Pernikahan adalah tentang kepercayaan. Setidaknya itu yang diyakini oleh Arini selama lima tahun pernikahannya dengan Galang. Namun saat kenyataan itu terungkap secara tidak sengaja, ternyata pernikahan mereka hanyalah sebuah lelucon yang dibuat oleh suami dan selingkuhannya selama ini. Dan dia hanyalah wanita bodoh yang tidak tau apa-apa, dan sudah bekerja keras untuk membangun reputasi suaminya sebagai istri yang baik selama ini.
Hancur dan merasa di bohongi sudah pasti, lalu apa yang akan dilakukan Arini setelah mengetahui semua kebohongan suaminya?
Apakah dia bisa bertahan di kerasnya hidup tanpa Galang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebangkrutan Galang
Pak Bayu dan Kevin saling melempar pandang mendengar pertanyaan polos yang meluncur dari bibir Arini. Sebuah tawa kecil namun hangat terdengar dari Kevin, sementara Pak Bayu mengusap pundak putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Tentu saja ada, Rin. Hanya saja, selama lima tahun ini matamu tertutup oleh kabut yang sengaja diciptakan Galang," jawab Pak Bayu tenang. "Dunia ini tidak sesempit kantor Galang atau rumah tua ini. Sekarang, fokuslah pada dirimu sendiri dulu."
Arini menarik napas panjang, menatap langit-langit rumah tua yang penuh kenangan masa kecilnya. "Aku rasa Papa benar. Aku ingin pergi sebentar, Pa. Aku butuh udara yang tidak berbau kertas kontrak atau apapun yang berhubungan dengan pekerjaan. Aku ingin liburan ke Bali. Menenangkan diri sebelum benar-benar siap mengambil alih tanggung jawab di perusahaan Papa."
"Pergilah," Kevin menyela dengan nada protektif yang halus. "Aku akan mengatur semuanya. Villa, transportasi, dan keamananmu di sana. Kamu tidak perlu memikirkan apa pun kecuali deburan ombak dan matahari. Anggap saja ini hadiah atas keberanianmu melepaskan diri. Tapi jangan mencari bule untuk pelampiasan, panggil saja aku jika kau butuh teman disana. "
Arini terkekeh mendengar ucapan Kevin. "Terima kasih, Vin. Kamu sudah sangat banyak membantuku," ujar Arini tulus.
Kevin hanya tersenyum tipis. "Itu sudah menjadi tugasku, Arini. Sebagai sahabat, dan sebagai pengacaramu." Namun dalam hatinya, Kevin tahu bahwa perasaannya jauh lebih dalam dari sekadar tugas profesional.
Beberapa hari kemudian, Arini sudah berada di sebuah villa pribadi di daerah Uluwatu. Ia menghabiskan waktunya dengan berjalan-jalan di tepi pantai, membaca buku, dan bermeditasi. Ponselnya sudah ia matikan total, karena tidak ingin di ganggu siapapun. Ia tidak ingin tahu lagi apa yang terjadi di Jakarta.
Namun, di Jakarta, badai yang ia tinggalkan justru semakin mengamuk.
Di ruang kerjanya yang kini berantakan, Galang duduk dengan rambut acak-acakkan. Dasinya sudah entah ke mana. Di hadapannya, tumpukan surat peringatan dari bank dan dokumen penarikan investasi menumpuk seperti gunung yang siap longsor.
"Pak, perwakilan dari PT Sahabat Alam baru saja menelepon. Mereka membatalkan kontrak pengadaan bulan depan," Sania melapor dengan suara bergetar. "Alasannya sama, mereka tidak yakin dengan stabilitas manajemen setelah Bu Arini pergi."
"Sial! Apa mereka tidak melihat kalau aku masih di sini?!" Galang menggebrak meja. "Aku bosnya! Aku yang punya perusahaan ini! Arini hanya seorang manajer!"
"Tapi Pak, fakta di lapangan menunjukkan bahwa para vendor dan investor hanya memiliki kepercayaan pada Bu Arini. Tanpa tanda tangannya, mereka merasa risiko kerja sama terlalu tinggi," tambah Sania lirih.
Galang memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. Kabar pengunduran diri Arini dan kegagalan kontrak Singapura telah menyebar seperti api di padang rumput kering. Satu demi satu rekan bisnisnya mundur. Investigasi pajak yang dimulai oleh laporan Kevin pun mulai membuat operasional perusahaan terhambat. Rekening perusahaan mulai dibekukan sementara untuk pemeriksaan.
"Cari investor baru! Hubungi grup properti di Surabaya atau siapa pun! Tawarkan saham mayoritas jika perlu, yang penting ada suntikan dana segar!" perintah Galang putus asa.
"Sudah saya coba, Pak. Tapi nama Bapak sudah masuk dalam daftar hitam beberapa lembaga keuangan karena isu penipuan pernikahan dan potensi masalah hukum," Sania menunduk, tidak berani menatap mata bosnya yang kini terlihat seperti orang gila.
"Ah, sial. Kenapa semua jadi kacau begini. "
Sementara Galang berjuang di ambang kebangkrutan, Kevin Mahendra duduk di kantornya yang mewah di lantai paling atas Gedung Mahendra Group. Ia adalah sosok yang sangat sibuk, memimpin bisnis keluarganya sekaligus mengawasi firma hukum bergengsi miliknya.
Seorang asisten masuk membawakan laporan. "Pak Kevin, ini laporan terbaru mengenai aset Pak Galang. Seperti yang Anda instruksikan, kami sudah menutup semua celah bagi dia untuk mendapatkan pinjaman baru. Beberapa aset propertinya akan segera dilelang oleh bank dalam waktu dekat."
Kevin menyesap kopinya sambil menatap pemandangan kota dari balik kaca besar. "Bagus. Pastikan semuanya berjalan sesuai prosedur hukum. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya secara perlahan, sama seperti dia menghisap hidup Arini selama lima tahun."
Bagi Kevin, profesi pengacara memang hanya hobi atau pekerjaan sampingan, namun ia tidak pernah main-main. Ia mendirikan firma hukum itu khusus untuk membela orang-orang yang tertindas oleh sistem atau orang-orang licik seperti Galang. Dan kasus Arini adalah prioritas pribadinya.
Kevin meraih ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Arini.
Bagaimana Bali? Semoga ombaknya bisa menghapus sisa-sisa kepenatanmu. Jangan buru-buru pulang, Jakarta masih terlalu bising untukmu.
Di Bali, Arini yang baru saja selesai melakukan yoga di tepi pantai, melihat pesan itu. Ia tersenyum, senyum yang benar-benar tanpa beban. Ia membalasnya singkat.
Sangat tenang di sini, Vin. Terima kasih. Aku merasa seperti terlahir kembali.
Baguslah kalau begitu, bersenang-senanglah. Jangan memikirkan apapun yang membebanimu.
Krisis di perusahaan Galang mencapai puncaknya seminggu kemudian. Dita, yang tidak sanggup menghadapi kenyataan bahwa mereka akan segera diusir dari rumah mewah itu, terus-menerus bertengkar dengan Galang.
"Ini semua gara-gara kamu, Mas?" tangis Dita pecah saat mengetahui perusahaan suaminya di ujung kebangkrutan.
"Diam kamu, Dita! Kamu juga menikmati uangnya selama ini, kan?! Kamu yang meminta aku melakukan sandiwara ini. " balas Galang dengan suara parau.
"Tapi... tapi... kita memang tau kalau Arini sangat pintar dan cerdas. Dan buktinya selama ini kamu hanya ongkang-ongkang kaki menikmati hasil kerja kerasnya tanpa memikirkan kalau hal ini akan terjadi. Kamu terlalu mengandalkan Arini, dan tidak mau belajar.
"Diam kamu! "
Setelah membentak Dita, Galang terdiam. Ia menatap ke luar jendela, ke arah taman belakang di mana dulu Arini sering duduk sendiri untuk menanangkan pikiran, dan kini ia sadari bahwa Arini adalah hal paling berharga yang pernah ia sia-siakan. Ia mencoba menghubungi beberapa nomor rekan bisnis lamanya, namun tidak ada satu pun yang mengangkat. Bahkan Arini sendiri tidak bisa di hubungi, dia sudah memblokir Galang.
Kabar kejatuhan Galang menjadi topik hangat di kalangan pengusaha. Sebaliknya, berita tentang perusahaan Samudera akan mengaktifkan kembali perusahaannya dengan seorang nona muda yang akan menjadi pewaris Samudera grup sebagai pimpinan utama mulai terdengar. Banyak investor yang lari dari Galang, kini mulai mendekati Perusahaan Samudera. Karena mereka tau sepak terjang Perusahaan itu selama bertahun-tahun. Mereka bekerja dengan tenang tanpa keributan,dan hasilnya sudah pasti mencengangkan.
Tapi pertanyaannya adalah, siapa pewaris perusahaan Samudera itu sebenarnya?