Hidup Dara runtuh dalam satu hari.
Pekerjaannya hilang tanpa peringatan. Perusahaan tempatnya kerja kini terancam bangkrut dan harus mem-PHK semua karyawannya termasuk Dara. Kini Dara merasa hidupnya runtuh, karena disaat yang sama Ibunya sedang di rawat di rumah sakit dan butuh biaya yang sangat besar. Di titik terendahnya, Dara hanya punya dua pilihan: bertahan atau menyerah.
Kini Takdir membawanya ke sebuah perusahaan besar, di sana ia menjadi sekretaris pribadi seorang CEO dingin, perfeksionis, dan penuh rahasia.
Pria itu setelah di khianati mantan istrinya tidak lagi percaya pada cinta. Namun sejak kehadiran Dara, sekretaris baru yang berani, tulus, dan penuh tekad, kini hatinya mulai goyah.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27 : Suasana menegang
Sementara itu...
Di area parkir VIP bandara.
Sebuah mobil hitam mewah sudah menunggu. Sopir pribadi keluarga Dirgantara langsung membungkuk hormat saat melihat Alexander datang.
"Selamat siang, Tuan Alexander."
Alexander mengangguk singkat.
Dara yang berjalan di belakangnya masih terlihat sedikit gugup. Jujur saja, sampai sekarang ia masih belum mengerti kenapa dirinya diajak ikut. Apalagi ke rumah utama keluarga Dirgantara.
Alexander membuka pintu mobil. "Masuk."
Dara berkedip. "Tuan..."
"Masuk dulu."
Akhirnya Dara menurut, beberapa detik kemudian mobil mulai meninggalkan area bandara dan melaju menuju pusat Jakarta.
Sepanjang perjalanan suasana terasa sunyi. Dara beberapa kali ingin bertanya. Namun mengurungkannya, sedangkan Alexander sibuk membaca beberapa dokumen di tablet miliknya.
Sampai akhirnya...
"Tuan."
Alexander mengangkat pandangan. "Iya?"
Dara menggenggam tasnya pelan. "Kenapa saya harus ikut?"
Keheningan langsung memenuhi mobil. Beberapa detik berlalu, Alexander mematikan layar tabletnya. Tatapannya beralih ke Dara.
"Saya ingin kamu melihat sesuatu."
Deg.
Dara mengernyit. "Melihat apa?"
Alexander menatap keluar jendela. "Kenyataan."
Jawaban itu justru membuat Dara semakin bingung.
Namun sebelum ia sempat bertanya lagi, Alexander kembali berbicara. "Mommy saya kemungkinan besar akan mencoba menghentikan perceraian ini."
Dara terdiam.
"Sabrina juga ada di sana."
Jantung Dara langsung berdebar.
Alexander melanjutkan dengan nada tenang. "Dan saya tidak ingin ada kesalahpahaman lagi."
Deg.
Dara perlahan memahami maksud pria itu. Alexander ingin menunjukkan secara langsung bahwa hubungan antara dirinya dan Sabrina memang sudah berakhir. Bahwa keputusan perceraian itu bukan karena kehadiran Dara. Melainkan karena sesuatu yang memang sudah rusak sejak lama.
Pemahaman itu justru membuat dada Dara terasa semakin berat. Karena tanpa sadar, pria itu sedang berusaha melindunginya. Melindunginya dari tuduhan yang mungkin akan muncul nantinya.
Beberapa menit kemudian...
Mobil mulai memasuki kawasan elite tempat keluarga Dirgantara tinggal. Gerbang besar perlahan terbuka, rumah megah bergaya modern itu tampak berdiri anggun di tengah taman luas.
Dara menelan ludah, ia pernah melihat rumah ini dari luar. Namun tidak pernah membayangkan akan datang sebagai tamu. Mobil berhenti tepat di depan pintu utama, seorang pelayan segera membukakan pintu.
Alexander turun lebih dulu. Lalu menoleh kepada Dara. "Ayo."
Dara mengangguk pelan. Mereka berjalan memasuki rumah, namun baru beberapa langkah memasuki ruang tamu utama... suara seseorang terdengar.
"Alexander."
Langkah mereka berhenti, Ibu Sandra sudah berdiri di sana. Wanita paruh baya itu terlihat elegan seperti biasa. Namun saat matanya jatuh pada Dara yang berdiri di samping Alexander.
Ekspresinya langsung berubah, keheningan mendadak memenuhi ruangan. Karena Ibu Sandra sama sekali tidak menyangka. Alexander datang dan membawa wanita lain bersamanya.
Di sisi lain ruangan, Sabrina yang sedang duduk di sofa juga langsung menoleh. Saat melihat Dara... wajahnya perlahan menegang. Dan kini dua wanita itu akhirnya bertemu secara langsung. Keheningan memenuhi ruang tamu utama keluarga Dirgantara.
Dara langsung merasa tidak nyaman saat menyadari semua mata kini tertuju padanya. Alexander tetap berdiri tenang di sampingnya. Sedangkan Sabrina menatap Dara tanpa berkedip.
Tatapan wanita itu perlahan turun dari wajah Dara hingga ke ujung kaki, seperti sedang menilai sesuatu. Dan entah kenapa, hal itu membuat Dara semakin gugup.
"Alex..." Suara Ibu Sandra akhirnya memecah keheningan.
"Siapa wanita itu?"
Alexander melepaskan jasnya lalu menyerahkannya kepada salah satu pelayan. "Apa yang Mommy maksud?"
Sandra langsung menunjuk ke arah Dara. "Kenapa ada dia sini?"
Deg.
Dara langsung menundukkan kepala, namun sebelum ia sempat mengatakan apa pun...
Alexander menjawab dengan tenang. "Karena aku yang membawanya."
Sandra terlihat semakin tidak percaya. "Kalian akan membicarakan masalah rumah tangga."
"Iya."
"Kalau begitu kenapa ada orang luar?"
Ruangan kembali sunyi.
Sabrina yang sejak tadi diam mulai memperhatikan reaksi Alexander. Namun pria itu sama sekali tidak terlihat terganggu. Justru Alexander berjalan menuju sofa lalu duduk dengan santai.
"Karena aku ingin semuanya jelas."
Deg.
Sandra mengernyit. "Jelas apa?"
Alexander melipat kedua tangannya di dada. "Mommy memanggilku ke sini karena ingin membicarakan perceraian."
"Iya."
"Dan aku tidak ingin ada yang beranggapan bahwa perceraian ini terjadi karena Dara."
Kalimat itu langsung membuat seluruh ruangan membeku. Dara bahkan menahan napas, sedangkan wajah Sabrina berubah drastis.
Alexander melanjutkan tanpa ekspresi. "Masalah ini sudah terjadi jauh sebelum Dara masuk ke perusahaan."
"Alex..."
"Kamu tidak perlu bicara dulu, Sabrina." Suara Alexander tetap tenang.
Alexander menatap ibunya. "Mommy ingin tahu alasan Aku tetap melanjutkan perceraian?"
Sandra terdiam.
Alexander mengambil sebuah map yang tadi dibawanya. Lalu meletakkannya di atas meja. "Baik." Tatapannya berubah dingin. "Kalau begitu hari ini kita bicara berdasarkan fakta."
Deg.
Jantung Sabrina langsung berdegup keras. Karena ia mengenali map itu, dan firasat buruk yang selama ini berusaha ia abaikan akhirnya kembali muncul.
Sementara itu, Dara yang berdiri beberapa langkah di belakang Alexander hanya bisa menggenggam tasnya erat. Ia mulai mengerti sekarang, Alexander tidak membawanya ke rumah ini untuk menunjukkan hubungan mereka.
Pria itu membawanya sebagai saksi. Saksi bahwa keputusan yang akan ia ambil hari ini tidak ada hubungannya dengan Dara. Tidak ada hubungannya dengan perempuan lain. Tetapi murni karena pengkhianatan yang telah menghancurkan rumah tangga mereka.
Di sudut ruangan, Pak Arga yang baru turun dari lantai atas menghentikan langkahnya. Tatapannya berpindah dari Alexander ke map di atas meja.
Kemudian ke Sabrina yang wajahnya mulai pucat. Dan untuk pertama kalinya sejak beberapa minggu terakhir. Pak Arga merasa semuanya akan berakhir hari ini. Benar-benar berakhir.
Alexander membuka map tersebut perlahan. Lalu mengangkat pandangannya ke arah Sabrina. "Karena Mommy ingin mempertahankan pernikahan ini..." Suaranya terdengar sangat tenang. "Tolong jawab satu pertanyaan saya dengan jujur."
Sabrina menelan ludah. "Apa?"
Tatapan Alexander menusuk lurus ke matanya.n"Selama dua tahun pernikahan kita..."
Ruangan seketika terasa semakin sunyi.
"Apakah pernah ada satu hari saja..." Alexander berhenti sejenak. "Dimana kamu benar-benar menganggap dirimu sebagai istriku?"
Deg!
Wajah Sabrina langsung memucat, sedangkan Ibu Sandra membeku di tempatnya. Kini pertanyaan yang selama ini disimpan Alexander akhirnya keluar. Dan tidak seorang pun di ruangan itu siap mendengar jawabannya.
Keheningan menyelimuti seluruh ruangan.
Sabrina menatap Alexander cukup lama. Wajahnya semakin pucat. Karena pertanyaan itu bukan sekadar pertanyaan. Itu adalah luka yang selama ini disimpan Alexander selama dua tahun.
"Jawab aku, Sabrina." Suara Alexander tetap tenang.
Namun justru ketenangan itulah yang terasa paling menekan.
Sabrina menggigit bibir bawahnya. "Aku..."
Namun kata-kata itu seolah tersangkut di tenggorokannya.
Alexander tidak mengalihkan pandangan sedikit pun. "Apakah pernah?"
Keheningan kembali turun.
Dan kali ini Sabrina tidak mampu berbohong. Perlahan matanya menunduk. Tidak ada jawaban, namun diamnya sudah cukup menjelaskan semuanya.
Ibu Sandra langsung memejamkan mata. Sedangkan Pak Arga menghela napas panjang. Karena mereka semua mengerti arti keheningan itu.
Alexander tertawa pelan, namun tidak ada sedikit pun kebahagiaan dalam tawa tersebut. "Hah..." Pria itu menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Lihat, Mom."
Ibu Sandra mengepalkan tangannya.