Menjadi seorang anak yatim piatu yang ditinggalkan kedua orang tuanya karena kecelakaan, kini Ayuna Kinanti Pradipta diasuh dan dibesarkan oleh om nya, Davian Robert adik dari Ibu Ayuna.
Biasa tinggal bersama Davian, membuat perasaan Ayuna perlahan berubah, jantung Ayuna bahkan berdebar kencang saat berada di dekat Davian.
Tak bisa lagi menahan perasaannya, Ayuna pun akhirnya mengungkapkannya kepada Davian.
Lantas bagaimana tanggapan Davian saat keponakannya sendiri mengungkapkan cinta padanya?
Akankah Davian menolak perasaan Ayuna atau justru menerimanya?
Ikuti ceritanya yuk di novel berjudul You Are My Sunshine, hanya di Noveltoon!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 1PM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34
Davian buru-buru bangkit, saat menyadari bahwa sepertinya detak jantungnya yang berdebar lebih kencang.
"Lain kali jangan mengenakan pakaian seperti itu dan menyentuh Om sembarangan Yuna, dan Om tidak tahu kenapa kamu sampai berpikir mengenakan pakaian seperti itu di depan pria dewasa, kamu masih kecil tapi sudah bertingkah seperti orang dewasa, Om ingatkan sekali lagi sama kamu, jika kamu harus pikirkan baik-baik akibatnya dulu sebelum melakukan sesuatu." ucap Davian.
Kemudian Davian pun buru-buru melangkah pergi, meninggalkan Ayuna yang hanya diam mematung, bukan ke ruang makan, melainkan ke kamarnya. Davian menutup pintu dan menguncinya, menyandarkan tubuhnya pada pintu.
Davian memegang dadanya yang berdebar kencang, bahkan keringat dingin pun keluar membasahi dahinya.
"Tenanglah Davian, tenanglah," gumamnya sambil mengusap-usap dadanya.
Davian menghirup banyak-banyak udara di sekitarnya dan menghembuskan perlahan, berharap agar bisa lebih tenang.
Hingga dia kemudian mendengar pintu kamarnya yang diketuk, siapa lagi jika bukan Yuna yang melakukannya.
Davian tidak menjawab dan memilih diam, merasa detak jantungnya yang belum kembali normal.
"Om buka pintunya! Aku sudah memanaskan makanan apa Om tidak jadi memakannya?" Tanya Ayuna kecewa. Sebelum Ayuna begitu sakit mendengarkan ucapan om nya, umurnya sudah akan menginjak usia 18 tahun, tapi Davian selalu memperlakukan Yuna seperti ini anak kecil, dan lagi, Yuna tidak pernah berbuat seperti itu kepada pria manapun, hanya pada Davian, lagian Ayuna juga tahu dan tidak akan mungkin mengenakan pakaian seperti itu di depan pria lain.
Saat merasa bahwa dirinya sudah tenang, Davian pun kini membuka pintu, dilihatnya Ayuna yang kini berdiri menunduk sambil memainkan jari-jarinya.
"Maaf, Om tadi hanya ganti baju," ucap Davian beralasan.
Ayuna mengangkat kepala dan menatap Davian, tapi Davian masih mengenakan pakaian yang sama.
"Ayo katanya mau makan!" Ajak Davian.
"Om makan sendiri aja, Yuna sudah mengantuk, mau tidur aja," ucap Yuna yang kemudian berjalan menuju kamarnya, menutup dan mengunci pintunya.
Sementara itu, Davian bernafas lega, karena pada akhirnya dia bisa makan dengan tenang.
…
Davian terus bolak-balik di atas ranjangnya, dia mencoba memejamkan mata sedari tadi tapi tidak juga, Davian terus menepis bayangan Ayuna tadi.
"Apa Yuna berusaha menggodaku? Lalu untuk apa? Kemarin Yuna juga seperti itu, apa dugaanku benar bahwa Yuna menyukaiku, tidak, ini tidak boleh terjadi."
Tak jauh berbeda dengan Davian, Yuna pun sama-sama tidak bisa tidur, dia sudah bersusah payah untuk mencoba berusaha untuk menggodanya, tapi Davian selalu menolaknya, apa dia harus mengatakan perasaannya? Karena sepertinya Davian tidak juga mengerti maksud dirinya.
"Ya sepertinya aku harus mengungkapkan perasaanku," gumam Yuna kemudian membaringkan tubuhnya, karena sedari tadi dia hanya duduk dengan bersandar pada headboard.
*
*
"Pagi," sapa Davian.
Pria itu kini sedang menyiapkan sarapan.
"Om soal semalam…"
"Oh ya Om sudah buatkan menu sarapan favorit kamu," ucap Davian dengan cepat memotong ucapan Ayuna.
"Om!"
"Ya sudah kamu makan dulu, Om harus berangkat sekarang, karena ada rapat penting pagi ini, nanti biar sopir yang mengantarmu" kata Davian cepat dan pria itu buru-buru mengambil jasnya yang sebelumnya dia sampirkan di kursi.
Davian mendekat hendak mencium kening Davian tapi tidak jadi dan dia lebih memilih mengelus rambut Ayuna dengan lembut dan lalu pergi.
"Om!" Panggil Ayuna, tapi Davian hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh.
"Padahal aku ingin mengatakan jika semalam aku memang sengaja melakukan itu, karena aku ingin Om Davian tahu bahwa aku tertarik sama Om, aku menyukai Om," ucap Ayuna lirih menatap nanar ke arah tadi Davian pergi, hingga Davian kini sudah tidak tampak lagi dari pandangan.
Ayuna menatap makanan di depannya, makanan favoritnya dan Ayuna sama sekali tidak ingin memakannya. Ayuna memilih bangkit dari kursi dan memutuskan untuk langsung saja berangkat ke sekolah.
*
*
"Kenapa?" Tanya Winda yang melihat sahabatnya itu tidak punya semangat sama sekali.
Yuna menggeleng dia malas untuk menceritakan apa yang terjadi dengannya, Yuna tidak ingin membahas misinya yang gagal menggoda Davian. Karena mengingat apa yang dia lakukan semalam, benar-benar membuatnya malu, apalagi ditambah dengan gagalnya rencana yang telah dia susun.
Yuna melipat kedua tangannya di atas meja, dan menenggelamkan kepalanya di sana.
"Sst Yun, Yuna!" Winda menyenggol Yuna agar gadis itu bangun.
"Winda please jangan ganggu aku," ucap Yuna.
Winda bangun dari duduknya dan memilih duduk di tempat lain yang tidak jauh dari tempatnya.
"Winda, aku bilang aku tidak mau diganggu!" Teriak Yuna langsung bangun merasa kesal karena sedari tadi seseorang terus saja menepuk-nepuk bahunya.
"Ba...Bara?" Yuna kemudian menatap sekitar dan arah pandangnya tertuju pada Winda yang duduk tidak jauh darinya. Kemudian beralih pada orang yang duduk di sampingnya yang tidak lain adalah Bara.
"Kenapa?" Tanya Bara yang menyadari wajah bete Yuna.
"Tidak apa-apa," jawab Yuna yang kini mengalihkan wajahnya karena merasa malu atas kejadian tadi, Winda mengira jika Winda yang terus menepuk bahunya.
"Maaf aku kira tadi Winda," ucap Ayuna kemudian.
"Mau ke suatu tempat?" Tawar Bara.
Yuna langsung menoleh menatap Bara.
"Maksud kamu kita bolos?" Tanya Yuna dan Bara pun mengangguk.
"Tapi…"
"Sudah Ayo!" Bara mengulurkan tangannya dan mengajak Ayuna buru-buru pergi karena sebentar lagi jam istirahat akan habis.
Yuna menatap Winda, kemudian menatap Bara, akhirnya Yuna pun membalas uluran tangan Bara dan pria itu segera membawa gadis itu pergi.
"Ayo!" Kata Bara setelah membukakan pintu mobil untuk Ayuna.
"Kamu bawa mobil?" Tanya Yuna karena biasanya pria itu membawa motornya.
"Hmm iya, panas soalnya, dan lagi aku tidak akan membiarkan gadis secantik kamu kepanasan." Ucap Bara.
Yuna tertawa, "Kamu ada-ada saja," ucapnya.
"Nah gitu dong ketawa, jadi tambah cantik," setelah itu, Bara pun menutup pintu dan berlari kecil menuju kursi kemudi.
Setelah masuk, Bara pun segera melakukan mobilnya ke sebuah kafe. Dia tahu jika Yuna pasti belum makan, karena pria itu melihat Yuna keluar dari kelasnya saat jam istirahat tadi.
"Kita makan dulu," ucap Bara dan Yuna pun mengangguk.
Keduanya kini turun dan melangkah memasuki kafe yang sangat ramai siang ini.
Bara mengajak Yuna duduk dan memesan makanan. Sambil menunggu pesanannya datang, mereka pun mengobrol, Yuna sesekali mengamati suasana kafe. Hingga arah pandangnya tertuju pada seorang pria dan wanita, pria yang sudah membuat moodnya hari ini benar-benar buruk. Pria itu berjalan dengan tegap dengan seorang wanita cantik yang menggamit lengannya, wanita yang saat itu Yuna pernah lihat. Buru-buru Yuna bangun dan menarik tangan Bara untuk menemaninya mengikuti mereka yang kini keluar dari kafe.
Apakah cinta baru akan mampu bertahan saat cinta pertama memiliki kenangan dan ruang tersendiri? Cari jawabannya di MY OWN KOREAN DRAMA
Chris McKenzie akan membawa kalian mengarungi indahnya cinta pertama dan bagaimana akhirnya dia dipertemukan dengan cinta baru. Siapa yang akhirnya dapat memenangkan aktris Korea Selatan Christina MacKenzie? Mantan bosnya atau member boyband GuBoy? Well.... kalian harus mengikuti kisahnya agar mengerti.
baru nyimak💪💪💪