NovelToon NovelToon
Menyesal Telah Selingkuh

Menyesal Telah Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: yani 11

Enam tahun pernikahan yang terlihat sempurna ternyata menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun.

Selama enam tahun, Alena dan suaminya, Rendra, terus berjuang untuk mendapatkan buah hati. Berbagai cara telah mereka lakukan, mulai dari pengobatan hingga program kehamilan yang menguras tenaga dan air mata.

Namun, hasilnya tetap sama tidak ada tangisan bayi yang hadir di tengah rumah tangga mereka.

Di saat Alena masih berusaha bertahan dan berharap, Rendra justru memilih jalan yang paling menyakitkan.
Ia berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri.

Pengkhianatan itu semakin menghancurkan ketika Alena mengetahui bahwa wanita tersebut sedang mengandung anak suaminya.

Dunia Alena seakan runtuh dalam sekejap. Pria yang selama ini dicintainya ternyata telah memberikan semua yang ia impikan kepada wanita lain.

Saat Alena memilih pergi dan membangun hidup baru, Rendra mengira dirinya akan bahagia bersama selingkuhannya. Namun, semakin jauh Alena melangkah, semakin ia menya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21_Kecurigaan

"Nyonya... bagaimana kalau data penting perusahaan benar-benar bocor?" tanya Berry dengan wajah cemas sambil menggigit bibir bawahnya.

Berry berdiri di samping Elvara dengan napas yang masih belum beraturan. Keringat dingin membasah pelipisnya.

Elvara tetap duduk dengan tenang. Ia menatap satu per satu bawahannya sebelum akhirnya berdiri dari kursinya.

"Tenang, jangan panik." ucap Elvara dengan suara lembut namun penuh wibawa, berusaha menenangkan seluruh orang di ruangan.

Semua mata langsung tertuju kepadanya.

"Semakin kalian panik, semakin mudah kita melakukan kesalahan." lanjut Elvara sambil memberikan senyum tipis yang mampu sedikit meredakan ketegangan.

Salah seorang staf laki-laki mengangkat tangan.

"Tapi, Bu... kalau pelakunya berhasil masuk ke database utama, bukankah semua data klien kita terancam?" tanyanya dengan wajah gelisah.

Elvara menganggukkan kepala pelan.

"Itulah alasan kita harus berpikir jernih. Ketakutan tidak akan menyelesaikan masalah." jawabnya dengan tatapan penuh keyakinan.

Berry mengembuskan napas panjang.

"Tim IT sedang menelusuri jejak pelaku, Nyonya." lapornya sambil membuka tablet yang dibawanya.

"Bagus. Pastikan tidak ada satu pun aktivitas mencurigakan yang terlewat." perintah Elvara dengan sorot mata tajam.

"Baik, Nyonya." jawab Berry mantap sambil menganggukkan kepala.

Di sisi lain ruangan, Arsenio hanya menyandarkan tubuhnya di kursi. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sulit ditebak artinya. Tatapannya sesekali mengarah kepada Elvara, seolah sedang menikmati situasi yang terjadi.

Seorang staf dari perusahaan Arsenio ikut tersenyum kecil.

"Sepertinya situasi di sini sedang tidak baik." bisiknya lirih kepada rekannya sambil melirik ke arah Elvara.

Rekannya hanya mengangguk pelan. Arsenio akhirnya berdiri.

"Nyonya Elvara, sepertinya pertemuan kita cukup sampai di sini." ucap Arsenio dengan senyum sopan yang terlihat dibuat-buat.

Elvara menoleh ke arahnya.

"Maaf jika ada ketidaknyamanan selama rapat berlangsung." balas Elvara dengan wajah tenang tanpa sedikit pun menunjukkan kepanikan.

"Tidak masalah." jawab Arsenio sambil merapikan jasnya.

Ia melangkah menuju pintu. Beberapa stafnya segera mengikuti dari belakang.

Sebelum benar-benar keluar, Arsenio menghentikan langkahnya.

"Saya harap masalah perusahaan Anda segera selesai." ucapnya sambil menoleh sekilas dengan senyum tipis yang sulit diartikan.

"Terima kasih atas perhatiannya." balas Elvara dengan senyum profesional, meski sorot matanya terus mengamati setiap gerakan pria itu.

Arsenio hanya mengangguk kecil.

"Mari kita pergi." katanya kepada seluruh stafnya dengan nada datar.

"Baik, Pak." jawab para staf serempak sambil mengikuti langkah atasannya.

Pintu ruang rapat pun tertutup perlahan. Ruangan kembali hening.

Berry mendekati Elvara.

"Nyonya..." panggilnya pelan dengan wajah penuh rasa penasaran.

"Hm?" sahut Elvara tanpa mengalihkan pandangan dari pintu yang baru saja tertutup.

"Entah kenapa saya merasa sikap Pak Arsenio barusan sedikit aneh." ucap Berry dengan kening berkerut.

Elvara tidak langsung menjawab. Ia masih memikirkan senyum tipis yang sejak tadi ditunjukkan mantan suaminya.

"Aku juga menyadarinya." jawab Elvara pelan sambil menyilangkan kedua tangan di dada.

Berry tampak semakin penasaran.

"Apakah Nyonya curiga kepada beliau?" tanyanya hati-hati.

Elvara menggeleng perlahan.

"Curiga tanpa bukti hanya akan menjadi fitnah." ucap Elvara dengan nada tenang.

Berry mengangguk mengerti.

"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanyanya kembali dengan wajah serius.

"Perketat semua sistem keamanan. Jangan ada satu pun pegawai yang mengetahui hasil penyelidikan selain tim yang benar-benar dipercaya." perintah Elvara dengan tatapan tajam.

"Baik, Nyonya. Saya akan segera mengoordinasikan semuanya." jawab Berry penuh keyakinan.

"Satu hal lagi." panggil Elvara ketika Berry hendak pergi.

Berry langsung berbalik.

"Ya, Nyonya?" tanyanya dengan wajah sigap.

"Periksa kembali seluruh rekaman CCTV hari ini. Sekecil apa pun kejanggalannya, laporkan langsung kepadaku." ujar Elvara dengan nada tegas.

"Siap, Nyonya." jawab Berry mantap sebelum keluar dari ruangan.

Kini Elvara tinggal seorang diri.

Ia melangkah menuju jendela besar di ruangannya. Tatapannya mengarah ke halaman parkir.

Dari balik kaca, ia melihat Arsenio beserta seluruh stafnya berjalan menuju mobil. Anehnya, pria itu kembali memperlihatkan senyum yang sama—senyum tipis yang sulit diterjemahkan.

Elvara memicingkan matanya.

"Apa yang sebenarnya sedang kamu rencanakan, Arsenio?" gumamnya pelan dengan tatapan penuh selidik.

Di luar gedung, Arsenio menghentikan langkahnya sesaat.

"Pak, apakah kita langsung kembali ke kantor?" tanya salah seorang stafnya dengan wajah bingung.

Arsenio memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

"Tentu." jawabnya singkat dengan ekspresi datar.

"Baik, Pak." sahut staf itu sambil membukakan pintu mobil.

Arsenio kembali menoleh ke arah gedung perusahaan Elvara. Senyum tipis kembali terukir di wajahnya sebelum ia masuk ke dalam mobil.

Tak lama kemudian, iring-iringan kendaraan itu meninggalkan area perusahaan.

Dari lantai atas, Elvara masih memperhatikan mobil tersebut hingga benar-benar menghilang dari pandangannya.

Perasaannya mengatakan bahwa kejadian hari ini bukanlah sebuah kebetulan.

Seseorang sedang memainkan permainan berbahaya, dan ia harus menemukan pelakunya sebelum perusahaan yang dibangunnya dengan susah payah benar-benar menjadi korban.

Tanpa ia sadari, dari sebuah monitor di ruangan keamanan, muncul aktivitas mencurigakan yang baru saja terdeteksi beberapa detik setelah Arsenio meninggalkan gedung. Seseorang kembali mencoba mengakses jaringan internal perusahaan menggunakan identitas yang tidak dikenal.

Pertarungan yang sesungguhnya... baru saja dimulai.

1
Anne Soraya
lanjut
Ifana
sok²an selingkuh eh ternyata punya jabatan krn istri nya
Sulati Cus
hrsnya g kaget dr awal kan udah tau, istrinya akan mencabut semuanya aneh bgt
Sulati Cus
lah kata nya semua aset di cabut trus di usir kok msh takut 🤔cerita rada nggak nyambung
Sulati Cus
kok gak nyambung udah di usir pdhl🤔msh mencintaimu tp sanggup berkhianat omong kosong👿
sunaryati jarum
Arsenio hanya akan meratapi nasibnya
sunaryati jarum
Hidup dari kekayaan istri saja belagu, selingkuh .Edgar adikmu sudah dewasa dan berumah tangga,sudah bukan tanggung jawab sepenuhnya,namun jika kamu masih merasa itu kewajiban kamu melindunginya baguslah,biar Arsenio tahu siapa yang dikhianatinya.
sunaryati jarum
Sokoor
sunaryati jarum
Kok masih di rumah Elvara
sunaryati jarum
Bukankah Arsenio sudah di usir
sunaryati jarum
Baru mampir semoga suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!