“Anda sudah gila?!” Nasya menutup bibirnya menggunakan kedua tangannya.
“Kegilaan yang menguntungkan bukan? Hanya sebatas kontrak saja. Saya tidak akan menggunakan status suami untuk menyentuhmu,” ujar Elgan dan mendekat ke telinga Nasya. “Rasanya tidak sudi juga jika bukan karena terpaksa.” Elgan menjauh setelah berbisik.
Elgan memberikan kartu namanya. Kemudian, dia meninggalkan Nasya yang masih mematung dengan menggenggam pemberiannya tadi. Nasya menggemnya erat, air matanya terus saja mengalir, semakin deras seperti hujan malam ini.
“Kenapa semuanya begitu menyedihkan? Dikhianati pujaan hati yang katanya berjanji akan menikahi dan sekarang apa? Nikah kontrak? Begitu menyakitkan menjadi miskin. Tidak ada pilihan, meski ingin memilih,” batin Nasya meratapi hidupnya.
Bagaimana kelanjutan kisah rumit ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cacctuisie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CTIKCD - Luka dan Amarah
“Lepasin tangan aku, Van. Kalian berdua itu udah cukup nyakitin nggak, sih? Di depan aku, kalian jadi manusia paling baik. Di belakangku, kalian main gila!” Nasya menunjuk Revan dan Cika bergantian.
Revan yang saat ini statusnya pacar Nasya yang dengan janjinya jika ekonominya sudah stabil akan menikahinya. Ternyata hari ini, hubungan yang seharusnya tak pernah terjadi diketahui oleh Nasya. Bukan orang lain, Revan berhubungan Cika yang sudah dianggap saudara oleh Nasya.
“Ini salah aku, Nasya. Kamu salahin aku aja, ya. Aku yang lancang suka sama Revan,” tukas Cika berusaha menenangkan Nasya yang menangis tersedu-sedu.
“Kalian berdua bersalah! Kalian! Ini terakhir kalinya kita ketemu. Aku gak mau kalian berhubungan lagi denganku. Apapun itu, gak ada alasannya. Meski hanya selangkah, jangan pernah muncul lagi.” Nasya berusaha tegar, menyeka air mata yang rasanya tak pantas dikeluarkan itu, dan melangkah meninggalkan mereka.
Revan yang hendak mengejar Nasya dihalangi oleh Cika. Gelengannya kuat. “Van, biarin Nasya pergi. Kamu gak denger omongannya tadi? Dia udah gak mau lanjutin hubungan sama kamu? Apa yang mau diharepin?” ucap Cika dengan tatapan memohon agar Revan tak mengejar Nasya yang semakin menjauh.
“Aku sayang sama dia. Gak tahu kenapa aku ngelakuin ini? Ini salah, Cik. Aku udah janji mau nikah sama Nasya,” jawab Revan yang benar-benar terlihat menyesali perbuatannya.
“Aku juga saya sama kamu, Van. Gak bisa kita mulai lagi dari awal? Kita lupain semua masa lalu. Sekarang, adanya kamu sama aku. Bisa?” Harapan seakan ada saat langkah Revan terhenti.
***
Nasya terus berjalan tanpa rasa lelah. Entah sampai kapan dia terus menyusuri jalanan kota yang sudah gelap. Bajunya sudah basah kuyup, tapi Nasya tak merasakan apapun. Hujan yang membasahi bumi malam ini, seakan memahami perasaannya yang sedang runtuh dan tangisan yang tertahan akhirnya keluar bebas.
“Kalian jahat! Jahat! Sebenarnya gak mau nangis, tapi kenapa sakit banget.” Nasya terduduk dan merutuki dirinya saat ini.
Nasya yang sibuk meluapkan rasa sakitnya. Sampai tidak memperhatikan bahwa ada mobil yang melaju sedikit cepat ke arahnya. Lampu yang begitu terang, Nasya mendongak. Terkejut dan juga takut, dia pun menutup matanya.
Terdengar ban mobil yang tertahan, seorang pria berwajah tegas itu mengerem mobilnya sekuat tenaga. Raut wajah penuh amarah, pria itu keluar dengan tergesa. Bukan untuk memeriksa seorang wanita yang hendak saja tertabbrak olehnya. Namun, dia ingin melampiaskan amarahnya.
“Kenapa ingin menyulitkan orang lain? Tidak adalah tempat yang lebih baik untuk mengakhiri hidup selain di jalan?!” bentak Elgan seraya menarik Nasya agar berdiri.
Elgan mendorong Nasya sampai dirinya bersandar di mobil hitam itu. Mata yang masih sembab dan merah itu memberanikan diri menatap pria yang tak dikenalnya itu. Sedangkan, Elgan yang saat ini sama-sama terkena air hujan masih menatapnya dengan tatapan masih sama. Penuh emosi dan kekesalan yang semakin memuncak kala Nasya berani menatapnya.
“Berani menatapku? Dasar wanita kampungan tak tahu diri!” ketus Elgan menekan kedua bahu Nasya.
Nasya pun meringis. “Sakit?! Lepas! Saya gak ada niatan mengakhiri hidup. Sok tahu dan langsung menghakimi. Lepasin!” pekik Nasya berusaha melepaskan tangan Elgan.
“Oke, saya lepaskan.” Elgan tersenyum miring seraya mengibaskan kedua tangannya.
“Jijik? Memang begini lah etika orang kaya yang benar. Sok atas segalanya dan selalu memandang rendah orang lain,” sindir Nayla sedikit menjauh.
“Kenapa? Ucapan orang yang belum pernah merasakan kaya selalu begini juga. Akan tetapi, kalau sudah dihadapkan dengan uang. Mereka juga tidak akan menolak. Benar, ‘kan?” balas Elgan tak mau kalah.
Nasya terdiam seakan berpikir. “Sudahlah, aku akan tetap kalah dari segi apapun. Aku juga tidak papa, lebih baik meninggalkan pria aneh ini pergi. Aku benar-benar tidak punya lagi energi untuk melawannya,” batin Nasya yang berbalik badan hendak pergi.
Elgan tidak suka diabaikan dan tidak akan membiarkan wanita yang akan melangkahkan kakinya itu pergi begitu saja. Dalam pikirannya, dia sudah memikirkan rencana. Kali ini, Elgan tidak ingin melepaskannya. Elgan meraih tangan Nasya, membawanya untuk masuk ke dalam mobil. Baru kali ini juga, Elgan membiarkan mobilnya dimasuki orang lain, biasanya dia sangat pemilih.
“Apa yang mau anda lakukan? Ini penculiikan ya namanya. Saya mau keluar, kalau nggak saya teriak, nih. Tolo …” Nesya dibuat takut dengan tindakan Elgan yang tiba-tiba. Tangan kekar itu pun menghalangi bibir Nasya yang akan berteriak.
Elgan semakin mendekat. “Saya ada penawaran bagus,” bisik Elgan yang bikin Nasya merinding.
“Saya memang tidak kaya, tapi bukan berarti mau dipermainkan.” Nasya mendorong Elgan sekuat tenaga.
Rupanya Elgan tidak benar-benar ingin membawa Nasya. Namun, niatnya masih ingin memiliki rencana bersama Nasya. Sedangkan, Nasya sedikit lega bisa berhasil keluar dari mobil itu. Siapa sangka, Elgan malah membalikkan Nasya hingga berhadapan tepat di depannya.
Mata Nasya membelalak. Ketakutan itu kembali menghampirinya. Pinggulnya ditarik semakin dekat lagi. “Saya bisa teriak sek …” ucapannya terhenti dan rasa takut berubah menjadi keterkejutan.
Bibir Elgan mendarat sempurna tepat mengenai bibir Nasya. Meski hanya sebentar, cukup membuat Nasya terdiam lama. Rasanya semuanya terhenti, ini pertama kali untuknya. Senyuman sinis Elgan berikan karena merasa puas. Nasya pun terlepas dari Elgan.
“Rupanya baru pertama merasakannya. Baguslah,” ucap Elgan lirih tapi tetap bisa didengar Nasya.
Nasya mundur selangkah. “Anda sudah gila?” Berani-beraninya.” Nasya mengumpulkan keberanian dan mengangkat salah satu tangannya untuk memberi pembalasan pada Elgan.
Elgan menangkap tangan itu dengan mudah. “Kegilaan yang menguntungkan, bukan? Ini bagian untuk mempertimbangkan dan diingat. Penawaran ini langka, jika kamu menerima itu lebih baik.” Seraya menurunkan tangan Nasya.
“Harus begini caranya? Memang baru pertama dan yang merenggut.” Nasya memandangi Elgan dari atas sampai bawah. “Pria dewasa yang tidak seharusnya!” Tunjuk Nasya.
“Sudahlah, saya tidak suka basa-basi. Tawaran saya ini mengenai pernikahan kontrak. Banyak hal yang akan kamu dapatkan terutama tentang uang dan juga kedudukan. Saya tidak akan mengulang untuk kedua kalinya. Ini sangat menguntungkan mu, jadi jangan banyak berpikir. Hubungi saya dan hanya ada waktu satu hari untuk berpikir, jika tidak berarti kamu melewatkan kesempatan emas.” Elgan pun berlalu melewati Nasya setelah memberikan kartu namanya.
Nasya menghela napas berat. Sedangkan, mobil Elgan melewatinya begitu saja. “Begitu hinakah diriku ini?”
Memandangi sekitar yang benar adanya tidak ada satupun yang peduli padanya. Langkah kecil itu pun mulai menyusui jalanan lagi. Dengan genggaman erat pada sebuah kartu yang didapatkannya. Tidak lama, mendadak ponselnya berdering.
“Aku sampai lupa bawa HP, untungnya gak rusak,” lirih Nasya membuka tas selempangnya yang sudah lusuh, tanpa sadar dia juga memasukkan kartu nama Elgan.
“Ibu? Pasti khawatir.” Nasya mengusap ponselnya ke arah atas untuk menjawab panggilan sang ibu.
“Iya, Bu?” ucap Nasya.
“Kamu di mana, sih? Ini Revan sama Cika nungguin kamu di rumah. Gak biasanya gak ngabarin Ibu kalau pulang telat. Apa masih ada kelas mengajar lagi? Bukannya cuma satu ya malam ini?” sahut Ibu Nasya.
Nasya tertegun sejenak. “Maaf ya, Bu. Nasya lupa ngasih kabar. Sebentar lagi pulang, kok. Ini lagi di jalan. Ibu suruh mereka pulang, takutnya kelamaan. Sama Nasya mau kasih kabar baik sama Ibu dan Bapak. Nasya mau bahas pernikahan,” jawab Nasya tanpa pikir panjang.
Mengejutkan sekali bagi Mira selaku Ibu Nasya. Tidak pernah terdengar ada perencanaan untuk menikah dalam waktu dekat ini. Meski kedua orang tua Nasya tahu bahwa hubungannya dengan Revan memang sudah sangat dekat. Namun, tidak untuk waktu ini juga.
“Ada apa, Bu?” tanya Revan melihat raut wajah Ibu Nasya kaget bercampur gelisah.
“Memangnya kamu sudah siap menikah, Revan? Semuanya sudah dipikirkan matang-matang? Kita ini sama-sama masih susah, kamu juga tahu sendiri kalau cuma Nasya yang bantu Ibu cari uang,” balas Mira.
“Nikah? Sebentar, ini maksudnya gimana ya, Buk?” sahut Revan kebingungan dengan ungkapan Bu Mira.
“Ibu juga gak tau. Pokoknya kalau masih sama-sama miskin. Ibu mau kalian tunda dulu pernikahan ini.” Mira meletakkan ponselnya tanpa mau tahu lagi ucapan apa yang akan Nasya katakan, karena panggilan tersebut belum ditutup.