NovelToon NovelToon
Antagonis Yang Menghindari Alur

Antagonis Yang Menghindari Alur

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: okolele

Apakah tidak ada pilihan lain?
kenapa sakalinya bertransmigrasi malah ke tubuh Antagonis,lucu sekali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon okolele, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9

Terlihat Malika yang bencekrama hangat dengan Banson,bahkan kini posisi keduanya terlihat seperti sepasang kekasih dengan Banson yang tubuhnya tinggi sementara Malika tubuh Malika pendek, sangat serasi.

Bason juga menyandarka tanganya pada etalase meja sembari menatap Malika.

Malika bahkan seakan lupa bahwa laki-laki yang berdiri di hadapannya ini adalah sosok yang kelak akan menjadi salah satu alasan berakhirnya hidup Malika yang kini tubuhnya ia ambil alih.

Kesadaran itu datang terlambat.

Tatapan Malika tanpa sengaja bergeser ke arah meja paling pojok.

Aira dan Ruka.

Keduanya tengah menatap ke arahnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

Ruka bahkan melambai-lambaikan tangan sambil mengangkat kedua alisnya berulang kali, seolah sedang menggodanya dari kejauhan.

Malika refleks memalingkan wajah.

'Aduh... mereka pasti mulai berpikir yang bukan-bukan'.Ia membatin sembari meringis

Ia berdeham pelan, lalu kembali menatap Banson yang ada di depannya dengan senyum canggung.

"Ehm... kayaknya gue harus cabut dulu."Ujar Malika setelah beberapa detik terdiam.

Banson mengangkat sebelah alis.

"Hm?"

"Gue tadi sebenarnya ke sini mau mesen makan siang,sama sekalian gue liat lo jadinya yah....Lansung aja sekalian gue bayar utang gue."

Malika terkekeh kecil sambil menunjuk deretan stan makanan yang antreannya mulai memanjang.

"Temen-temen gue udah nunggu dari tadi. Kalau gue kelamaan ngobrol, bisa-bisa mereka makan meja kantinnya duluan."

Ucapan itu sukses membuat sudut bibir Banson kembali terangkat membentuk senyum tipis.

'Anjir manis banget nih orang cok, meleyot gue ini mah gue minum kopi pait tanpa gula juga tetap msnis asalkan gue minumnya sambil natap dia'

Pria dengan Kulit tan skin itu Menganggukan kepalanya.

"So?."

Malika menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.

"Senang bisa jumpa sama lo lagi dan thanks akhirnya lo mau juga nerima uangnya."

Laki-laki itu hanya mengangguk pelan.

"Sama-sama."

Sesaat suasana kembali hening.

Tak ada yang bergerak ataupun berbicara lebih dulu.

Malika menggigit pelan bibir bawahnya sebelum akhirnya melangkah mundur selangkah.

"Kalau gitu... gue duluan, ya."

"Ok,Shortie."

Dua kata sederhana itu terdengar begitu datar, dan terdengar samar.

Namun entah mengapa, kalimat itu justru membuat langkah Malika sempat terhenti sepersekian detik.

"Lo ngomong apa barusan?. " Malika mencoba memastikan apa dia salah dengar, Pria ini memanggilnya seperti itu serius?.

"Apa?. " Banson balik bertanya pada Malika.

"Ah ga papa gue tadi salah denger, yaudah gue mesan makananan dulu, see u. "

Banson hanya menganggukan kepala kecil.

Tanpa menunggu lebih lama, Malika berbalik menuju stan makanan.

Begitu tubuhnya membelakangi laki-laki itu, senyum tipis di wajahnya perlahan memudar.

Bodoh... kenapa sih gue malah nyaman mengobrol sama dia?'.

'Padahal kan...'

'Dia salah satu orang yang bakal bunuh gue.'

Nafasnya keluar perlahan.

Tidak.

Ia tidak boleh membiarkan dirinya lengah,hanya karena kenyataan dalam kehidupan ini berbeda dari cerita yang pernah ia baca.

Novel itu mungkin telah berubah sedikit.

Namun sifat asli para tokohnya belum tentu ikut berubah.

________

Laki-laki yang masih berdiri di depan stan minuman itu memandang punggung Malika yang semakin menjauh hingga menghilang di balik kerumunan siswa.

Sorot matanya tampak tenang.

Tidak ada seorang pun yang bisa menebak apa yang sedang ia pikirkan.

Malika.

Nama yang entah mengapa terasa mudah diingatnya.

____________

Di sisi lain, Ruka langsung berdiri dengan heboh dari kursinya begitu melihat Malika menghampiri meja mereka dengan nampan penuh dengan pesan makanan mereka.

"Wih... akhirnya balik juga! Lama banget lo. Jangan-jangan tadi sekalian tukeran biodata?"

Malika meletakkan nampan makanannya di atas meja, lalu mendengus pelan.

"Mulut lo emang gak ada rem."

"Berarti bener, dong?" goda Ruka sambil menyeringai lebar.

Aira hanya terkekeh melihat keduanya.

"Udah, jangan di judge lagi kasihan Malika, biarin mah malika kan lagi pdkt iya gak Li. Lagian cuman sebentar kok? ."

"Sebentar dari mana?" Ruka menunjuk jam tanganya. "liat noh hampir setengah jam."

"Lebay."

"Fakta."

Malika memutar bola matanya malas, lalu menyodorkan sedotan ke arah Ruka.

"Nih."

"Buat apa?"

"Biar kalau ngomong gak terlalu nyembur."

"Halah."

Ketiganya pun kembali larut dalam obrolan ringan, sembari melempar ledekan satu sama lain.

Tak seorang pun menyadari...

Dari balik kerumunan siswa, sepasang mata masih diam memperhatikan meja tempat Malika duduk.

Sorot mata itu datar.

Kenapa akhir-akhir ini dia merasa gadis itu menghindarinya, jika itu adalah trik gadis itu mungkin dia berhasil membuatnya terkecoh.

Sulit ditebak apa yang sedang dipikirkannya selanjutnya.Yang jelas, untuk pertama kalinya, keberadaan seorang gadis bernama Malika berhasil menarik perhatiannya.

__________

Hi, for u🌺.

Jangan lupa tinggalkan vote, komentar, dan ulasan kalau kalian suka sama cerita ini. Dukungan sekecil apa pun berarti banget buat aku dan jadi semangat untuk terus update.

See you next chapter! 🤍

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!