Sakit hati dengan mantan pacar membuat Adrian gelap mata, dia memilih jalan hitam untuk menghancurkan hidup mantan kekasihnya, Alyn berjuang melepaskan jerat ilmu hitam yang menghantui hidupnya.
Setelah gagal menguasai jiwa Alyn, guna-guna itu berbalik menyerang Adrian, Akankah Adrian bisa lepas dari jerat guna-guna kirimannya sendiri, bagaimana dia terbebas dari karma masa lalunya yang kelam.
Banyak hati yang terluka akibat ulah Adrian, dan penyesalan selalu hadir saat semua sudah terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiens K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersama Mita
Adrian merasa gelisah sejak kepergian Mita dari kotanya, diam-diam dia menghubungi wanita itu dan mengutarakan rasa rindunya.
"Mit, aku gak bisa hidup jauh darimu," ungkap Adrian.
"Kenapa? kan kamu sudah ada Menik, kamu lebih cinta dia dari pada aku kan?" saut Mita ketus.
"Jangan begitu, aku akan menyusulmu ke sana dan mencari kerja," sambung Adrian.
"Beneran?" Mita begitu senang.
"Beneran, aku akan bekerja yang penting Menik ku kirimi uang dia akan diam," ucap Adrian.
"Ok Sayang, nanti kabarin kalau mau datang ya, aku akan jemput kamu di bandara, aku sudah pindah dari tempat kita yang lama," terang Mita.
"Iya Sayang, tunggu aku ya," Adrian merasa lega.
Kini dia tinggal mengutarakan niatnya pada keluarganya, tentunya dia harus punya alasan yang tepat untuk pergi dari rumah.
Saat makan malam bersama, Adrian mulai menyinggung niatnya pergi dari rumah pada orang tuanya.
"Mah, Pah, Adrian mau mulai cari kerja," ucap Adrian hati-hati.
"Hmm bagus itu, Papa dukung kalau kamu mau kamu bisa bekerja di tempat papa," ucap Pak Darman.
"Mmm Adrian sih dapat kerjaan di luar kota Pah," sambung Adrian.
"Jadi kalian akan pergi dari rumah?" tanya mama Adrian.
Menik menatap Adrian karena dia tidak tahu rencana suaminya akan membawanya pergi selama ini Adrian tidak bercerita apa-apa.
"Ngg ..., nggak Ma, Menik kutinggal, nanti kalau kerjaanku sudah pasti aku akan menjemput Menik," sambung Adrian.
Raut kecewa terpancar di wajah Menik, namun dia tak berani mengungkapkan pada Adrian, usai makan dia membantu mengemasi piring kotor sebelum masuk ke dalam kamar. Menik berharap Adrian menyusulnya namun sampai dia tertidur Adrian tak kunjung datang ke kamar.
Adrian menghabiskan waktu menonton tv di ruang keluarga hingga dia tertidur di sana. Tengah malam Menik terbangun dan mencari suaminya yang tak berada di kamar bersamanya.
Melihat Adrian tertidur di sofa Menik mengambilkan selimut untuk suaminya, dia pun kembali ke kamarnya melanjutkan tidurnya.
***
Dua hari setelah membicarakan niatnya, Adrian berangkat ke bandara diantar Menik dan Andi adiknya, sebelum pergi Menik memeluk suaminya, rasanya dia tak ingin melepas kepergiannya.
"Ndi, jagain Menik ya, kamu hati-hati di rumah nanti Kakak kabarin kamu," Adrian membelai rambut Menik.
"Kakak juga hati-hati ya Kak, jangan cemasin Menik, ada mama, papa dan Andi yang akan menjaga Menik," ucap Menik dengan berusaha tetap tersenyum.
Adrian melangkah masuk ke dalam ruang pemberangkatan, dada Menik terasa sesak melihat bayangan suaminya menghilang di balik pintu. Andi menepuk pundaknya dan mengajaknya pergi dari sana.
"Kita jalan-jalan yuk," ajak Andi, dia melihat wajah Menik yang murung dan ingin menghibur kakak iparnya itu.
"Apa nanti mama gak marah kalau kita pergi?" Menik ragu-ragu.
"Nggak apa-apa, aku sudah ijin sama mama kog," jawab Andi.
"Baiklah," Menik pasrah mengikuti ajakan Andi.
Andi mengajaknya ke mall untuk nonton film, membawa Menik makan dan belanja baju baru, senyum sumringah di bibir Menik membuat Andi merasa lega.
Sehari dua hari hingga seminggu Adrian belum menghubunginya, Menik merasa sangat rindu. Badannya demam dia sakit perutnya mual, pagi itu dia muntah-muntah.
Andi yang melewati kamarnya mendengar suara Menik sedang muntah-muntah di kamarnya, dia pun masuk dan memeriksa keadaan kakak iparnya.
"Menik, kamu sakit?" Andi mendapati Menik sedang muntah di kamar mandi.
Dia terlihat sangat lemah dan lemas, Andi membantunya duduk kembali di ranjangnya.
"Trimakasih Ndi, entahlah perutku kayak diaduk-aduk, mungkin aku masuk angin," ucap Menik.
Andi keluar dari kamar dan mencari minyak kayu putih lalu mengoleskan pada leher dan punggung Menik, juga pada perut wanita itu, lalu menyuruhnya beristirahat.
"Tidurlah, nanti kita ke dokter ya," ucap Andi, Menik mengangguk.
Andi pergi ke dapur dan meminta bibik asisten rumahnya membuatkan Menik teh hangat, dia pun bersiap akan berangkat ke sekolah. Sebelum berangkat Andi mendatangi Menik dan memberitahunya kalau ada apa-apa dia harus mengabarinya.
***
Pagi itu Adrian masih di tempat tidur bersama Mita, wanita itu memeluk Andrian, ke duanya sama-sama telanjang, mereka habis melalui malam panas berdua.
Adrian sama sekali tidak teringat pada Menik, mata hatinya benar-benar tertutup dan hanya ada satu wanita dalam hidupnya yaitu Mita.
Mita juga sudah mengganti nomor ponsel Adrian sehingga keluarganya tak bida menghubunginya lagi. Adrian benar-benar takluk dan tunduk kepadanya, seolah di dunia ini dia tidak memiliki keluarga, hanya Mita yang dia miliki dalam hidupnya.
"Bangun Sayang," bisik Mita membangunkan kekasihnya.
"Jam berapa ini?" Adrian memeriksa ponselnya.
Dia pun bangkit dan segera mandi lalu bersiap berangkat bekerja, dia sudah bekerja menjadi marketing salah satu perusahaan yang bergerak di bidang properti.
Mereka berangkat bersama-sama menggunakan mobil milik Mita, setelah mengantar Adrian, Mita berangkat ke kantornya, saat ini Mita bekerja menjadi kasir di tempat spa.
Mereka begitu menikmati hidup bersama tanpa ikatan pernikahan, walau Adrian sudah mengajak Mita untuk menikah, namun Mita masih terikat hubungan dengan seseorang yang menjadi donatur hidupnya selama ini, dia meminta Adrian untuk menunggu sampai dia mendapatkan apa yang dia inginkan.
***
Andi membawa Menik ke dokter dan memeriksakan kesehatannya, setelah di periksa dokter menduga Menik sedang hamil, dokter pun menyarankan untuk melakukan test urine, setelah melakukan test dan hasilnya benar, Menik sedang hamil.
Menik sangat bahagia mengetahui dirinya tengah hamil, rasanya sudah tak sabar ingin memberitahu suaminya kabar bahagia ini. Sepanjang jalan pulang Menik mencoba menghubungi Adrian namun nomornya tidak dapat dihubungi. Andi juga berkali-kali mencoba menghubungi kakaknya namun hasilnya nihil.
Andi mendengus kesal, memikirkan kakaknya yang menghilang begitu saja tanpa kabar dan berita, namun di depan Menik dia tak menunjukkan rasa kesalnya, dia ingin menghibur Menik agar tidak bersedih, dia yakin kakaknya itu sedang butuh dukungannya.
"Kalau ada apa-apa ngomong sama aku ya," ucap Andi saat mereka turun dari mobil dan tiba di rumah.
Orang tua Andi sudah menunggu di ruang keluarga menanti kabar tentang keadaan Menik.
"Apa kata dokter Ndi?" tanya mama Adrian.
"Mama mau punya cucu," senyum Andi mengembang.
"Hah, serius?" mama Adrian menatap menantunya, Menik mengangguk mengiyakan.
Mama Adrian berdiri dan memeluk menantunya, dia sangat bahagia mendengar kabar ini, demikian juga suaminya.
"Kamu istirahat ya Sayang, jangan capek-capek, kalau pingin apa-apa bilang jangan malu-malu ya," ucap papa Adrian, Menik mengangguk.
Meskipun hatinya pilu namun kasih sayang keluarga Adrian membuat Menik merasa tenang, mereka sangat menyayanginya seperti anak sendiri, Andi juga sangat perhatian dan menjaganya, dia juga sering mengajaknya jalan-jalan jika dia merasa jenuh di rumah.
Orang tua Adrian juga mulai resah karena anaknya tak bisa dihubungi, mereka merasa Adrian sudah berubah, mama Adrian merasa kasihan pada menantunya yang sangat polos dan lugu. Mereka berusaha membuat Menik bahagia dengan selalu membahagiakannya.
udh 2 karyamu yg aku baca 😁🙏🏻
semangat selalu thor.. 💪🏻😘
malang bgt nasib menik.. ortu adrian andi pasti hancur bgt, kehilangan 2 putra nya dlm waktu yg berdekatan 🥺😭
ah author bikin aku mewek aja dech 😭😭😭