"Apa kita berdua dijodohkan!" Celia dan Alfian sama-sama terpeki kaget ketika orang tua mereka merencanakan Perjodohan di masa muda mereka.
"Benar sekali," sahut Darius.
"Ini tidak masuk akal. Pa, kami berdua masih sekolah dan bahkan kami tidak akrab," sahut Alfian.
"Tenanglah Alfian, justru perjodohan ini akan membuat kalian akrab dan belajar untuk menuju hidup di masa depan," aahhh Darius.
Alfian dan Celia benar-benar tidak menyangka bahwa mereka akan dijodohkan, mereka sudah mencoba untuk protes, tetapi para orang tua itu menginginkan hubungan mereka diikat dalam ikatan pertunangan.
Alfian dan Celia saling bertukar cincin sebagai ikatan diantara mereka berdua jika ada hubungan spesial yang tidak akan terpisahkan oleh apapun.
Raut wajah Alfian dan Celia terlihat murung, tidak memiliki pilihan selain menuruti permintaan orang-orang dewasa.
Celia terpaksa melakukannya agar memiliki akses lebih luas untuk bisa sekolah di luar negeri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32 Cemburu
Tidak terasa murid-murid SMA Bintang akhirnya sampai juga. Mereka memasuki area hutan yang cukup luas dengan pepohonan yang ditanam dengan jarak cukup jauh, rumput hijau yang terbentang dengan suara air terjun yang terdengar menyatu pada sungai.
Anak-anak SMA Bintang mulai memasang tenda untuk tempat beristirahat mereka karena hari sudah mulai gelap!"
"Ayo anak-anak tendanya cepat dipasang, kalian lihat ke langit cuaca mendung dan takutnya hujan turun, kalian semua belum selesai memasang tenda dengan barang-barang yang bisa basah, ingat jarak lokasi ini cukup jauh dari bis dan tidak bisa dikejar untuk tempat berteduh!" bu Widya sejak tadi memberi arahan kepada murid-murid.
"Kalian kompak memasang tenda sesuai dengan nomor tenda yang sudah kalian dapatkan, ingat satu tenda terdapat 4 orang!" tegas Bu Widya.
"Bu saya komplain," Valery tiba-tiba mengangkat tangannya diangkat.
"Ada apa lagi Valery?" tanya Widya.
"Kenapa satu tenda saya harus dengan orang yang tidak saya inginkan," sahut Valery.
"Valery, kami berdua juga tidak suka satu tenda dengan kamu," sahut Chintya ikut tersindir karena orang yang dimaksud Valery sudah pasti Celia dan Chintya.
"Ya, terus maksud lo kita berdua suka gitu," sahut Kania.
"Sudah-sudah kalian tidak usah ribut, Ibu baru mendapat laporan bahwa ada satu tenda yang hanya terdapat dua murid saja, baiklah untuk satu murid bisa dipindahkan ke tenda yang satunya dan yang ada di tenda kamu cukup 3 orang saja," sahut Bu Widya.
"Bu, itu tidak adil, kenapa harus dia yang memilih, saya dan Celia akan mencari tempat tersendiri tanpa harus bersama mereka," protes Chintya.
"Chintya kayaknya lo salah paham deh, kita berdua nggak ngusir Celia, kita berdua justru ingin Celia satu tenda dengan kita dan lo yang keluar dari tenda kita dan bukankah tenda yang membutuhkan satu orang lain itu tak lain adalah berasal dari kelas lo," sahut Valery tersenyum membuat Chintya mengerutkan dahi dan sementara Celia hanya diam dengan kebingungan.
"Bu Widya, Celia teman satu kelas kami dan memang seharusnya yang ada di tenda kami adalah Celia dan sementara dia hanya orang asing, lagian aneh juga kenapa dia harus nyelip-nyelip di dalam tenda yang bukan satu kelas, atau jangan-jangan teman satu kelasnya nggak mau temenan lagi sama dia, nggak mau 1 tenda karena kerjaannya ngurusin pekerjaan orang lain," sindir Valery.
Chintya terlihat kesal mendengarnya dengan tangan terkepal, tetapi berusaha untuk tenang menjaga emosinya agar terlihat baik di depan bu Widya.
"Sudah-sudah kalian jangan merebutkan masalah siapa yang harus berada di dalam tenda dan siapa yang harus keluar. Baiklah Celia kamu bergabung dengan Kania dan juga Valery karena mereka juga teman satu kelas kamu, dan kamu Chintya bergabung dengan teman kamu," sahut Widya memberi keputusan.
"Baik Bu," sahut Celia hanya menurut saja.
Valery tersenyum penuh kemenangan melihat kekesalan Chintya dan sementara bu Widya meninggalkan mereka dan kembali memberi arahan kepada murid-murid yang lain.
"Celia kamu enjoy ya, di dalam tenda hanya untuk tidur saja di malam hari dan selebihnya aktivitas bisa kita lakukan bersama, jika mereka jahat kepadamu, kamu cukup katakan saja kepadaku," ucap Chintya memegang lengan Celia berusaha untuk menenangkan Celia.
"Hah!" Valery melihat hal itu hanya mendengus kasar dengan geleng-geleng kepala dan kemudian Chintya berlalu dari hadapan Celia dan sebelum itu menatap tajam Valery.
"Jangan terlalu percaya diri gue milih lo berada di dalam tenda ini," ucap Valery.
"Sorry Valery, gue nggak perlu percaya diri dan bahkan nggak memikirkan apapun, bagi gue tidur dimana itu sama saja dan gue juga tidak ingin cari masalah apa-apa," sahut Celia tampak cuek dan melanjutkan pekerjaan.
"Valery, kok mau sih dia harus tidur satu tenda dengan kita?" tanya Kania.
"Sudahlah daripada satu tenda dengan wanita iblis itu," jawab Valery.
"Ya, sebenarnya tidak ada pilihan, tetapi benar juga sih daripada satu tenda dengan wanita iblis itu," sahut Kania.
*****
"Valery tunggu!" Alfian menghentikan langkah Valery ketika berpapasan dengan Valery.
"Apaan," sahut Valery dengan ketus.
Semenjak terbongkarnya hubungan Alfian dengan Celia di sekolah yang melibatkan dirinya membuat Valery masih tidak terima dengan nama baiknya yang dihancurkan begitu saja dan lebih kesalnya kepada Alfian yang tidak melakukan apapun.
"Lo punya rencana apa terhadap Celia?"tanya Alfian membuat Valery mengerutkan dahi.
"Apaan sih lo, ko lo tiba-tiba punya pikiran sejelek itu sama gue?" tanya Valery tersinggung dengan pertanyaan sahabatnya itu.
"Bukan begitu Valery, kenapa memilih Celia untuk tidur satu tenda dengan lo dan Kania, kalian berdua sedang tidak merencanakan sesuatu bukan untuknya?" tanya Alfian.
"Alfian, gue sama lo udah kenal sejak dulu dan bukan setahun 2 tahun, gue kira lo kenal gue dengan baik dan ternyata tidak, gue nggak tahu apa yang ada di otak lo dan sejahat apa gue sampai tiba-tiba saja lo menghentikan gue hanya untuk mempertanyakan hal yang ada di dalam otak lo yang menganggap gue sejahat itu!" tegas Valery benar-benar kecewa kepada Alfian.
"Bukan begitu Valery, gue cuma nggak mau teman-teman gue harus seperti pengecut yang selalu gangguin seseorang yang tidak tahu apa-apa, kita bukan anak kecil dan sejak dulu kita sekolah tidak pernah ada cerita bully yang kita lakukan!" Alfian mencoba untuk menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman di antara mereka.
"Maksud lo apaan sih, jadi lo mikir kalau gue sengaja nyuruh dia tidur satu tenda dengan gue dan juga Kania, kita punya rencana gitu mau ngerjain dia. Eh Alfian kalau memang otak lo sudah dipenuhi oleh cewek kampungan itu, bilang saja terus terang dan nggak usah bersikap seperti ini seolah-olah kita adalah penjahatnya!" tegas Valery semakin marah terhadap Alfian.
"Bukan begitu Valery ....."
"Sudah stop, gue nggak nyangka ternyata lo bisa seperti ini, kalau suka sama cewek ya suka aja nggak usah malah nggak percaya dengan sahabatnya sendiri!" tegas Valery terlihat kecewa dan kemudian langsung pergi dari hadapan Alfian.
"Valery tunggu, lo salah paham!" panggil Alfian tampak frustasi.
"Alfian, Valery kenapa mukanya ketus kayak gitu?" tanya Yogi ketika Yogi dan Diego menghampiri Alfian dan berpapasan dengan Valery yang bahkan tidak menyapa mereka berdua dan justru terlihat bagaimana wajah Valery menyimpan kemarahan.
Alfian tidak menjawab dan hanya mengangkat kedua bahunya dan dia juga bingung harus menjelaskan seperti apa
"Alfian, kita semua ini sahabatan, jangan sampai gara-gara satu cewek persahabatan kita harus berantakan, oke kalau lo sama Valery memang tidak ada hubungan apa-apa dan kalian juga tidak memiliki perasaan apapun satu sama lain, tetapi please kita harus tetap jaga persahabatan kita dengan baik," ucap Yogi dengan bijak
"Benar apa kata temen gue, belakangan ini kita terlalu tegang, dikit-dikit marah dikit-dikit ngambek, dikit-dikit memperlihatkan wajah jutek dan pergi begitu saja, kita seharusnya tetap kompak sesuai dengan janji kita sebagai sahabat yang saling melengkapi," sambung Diego.
Alfian sejak tadi Tidak berkomentar apapun dan memang ada saja yang membuat permasalahannya dengan Valery semakin besar.
Bersambung ......