"Bagaimana cara menangkap pembunuh yang dilindungi oleh waktu itu sendiri?"
Insiden 06-06 bukan sekadar kecelakaan beruntun biasa. Di balik pekatnya polusi Jakarta dan pemadaman listrik total, ada konspirasi berdarah yang terencana rapi.
Samuel, seorang penyelidik BPI yang aslinya otaku garis keras, terpaksa harus menggunakan kartu as rahasianya: kemampuan memanipulasi waktu.
Bersama rekan jeniusnya, Ahmad, Samuel harus melompati belasan rute masa lalu, menjinakkan paradoks, dan menahan sakit kepala yang siap meremukkan otaknya. Baginya, angka 7-14 bukan lagi sekadar penanda hari, melainkan hitung mundur menuju kematian orang paling penting dalam hidupnya.
Saat waktu kehilangan maknanya, mampukah sang "Penguasa Waktu" memutus rantai takdir tak kasat mata ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dean Jeremia Sp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
transaksi ilegal
...Jakarta, 8 Juni 2025...
Samuel membuka mata. Aroma antiseptik yang familier langsung menyengat indra penciumannya—ia menyadari dirinya kembali terbangun di rumah sakit.
Seketika itu juga, ingatan dan beban motivasi dari lini masa sebelumnya kembali runtuh menghantam kepalanya. Namun kali ini, Samuel pulang membawa kunci baru: ia sudah tahu siapa musuh yang harus dia tangkap. Masalahnya, ia belum tahu bagaimana cara menyeret petugas medis misterius itu.
Seorang petugas yang di papan namanya tertulis jelas: Juan. Samuel mengingatnya dengan sangat baik; kilasan ingatan menunjukkan bahwa wajah pria itu juga sempat ia lihat di sekitar apartemen Rizki pada lini masa lalu.
'Jika aku mengambil... eh, tidak,' batin Samuel menimbang strategi. 'Yang membuat efek kupu-kupu dan percepatan tragedi kemarin adalah karena aku memproses informasi terlalu cepat, lalu membocorkannya kepada Ahmad. Ahmad sendiri mengaku kalau dia diancam. Sudah pasti dalangnya adalah pihak internal BPI, sementara Mas Dimas hanya merespons dingin untuk menunggu laporan.'
Samuel mengambil napas dalam-dalam. Kali ini, ia memutuskan untuk tetap mengambil alih tanggung jawab kasus ini, namun ia akan memburu informasi tentang Juan secara senyap melalui jaringan BPI. Untuk
memuluskan rencananya, hari ini Samuel memilih bertindak normal, melakukan rutinitas yang sama dan persis seperti lini masa sebelumnya agar tidak memicu kecurigaan algoritma takdir.
Jakarta, 9 Juni 2025
Setelah berhasil mendapatkan kembali akses jaringan BPI, Samuel tidak lagi membuang waktu melakukan pencarian acak selama empat hari seperti rute sebelumnya. Fokusnya kini hanya satu: menguliti seluruh latar belakang Juan.
Mata Samuel mendadak membelalak, lalu sebuah lengkungan senyum perlahan terukir di wajahnya yang pucat. Ia menatap nanar baris demi baris data yang terpampang di layar komputer:
Nama: Juan
Umur: 23 tahun
Jabatan: Asisten Penyelidik BPI
Catatan Kriminal: Bersih (Tidak ada riwayat kasus kriminal)
Rekam Jejak: Tidak pernah menyelesaikan satu pun kasus
Domisili: Bekasi
"MUHAHAHA! Gila... gila! Ngapain orang dengan profil kayak gini ada di apartemen Rizki sebelumnya? Hahaha...
Samuel tertawa sendiri di dalam ruangan yang sepi. Senyumnya tampak menyeramkan, dipenuhi oleh kepuasan berdarah dingin karena berhasil menemukan benang merah konspirasi ini.
Jakarta, 10 Juni 2025
02.00 WIB
Jakarta di jam dua pagi adalah kota yang gelap dan dipenuhi riak kriminal. Di sudut-sudut jalanan, mobil polisi berpatroli dengan sirene redup, sekelompok anak muda terlibat tawuran di gang sempit, dan para pengedar narkoba mulai bergerak di area remang-remang.
Samuel melangkah keluar membelah malam. Di balik jaketnya, sebongkah Glock 21 telah tersemat rapi. Malam ini, ia memiliki janji temu rahasia dengan seorang pedagang pasar gelap. sebuah notifikasi masuk ke ponselnya:
[Pedagang]: mengirimkan lokasi.
Samuel segera memacu langkahnya menuju titik koordinat yang tertera. Ironisnya, lokasi tersebut berada tepat di titik nol Insiden 06-06. Suasana di tempat itu sangat mencekat; lampu-lampu jalanan menyala remang-remang, garis polisi kuning masih terpasang dengan jelas, dan noda-noda darah kering sisa pembantaian tempo hari masih berbekas di aspal. Walaupun tempat ini adalah pusat dari seluruh misterinya, Samuel tercatat baru dua kali menginjakkan kaki di sini—dan ini adalah kedatangannya yang kedua.
Samuel berjalan dengan langkah tegap, menghampiri sesosok pria yang berdiri membisu di depan kafe yang menjadi lokasi pembunuhan Pejabat C.
Tanpa basa-basi, Samuel membuka percakapan dengan nada rendah, "CCTV-nya sudah aku matikan."
Pedagang tersebut tidak langsung menjawab. Ia menjatuhkan puntung rokoknya ke tanah, lalu menginjaknya hingga padam. "Apa password-nya?"
Samuel menghela napas berat. "Kuda kejepit pagar polisi."
Mendengar kode unik itu, sang pedagang tersenyum lebar. Ia melangkah maju lalu menepuk pundak Samuel akrab. "Lama tak berjumpa. Apa pesananmu kali ini, kawan? Informasi?"
Samuel berdiri tegak di samping pria itu, pandangannya lurus menatap kafe kosong di depan mereka. "Tidak. Aku sudah dapat informasinya."
Pedagang itu bersiul, tampak kagum. "Aku tak sangka kau bakal secepat ini."
Samuel langsung mengeluarkan kartu rekeningnya untuk menyelesaikan administrasi hitam mereka. "Yang aku mau adalah... silencer untuk Glock 21, kacamata night vision, dan cincin yang memiliki sisi tajam."
Tanpa banyak bicara, pedagang itu melepas tas punggungnya. Ia membuka ritsleting dan memperlihatkan seluruh barang pesanan Samuel yang terjaga rapi di dalam sana. Semuanya lengkap. Ia kemudian menyodorkan ponselnya untuk memindai transaksi. Detik itu juga, transaksi berhasil diselesaikan tanpa jejak.
Samuel langsung membalikkan badan, melangkah pergi meninggalkan lokasi terkutuk tersebut. Sembari berjalan menjauh, Samuel berucap setengah berbisik, "Terima kasih, Ryu."
Dari arah belakang, sebuah suara menyahut untuk terakhir kalinya, "Jangan panggil aku Ryu lagi. Ini adalah transaksi terakhirku. Setelah ini, aku akan kembali menjadi Aldi. Semoga sukses, kawan."
Samuel menghentikan langkahnya sejenak, menoleh ke belakang. Di bawah temaram lampu jalanan, ia melihat Aldi sedang menghancurkan ponsel yang tadi digunakan untuk menghubungi Samuel hingga berkeping-keping.