Tania dianggap sebagai pembawa sial karena semua pria yang berpacaran dengannya selalu berakhir dengan kematian tragis.
Hingga seorang detektif kepolisian bernama Zayn pun turun tangan karena ingin mengusut misteri kematian adiknya setelah berpacaran dengan Tania. Dia menyamar dan berpura-pura menyukai Tania untuk mendapatkan informasi darinya.
Namun, apakah yang akan terjadi ketika Zayn akhirnya benar-benar jatuh cinta pada Tania? Dan apa yang harus dilakukannya ketika berada di persimpangan dilema ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenita wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penentuan
Makan malam di rumah itu terasa mencekam. Bagaimana tidak? Saat ini, Tania sedang makan malam bersama keluarga Zayn di sebuah restoran.
Dijebak, mungkin inilah kalimat yang cocok untuk Tania. Tadinya Zayn mengatakan bahwa mereka akan makan malam berdua saja. Namun, tidak disangka orang tua Zayn juga ada di sana.
Tak hanya Tania, mama Zayn juga merasa dijebak karena tadinya sang anak mengatakan bahwa mereka hanya makan malam berempat saja, bersama adik Zayn yang kini sedang berada di toilet.
"Ma, kenalin, ini Tania," ucap Zayn memperkenalkan Tania. Dia tahu dimana tempat yang cocok untuk mempertemukan mereka. Karena tidak mungkin mamanya akan marah-marah di restoran yang pastinya akan ditonton banyak orang.
"Salam kenal, Tante," ucap Tania sambil melihat sekilas, lalu menundukkan kepalanya kembali.
"Ya, salam kenal. Dan sepertinya kamu nggak perlu mengucapkannya karena kita sudah mengenal sebelumnya." Begitulah jawaban dari mama Zayn. Tentu saja mereka pernah bertemu saat Zidan membawa Tania ke rumahnya.
"Ma, tolong dong, untuk sekali ini aja Mama bersikap baik. Aku udah susah payah mengajak Tania ke sini, bahkan aku terpaksa membohonginya." Zayn memohon pada mamanya.
"Jangan lupa bahwa kamu juga membohongi mama. Kamu sengaja ingin mempertemukan kami di sini, bukan? Berharap Mama akan menerimanya? Tidak, Zayn, jangan salah sangka." Mama Zayn menggelengkan kepalanya sambil menatap tajam pada Tania yang masih terus menundukkan kepalanya.
"Mama nggak bisa menyalahkan Tania atas kejadian yang menimpa Zidan. Memang beginilah takdir Zidan, Ma. Dan, sebenarnya ada yang ingin Zayn katakan mengenai kondisi Zidan sebelum meninggal."
Mama Zayn menatap serius pada putra pertamanya itu. Memangnya bagaimana keadaan Zidan?
"Kenapa? Dia baik-baik saja. Apa yang salah dengan orang yang dalam keadaan baik-baik saja?" Masih menatap sinis.
"Aku menemukan ini." Zayn menyerahkan selembar kertas kepada mamanya. Kertas itu adalah surat dari rumah sakit.
Setelah dibaca, barulah diketahui ternyata Zidan mengidap penyakit kanker paru-paru. Namun selama ini dia selalu menyembunyikannya agar tidak ada keluarganya yang mengetahuinya.
Mama Zayn menatap tak percaya. Dia bahkan meneteskan air matanya sambil menggeleng berkali-kali seakan tak mau menerima kenyataan.
"Ma." Papa Zayn menyentuh pundak istrinya. Sebenarnya, dia juga mengetahui kondisi Zidan saat itu. Makanya, apapun yang dikatakan mamanya, Zidan selalu menurut saja. Bahkan, memimpin perusahaan yang sebenarnya bukan cita-citanya pun dia turuti. Keinginan terbesarnya adalah menjadi seorang dokter, namun sayang, dia harus merelakan impian itu karena mamanya memintanya untuk memimpin perusahaan. Hal itu disebabkan oleh Zayn yang memilih menjadi abdi negara dibanding menjadi pemimpin perusahaan besar.
Untung saja, adik perempuan mereka menyukai dunia bisnis dan saat ini sedang menempuh kuliah di jurusan manajemen. Sehingga penerus orang tuanya tetap ada.
"Enggak, Zayn, meskipun kamu menunjukkan ini ke Mama, tadi Mama tetap nggak akan merestui hubungan kalian. Mama nggak mau kamu menikah dengan orang yang telah membuat adik kamu meninggal!"
Tania yang mendengar hal itu hanya bisa meremas ujung bajunya. Mencoba menahan tangisan agar tak menjadi pusat perhatian.
"Tapi aku dan papa setuju, Ma."
"Oh ya? Bagaimana kalau kita mendengar tanggapan adikmu. Tunggu dia kembali dari toilet dan kita akan mendengarkan jawabannya. Kamu tau, kan, adikmu adalah orang yang paling dekat dengan Zidan. Jadi, mustahil jika dia menyetujui hubungan kalian!" Mama Zayn tersenyum penuh keyakinan.
"Kalau seandainya dia setuju?"
"Mama akan merestui kalian!" tantang mama Zayn yang seolah percaya diri bahwa sang anak akan menolak Tania mentah-mentah. Karena memang, saat Zidan meninggal, dialah orang yang paling sedih karena kakak keduanya itu ibarat pelindung dirinya.
Dan suasana pun mulai menegang ketika adik Zayn kembali dari toilet. Dia pun duduk di sebelah mamanya dan melihat ke arah Tania yang masih tertunduk hingga tak kelihatan wajahnya.
"Ada apa ini?" tanyanya heran.
"Sayang, apakah kamu setuju dengan wanita yang dibawa Kak Zayn? Wanita yang telah membuat Kak Zidan meninggal?" tanya mama Zayn yang masih tersenyum percaya diri.
"Kak Tania? Jelas aku setuju, dong, Ma."
"Hah?" Mama Zayn terkejut mendengar ucapan sang anak yang rupanya langsung menyetujui kekasih kakaknya.
Tania juga terkejut dan langsung mendengarkan wajahnya untuk menatap adik Zayn. Dan betapa terkejutnya dia ketika melihat orang yang baru saja menentukan pilihan terakhir itu adalah orang yang dia kenal.
"Azila?"