NovelToon NovelToon
CINTA HABIS DI MANTAN

CINTA HABIS DI MANTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:875
Nilai: 5
Nama Author: AssaZahara

Catalea Yoora merupakan salah satu dari pewaris perusahaan Rotasi Company. Perusahaan yang bergerak di bidang makanan, bakery, dan kuliner yang sudah membuka cabang lebih dari lima provinsi. Beberapa menit menjelang akad nikahnya Alea menghilang. Gosip yang beredar Alea pergi karena ia tidak mencintai calon suaminya karena perjodohan keluarga. Kecurigaan itu beralasan, karena tamu yang dimaksud ternyata mantan Alea, Zahran Adrian Adiguna. Mantan kekasih yang pernah menjalin hubungan dengan Alea. Namun hubungan itu berakhir karena hubungan keluarga. Akhir-akhir ini hubungan kedua keluarga itu membaik. Tapi kejadian hilang nya Alea berkaitan Erat dengan Zahran. Beberapa orang menduga Alea di culik oleh Zahran karena dendam. Namun sebagian orang merasa alasan hilangnya Alea sangat sederhana ia masih cinta dengan mantan kekasih nya. Motif yang hanya bisa di ketahui publik ketika Alea di temukan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AssaZahara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bisnis berdarah

Malam di pinggiran Sidoarjo terasa kian mencekam ketika sedan tua sewaan Zahran melaju membelah kawasan pergudangan Brebek yang sepi. Di kursi penumpang, Alea terus memantau pergerakan indikator frekuensi pada laptopnya. Sinyal dari alat pemindai taktis milik tim Bramantyo sempat melemah setelah mereka melakukan manuver pengecekan di jalur memutar, namun mereka tahu itu hanya masalah waktu sebelum sang detektif swasta kembali menemukan koordinat mereka.

Tujuan mereka malam ini adalah sebuah gudang tua penyimpanan kontainer pendingin yang sudah tidak beroperasi di dekat area tambak. Di sanalah, Hasanudin, mantan kepala audit Pratama Logistics yang memegang rahasia paling busuk dari skema perjodohan Alea, berjanji untuk bertemu setelah menerima pesan berkode dari Zahran.

Zahran memarkirkan mobilnya di balik tumpukan kontainer berkarat yang dipenuhi ilalang. Sebelum turun, ia menoleh ke arah Alea, memastikan senjatanya siap di balik jaket.

"Ingat, Alea, begitu kita masuk, jangan pernah lepas dari belakangku," bisik Zahran, matanya berkilat tajam di bawah temaram lampu dasbor.

"Hasanudin ketakutan. Pria yang ketakutan bisa menjadi sangat tidak terprediksi."

Alea mengangguk mantap. Ketakutannya telah lama berevolusi menjadi keberanian yang dingin. Mereka melangkah keluar dari mobil, menembus kabut malam yang membawa aroma asin air payau, lalu menyelinap masuk melalui pintu besi kecil di samping gudang rongsok tersebut.

Di dalam gudang yang luas dan gelap, hanya ada satu lampu neon yang menggantung rendah di atas sebuah meja kerja seng. Di sana, seorang pria paruh baya dengan rambut beruban dan kemeja flanel yang kusut sedang duduk dengan gelisah, memegang sebuah tas dokumen kulit yang tampak usang. Itu adalah Hasanudin.

"Kalian terlambat sepuluh menit," seru Hasanudin dengan suara bergetar begitu mendengar langkah kaki Zahran dan Alea yang mendekat.

"Kami harus memotong ekor di belakang kami, Pak Hasan," jawab Zahran tenang, sambil memberi isyarat agar Alea tetap berada di batas bayangan lampu.

"Anda membawa berkas aslinya?"Hasanudin meletakkan tas kulitnya ke atas meja seng dengan kasar.

"Berkas ini adalah alasan kenapa hidupku hancur selama setahun terakhir! Reynald Pratama tidak hanya memecatku, dia mengirim orang untuk mengancam keluargaku di Malang agar aku tidak membuka mulut tentang apa yang terjadi di balik meja audit Rotasi Company!"

Alea melangkah maju ke dalam lingkaran cahaya lampu neon, membuat Hasanudin sempat tertegun melihat sang putri mahkota kini berdiri di depannya dengan pakaian sederhana dan wajah yang coreng-moreng oleh debu pelarian.

"Pak Hasan," suara Alea terdengar berwibawa namun sarat akan kepedihan.

"Tolong jelaskan padaku. Seberapa jauh keterlibatan pamanku, Benny Priyatno, dalam memanipulasi kebangkrutan perusahaan kami?"

Hasanudin menghela napas panjang, lalu membuka tasnya dan mengeluarkan lembaran-lembaran dokumen akuntansi forensik yang dipenuhi oleh tanda tangan digital berkode rahasia.

"Nona Catalea, Rotasi Company tidak pernah benar-benar mengalami krisis likuiditas yang mematikan setahun lalu," ungkap Hasanudin, kalimatnya bagai petir di siang bolong bagi Alea. "Itu adalah sebuah corporate raid pembajakan perusahaan yang dirancang dari dalam. Paman Anda, Benny Priyatno, sengaja menahan laporan arus kas dari gerai-gerai sukses di Sumatera dan Jawa Barat. Dia memarkir dana triliunan rupiah milik Rotasi ke dalam beberapa perusahaan cangkang (shell companies) di Cayman Islands."

Hasanudin membalik halaman dokumen tersebut, menunjukkan grafik manipulasi utang.

"Di saat yang sama, Benny membuat laporan palsu kepada ayah Anda bahwa Rotasi sedang berada di ambang kebangkrutan massal karena gagal bayar vendor. Di sinilah Reynald Pratama masuk sebagai 'pahlawan penyelamat' dengan menyuntikkan dana talangan. Perjodohan Anda... pernikahan Anda dengan Reynald adalah strategi bisnis untuk mengunci kepemilikan saham mayoritas secara legal tanpa memicu kecurigaan Otoritas Jasa Keuangan (OJK)."

"Dan apa peran Gautama di sini?" Zahran menyipitkan matanya, menatap angka-angka rumit tersebut

"Gautama Adiguna yang mendanai pembentukan perusahaan cangkang di Cayman Islands untuk menampung uang curian Benny Priyatno," lanjut Hasanudin dengan tangan yang gemetar.

"Ini adalah strategi bisnis lintas dinasi yang murni... namun tercemar oleh darah."

"Darah?" Alea mengulang kata itu dengan tenggorokan yang mendadak kering.

"Ibu Anda, Nona Catalea..." Hasanudin menatap Alea dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa bersalah yang mendalam.

"Mendiang Ibu Anda, Nyonya Sofia, mengetahui manipulasi awal yang dilakukan Benny Priyatno dua minggu sebelum beliau mengalami kecelakaan mobil tragis di tol Cipularang tiga tahun lalu. Beliau sempat menyewa auditor independen untuk memeriksa Benny. Dokumen kecelakaan itu... rem mobil beliau sengaja disabotase oleh orang-orang yang diperintah oleh Gautama atas persetujuan Benny."

Brak!

Alea terhuyung mundur, punggungnya menghantam tiang besi gudang. Seluruh dunianya serasa runtuh dan hancur berkeping-keping dalam satu detik. Ibunya... wanita lembut yang kematiannya membuat Baskoro Yoora menjadi pria dingin yang gila kerja, ternyata tidak mati karena kecelakaan biasa. Beliau dibunuh oleh adiknya sendiri, Benny Priyatno, demi menutupi keserakahan bisnis yang kini menjebak Alea ke atas altar pernikahan.

"Binatang..." desis Alea, suaranya tercekat oleh kombinasi rasa duka yang masif dan amarah yang siap meledak. Air matanya menetes, bukan karena lemah, melainkan karena rasa muak yang tak terhingga pada dinding kebohongan yang selama ini ia sebut keluarga.

Zahran segera menangkap tubuh Alea, mendekapnya erat-erat ke dadanya. Ia bisa merasakan kemarahan yang membakar tubuh wanita itu. Strategi bisnis yang selama ini dirancang oleh Benny, Gautama, dan Reynald bukan lagi sekadar intrik pasar modal. Ini adalah konspirasi pembunuhan yang berlumuran darah keluarga Yoora.

"Zahran... mereka membunuh Ibuku..." Lirih Alea di balik dada Zahran, tangannya mencengkeram kemeja pria itu dengan kekuatan penuh.

"Aku tahu, Al... Aku tahu," bisik Zahran, wajahnya kini berubah menjadi sedingin es.

"Mereka akan membayar setiap tetes darah ibumu dengan kehancuran mereka."

Namun, momen emosional itu mendadak terputus oleh suara gemertak langkah kaki dari arah pintu utama gudang. Cahaya lampu senter bertenaga tinggi tiba-tiba membelah kegelapan ruangan, langsung mengunci posisi mereka bertiga di bawah lampu neon.

"Sungguh sebuah reuni keluarga yang sangat menyentuh," sebuah suara dingin dan berwibawa menggema di langit-langit gudang yang tinggi.

Dari balik kegelapan, melangkah masuk Bramantyo, sang detektif swasta, diikuti oleh empat orang anak buahnya yang memegang senjata api taktis dengan laras peredam suara. Di tangan kanan Bramantyo, terdapat alat pelacak cell sniffer yang lampu indikatornya menyala merah solid. Ia telah berhasil melacak mereka tepat di titik paling krusial.

Hasanudin seketika panik, ia mencoba meraih kembali tas dokumen kulitnya dari atas meja, namun salah satu anak buah Bramantyo melepaskan tembakan peringatan yang mengenai seng meja.

Tass!

Suara peluru yang diredam itu membuat Hasanudin langsung mengangkat kedua tangannya ke atas dengan wajah pias.

"Zahran Adrian Adiguna, dan Nona Catalea Yoora," Bramantyo berjalan mendekat dengan langkah yang santai namun penuh ancaman, menatap mereka seperti singa menatap mangsa yang terjebak di sudut kandang.

"Perburuan kalian sudah berakhir. Tuan Reynald Pratama merindukan pengantinnya di Jakarta. Serahkan dokumen-dokumen itu, dan mari kita pulang dengan cara yang damai sebelum tempat ini benar-benar berubah menjadi tempat pembantaian."

Zahran menggeser posisi tubuhnya, menyembunyikan Alea sepenuhnya di balik punggungnya. Tangan kanannya perlahan turun menuju pinggangnya, bersiap melakukan perlawanan terakhir di atas lantai gudang yang sebentar lagi mungkin akan kembali tercemar oleh darah baru. Di tengah kepungan senjata musuh, strategi bisnis yang kejam dari Jakarta kini telah menyeret mereka ke dalam jurang hidup dan mati yang sesungguhnya.

1
DlAzkay
baskoro lagi.. baskoro lagi..
Arra
good
DlAzkay
definisi cinta buta
DlAzkay
seru
DlAzkay
maksa banget
DlAzkay
alea yang mau lah...
Ana Dww
elu nekattt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!