Menceritakan tentang ibu rumah tangga yang dihina dan di rendahkan oleh suami dan keluarga karena miskin dan tidak memiliki pekerjaan kantoran seperti rekan keluarga lainnya.
Namanya Keumala, usianya 27 tahun, yang menikah muda di usia 24 tahun lulusan D3 di sebuah kampus swasta ternama di kota A. Semenjak menikah keumala memutuskan untuk tidak bekerja karena ia ingin menjadi ibu rumah tangga, Seperti maunya suaminya Yahya. Suaminya yang dulu sangat buncit pada Keumala berubah tiba-tiba menjadi cuek dan kasar semenjak di angkat menjadi Manajer perusahaan tempat Yahya kerja, di tambah lagi mertuanya yang tidak menyukai Keumala dari pertama mereka menikah. Karena Keumala buka anak dari orang kaya dan bukan pulak seorang PNS.
-🌺 Bisakah Keumala mempertahankan rumah tangganya yang telah dibinanya 12 tahun...
- 🌺 Ataukah suaminya akan berubah dan hidup bahagia…
Ikuti kelanjutan ceritanya.
Hai Kak.. ini novel pertama Aku, semoga kalian suka.
Selamat Membaca 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neunek Ulka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 34 : Rela istri pergi demi pelakor...
Hiks… Hiks….
Suara anak kecil menangis
Yahya langsung berlari ke kamar ke kamar
Al-Mubaraq ia mendengar anak gadisnya Al-Ziatun menangis menjerit jerit.
Sambil berlari yahya bertanya “Ada apa sayang.” Kita ia sampai depan pintu kamar, sungguh kaget luar biasa, melihat anak putranya terletak di lantai.
“Abang Baraq kenapa dek Al?” Yahya bertanya pada anak gadis kecilnya.
“Gak tau ade, Ayah,” Al-Ziatun berkata dengan bahasa khasnya, namun masih bisa dipahami.
Yahya mengangkat Al-Mubaraq keatas ranjang.
Dengan panik dan tak tahu harus bagaimana.
“Ayah, bawa aja Abang ke rumah sakit,” dengan lucu mimik wajahnya Al-Ziatun memberikan
saran pada Yahya.
Lalu Yahya menghubungi seseorang.
Sebelumnya ia sempat menghubungi Keumala Namun tidak tidak diangkatnya.
‘Gimana Ayah Ayo kita ke rumah sakit,” ajak gadis kecilnya dengan cepat dan panik, hingga membuat Yahya semakin panik.
“Iya, sayang,” dengan mencoba tenang,setenang mungkin.
Yahya panik ia mencoba membangunkan anak
lelakinya tapi tetap tak sadar.
Akhirnya ia memutuskan untuk membawa ke rumah sakit. Ia mengendong anak lakinya menunju mobil sambil berteriak “Siti, Aku pergi dulu, kamu kunci pintu dan tolong jaga anak aku dek Al”
Siti keluar dari kamarnya dengan cepat, mengikuti langkah Yahya.
“Ada apa, Bang,’ tanya Siti
Yahya tidak menjawab ia terus mengendong anak lelakinya untuk di bawa ke mobil.
“Ayah, ikut ya, boleh,” Al-Ziatun bertanya pada Ayahnya ia ingin ikut ke rumah sakit untuk menemaninya.
“Jangan sayang, kamu di rumah saja ntar di jagain sama tante siti.” Yahya memberitahukan anaknya untu di rumah saja sekaligus agar Siti mau menjaga anak perempuannya itu.
Dengan rasa kesel kini melanda Siti, ia ke rumah Yahya ingin tinggal besama yahya, bukan untuk menjaga anaknya Yahya.
“Tapi Ayah, tante ini, katanya sakit gimana jagain, ntar Al yang suruh jagain tante, gak mau Ah,” keluh Al-Ziatun pada Ayahnya.
Yahya.terdiam sesat.
“Siti sanggup kamu jaga anak Aku, Aku akan pergi ke rumah sakit,” Yahya berkata pada
“Aduh gimana ini Aku tidak mau direpotkan sama anak kecil ini, huff,” Siti membatin
“Aduh gimana bang, Siti juga lagi sakit gimana ini.” Dengan ragu berkata pada Yahya.
Seakan Yahya berpikir.
“Ayah cepat kasihan Abang,” tegur Al-Ziatun pada Ayahnya.
Akhirnya anak perempuannya ikut Yahya ke rumah sakit, dan tinggallah Siti di rumah Yahya sendiri.
***
Yahya mengemudi dengan kecepatan sedang, karena ia terus mencoba hubungi istrinya, pada panggilan yang sekian kali barulah terhubung
dengan ponsel Keumala.
“Maa,” ucap Yahya dengan ragu.
“sudahlah Ayah, jangan hubungi, Aku lagi.” Dengan tegas Keumala mengucap dari ujung sana.
“Ini menyangkut Mubaraq,Ma.” Balas Yahya panik.
“Ada Apa dengan anak Aku, Ayah,” Keumala ikut panik.
“ia pingsan di kamarnya , ini Ayah bawa ia ke rumah sakit.” Yahya menjelaskan pada Keumala.
“Bawa saja dia ke Klinik CP, karena situ dekat, biar Mama langsung kesana, sekarang,” pinta Keumala.
“Baiklah, Kami sudah dekat ini, buruan kemari!” seru Yahya.
“Iya,” balas Keumala di ujung sana, dan mengakhiri pembicaraan.
***
Keumala datang buru-buru ia langsung melihat ke arah anak laki-lakinya, tidak ia memperdulikan Yahya yang ada di sampinya.
Kini Al-Mubaraq sudah sadar, “Mama,” dengan wajah pucat Al-Mubaraq berbicara pada Mamanya.
“Iya sayang, Mama disini,” dengan senyum ia berikan untuk sang buah hatinya.
Al-Mubarah ikut tersenyum melihat kehadiran Mama disampingnya.
“Gimana Dok anak saya,” tanya Keumala pada ibu Dokter.
“Gak apa-apa, sepertinya ia tidak makan tadi ya?” tanya bu Dokter pada Al-Mubaraq
“Iya, Bu Dokter,” sambil mengangguk-angguk kepalanya.
“Kenapa tidak makan, tadi Mama sudah sajikan di meja, dan Abang ada ikut makan bersama,”
dengan kecewa ia melihat anaknya tidak makan.
“Abang tidak selera, Mama,” dengan memalingkan wajahnya tidak berani melihat sang Mama dan suara lemes.
Al-Mubaraq tidak ingin makan karena ia merasakan beban Mama nya sedih menghampirinya, melihat Ayahnya tidak pulang dan mamanya bersedih. Seagai anak ia juga ikut merasakan efek dari perbuatan Yahya.
Berbeda dengan adiknya Al-Ziatun yang belum paham dan mengerti permasalahan keluarganya
dan kesedihan sang Mama, selain umurnya yang masih sangat kecil Keumala mencoba
terus memperlihat kalau ia baik-baik saja pada kedua sang buah hati.
“Bu saya permisi dulu,” dengan lembut Bu Dokter minta ijin keluar dari ruangan tempat Al-Mubaaq dirawat.
Keumala mengelus pucuk kepala sag anak.
“ya sudah, Mama belikan makanan untuk Kamu ya, karena kamu harus makan yang banyak biar cepat sehat, ya Nak.” Dengan lembut Keumala berkata.
Yang duduk samping Al-Mubaraq hendak bangun untuk keluar.
“Jangan biarkan Ayah saja yang pergi,” Yahya menawarkan diri untuk membelikan makanan di luar.
Keumala tidak menjawab ia hanya mengangguk kepalanya tanda setuju.
Kini Keumala melupakan sejenak permasalahannya dengan suaminya Yahya, demi sang buah hati, walau sebenarnya ia lagi kecewa dan sakit hati, rasanya tak ingin melihat lagi wajah suaminya itu.
“Adek ikut kemari,” tanya Keumala dengan senyum.
“Iya, Mama.” Jawab Al-Ziatun sambil memeluk sang Mama.
“Tante yang di rumah apa masih di rumah,” Keumala bertanya pada anak gadis kecilnya.
“Di rumah Mama, Adek Tidak mau tinggal sama tante itu, tante itu gak adek kenal,” dengan polosnya serta gaya bahasa khasnya.
Keumala tersenyum pada anaknya, tidak ingin melibatkan anaknya dala urusan ia dan suaminya.
Al-Mubaraq
hanya mendengarkan pembicaraan Mamanya dengan sang Adik.
Kini Yahya telah kembali dan membawa beberapa buah kantong kresek.
***
Al-Mubaraq sudah siap makan, kini telat terlelap dalam tidurnya.
Malam ini Al-Mubaraq harus opname, Keumala menjaga dengan sangat telaten, sedangkan adiknya Al-Ziatun sudah tertidur di atas sofa di samping Ayahnya.
Yahya di sofa sambil memainkan ponselnya, dari
tadi sepertinya sibuk balas chat seseorang.
Tidak ada yang mulai mengajak bicara, mereka duduk hanya jarak dua meter, tapi mereka sama sibuk masing-masing.
Yahya sekali-sekali melirik keumala, namun berbeda dengan Keumala ia tidak memperdulikan
Sedikitpun ke hadiran Yahya, rassa sakitnya sungguh luar biasa, apa lagi ia tau dari anaknya kalau wanita pelakor masih di rumah mereka.
*Beberapa menit kemudian.
“Mama, bisakah mama kembali ke rumah?” tanya Yahya pada Keumala.
“Apa, Aku kembali, tidak,” dengan cepat Keumala Menjawab tetap suara pelan agar
anak-anaknya tidak terbangun.
“Apa yang harus, Ayah lakukan agar Mama mau kembali ke rumah?” Tanya Yahya.
“Sudah Mama bilang, Suruh pulang wanita itu,
hanya itu,” dengan tegas Keumala berkata.
Yahya tertunduk diam seribu bahasa.
***
Bersambung…..
Wah parah ini Yahya, membawa wanita lain ke rumahnya, dan rela istrinya pergi dari rumah di gantikan wanita yang belum tentu mau menemaninya ketika susah, anaknya ikut merasakan malasah orang tua, efeknya pada anaknya sudah terlihat.
Terima Kasih sudah setia, untuk memberikan Aku semangat terus berkarya, tinggalkan Jejak kalian dengan memberikan Aku Like, Komen dan Vote.
❤❤❤Kalian Tanpa Kecuali.🤗
mampir juga di karya ku 🤭