Berawal dari sebuah kejutan besar di pagi hari. Perkebunan yang senantiasa dijaga dan dirawatnya hancur berantakan !.
"Astaghfirullah !, Kenapa jadi begini ?!." Seorang gadis pemilik perkebunan sayur-sayuran dan buah-buahan langsung syok ketika melihat kebunnya rusak hanya karena semalam saja.
*
Pertemuan tak disangka ternyata membawa seorang gadis desa untuk merasakan bagaimana ketakutannya dicintai oleh seseorang pria kota dengan pengaruhnya yang sangat besar terhadap dunia.
Alifah Zea Faeqa, menjalani kehidupannya dengan penuh penekanan dan perintah dari pria berkuasa.
Tidak ada hidup bebas seperti sebelumnya.
Tidak ada berkebun seperti yang biasa dilakukannya.
Hidupnya berubah bagai di dalam sangkar emas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shaquinna Lathifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Telah berusaha/End
Sebulan kemudian...
"Kamu sudah bangun, Hem ?."
Alifah terlonjak kaget dengan suara itu. Hampir saja tubuhnya terjengkang ke belakang karena terlalu kaget saat melihat kehadiran Melvin dengan jarak yang begitu dekat .
Melvin tersenyum tipis melihat tingkah Alifah yang terlihat sangat kaku dan tidak nyaman itu. Tapi Melvin masih Melvin yang dulu, Melvin yang selalu meninggikan egoisnya terhadap apapun dan siapapun.
Tangan Melvin terulur akan menyentuh wajah istrinya tapi Alifah malah menghindarinya.
"Eee, mas ?!." Suara Alifah khas seperti orang yang bangun tidur. Tapi hal yang terlihat di mata Melvin indah adalah suara Alifah yang terdengar gemetar. Mungkin Alifah masih merasa ketakutan padanya.
"Reaksimu memang wajar, tidak masalah." Melvin terkekeh kecil lalu bangkit duduk masih dengan menatap wajah istrinya dengan tatapan mata yang sangat lembut. "Sudah hampir masuk subuh, sebaiknya kita bersiap." Ucapnya lagi dan langsung turun dari tempat tidur.
Alifah masih mematung di tempatnya. Dia menatap bingung ke arah Melvin yang terlihat sangat santai-santai saja. Padahal saat ini dia sedang menculik seorang wanita dari kakaknya.
Beberapa menit kemudian, Melvin sudah selesai dengan keperluannya di dalam kamar mandi. Dia kembali mendekati Alifah yang masih meringkuk di bawah selimut dengan mata yang kembali terpejam rapat.
Melvin tersenyum cerah melihat betapa polosnya istrinya itu saat tertidur. Dengan hati-hati Melvin membuka selimut yang hampir menenggelamkan seluruh tubuh mungil istrinya. "Alifah..."
Hanya dengan satu panggilan saja, Alifah mulai menggeliat dan perlahan membuka matanya sambil menguap.
"Bangun, sudah waktunya sholat."
Alifah hanya mengangguk lemah dan kembali menggeliat kemudian mulai turun dari tempat tidur dan berjalan gontai menuju ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Alifah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sangat cantik di mata Melvin. Alifah mendongak menatap wajah suaminya dengan tatapan teduh dan tersenyum tipis namun masih terkesan kaku.
Melvin tersenyum menyambut kedatangan istrinya yang melangkah perlahan mendekatinya.
Keduanya segera bersiap untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah. Untuk pertama kalinya setelah pernikahan mereka yang sudah menginjak usia satu tahun setengah, mereka melaksanakan shalat berjamaah.
Meski Alifah kadang masih ragu dan takut saat berhadapan dengan Melvin, tapi sesungguhnya dia hanya sedikit belum terbiasa dan sedang mencoba untuk berubah. Mencoba menjadi istri yang baik untuk suaminya agar pernikahan mereka tidaklah kandas sebelum bahagia menyapa mereka.
Usai memanjatkan doa pinta, Melvin berbalik dan mengulurkan tangannya untuk disalami oleh Alifah. Dan dengan penuh kelembutan Alifah menerima uluran tangan itu dan menciumnya dengan sangat takdzim.
"Aku akan berangkat ke kantor, kamu tidak apa-apa ditinggal sendiri ?." Melvin bertanya dengan suara yang sangat lembut.
Alifah tak langsung menjawab. Dia seperti sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Kenapa ?." Tanya Melvin lagi karena tak kunjung ada jawaban.
Alifah menundukkan kepalanya. "Tidak bisakah hari ini kau di rumah saja ?." Akhirnya Alifah menjawabnya meski dengan suara yang sangat lirih.
Melihat tingkah Alifah yang masih sangat malu-malu membuat Melvin terkekeh sendiri. Inilah yang sering dia pikirkan sebelumnya, menikahi seorang gadis kecil tentunya memiliki hal unik tersendiri dan itu sangat membuat hati Melvin bahagia. Karena betapa beruntungnya dia bisa menikah gadis cantik seperti Alifah yang merupakan seorang sahabat dari keponakannya sendiri.
Tangan Melvin menyentuh pipi Alifah yang terlihat bersemu merah. Dibelainya pipi Alifah yang sangat mulus itu. "Baiklah, aku tidak akan pergi kemana-mana."
Ucapan Melvin langsung disambut tatapan mata sendu Alifah. Namun hanya beberapa detik saja karena Alifah kembali memalingkan wajahnya.
Lagi-lagi Melvin terkekeh melihat tingkah istrinya sendiri yang masih sangat lugu. Melvin menarik tubuh mungil istrinya dan di dekapnya erat. "Apa ada sesuatu yang kamu inginkan, Hem ?." Tanya Melvin kembali dengan suara yang sangat lembut.
Alifah menjawabnya dengan gelengan kepala.
"Benarkah ?, Tapi..." Tangan Melvin menyentuh perut Alifah yang masih sangat rata meski di dalamnya sudah ada buah hati mereka. "Apa dia tidak menginginkan sesuatu ?,." Tanya Melvin lagi yang kini menatap wajah istrinya.
Alifah mendongakkan kepalanya. "Aku tidak tahu, ini hal pertama untukku dan aku masih belum bisa mengerti apapun."
"Apa yang ingin kamu mengerti ?,"
"Semuanya."
"Apa menjadi seorang istri juga harus kau pelajari dulu ?."
Alifah mengerjitkan alisnya kebingungan. "Maksudnya ?."
Melvin terkekeh kecil dan mendekatkan bibirnya ke telinga Alifah. "Kewajiban seorang istri terhadap suaminya." Bisik Melvin penuh penekanan.
Alifah reflek menjauh dan kembali menatap wajah suaminya. "Aku memang belum bisa menjalankan tugasku sebagai seorang istri dengan sempurna, tapi aku masih berusaha."
"Iya, aku tahu itu. Tapi ada satu lagi yang belum kamu usahakan."
"Apa itu ?."
Melvin tak menjawabnya tapi tangannya kembali mengusap-usap permukaan perut Alifah yang terhalang oleh kain mukenah. "Untuk membuatnya ada disini, kamu tidak sadar sayang."
Deg.
Satu kata yang sangat berpengaruh terhadap Alifah. Untuk pertama kalinya dia mendengar panggilan sayang keluar dari bibir suaminya selama pernikahannya ini.
Dan satu lagi yang membuatnya tertegun. Alifah menatap kosong tangan Melvin yang masih terus mengusap-usap lembut perutnya. Calon buah hati mereka memang sudah ada tapi Alifah sama sekali tidak tahu kapan waktu dimana mereka pernah melakukannya karena saat itu dia dalam pengaruh Melvin yang membuatnya tidak sadarkan diri.
Tanpa sadar, pipi Alifah merona hanya karena membayangkan bagaimana proses itu terjadi.
Cup
"Maaf karena aku tidak izin dulu padamu, tapi jujur aku tidak menemukan jalan yang lain lagi selain harus melakukannya." Ucap Melvin begitu tulus dan penuh kejujuran.
Alifah kembali menatap wajah suaminya dengan disertai senyuman manisnya. "Kamu berhak melakukannya, aku tidak menyesal untuk itu. "
Senyum Melvin langsung merekah sempurna. "Kamu memaafkanku ?."
Alifah mengangguk mengiyakan.
Betapa senangnya Melvin dengan jawaban istrinya. Melvin semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Alifah. Selama ini, dia kira Alifah masih belum bisa memaafkan dirinya karena telah berbuat jauh tanpa sepengetahuan Alifah. Tapi ternyata pikirannya salah, Alifah telah memaafkannya. Dan sikap Alifah yang kadang masih terlihat kaku, itu karena Alifah yang belum terbiasa dengan adanya Melvin yang mengisi hari-harinya.
"Makasih sayang." Ucap Melvin lagi masih memeluk erat tubuh istrinya.
"Mas."
"Hem?."
"Boleh aku meminta sesuatu ?."
Melvin merenggangkan pelukannya dan menatap lekat wajah istrinya. "Apapun, kamu bisa mengatakannya kapanpun kamu mau."
"Indonesia."
"Indonesia ?."
Alifah mengangguk antusias. "Iya, aku ingin bertemu Keyya."
"Kau bisa menemuinya, Keyya akan kesini secepatnya."
"Tidak. Aku ingin menemuinya di Indonesia, aku juga merindukan tanah kelahiranku."
Melvin terlihat ragu-ragu untuk menjawab permintaan istrinya. "Apa itu tidak terlalu beresiko untuk calon anak kita ?."
Alifah tersenyum lembut. "Insyaallah dia akan baik-baik saja, selagi Allah masih menjaganya."
Melvin tersenyum menanggapi ucapan istrinya. "Baiklah, kita akan ke Indonesia Minggu depan. Sekalian kamu berkenalan dengan keluargaku."
Alifah semakin melebarkan senyumannya. "Iya, mas."
###
...Selesai ...
Harap tunggu alur selanjutnya yaa😇