(Warning 19 )
Bijak-bijaklah membaca, ada adegan naik turun, dan mungkin sedikit panas.
Lola Elakshi gadis cantik bermata coklat, berambut ikal bawah. Ibunya meninggal saat melahirkannya.
Ayahnya selalu menyalahkan dirinya atas kepergian Ibunya dan selalu berkata dia anak pembawa sial.
Ayahnya menikah lagi. Setelah umurnya 19 tahun, bisnis Ayahnya bangkrut hingga terlilit hutang yang tidak bisa di bayar.
Suatu hari ada pelelangan di kota mereka, Ibu tirinya berinisiatif membujuk dirinya untuk....
Untuk lebih jelasnya mampir ke Bab ya.. 🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa pria itu menaruh dendam?
Part 34
_______
Tuan muda Andra duduk tak jauh dari meja Aswin, Elakshi dan Revival. Tuan muda Andra terus memperhatikan Elakshi secara diam-diam tanpa sepengetahuan Aswin. Sesekali sudut bibir atasnya tersenyum manis saat melihat Elakshi tertawa.
‘Tidak biasanya tuan muda Andra tersenyum tulus seperti ini. Apa tuan muda Andra menyukai gadis itu.’ Batin anak buah Andra yang terus memperhatikannya.
Tuan muda Andra menatap anak buah yang duduk di sampingnya. “Rachel. Kenapa kamu terus menatapku?”
Anak buah tuan muda Andra yang bernama Rachel memalingkan wajahnya menatap Elakshi yang sedang tersenyum, berbagi canda dan tawa kepada Aswin dan Revival. “Maaf. Apa tuan suka dengan gadis yang duduk di sana?”
Tuan muda Andra yang sedang menyeruput kopi tersedak hingga menumpahkan sedikit kopi di jas yang pakai. “Uhuk. Uhuk.” Tangan kanan meletakkan kembali gelas kopi yang dipegangnya di atas meja.
“Maaf, tuan.” Rachel memberi tisu kepada tuan muda Andra.
Tuan muda Andra membersihkan tumpahan kopi yang tertumpah di jas miliknya. “Tidak apa-apa.” Tuan muda Andra membuka jasnya. “Setelah pulang dari sini kamu urus jas saya yang terkena tumpahan kopi.”
Rachel mengambil jas tuan muda. “Baik.”
Aswin, Revival dan Elakshi berdiri, sepertinya mereka hendak pulang. Aswin dan Revival menundukkan sedikit bagian tubuh mereka menatap tuan muda Andra yang menatap mereka dari meja miliknya.
“Kami pamit pulang dulu.” Ucap Aswin.
Elakshi hanya diam dan berdiri di samping Aswin, ia sedikit mengangguk dengan senyum tipis menatap tuan muda Andra setelah itu ia melangkah pergi terlebih dahulu di susul Revival dari belakang. Itu perintah Aswin saat ia sedang sibuk dan bertemu rekan Bisnis Revival harus menjaga Elakshi dari hal apa pun.
Tuan muda Andra dan Rachel juga ikut berdiri, tuan muda Andra berjalan mendekati Aswin yang masih berdiri.
“Tuan muda Andra mau pulang juga?” Tanya Aswin.
“Ia. Mari kita turun bersama, Presdir Aswin.” Sahut tuan muda Andra sambil mengulurkan tangan kanannya seperti hendak mempersilahkan Aswin berjalan terlebih dahulu.
Sepanjang jalan turun ke bawah tuan muda Andra dan Aswin saling berbicara.
Tuan muda Andra menatap wajah Aswin. “Kalau Presdir Aswin tidak merasa keberatan bagaimana nanti malam saya ajak Presdir Aswin makan malam di tempat yang paling enak. Di sini ada Restoran yang enak dengan pemandangan yang indah saat dilihat di malam hari. Aku ingin mempererat hubungan kerja sama kita, dan selagi Presdir masih di sini aku ingin mengajak kalian jalan-jalan di kota ini. Kota dimana aku dibesarkan.” Ajak tuan muda Andra kepada Aswin.
“Aku tidak bisa memutuskan sekarang, aku akan bertanya kepada tangan kananku terlebih dahulu dan biar dia yang akan memberi pesan kepada Anda tuan muda.” Sahut Aswin. Sebenarnya bukan hanya itu saja yang Aswin pikirkan, ia juga memikirkan Elakshi. Apakah Elakshi mau ikut pergi bersamanya atau tidak, karena Aswin takut membiarkan istrinya terluka di negeri orang jika meninggalkan nya sendiri hanya untuk bertemu orang lain.
...Di Parkiran....
...🤗...
Revival dan Elakshi sudah menunggu Aswin di dalam mobil. Melihat Aswin yang sudah menampakkan dirinya, Elakshi melambaikan tangan kanannya, bibir tersenyum manis menatap wajah Aswin.
Di sisi lain ada seorang pria yang kedua pipinya memerah saat menatap senyum tulus dan manis yang di pancarkan Elakshi, orang itu adalah tuan muda Andra yang merasa jatuh hati kepada senyum dan wajah milik Elakshi.
Tuan muda Andra dan Aswin berpisah di tempat parkir, tuan muda Andra membungkukkan sedikit tubuhnya di samping mobil miliknya mengucap salam perpisahan. Tuan muda Andra berbalik badan masuk ke dalam mobil miliknya yang sudah di bukakan pintu oleh Rachel.
Aswin berjalan mendekati mobil miliknya yang sudah menyala. Aswin masuk dan duduk di samping Elakshi.
Revival menolehkan tubuhnya sedikit kebelakang menatap Aswin yang sedang memakai sabuk pengaman. “Sudah bisa berangkat Presdir?”
“Sudah. Kita langsung ke Hotel saja, sepertinya nona muda kita terlihat mengantuk dan letih.” Ucap Aswin membelai bagian rambut atas Elakshi.
“Baik.” Ucap Revival melajukan mobilnya meninggalkan parkiran.
Tin.
Terdengar suara klakson mobil tuan muda Andra yang melancangi mobil Aswin yang berjalan pelan.
Aswin menolehkan wajahnya menatap wajah Elakshi yang terlihat lelah. Tangan kiri Aswin memegang lengan kiri Elakshi membawa tubuh Elakshi jatuh di atas pangkuannya.
“Presdir.” Ucap Elakshi yang mendongakkan wajahnya menatap Aswin.
“Sebaiknya kamu tidur, aku akan membangunkan kamu ketika kita sudah sampai di Hotel.” Ucap Aswin sambil membelai wajah Elakshi.
“Baiklah.” Sahut Elakshi yang menurut. Elakshi memejamkan kedua bola matanya dan tidur di atas pangkuan suaminya itu.
Aswin menatap Revival dari bangku belakang. “Revival. Tadi tuan muda Andra mengundang kita untuk makan malam, ia bilang dia ingin mempererat hubungan kerja sama dengan mengenal satu sama lain. Bukan itu saja, karena dia sudah lama besar dan tinggal di sini, dia juga bilang selagi kita berada di sini ia ingin mengajak kita berjalan-jalan menikmati kota London. Menurut kamu bagaimana?” Tanya Aswin yang ingin bertukar pendapat kepada Revival.
Revival menoleh sedikit menatap Aswin dari kaca mobil tengah. “Menurut saya bagus. Apa lagi dia orang terkaya nomor 2 dan memiliki bisnis terbesar hampir di seluruh dunia, hal ini bisa memberi sedikit keuntungan bagi bisnis kita.”
“Menguntungkan? Bukannya bekerjasama dengan orang lain juga menguntungkan buat perusahaan dan bisnis kita?” Sambung Aswin menatap serius wajah Revival yang sesekali menatap dirinya dari kaca tengah dalam mobil.
“Keuntungannya berbeda Presdir. Dia itu orang terkaya hampir di seluruh dunia setelah Presdir, terlebih lagi dia agak sedikit narsis dan suka mengekspos dirinya di media sosial. Jika dia terus berbuat baik kepada kita kemungkinan besar program milik kita akan terekspos di media sosial miliknya, orang lain yang tidak mengenal kecanggihan dari program baru yang Presdir buat akan tertarik dan akan banyak lagi Investor yang akan bekerjasama dengan kita.” Sahut Revival menjelaskan tentang keuntungan kepada Aswin.
Aswin mengangguk. “Kamu memang hebat.”
“Siapa dulu.” Sahut Revival sombong.
“Tapi lebih hebat aku yang membuat program baru dan permainan baru.” Sambung Aswin yang ikutan sombong dan tidak mau kalah.
“Ya..ya..” Sahut Revival sambil tersenyum.
“Nanti kamu kirimkan pesan kepadanya, tapi setelah aku meminta persetujuan kepada Elakshi. Mau apa tidak dia ikut pergi bersama kita, jika dia tidak mau aku tidak akan pergi meskipun dia Investor terhormat tapi aku lebih menghormati dan menyayangi keputusan Elakshi, istriku tercinta.” Ucap Aswin memberitahu Revival.
“Kata-kata yang indah Presdir.” Sambung Elakshi yang sudah terbangun, ia membuka mata dan langsung duduk menatap wajah Aswin yang memerah menahan malu.
Aswin memalingkan wajahnya ke kanan.
‘Kenapa dia bangun, aku ‘kan jadi malu jika dia mendengar semua percakapanku yang sangat mencintai dirinya.’ Batin Aswin.
Elakshi mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menatap Revival yang masih fokus mengemudikan mobilnya. “Kita mau pergi kemana?”
Revival menoleh sedikit ke samping kiri menatap Elakshi yang sedang memepetkan tubuhnya ke bangku penumpang depan. “Kita di ajak makan malam sama tuan muda Andra, supaya bisa kenal satu sama lain sebagai rekan kerja.”
“Apa.” Ucap Elakshi spontan.
“Kenapa?” Tanya Aswin dan Revival secara serentak.
Elakshi tersenyum manis menatap Aswin. “Tidak. Aku hanya sedikit terkejut saja.” Sahutnya kaku. Elakshi memalingkan wajah paniknya, ia menggigit jari jempol tangan kanannya. "Kenapa aku selalu berjumpa dengan pria itu sih. Apa dia menaruh dendam padaku." Gumam Elakshi pelan.
“Kalau kamu tidak mau, kita tidak akan pergi.” Ucap Aswin, tangan kiri memegang punggung tangan kanan Elakshi.
Elakshi segera menolehkan wajahnya menatap wajah Aswin yang sedang menatap dirinya. “Jangan. Kita pergi saja.”
...Bersambung.......