Halo readers semuanya..!
Othor kembali dengan kisah rumah tangga yang penuh liku-liku. Perjodohan, penghianatan, dan banyak lagi kisah di dalamnya.
Kisah seorang gadis yang menikah karena perjodohan yang membawa pada kekecewaan. Harapan terakhir sang kakek cucu satu-satunya akan hidup bahagia bersama pria pilihan, putra dari asisten pribadinya.
Namun takdir kehidupan tak sejalan dengan apa yang ia harapkan.
Bram tak mencintai Habibah!
"Aku meminta hak ku sebagai seorang istri!" Begitu Habibah sudah tidak tahan ketika mendapati suaminya sedang bersama wanita lain.
Walaupun terus saja terjadi.
"Ternyata..." ucap Habibah di tengah guyuran air, dia tersenyum getir, menangis bersamaan membayangkan betapa hangatnya ciuman mereka. Dadanya bergemuruh seolah sedang terisi penuh dengan bara api.
"Ku rasa neraka tak hanya ada di perut bumi, tapi di dadaku." ucapnya pelan, mengadukan kekecewaan yang sudah sangat keterlaluan.
Bagaimana kisah Habibah selanjutnya?
Yuk baca>>
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayang Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DNA
"Lee, kau bilang ada yang ingin kau bicarakan. Sebenarnya, aku juga ingin bicara denganmu."
Habibah dan Lee sedang bertemu di sebuah cafe terbuka, sengaja hanya bertemu berdua di siang itu.
"Katakanlah." Ucap Lee menautkan tangannya sendiri, memandang Habibah dengan serius.
"Aku ingin bertemu Ayahmu."
Hening.
"Mereka bilang, aku adalah anak asisten kakek. Mereka bilang, Ayahku adalah seorang koruptor yang mengambil uang perusahaan. Dan aku butuh kejelasan."
Lee juga masih terdiam.
"Mengapa kau tidak bekerja di perusahaan kakek?" tanya Habibah tak habis penasaran atas yang terjadi.
"Baiklah, kita akan menemui Ayahku." jawabnya beranjak dengan pasti.
"Tapi aku masih bekerja." Habibah tampak bimbang, melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Jika menunggu pulang, maka suamimu juga akan ikut." ucap Pria itu memandang Habibah.
"Apa dia tidak boleh tahu Lee?" tanya Habibah kepada Lee. "Bukankah dia_"
"Habibah, jujur saja aku belum percaya kepada suamimu. Entah mengapa walaupun dia sudah terang-terangan memilih dirimu, tapi aku masih ragu akan berpihaknya Bram nanti."
Lee terlihat serius.
Habibah kembali melirik jam tangannya.
"Bekerja atau tidak, kau masih tetap bisa hidup." ucap Lee lagi meyakinkan Habibah.
"Ya."
Keduanya berangkat, melaju dengan kecepatan lumayan tinggi Lee tampak fokus dengan jalanan.
"Apakah tempatnya sangat jauh?" tanya Habibah kepada pria yang sedang menyetir itu.
"Ya, dan kita akan berhenti di depan.
Habibah menautkan keningnya, di depan mereka ada showroom yang lumayan besar. Dia menebak jika ayah Lee ada di sana.
Habibah segera membuka pintu, namun di cegah Lee.
"Kenapa?" tanya Habibah semakin bingung. Terlebih lagi Lee terus mengamati belakang mobil mereka.
Tak lama seorang mengetuk kaca mobil mereka.
"Sediakan mobil yang sederhana saja." pinta Lee terdengar aneh, ia menunjuk arah depan mobil mereka.
"Baik Pak." ucap wanita berpakaian rapi tersebut.
Tak lama kemudian mobil yang diminta Lee sudah di sediakan.
"Keluar." ucap Lee beranjak dari mobil itu.
"Lee..."
"Cepat." Lee merangkulnya dan segera menuju jejeran paling ujung yang sepi, terhalang dinding, dimana mobil yang ia minta sudah disiapkan.
"Apakah harus begitu? Kau tidak sopan." Dia menggerutu dengan sikap Lee baru saja.
"Maaf." Lee membuka pintu mobil yang sudah siap di bagian paling belakang.
"Masuk dan kita akan berangkat dengan ini."
Habibah hanya menurutinya, walaupun bingung dengan apa yang dilakukan pria itu, tapi dia yakin ini yang terbaik.
"Ayahmu tinggal di tempat yang jauh dari keramaian?" ucap Habibah mulai memahami arah yang mereka tuju, jalanan yang mulai menyempit dan pemandangan hijau pedesaan.
"Ya, dia sedang menikmati masa tua, walau masih banyak pikir dan kekhawatiran."
Habibah menautkan alisnya. "Pikiran?"
Dia menoleh pria yang jarang sekali mau menatapnya. Dia sangat kaku, tidak pernah tersenyum, sekalinya tersenyum terlihat aneh dan penuh arti.
"Nanti kau akan tahu." jawabnya mulai mengendalikan setir mobil tersebut, jalanan desa yang sempit dan sedikit berair mulai mengganggu roda-roda di bawah sana.
"Ini sangat jauh, seperti di pesantren milik Bibi, itu juga tidak separah ini." Habibah terkekeh.
Lee hanya melirik dan ikut tersenyum tipis sekali.
"Itu rumah Ayahku." Lee menunjuk sebuah rumah permanen dengan halaman hijau dan rapi.
Habibah segera turun bersama Lee, dia senang sekali melihat pemandangan yang melegakan. "Rasanya aku ingin tinggal di sini saja."
"Aku juga lebih suka disini, hanya karena tugasku belum selesai, jadi aku harus hidup di kota yang rumit. Di tambah lagi hidupmu yang rumit, semuanya menjadi serba rumit." ucapnya masuk ke rumah cukup besar itu.
"Aku juga tidak mau, tapi masa lalu sudah mengaturku." Gumamnya mengikuti Lee masuk ke rumah ayahnya.
Rumah yang sangat nyaman, Habibah terus melangkah Dimana pria dengan mata sipit itu sedang berbicara dengan seseorang. Tapi kemudian Habibah memandangnya serius.
Pria itu memutar kursi rodanya, wajahnya tegang sekaligus senang ketika melihat ke arah Habibah.
Tangan tua yang masih terlihat kokoh itu memutar roda kursi yang didudukinya, seperti kurang cepat ia ingin segera mendekati Habibah.
"Mayra." Lirihnya masih dapat didengar.
Habibah tersenyum ragu, mata beningnya tak habis memandang bagaimana keadaan pria itu sungguh membuatnya bertanya-tanya.
"Namanya Habibah Ayah." ucap Lee kepada ayahnya.
"Ya." jawabnya masih memandangi wajah Habibah.
"Assalamualaikum Paman, apa kabar?" Habibah menyapanya.
"Aku baik-baik saja, bahkan ini hari terbaik setelah 22 tahun yang lalu." dia tersenyum lebar, matanya tampak berkaca-kaca.
"Duduklah, kita akan berbicara banyak hari ini." Pria itu semakin mendekatkan kursi rodanya.
"Terimakasih Paman."
Lee ikut duduk tak jauh dari ayahnya.
"Katakanlah, apa yang ingin kau tahu?" Pria bernama Hiko mulai membuka obrolan serius.
"Begini Paman, aku sudah bekerja di perusahaan Ayah. Tapi mereka mengatakan aku adalah putrimu, aku menjadi bingung. Dan lagi, mereka bilang kau sudah mengambil uang perusahaan yang banyak. Dan mereka menekan ku akan membawamu ke penjara." ucap Habibah menatap wajah laki-laki yang hanya duduk di kursi roda tersebut.
"Itu tidak benar, yang benar adalah aku menukar mu dengan bayi yang sudah meninggal. Tapi memang iya, hari itu bertepatan dengan istriku yang juga melahirkan." Dia berhenti sejenak, seolah sedang kembali ke masa lalu. "Saat itu aku kerepotan karena kakekmu sedang berada di luar kota. Istriku sudah di rumah sakit tapi kemudian aku mendapat telepon dari Bibimu, bahwa Mayra ibumu juga akan segera melahirkan. Aku segera menjemput ibumu di tengah kesakitan istriku yang juga enggan ku tinggalkan. Dan kalian lahir di hari yang sama."
Habibah semakin penasaran dengan cerita itu, dia berpikir bahwa kehidupan asisten kakeknya juga tidak baik ketika itu.
"Istriku marah, cemburu dan banyak lagi. Hingga akhirnya di hati itu, dia pergi meninggalkan aku dan Lee di rumah sakit." Hiko menunduk, mata yang sudah mulai keriput itu terlihat menahan tangis.
"Maafkan Ibuku." ucap Habibah tanpa berpikir lagi.
"Dia tidak salah Nak, hanya sebuah alasan yang sulit diterima istriku, bahwa aku hanya ingin membantu dan itu tugas dari kakek mu. Belakangan aku mengetahui jika istriku, ibu dari Lee berteman dengan Marisa." lanjutnya lagi menarik nafas kemudian mengembuskannya.
"Lalu?" Habibah semakin mendekatkan dirinya kepada Hiko.
"Rudy tidak tahu Mayra hamil, tapi Marisa tahu Mayra mengandung anak Rudy. Dan ketika hari itu aku mengatakan kau sudah meninggal. Aku membawamu ke rumah kontrakan Bibimu. Dan satu-satunya bayi di rumah sakit saat itu adalah Lee."
"Artinya dia tidak akan percaya jika aku anak Ayahku." ucap Habibah menatap Lee.
"Dia akan percaya jika kau melakukan tes DNA." sahut Lee sangat yakin.