WARNING!!!
Area 21+🔥🔥
HARAP BIJAK DALAM MEMILIH BACAAN YA.
Martin Williams, seorang pemuda berusia 26 tahun dititipkan seorang anak gadis berusia 05 tahun oleh sahabatnya yang meninggal karena menderita penyakit kanker getah bening stadium akhir.
Martin awalnya akan menyerahkan anak gadis tersebut kepada ayahnya yang keberadaannya belum diketahui. Namun, saat ia mengingat kembali ucapan Larissa, ibu dari gadis tersebut, Martin memutuskan untuk mengurungkan niatnya.
"Martin, kumohon jaga putriku, aku percaya kamu akan merawatnya dengan baik. Dan aku mohon, jangan sekalipun kamu menyerahkan Ayu pada ayahnya, dia bukan ayah yang baik, aku tidak bisa mempercayakan Ayu pada ayahnya untuk dirawat olehnya. Ku mohon."
Martin pun mau tidak mau mengiyakan dan memutuskan untuk merawat Ayu juga menganggapnya sebagai putrinya sendiri. Namun, saat usia Ayu menginjak 18 tahun, Martin malah jatuh cinta pada putri angkatnya tersebut dan bertekad akan menjadikan Ayu sebagai wanitanya. Bagaimanapun caranya. Tidak peduli dengan usianya yang hampir menginjak kepala empat.
Bagaimanakah Ceritanya? Yuk kita ikuti perjalanan cinta Om Martin yang penuh dengan kekonyolan.
IG: @el_gazendra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El_Gazendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter-34
Part bonus untuk David dan Hanna
***
"Jadi kamu orang yang sudah nyuri dompet saya?!" Bentak David tak habis pikir dengan raut emosinya, ia merasa dibodohi oleh gadis yang usianya jauh dibawah darinya.
Dulu ia dengan begitu bodohnya ditipu oleh seorang pemulung yang menurutnya hanya kaum bodoh. Sampai-sampai ia tidak mengetahui juga tidak menyadarinya selama bertahun-tahun lamanya, David pun mau tidak mau harus membuat KTP baru serta kartu-kartu penting lainnya saat itu. Dan hal ini membuat David geram pada Hanna juga pada dirinya sendiri karena dalam hal ini ini ialah yang pantas disebut bodoh. Walaupun begitu David tetap men-cap Hanna lah yang bodoh juga gadis sialan yang sudah menyusahkan nya.
Hanna menunduk dalam seraya terisak, ia takut saat mendapat bentak kan dari David. Ia mau tidak mau harus berkata jujur pada David tentang kebohongannya selama ini karena selama bertahun-tahun ini ia sangat terbebani oleh kebohongan juga kejahatannya yang sudah ia lakukan pada David, mencopet termasuk tindakan kriminal kan?
"Ma-af.."
"Dasar gadis bodoh! Semudah itu kamu meminta maaf? Hah! Perlu kamu ketahui, saat kamu mencuri dompet saya, saya harus kelimpungan mengganti ini dan itu. Kamu tau? Aku bahkan tidak bisa menemani hari-hari terakhir Ibuku karena semua gara-gara kelakuan bodoh kamu! Saya tidak bisa pulang karena kartu-kartu penting saya ada pada kamu dasar gadis pencuri! Gadis bodoh! Bang-sat!!" Ucap David keras tepat dihadapan wajah Hanna.
Prangg!!
Prangg!!
Piring serta gelas kaca menjadi sasaran amukan David.
David tidak bisa menahan amarahnya, ia begitu marah apalagi saat mengingat hari dimana ia tidak bisa pulang karena paspor serta kartu identitasnya hilang. Ia tidak bisa melihat senyum terakhir ibunya, seseorang yang menjadi semangatnya, seseorang yang menjadi tempat ia pulang ke pulau sebrang.
Mau tidak mau ia pun meminta bantuan pada Martin karena saat itu ia benar-benar kalut. Kabar kematian ibunya sungguh mendadak, padahal beberapa bulan sebelum ia berangkat merantau ke Jakarta lagi, ibunya dalam keadaan sehat.
Walaupun pun saat itu ia akhirnya bisa pulang dengan diantarkan oleh helikopter pribadi milik Martin, namun saat itu raga ibunya sudah mati, tidak ada kehangatan lagi yang ia rasakan, hanya dingin dan kaku. Hal itu membuat David merasa sangat marah dan kecewa pada dirinya sendiri karena tidak bisa menemani saat-saat terakhir ibunya.
Rasa ikhlas kehilangan dompetnya pun saat itu berubah menjadi benci juga dendam pada seseorang yang sudah berani mengambil barang miliknya, David berjanji akan memberikan hukuman yang setimpal untuk orang itu.
Dan kini, orang yang paling David benci dan juga paling ditunggu pertemuannya kini lebih dulu menghampirinya tanpa harus bersusah payah mencarinya.
Hanna menunduk dalam, tubuhnya gemetaran karena sangat takut melihat kemarahan David. Hanna tidak menyesal sudah berkata jujur, tapi ia sangat menyesal karena ia sudah menjadi penyebab penderitaan David dan ibunya.
"Diaaam!! Jangan menangis kau sialan!!" Teriak David murka, ia muak mendengar isakan Hanna, seakan Hanna lah yang menjadi korban dan bukan dirinya.
Hanna terhenyak kaget, dengan susah payah ia menahan suara tangisannya. Tapi tetap saja ia tidak bisa menahannya karena saking takutnya pada David.
Tiba-tiba pintu dibuka dengan sedikit kasar oleh seseorang. Beni yang tak lain adalah pemilik restoran tersebut datang dengan raut khawatirnya. Ia langsung berjalan cepat menghampiri Hanna yang tengah menangis terisak.
Beberapa saat lalu ia menunggu kedatangan Hanna yang tengah mengantarkan menu pesanan pada tamu penting, namun tiga puluh menit menunggu, Hanna belum juga kembali sehingga membuat Beni bertanya-tanya. Mau tidak mau Beni pun menyusul karena merasa ada yang tidak beres, saat sampai tepat didepan pintu ruangan VVIP yang disambangi Hanna. Beni tiba-tiba mendengar suara bentak kan seseorang karena kondisi pintu yang tidak tertutup rapat. Akhirnya Beni memilih masuk seraya membuka pintu sedikit kasar, dan ternyata benar Hanna masih ada di sana dan tengah dimarahi oleh tamu penting itu.
"Sayang.. Kamu kenapa? Udah jangan nangis." Beni membingkai kedua pipi Hanna sembari menyeka air mata yang mengalir deras dikedua pipi Hanna dengan perasaan sakit, lalu membawanya kedalam pelukannya.
"Anda siapa? Hah! Berani-beraninya Anda masuk sembarangan! Keluar! Dan jangan ikut campur dengan urusan kami " Tanya David emosi, belum selesai mengurus Hanna, kini ditambah lagi satu orang yang mau mencari masalah dengannya.
Seketika Beni menoleh seraya menatap tak kalah tajam pada David. Ia sangat tahu siapa David, orang yang sangat berpengaruh karena David adalah tamu istimewanya yang merupakan tangan kanan dari pengusaha sukses, tapi kalau sudah berani menyakiti bahkan sampai menangisi kekasihnya ia tidak bisa lagi berlaku sopan pada tamunya tersebut.
"Saya pemilik restoran ini! Dan saya berhak ikut campur karena gadis yang tengah anda marahi adalah kekasih saya!" Ucap Beni dengan nada rendah tetapi menyiratkan kemarahan yang tengah ditahan.
David sedikit terhenyak, namun ia sudah tidak peduli. Mau pemilik atau bukan, kalau orang tersebut sudah berani ikut campur dengannya, berarti orang tersebut sudah cari masalah dengannya.
David tersenyum sinis seraya menatap Beni dengan culas-nya.
"Oh.. Jadi Anda kekasih gadis pencuri ini?" Tanya David meledek pada Beni, namun Hanna yang menjadi gelagapan. Ia tidak ingin David memberitahukan masa lalunya pada Beni.
Beni mengerut, emosinya semakin bertambah saat mendengar Hanna dituduh seperti itu "Apa maksud anda Hah?! Kekasih saya bukan pencuri! Beraninya menuduh kekasih saya dengan yang tidak-tidak!"
David sedikitpun tidak merasa ter-gertak, ia malah tersenyum sinis saat melihat kebodohan laki-laki di hadapannya.
"Tidak masalah kalau kamu tidak percaya, coba tanyakan saja pada kekasih tercintamu itu.."
Beni berusaha menahan amarahnya supaya tangannya tidak memukul sembarangan, matanya melirik pada Hanna yang tengah menunduk dalam, seakan sedang menunggu pertanyaan darinya.
"Sayang..." Panggil Beni lembut, namun tetap membuat Hanna terhenyak.
Entah kenapa David merasa jijik mendengar panggilan alay itu menurutnya, kenapa juga ia merasa tidak suka saat melihat tangan Beni membelai kembali kedua pipi gadis pelayan itu.
Hanna mengangkat wajahnya takut-takut. Ia takut Beni akan membencinya jika mengetahui masa lalu yang ia sembunyikan.
"Benarkah yang dia katakan? Jujur saja, aku gak akan marah sama kamu.." Titah Beni lembut sembari tersenyum hangat.
Hanna menatap Beni takut-takut, lalu entah kenapa matanya malah menatap David juga yang jelas-jelas tengah menatapnya tajam.
Dengan cepat Hanna mengalihkan tatapannya dari David, lalu menatap kembali pada Beni.
Hanna terdiam, beberapa saat kemudian ia mengangguk dengan pelan. "Maaf.." Hanya kata itu yang mampu terucap dari bibirnya. Hanna pasrah jika Beni akan membencinya karena masa lalu buruknya itu.
Bukannya marah, Beni malah tersenyum manis pada Hanna, tidak ada raut marah ataupun kecewa di wajah kekasihnya tersebut.
"Tidak apa, semua orang pasti punya masa lalu, yang penting sekarang kamu sudah berubah. Aku yakin saat itu kamu pasti sedang terdesak saat melakukannya." Tutur Beni lembut sehingga membuat Hanna langsung menatap Beni bertanya.
"Kamu- gak marah?" Tanya Hanna pelan.
Beni sontak menggeleng, "Kenapa harus marah? Aku tau yang dulu kamu lakukan itu salah, tapi setiap kesalahan yang diperbuat pasti ada alasan di belakangnya. Dan aku yakin pasti kamu ada alasan melakukan hal itu.."
Hanna tersenyum lega, ia mengira Beni akan kecewa, tapi ternyata Beni memaafkan kesalahan masa lalunya.
David yang sedari tadi melihat adegan tersebut malah dibuat emosi, dirinya mengira laki-laki tersebut akan langsung memutuskan Hanna supaya Hanna menderita, tapi kenyatannya laki-laki tersebut malah memaklumi nya?
Dasar bodoh!!!
"Pasangan yang sangat cocok, satunya predikat pencuri dan satunya lagi predikat bodoh! Semoga hubungan kalian tidak langgeng..." Ucap David mencibir seraya menatap keduanya menghina.
Emosi Beni seketika terpancing saat mendengar Hanna di hina, ia tidak peduli jika dirinya yang dikatakan bodoh, tapi jika menyangkut Hanna, ia tidak bisa memaafkan.
"Tuan Davidson yang terhormat! Saya bisa Terima jika anda mengatai saya bodoh, tapi jika anda sudah berani mengatai kekasih saya pencuri, maka saya akan berikan satu hadiah untuk anda.."
Bugh!!
Satu bogem-an mentah tepat mengenai pipi kiri David sehingga membuat David langsung tersungkur.
"Sekali lagi anda berani mengatai kekasih saya dengan kata-kata itu, maka saya tidak akan segan-segan memukul anda lagi!" Kecam Beni dengan emosinya.
David membuang ludah saat merasakan rasa asin di sudut bibirnya, sepertinya sudut bibirnya robek. Dengan santai David berdiri lalu melangkah mendekati Beni dengan senyum sinis nya.
"Anda kira saya takut dengan ancaman receh anda? Memang fakta kan jika gadis pemulung itu adalah gadis pencuri! Ouww apa jangan-jangan dia juga sudah menambah profesi menjadi wanita ja-lang?" Tanya David dengan tanpa perasaan, ucapannya begitu syarat tanpa beban.
Emosi Beni seakan sudah sampai di ubun-ubun, "Setan!!!" Beni akan melayangkan kembali tinjuan-nya pada pipi David, namun tangan kiri David sudah lebih dulu menangkis nya lalu berbalik memberikan bogem mentah tepat di bagian perut Beni.
Bugh!!
"Aaaaa.. " Hanna Tersentak saat melihat Beni tersungkur ke lantai.
David menarik kerah Beni lalu mengangkatnya paksa.
Bugh!!
Lagi-lagi David memberikan pukulan ditempat yang sama sehingga membuat Beni terbatuk karena merasakan sesak.
"Aaaaa hentikan! Ku mohon hentikan!! Jangan pukul Kak Beni!!" Teriak Hanna histeris, apalagi saat melihat raut kesakitan kekasihnya.
Amarah David semakin bertambah saat mendengar teriakan khawatir Hanna. Entah kenapa ia merasa marah saat Hanna mengkhawatirkan Beni, sedangkan saat ia yang dipukul, Hanna diam saja.
Demi menghilangkan emosinya, David memberikan dua pukulan lagi tepat di pipi kiri Beni tanpa ampun, sehingga membuat Beni langsung tidak sadarkan diri.
"Kak Beni!!! Hiks hentikan!! Jangan pukul dia lagi sialan!!" Hanna tidak bisa menahan amarahnya lagi saat melihat orang yang sangat dicintainya tidak sadarkan diri. Ia memukul punggung David dengan sekuat tenaganya untuk mengeluarkan kemarahannya.
Namun pukulan Hanna bagi David hanya terasa seperti pukulan anak kecil. David berbalik lalu menahan kedua tangan Hanna.
"Diam!" Gertak David sehingga membuat Hanna langsung terdiam, namun beberapa saat kemudian ia tersadar, ia tidak boleh takut lagi pada David, pikirnya.
"Enggak! Aku gak bakalan diam karena kamu sudah membuat Kak Beni pingsan! Aku akan laporin kamu ke kantor polisi karena kasus penganiayaan!" Ancam Hanna emosi.
David tersenyum sinis. "Laporkan saja, aku tidak takut.. Tapi sebelum itu, aku akan bersenang-senang dulu denganmu... Ternyata kamu cantik juga ya.." David terkekeh dengan tatapan sinis nya, sehingga membuat Hanna bergidik ngeri.
"Brengsek! Kamu jangan macam-macam ya! Aku sudah mengembalikan dompetmu! Dan mulai sekarang kita tidak ada masalah apa-apa lagi!" Hanna meronta ingin melepaskan kedua tangannya dari cengkraman David, namun usahanya selalu gagal karena cekalan David sangat kencang sehingga membuat pergelangan tangannya terasa sangat sakit.
"Wow, semudah itu ya kamu berbicara. Dengarkan ya gadis cantik. Walaupun kamu sudah mengembalikan Dompetku beserta isinya, namun sekarang aku sudah tidak membutuhkannya. Dan untuk uang yang sudah kamu ambil, itu tetap harus dibayar. Mungkin dengan tubuhmu tidak masalah.." Ucap David pelan dengan tenangnya.
"Kamu laki-laki brengsek!! Sampai kapanpun aku gak akan mau memberikan tubuhku sama laki-laki bajingan kayak kamu!" Teriak Hanna murka, harga dirinya serasa direndahkan oleh laki-laki yang tak ubahnya manusia gila bagi Hanna.
"Hahaha tidak kamu berikan pun, aku akan mengambilnya sendiri... Jangan takut, aku akan melakukannya dengan sangat lembut. Kamu hanya perlu menikmatinya saja, Oke? mau dihotel apa di apartemen?" Tanya David terkekeh jahat seraya mencolek dagu Hanna genit.
Hanna menepisnya kasar. "Jangan sentuh aku! Brengsek sialan!! Lepasin!!!" Teriak Hanna histeris, ia kini takut saat melihat keseriusan di mata David.
David tertawa jahat, lalu memukul tengkuk Hanna kencang, tak lama kemudian Hanna terkulai lalu jatuh tak sadarkan diri tepat dipangkuan David.
"Saatnya bermain-main gadis pencuri..." Gumam David tersenyum penuh misteri, lalu membawa Hanna kedalam pangkuannya kemudian melangkah membawa Hanna keluar dari ruangan VVIP tersebut meninggalkan Beni yang masih tergeletak pingsan.
skip..malas gw baca😪