Nusantara adalah sebuah tanah yang luas dan penuh dengan kekayaan, mulai dari keindahan alam yang mempesona hingga sumber daya yang melimpah. Namun, kekayaan ini juga menjadi incaran para pihak yang tidak bertanggung jawab, yang siap melakukan apapun demi mendapatkan keuntungan pribadi. Oleh karena itu, setiap sisi dan jengkal Nusantara harus dijaga dengan ketat oleh pelindung-pelindung yang dikenal sebagai JAWARA.
JAWARA datang dari berbagai latar belakang dan kemampuan yang beragam. Dari laut, Laborasi Sang Juru Hancur/Selamat siap menjadi pelindung dengan kekuatannya di atas air. Dari hutan, Cindaku siap menjadi pelindung dengan kekuatannya di dalam hutan. Dari kerajaan yang dianggap cuma mitos, seorang pangeran datang untuk membantu menjaga Nusantara. Dari panas matahari, seorang jawara mahasakti datang dengan kekuatan surya. Dari mata elang, seorang pemanah siap melepaskan anak panahnya demi melindungi Nusantara. Dari otak yang berikan inovasi, seorang insinyur membangun senjata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Royan Bagus Alexander, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kematian
Tatapan dua pasang mata itu seakan hendak menelan penonton. "Pemirsa, saya Dian Marshanda dan rekan saya Rizky Bharata dari TV Serikat akan menemani Anda dalam 1 jam ke depan. Kita akan memulai berita hari ini dengan kabar yang kurang menyenangkan dari Laut Cina Selatan." Mata Dian terbelalak saat membaca setiap skrip yang dipegangnya, lalu dia mengambil napas panjang.
"Baru-baru ini, wilayah perairan Laut Cina Selatan kembali menjadi sorotan internasional setelah terjadi serangan misterius kembali, kali ini terhadap sebuah kapal nelayan Tiongkok. Insiden ini telah memicu ketegangan antara negara-negara ASEAN dan Tiongkok." Dian meletakkan skripnya di samping dan langsung menghadap ke kamera sebelah kiri.
"Serangan ini terjadi di perairan yang menjadi sengketa antara negara-negara ASEAN dan Tiongkok. Saat ini, belum ada klaim tanggung jawab resmi atau bukti konkret mengenai siapa pelaku di balik serangan ini. Namun, insiden ini telah memperburuk ketegangan yang sudah ada di kawasan tersebut," jelas Dian, kemudian memalingkan perhatiannya ke seorang rekan kerjanya yang duduk di sebelahnya.
"Rizky, apakah ada informasi terbaru mengenai serangan ini?"
"Ya, Dian. Berdasarkan informasi terkini, kapal nelayan Tiongkok tersebut dilaporkan mengalami serangan tak terduga saat sedang melakukan aktivitas penangkapan ikan di wilayah perairan yang menjadi sengketa. Serangan ini telah menyebabkan kerusakan fisik pada kapal dan awaknya," jawab Rizky sambil memeriksa setiap catatan di mejanya.
Dian mendengarkan dengan serius. "Saya ingin menekankan bahwa dalam situasi seperti ini, penting untuk tetap tenang dan menyelidiki secara menyeluruh sebelum membuat kesimpulan atau menyalahkan pihak mana pun. Tetapi insiden ini menunjukkan kompleksitas perselisihan wilayah dan sumber daya alam di Laut Cina Selatan." Televisi dimatikan.
Remot sekarang berada di tangan Clara tanpa Kahar duga. Seperti biasa, Clara datang tanpa diduga. Ruang menjadi hening yang diselimuti dingin kipas angin.
"Tidak perlu terlalu khawatir, Bang. Kita tidak akan terjun langsung ke sana. Skripsimu tidak perlu data langsung dari situ," kata Clara dengan suara lembut, sambil merebahkan diri di sebelah Kahar yang masih dengan dunianya sendiri. Merasa tatapan kosong Kahar, Clara melanjutkan, "Apa yang kau pikirkan? Aku bisa melihat betapa sulitnya bagimu tidur dalam seminggu terakhir ini."
Kahar menoleh ke arah Clara, matanya masih penuh dengan kecemasan. "Aku tahu, tapi...," dia menggumam, suaranya gemetaran, "Aku sudah mencoba segalanya. Obat tidur, aku sudah minum dua lusin tapi tidak ada yang berhasil."
Melihat ekspresi kecewa Kahar, Clara mengambil tangan Kahar dengan lembut. "Aku mengerti, Bang. Aku tahu betapa sulitnya bagimu. Tapi kita harus mencoba tenang dan melupakan hal-hal itu malam ini. Apa kamu mau keluar?"
Kahar tidak menjawab, matanya masih terpaku pada televisi hitam di depannya. Clara melihat api kekhawatiran di mata Kahar, dan perlahan mendekatinya.
"Sudah tiga tahun sejak perang itu terjadi, dan kita telah berkembang sejak saat itu. Kehidupan kita menjadi lebih baik, Bang. Dan lihatlah, tidak ada lagi ancaman yang datang," kata Clara sambil meraih tangan Kahar dan memegangnya erat, tidak ingin melepaskannya.
"Kamu tidak melihatnya. Sejak serangkaian serangan di Laut Cina Selatan, aku selalu bermimpi," sambung Kahar dengan suara pelan, giginya gemetaran.
"Mimpi yang kamu bicarakan beberapa waktu lalu?" tanya Clara untuk memastikan.
Kahar mengangguk ragu, "Ya, itu. Aku selalu melihat tempat yang indah, megah, dengan segala kemewahan di sana. Tempat yang basah dan sekaligus nyaman. Rasanya seperti aku pernah hidup di sana, atau mungkin aku sedang hidup di sana sekarang. Semuanya terasa terlalu nyata," ucap Kahar dengan kebingungan.
Clara meletakkan tangannya di kening Kahar, mencoba memberinya kenyamanan. Dia menyadari bahwa Kahar sedang berada dalam tahap yang tidak bisa dimengerti oleh siapapun, tetapi dia bersumpah akan tetap berada di sampingnya.
"Kamu butuh waktu untuk dirimu sendiri, Bang?" tanya Clara dengan penuh perhatian. Kahar menjawab dengan anggukan ringan.
"Tidak apa-apa, tenangkan pikiranmu. Istirahatkan dirimu. Aku akan meninggalkanmu sebentar, tapi aku janji akan selalu menghubungimu. Jangan pernah mematikan teleponmu, oke? Aku sayang padamu, Bang," kata Clara dengan senyum kecil kepada Kahar, lalu berdiri perlahan. Dia memberikan ucapan selamat tinggal pada Kahar dengan punggungnya yang terus mengecil, meninggalkan ruangan.
Kahar sekarang kembali pada kesendirian. Dia berjalan ke arah cermin yang tergantung di sudut kanan kosnya. Dia menatap kalung yang masih bertengger di lehernya, membelit dirinya dengan kutukan atau karunia? Tidak ada yang tahu.
"Sekarang untuk pertama kalinya, jujurlah padaku. Siapa dirimu ini?"
Sedikit bermasalah pada plotnya. Banyak potensi-potensi isu yang perlu penjelasan di sekuelnya. Ada karakter yang integral dalam klimaks cerita yang baru diperkenalkan di bab-bab akhir sehingga klimaks terasa sedikit terlalu arbitrer. Ada sub-plot di babak II buku yang menganggu kelancaran cerita. Ada beberapa ketidakkonsistenan aturan kekuatan dalam cerita. Pihak berwajib digambarkan tidak kompeten di beberapa kejadian.
Kritikan utama saya adalah penulis nampak memprioritaskan mengembangkan semesta pahlawan supernya diatas cerita yang kuat. Yang menjadi drive utama seluruh kejadian yang ada di cerita merupakan misteri yang sekaligus mengentalkan para tokoh, faksi, dan lore dunia, namun informasi tertentu yang penting agar pembaca memahami stake secara sengaja ditahan untuk sekuel sehingga jawaban dari misteri ini kurang memuaskan.
Meski demikian, saya tetap rekomendasikan buku ini.