereka.
Kehadiran putri kecilnya, Aira Shakila, sempat menjadi lentera yang menerangi hari-harinya. Namun, tepat saat Aira merayakan ulang tahunnya yang pertama, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Sebuah rahasia besar yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh suaminya mendadak terbongkar ke permukaan.
Ketika topeng sang suami terbuka dan dunia tempatnya bersandar mendadak runtuh, akankah Kinanti tetap bertahan demi masa depan putrinya? Ataukah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E.N Viana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13.Senjata Rahasia Sang Nyonya Muda
Pagi hari berikutnya, badai yang dijanjikan oleh Herman Wijaya benar-benar menghantam tanpa ampun, langsung menusuk ke jantung urat nadi kehidupan keluarga Baskara. Sejak subuh, suasana di teras rumah utama sudah tidak tenang. Baskara duduk di kursi kayu teras dengan kemeja abu-abu yang lengannya sudah digulung hingga siku, sibuk menerima telepon dari para pekerja dan orang kepercayaannya di kampung.
Kinanti melangkah keluar membawa secangkir kopi hitam hangat. Dari raut wajah suaminya yang mengeras dan rahangnya yang mengatup rapat, Kinanti tahu sesuatu yang buruk sedang terjadi.
"Ada apa, Om?" tanya Kinanti pelan sambil meletakkan cangkir kopi di meja.
Baskara menghela napas berat, menatap Kinanti dengan tatapan yang berusaha tetap tegar. "Herman Wijaya benar-benar menggunakan pengaruhnya. Pagi ini, tiga tengkulak besar yang biasa menyetor gabah kering ke pabrik beras milik Ayah di kampung serempak membatalkan kontrak. Bukan cuma itu, dua jaringan toko grosir besar di kota yang menampung beras kemasan kita juga menolak kiriman truk kita hari ini dengan alasan kualitas beras kita mendadak buruk. Itu jelas omong kosong."
Kinanti terdiam, dadanya berdenyut nyeri. Dia tahu pabrik beras di kampung itu adalah jerih payah bertahun-tahun milik Juragan Ramli, ayah Baskara, yang kini dibantu pengelolaannya oleh Baskara. Bagi orang kampung, pabrik beras adalah segalanya. Jika pasokan gabah dihentikan dan pembeli di kota memboikotnya, pabrik bisa gulung tikar dalam hitungan minggu, dan ratusan buruh panggul serta pekerja giling di kampung akan kehilangan mata pencaharian mereka.
"Ini semua karena aku ya, Om? Kalau saja mami dan anak manjamu itu tidak—"
"Jangan pernah berpikir begitu, Kinanti," potong Baskara tegas. Pria matang itu berdiri, meraih pundak Kinanti dan menatapnya lekat-lekat. "Herman memang sudah lama mencari celah untuk menjatuhkan usaha keluarga kami agar dia bisa menguasai lahan sawah di daerah kita. Kejadian kemarin hanya jadi pemantik saja. Kamu tetap di rumah, aku harus pergi ke pabrik sekarang untuk menenangkan Bapak dan para pekerja."
Baskara mengecup kening Kinanti sekilas, lalu bergegas masuk ke dalam mobilnya. Kendaraan itu melesat membelah jalanan, bersiap menempuh perjalanan menuju pabrik beras mereka yang terletak di daerah pinggiran.
Namun, Kinanti bukan tipikal gadis desa yang lemah dan hanya bisa menangis di pojokan kamar. Begitu Baskara pergi, otaknya langsung berputar cepat. Dia tahu betul bagaimana cara kerja sistem pertanian di kampung, karena dia sendiri tumbuh besar di sana.
Kinanti segera mengganti pakaiannya dengan baju yang lebih kasual namun rapi. Dia tidak meminta supir keluarga. Gadis itu memilih berjalan kaki menuju pangkalan ojek terdekat, lalu meminta diantarkan langsung ke area pabrik beras milik Juragan Ramli di ujung kampung seberang. Dia tahu, dia harus berada di sana.
Suasana di area pabrik beras Juragan Ramli tampak lesu dan tegang. Truk-truk muatan yang biasanya mengantre untuk menimbang gabah kini terparkir kosong di halaman luas yang berdebu. Beberapa buruh panggul duduk termenung di atas tumpukan karung kosong, berbisik-bisik cemas mengenai masa depan pekerjaan mereka.
Di dalam kantor tripleks yang terletak di sudut pabrik, suara perdebatan terdengar samar. Juragan Ramli, seorang pria tua berwajah tegas dengan sarung yang tersampir di pundaknya, terlihat mondar-mandir dengan wajah gusar. Baskara berdiri di dekat meja, mencoba menenangkan ayahnya sembari memeriksa buku catatan keuangan pabrik.
"Kalau tiga tengkulak besar itu memboikot kita, mesin giling kita bakal berhenti berputar besok, Bas! Kita tidak punya stok gabah untuk digiling!" keluh Juragan Ramli dengan suara serak.
Tepat saat itu, pintu kantor diketuk perlahan. Sosok Kinanti melangkah masuk ke dalam ruangan. Kehadirannya seketika membuat Juragan Ramli dan Baskara menoleh terkejut.
"Kinanti? Kenapa kamu menyusul ke sini?" tanya Baskara dengan alis bertaut, langsung melangkah mendekati istrinya dengan rasa khawatir.
Kinanti tersenyum tipis, mencoba menyalurkan ketenangan. Dia menyalami Juragan Ramli dengan takzim, lalu menatap Baskara. "Aku ke sini karena aku punya solusi untuk masalah pabrik kita, Bapak, Om," ucap Kinanti dengan nada suara yang teramat yakin.
Juragan Ramli mengernyitkan dahi. "Solusi apa, Nduk? Ini urusan tengkulak kota yang licik. Kita dijepit dari atas dan dari bawah."
Kinanti melangkah mendekati meja kerja, lalu menggelar selembar kertas pembungkus nasi yang bagian belakangnya telah dia gunakan untuk menggambar peta coretan tangan mengenai jaringan desa sekitarnya.
"Bapak, Om Baskara... selama ini pabrik kita terlalu bergantung pada tiga tengkulak besar itu karena mereka menawarkan kemudahan setoran dalam jumlah banyak. Tapi kita lupa, para tengkulak itu membeli padi dari para petani kecil di desa-desa pelosok dengan harga yang sangat mencekik," jelas Kinanti, jarinya menunjuk pada titik-titik desa terpencil di peta buatannya.
"Di kampung halamanku, dan di tiga desa tetangga sebelah timur, ada puluhan kelompok tani mandiri yang tidak punya akses ke pabrik besar. Selama ini mereka terpaksa menjual padi mereka dengan harga sangat murah ke tengkulak jaringannya Herman Wijaya karena tidak ada pilihan lain. Mereka sebenarnya benci pada tengkulak-tengkulak itu."
Mata bening Kinanti berkilat cerdas saat dia menatap Baskara. "Bagaimana kalau kita memotong jalur tengah? Om Baskara dan Bapak jangan lagi membeli dari tengkulak. Mulai hari ini, kita utus orang untuk mendatangi langsung para ketua kelompok tani mandiri di desa-desa itu. Kita tawarkan untuk membeli gabah mereka secara langsung dengan harga lima ratus rupiah lebih mahal per kilogramnya daripada harga yang diberikan tengkulak licik itu."
Juragan Ramli tertegun, kalkulator di kepala tuanya langsung bekerja. "Jika kita beli langsung ke petani dengan harga lebih tinggi, untung bersih kita per karung memang akan sedikit berkurang, Nduk. Tapi..." Pria tua itu menjeda kalimatnya, matanya mulai berbinar.
"Tapi pasokan gabah kita akan melimpah ruah dan tidak akan pernah putus!" sambung Baskara, memotong kalimat ayahnya dengan mata yang melebar penuh kekaguman. Pria matang itu menatap Kinanti seolah baru saja melihat malaikat penyelamat. "Ribuan petani kecil itu pasti akan dengan sukarela beralih menyetor ke pabrik kita karena mereka mendapatkan keuntungan yang lebih adil. Herman Wijaya tidak akan bisa memboikot petani-petani akar rumput yang jumlahnya ribuan itu!"
"Benar, Om," tambah Kinanti dengan senyuman manis. "Dan untuk masalah toko grosir di kota yang memboikot beras kemasan kita, jangan kirim ke sana lagi. Beras kita terkenal pulen dan wangi asli tanpa pemutih. Kita pecah distribusinya ke pasar-pasar tradisional di tiga kecamatan sekitar secara eceran melalui warung-warung kelontong kecil. Jumlah mereka jauh lebih banyak. Rakyat kecil tidak peduli pada boikot konglomerat kota, mereka hanya peduli perut mereka diisi nasi yang enak dan murah."
Keheningan seketika melanda kantor itu. Juragan Ramli menepuk meja dengan keras, bukan karena marah, melainkan karena rasa puas yang teramat sangat. Pria tua itu tertawa lepas, gurat cemas di wajahnya sirna seketika.
"Luar biasa! Pemikiranmu cerdas sekali, Nduk! Pikiran orang kota seperti Baskara dan para sarjana itu ternyata kalah dengan strategi anak kampung sepertimu!" puji Juragan Ramli sambil menepuk pundak Baskara. "Bas! Tunggu apa lagi? Suruh anak-anak buahmu gerak ke desa-desa sekarang! Kita borong semua padi petani!"
Baskara tidak langsung bergerak. Dia menatap Kinanti lekat-lekat. Rasa bangga, kagum, dan getaran yang teramat dalam mendadak bergejolak hebat di dalam dadanya. Pria itu melangkah maju, lalu di depan ayahnya yang berpura-pura batuk dan memalingkan wajah, Baskara menarik tubuh ramping Kinanti ke dalam pelukannya yang teramat erat.
"Terima kasih, Istriku. Kamu benar-benar senjata rahasiaku," bisik Baskara dengan suara rendah yang serak di dekat telinga Kinanti, membuat jantung gadis itu berdebar liar berantakan di tengah aroma mesin giling dan debu padi pabrik.
Strategi akar rumput yang digagas oleh Kinanti terbukti menjadi pukulan telak yang mematikan bagi rencana busuk Herman Wijaya. Hanya dalam waktu beberapa jam setelah orang-orang Baskara bergerak ke desa-desa, truk-truk muatan mulai mengalir kembali memasuki pelataran pabrik Juragan Ramli. Para petani kecil menyambut gembira kerja sama langsung itu dengan suka cita. Mesin giling pabrik kembali menderu keras, memuntahkan beras-beras berkualitas tinggi yang siap mendominasi pasar-pasar tradisional. Rencana Herman untuk membuat pabrik itu mati kutu gagal total di hari pertama.
Sore harinya, menjelang pukul lima, Baskara dan Kinanti baru saja kembali ke rumah utama mereka setelah seharian penuh memantau pergerakan di pabrik. Tubuh mereka sedikit lelah, namun ada senyum kemenangan yang menghiasi wajah masing-masing.
Namun, begitu melangkah masuk ke dalam ruang tamu, atmosfer hangat itu seketika lenyap berantakan.
Di tengah ruangan, seorang pria asing berpakaian batik rapi lengkap dengan tanda pengenal instansi resmi negara sudah duduk menunggu bersama Bi Asih yang tampak ketakutan. Begitu melihat kedatangan Baskara dan Kinanti, pria itu langsung berdiri dengan sikap formal yang kaku.
"Selamat sore, Pak Baskara Dirgantara," sapa pria itu sembari mengeluarkan selembar amplop putih tebal berlogo resmi kejaksaan dan pengadilan dari dalam tas dokumennya.
"Ada apa ini?" tanya Baskara, suaranya seketika berubah menjadi sedingin es, firasat buruk langsung menyergap benaknya.
"Saya adalah utusan resmi dari Pengadilan Negeri dan Pengadilan Agama," ucap petugas itu dengan nada datar. "Saya diutus untuk mengantarkan surat panggilan persidangan gugatan darurat yang dilayangkan oleh mantan istri Anda, Ibu Chynthia Wijaya."
Baskara menyambar amplop itu dengan kasar dan merobeknya tanpa sabar. Begitu matanya membaca baris demi baris kalimat di dalam dokumen tersebut, rahang Baskara seketika mengeras hingga urat-urat di lehernya menegang hebat. Aura membunuh yang teramat pekat mendadak terpancar dari tubuh tegap pria itu, membuat suasana ruangan menjadi sangat mencekam.
Kinanti yang melihat perubahan drastis suaminya langsung melangkah mendekat dan ikut membaca lembaran dokumen yang dipegang Baskara. Detik itu juga, seluruh persendian Kinanti terasa lemas dan napasnya seketika tercekat di tenggorokan.
Chynthia ternyata menggunakan kartu terakhirnya yang teramat kotor, kejam, dan licik. Didukung penuh oleh pengaruh hukum dan uang ayahnya, Herman Wijaya, Chynthia resmi melayangkan gugatan darurat untuk menuntut hak asuh penuh atas Natasha, sekaligus melaporkan Baskara ke pihak kepolisian atas tuduhan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) secara psikologis terhadap anak di bawah umur.
Sebagai barang bukti utama, tim pengacara Chynthia menyertakan sebuah rekaman suara rahasia yang diambil secara ilegal di dalam rumah—rekaman suara histeris Natasha yang menangis dan berlutut memohon di ruang kerja Baskara malam sebelumnya. Rekaman itu telah dipotong dan direkayasa sedemikian rupa oleh ahli digital bayaran mereka, membuat Baskara terdengar seperti ayah kejam yang menyiksa mental anaknya sendiri demi membela istri barunya yang miskin.
Namun, yang paling membuat dada Kinanti sesak adalah poin tuntutan terakhir di lembar kedua, Selama proses hukum dan penyelidikan berlangsung, demi keselamatan mental anak, saudara Kinanti Larasati dilarang berada di kediaman Dirgantara dan harus dipisahkan dari lingkungan keluarga.
Ular-ular kota itu tahu mereka kalah dalam urusan bisnis pabrik beras, jadi mereka sekarang bergerak menggunakan jalur hukum pidana manipulatif untuk menghancurkan nama baik Baskara, mengambil Natasha, dan yang paling krusial:,mengusir serta memisahkan Kinanti dari sisi suaminya.
Kinanti memejamkan mata, tangannya yang memegang ujung kemeja Baskara mulai bergetar hebat karena ketakutan akan ancaman perpisahan paksa ini. Namun, Baskara justru meremas dokumen itu di tangan kirinya hingga hancur membentuk gumpalan kertas, sementara tangan kanannya mendekap bahu Kinanti dengan teramat protektif. Mata elang pria itu menatap tajam ke depan dengan kilat murka yang paling mengerikan. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.