Biyanca yang diadopsi oleh keluarga sederhana terpaksa harus menelan pil pahit karena dirinya akan di lelang dihadapan banyak orang kaya demi melunasi hutang ayah angkat dan keluarganya. Di hari pelelangan, seorang pria yang sedang terluka karena tertembak, datang dan nyelonong masuk ke dalam kamar Biyanca.
Tak disangka, pemenang lelang jatuh pada pria yang tadi sempat ditolong Biyanca. Pria tersebut membayar Biyanca dengan harga sangat mahal mengalahkan semua kaum borjuis yang ada di tempat pelelangan ini. Alhasil, Biyancapun harus dinikahkan dengan pria tersebut.
Siapakah Pria itu? Akankah pernikahan mereka bahagia, atau sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin Supriatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 Musuh Dalam Selimut
Byon dan Biyanca melaksanakan titah Bonscha selaku ayah angkat Byon untuk mengantar Aliya pulang kerumahnya. Diluar itu, Byon paham betul apa yang diinginkan ayah Narendra saat ini. Sebagai mafia, hal semacam ini sudah bisa Byon prediksi.
Tak berselang lama, setelah Byon meninggalkan kediaman ayah angkatnya, Bonscha langsung menelepon suami Biyanca untuk memberitahu satu hal.
“Aku tahu Ayah, Ayah tenang saja ... aku tahu apa yang harus kulakukan. Masalahnya, ini agak rumit … tapi ayah jangan khawatir, akan kuselesaikan semuanya dengan baik.” Byon menutup sambungan teleponnya.
Biyanca yang duduk di samping Byon jadi bingung sendiri. Sebenarnya, ada apa ini. Kenapa Aliya tidak diantar Nare sendiri dan malah dirinya dan Byon yang diminta mengantar kekasih Nare ke rumahnya.
“Apa yang terjadi Byon? Apakah … ayah … tidak merestui hubungan mereka?” tanya Biyanca pada suaminya sementara Aliya yang duduk di belakang hanya diam saja dan menatap nanar pemandangan diluar kaca jendela mobil.
“Kalau kau ingin tahu, tanyakan sendiri pada Aliya Bii,” jawab Byon dengan raut wajah datar. Ia menatap lurus jalanan yang ada dihadapannya sambil fokus menyetir.
Sesekali, Byon melirik kaca spionnya dimana anak buahnya secara diam-diam mengikutinya. Entah apa yang direncanakan Byon, tidak ada yang tahu.
Karena terlalu penasaran dan tidak mendapatkan jawaban dari Byon, Biyanca menoleh ke arah belakang dan bertanya pada Aliya. “Nona Aliya, apakah … ayah Nare … mengatakan sesuatu padamu? Kenapa …” Biyanca tidak jadi melanjutkan pertanyaannya karena melihat wanita cantik itu tampak dirundung sedih.
Aliya membalas tatapan mata Biyanca dan wajahnya murung seketika seolah menahan air mata agar tidak tumpah. Namun, sepertinya kesedihan yang dirasakan Aliya begitu besar dan dalam sehingga tangisnyapun pecah. Kekasih Nare itu benar-benar menangis sampai sesenggukan. Biyanca dan Byon jadi bingung karena tidak mengerti apa yang terjadi.
Biyanca meminta suaminya untuk menghentikan mobilnya dan mengajak Aliya keluar dari dalam mobil untuk menghirup udara segar. Kebetulan, mereka berdua ada di pinggiran tebing di mana pemandangan didepannya begitu indah. Tampak hamparan lepas pantai dengan ombak yang menggebu berlomba-lomba menabrak karam dengan keras.
“Katakan pada kami, apa yang dikatakan ayah Nare padamu Nona Aliya?” tanya Biyanca lagi setelah kekasih Narendra itu lebih tenang dari sebelumnya.
“Kami tidak mungkin bersama,” jawabnya lirih dan pilu. “Aku dan nare, tidak akan pernah bisa bersatu, Nona Biyanca … sebab … ayahku dan ayah Nare … adalah Rival. Mereka berdua sama-sama bersaing di dunia bisnis. Hubungan kami. Jelas ditentang oleh ayahku. Mana mungkin ayah mau menikahkan putrinya dengan anak mush bebuyutannya. Dan aku baru tahu itu tadi pagi sebelum kita sarapan bersama.”
Aliya menangis lagi dan buru-buru mengusap air matanya. Ia malu menangis di depan Biyanca dan Byon. Habis mau bagaimana lagi, patah hati setelah merasakan sehari indahnya jatuh cinta, jelas sangat menyedihkan dan memilukan hati. Bagaikan habis diajak terbang tinggi, malah dijatuhin lagi.
Tentu saja, Biyanca sangat memahami apa yang dirasakan Aliya saat ini karena kisah cintanya hampir sama dengan Byon. Yang membedakan, Biyanca beda kasta dengan Byon sedangkan Nare dan Aliya, sama-sama berasal dari kasta sama tetapi keluarga mereka saling bermusuhan.
Cinta oh cinta … kenapa jadi begitu rumit. Namun ini lah yang dinamakan cinta, cobaan selalu saja datang silih berganti tanpa pilih kasih. Hanya cinta sejatilah yang bisa mengatasi semua badai yang menghantam seperti yang terjadi pada Bii dan Byon.
Mereka terpisah karena perbedaan kasta diantara mereka, tapi pada akhirnya kini mereka bisa bersatu dalam satu ikatan pernikahan secara tak terduga. Jika saja cinta Byon dan Biyanca tidak tulus, sampai kapanpun mereka tidak akan pernah bersama seperti sekarang.
Biyanca memeluk Aliya yang tengah bersedih sambil menatap suaminya.
“Kita tidak bisa membiarkan mereka seperti ini Byon. Tidakkah kau harus melakukan sesuatu? Pasti ada cara untuk meyakinkan dua keluarga agar merestui hubungan mereka,” tanya Biyanca pada suaminya.
Byon yang berdiri di samping istrinya, hanya menatap lurus pemandangan lepas pantai dari kejauhan seolah memang ada yang sedang dia pikirkan.
“Manusia hanya bisa berusaha Bii … selebihnya … takdir Tuhanlah yang menentukan. Aku memang akan melakukan sesuatu, tapi … aku juga butuh takdir yang digariskan Tuhan agar usahaku nanti tidak sia-sia.” Byon tersenyum manis pada istrinya dan Bii cuma mengerutkan dahinya saja.
Biyanca sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Byon. Namun, belum juga Biyanca buka suara untuk menanyakan apa yang akan dilakukan suaminya, para pasukan Byon yang tadi mengikutinya datang memberikan laporan.
“Tuan, mereka semua datang. Seperti yang Tuan prediksikan, mereka memeras dan memaksa dengan cara kasar,” ujar salah satu anak buah Byon saat memberikan laporannya.
“Oke! Kita bergerak sekarang!” tandas Byon sambil melangkah masuk ke dalam mobilnya. “Ayo Bii, kita harus segera ke rumah Aliya.”
“Ada apa di rumah Nona Aliya? Siapa yang diperas dan dipaksa?” tanya Biyanca tapi Byon tidak mau menjawab. Ia terus mengkomando anak buahnya yang sudah tersebar sambil memantau keadaan.
Kalau sudah seperti itu, Biyanca tak berani mengganggu. Kini ia semakin yakin, kalau suaminya ini memanglah seorang mafia.
Meski bingung dengan yang terjadi saat ini, Biyanca dan Aliya menuruti apa kata Byon. Entah kenapa Biyanca merasa ada sesuatu yang tidak beres terjadi di sini. Namun, ia tidak yakin apakah suaminya mau memberitahunya atau tidak.
Dugaan Biyanca memang benar, begitu sampai di kediaman keluarga Aliya, sudah banyak sekali orang-orang misterius bersenjata lengkap sudah mengepung rumah kekasih Nare ini. Mobil Byon pun juga langsung dihadang oleh orang-orang tersebut.
“Siapa mereka? Kau mengenalnya Nona?” tanya Biyanca pada Aliya.
“Entahlah, aku tidak pernah melihat mereka semua.” Aliya berkata jujur, tak satupun dari mereka yang dikenal Aliya.
“Halo, Tuan. Boleh saya tahu ada urusan apa Anda datang kemari?” tanya salah satu orang misterius itu.
“Kami datang untuk bernegosiasi dengan pemilik rumah ini. Bilang saja, utusan Bonscha datang menemuinya.” Byon memberi kode pada Aliya untuk diam dan tidak memberitahu kalau dia adalah putri dari pemilik rumah ini.
Orang tersebut memberitahu komplotannya melalui headset yang ia pakai dan melaporkan siapakah yang datang hari ini sesuai dengan perkataan Byon barusan. “Silahkan masuk Tuan,” ujarnya tanpa curiga.
Byon kembali menyalakan mesin mobilnya begitu pintu pagar rumah Aliya yang megah terbuka. Sama halnya dengan Narendra, Aliya juga berasal dari keluarga sultan yang hartanya juga takkan habis 7 turunan. Namun, musuhnya ada di mana-mana dan nyawa keluarga Aliya saat ini, sedang terancam.
“Byon … apa mereka semua … adalah penjahat?” tanya Biyanca memastikan.
“Mereka semua adalah orang-orang yang menyerang keluarga ayah Bii. Sepertinya, mafia tanah itu masih belum kapok juga. Ia memerintahkan semua jaringannya untuk mendapatkan tanah perkebunan teh di wilayah ini.”
“Apa keluargaku baik-baik saja?” tanya Aliya mulai khawatir.
“Kita akan tahu setelah masuk ke dalamnya, dan aku minta padamu Al, lakukan apa yang kukatakan. Jangan biarkan orang-orang ini tahu identitasmu. Kau mengerti?” tanya Byon dan kekasih Nare itu langsung paham.
BERSAMBUNG
***
harapan dan keinginan di masa sudah tercapai