Jika biasanya seseorang dijodohkan dengan orang berbeda levelnya, maka berbeda dengan Seorang pewaris Dari Keluarga Kingston. Aorion kingston di Jodohkan dengan seorang wanita yang jati dirinya disembunyikan, namun wanita tersebut adalah seorang Anak dari Triliuner di London. Alona Queen Hanzel.
Keduanya di jodohkan karna ikatan persahabatan antara keluarga Kingston dan Hanzel.
Dapatkan keduanya menerima perjodohan ini..? hubungan yang dipenuhi dengan begitu banyak intrik dan juga pertumpahan darah.
Ataukah masing-masing dari mereka memiliki takdir yang lain..?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Christ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali bersama, jujurlah
...ENJOY...
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
"Selamat pagi tuan Aorion."
Jhon, kepala pelayan di kediaman Hanzel menyambut kedatangan Aorion.
"Selamat pagi. Aku akan menemui tunangan ku." ujar Aorion langsung berlalu melewati Jhon.
Pukul 6 pagi waktu setempat, Aorion sudah berada dikediaman keluarga Hanzel.
Kali ini ia tidak akan membiarkan Queen pergi lagi dari pengawasan nya.
Tunangannya itu sudah terlalu sering mengabaikan dirinya, bahkan Queen juga terlalu banyak menyimpan rahasia dari dirinya.
Aorion ingin bertanya secara langsung kepada Queen, tapi sepertinya wanita itu belum menganggap hubungan mereka sedekat itu untuk bisa saling terbuka.
Selain itu, tidak hanya Queen.- Aorion pun terlalu banyak menyimpan rahasia yang hanya diketahuinya seorang diri.
Ia juga belum sepenuhnya membuka diri kepada tunangan nya itu.
Baik Aorion maupun Queen, mereka adalah tipe Yang sama. Mereka bukanlah orang Yang mudah berbagi perasaan dengan mudah.
Jhon mengikuti di belakang Aorion dengan cepat;
"Sepertinya nona belum bangun tuan." ujar Jhon memperingati.
Jhon sangat mengenal nona mudanya itu. Queen akan sangat tidak senang jika ada yang menggangunya di pagi hari.
"Aku tau, karena itulah aku datang. Aku akan membangunkan tunanganku sendiri." sahut Aorion sedikit arogan.
Aorion tidak suka dibantah, ataupun dihalang-halangi. Semua orang harus tau dimana posisi mereka; dan Aorion, dia adalah calon menantu di dalam keluarga Hanzel. Seorang kepala pelayan tidak berhak mencegahnya seperti saat ini.
"Baik tuan,- Sahut Jhon dengan tenang. Jika sudah seperti ini, pria paruh baya itu hanya bisa menundukkan kepalanya patuh.
"Setelah menaiki tangga menuju lantai tiga dimana kamar Queen berada, Aorion sengaja mengetok pintu dengan lebih keras agar bisa langsung membangun kan kekasihnya itu.
Tok.. Tok..
Tok.. Tok..
Tidak ada sahutan atau pun pergerakan dari pintu yang ada di depan nya;
Sekali lagi Aorion mengetok dengan lebih keras; lebih tepatnya ia menggedor pintu itu.
Mendengar suara bising dari pintunya; Queen pun terbangun dari tidurnya.
Queen melirik kepada jam yang terpasang begitu elegan di dindingnya; waktu masih menunjukan pukul 6 pagi.
"Oh God!"
Queen meraba kepalanya yang terasa berdenyut, sambil mengingat-ingat dimana terakhir kali ia meletakan remote kontrolnya;
Tidak ada pelayan di dalam kediamannya yang berani melakukan hal seperti ini kepada Queen; tidak Ayahnya, dan tidak juga saudaranya, Kevin.
Jadi hanya ada dua kemungkinan; Jika bukan Frank, maka yang lebih berpotensial untuk merusak paginya adalah Aorion, tunangannya sendiri.
Setelah mendapatkan remote kontrol yang tergeletak di bawah bantalnya; pintu kamar Queen pun terbuka, dan memang benar; Pria menyebalkan itu berdiri dengan memamerkan senyum tak bersalahnya telah mengganggu pagi Queen dengan kebisingan.
Oh, satu lagi- dasar pria kaku!
"Morning Lilie " sapa Aorion seraya melangkah kan kakinya memasuki kamar Queen.
Setelah pintu kamar tertutup dengan otomatis, Queen kembali masuk ke dalam selimutnya; ia merasa berkewajiban untuk meladeni tunangannya yang sedang kurang kerjaan itu.
"Lilie, kau ingin tidur lagi?" Tanya Aorion melihat Queen yang kembali bersembunyi di balik selimutnya.
"Apa kau sedang merasa bosan Rion? kau tau sekarang jam berapa?" ucap Queen malas.
"Aku memang sengaja datang lebih pagi karena ingin membangunkan mu sayang; ini seperti latihan untuk membiasakan diri.-
"Kita akan menikah dalan waktu dekat, dan setiap pagi kau pasti akan melihat ku, jadi aku ingin melatih diriku untuk menyambut mu di pagi hari." Jelas Rion dengan ceria.
Queen tidak habis pikir. Apa yang membuat lelaki itu bisa berpikir demikian.
Jika pun nanti mereka akan menikah, bukankah mereka hanya perlu menjalaninya saja seperti saat ini?
Kenapa harus berlatih atau apapun itu? Tapi masa bodoh, mereka tidak akan menikah. Queen tidak bisa menikahi seorang mafia, sementara ia juga seorang mafia.
"Terserah kau saja! Aku akan kembali tidur, aku akan bangun tepat pukul delapan, jadi tolong jangan ganggu aku." peringat Queen, lalu kembali tidur.
"Yah.. baiklah. Sebenarnya aku juga bangun terlalu pagi. Jadi kurasa aku akan kembali tidur juga." sahut Aorion.
Pria itu bergerak ke sisi lain Queen, kemudian menyingkap selimut kekasihnya untuk ikut berbaring di atas tempat tidur yang sama.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Queen kembali membuka mata saat merasakan ada pergerakan di atas tempat tidurnya.
"Tidur. Apa lagi?- Sahut Aorion.
Wanita itu hanya menghembuskan nafasnya; sekarang masih terlalu pagi untuk berdebat, lagipula laki-laki di depannya adalah Aorion;
"Terserah kau saja." ujar Queen lagi.
"Memang terserah aku,- tidurlah sayang, aku tidak akan mengganggu mu." balas Aorion.
Aorion mencari tangan Queen untuk di genggam; kemudian ia juga ikut memejamkan mata, siapa tau ia juga bisa melanjutkan tidurnya.
...❄️❄️...
...Di lantai dasar.....
"Selamat pagi uncle." sapa Kevin yang baru turun dari dalam kamarnya.
"Selamat pagi tuan muda." Jhon menundukkan kepala dengan sopan.
"Aku melihat mobil Aorion dari balkon kamar ku, apa dia disini?" Tanya Kevin yang memilih untuk duduk di ruang keluarga sambil menikmati kopi seperti biasa.
"Tuan Aorion memang berada disini tuan,- tuan Aorion sedang menemui nona muda." jelas Jhon.
"Sepagi ini?"
"Bahkan lebih pagi tuan." sahut Jhon lagi.
"Apa uncle tidak mendengar perkelahian?" Tanya Kevin lebih pelan.
Jhon menggelengkan kepalanya;
"Waw..! aku tidak tau kalau Alona akan berubah secepat ini.- gadis itu tidak pernah suka jika ada yang mengganggunya di pagi hari, tapi hari ini? waw. Apa menurut uncle ini berita yang baik?'' Tanya Kevin.
"Semoga saja tuan,- sahut Jhon.
"Dimana Ayah, apa sudah bangun?" Tanya Kevin lagi.
"Tuan besar masih berada di kamarnya tuan muda."
"Begitukah? hem, kalau begitu panggilkan Aorion katakan aku tidak ingin minum kopi sendiri. Sebagai calon kakak iparnya, bukankah ini sebuah permintaan yang wajar uncle?" Kevin menyunggingkan senyum.
"Anda benar tuan. Saya akan minta pelayan menyampaikan pesan anda."
"Kau bisa pergi uncle, aku akan menunggu Aorion disini." perintah Kevin pelan.
"Baik tuan muda."
Setelah kembali masuk ke ruang staf, Jhon segera menelpon ke kamar Queen untuk menyampaikan pesan dari tuan muda keluarga Hanzel.
Panggilan itu baru terjawab setelah dering ke tiga, dan yang menjawabnya adalah Aorion sendiri.
"Hallo..?" jawab Aorion dengan suara serak, karena ia sempat terlelap sejenak;
"Maafkan saya karena mengganggu anda tuan, saya ingin menyampaikan pesan dari tuan Kevin, bahwa beliau sedang menunggu anda untuk menemaninya menikmati secangkir kopi." ujar Jhon.
"Baiklah, aku akan turun sebentar lagi."
Setelah meletakan kembali ganggang telpon ke tempatnya; Aorion mengusap pelan wajahnya yang terasa kaku. Sementara kekasihnya masih tertidur pulas di samping nya.
Aorion melirik kepada arloji ditangannya; waktu sudah menunjukan tepat pukul delapan pagi. Aorion menyunggingkan senyum saat melihat Queen yang masih tertidur dengan begitu pulas.
"Apakah ini yang di maksud bangun tepat pukul delapan?" gumam Aorion pelan. Ia menyingkirkan sejumput rambut yang menutupi wajah Queen.
"Bangunlah sayang, sekarang sudah tepat pukul delapan pagi." ujar Aorion sambil membelai pelan wajah Queen.
"Jangan menyentuh wajah ku sembarangan Rion, wajah ku sensitif." gumam Queen masih dengan mata terpejam.
"Apa? hahahaha.. kau sangat lucu sayang. Tidak hanya hatimu yang sensitif, tapi wajahmu juga? benar-benar!"
"Kau kan bukan wanita, mana kau tau tentang kulit sensitif atau tidak." balas Queen seadanya.
Aorion kembali tertawa,
"Kau tau sayang, ini seperti perdebatan manis di pagi hari. Aku sangat menyukainya. Terlebih lagi kau begitu cantik dan menggoda dengan homewear seperti ini." sahut Aorion.
"Keluarlah. Aku akan mandi sekarang." perintah Queen dengan ketus seperti biasanya.
"Ya.. ya.. baiklah. Aku akan menemui kakak mu dibawah, jangan berdandan terlalu cantik sayang, atau aku akan menculikmu dan mengurungmu di penthouse ku."
"Aku akan kabur dengan mudah dari sana." sahut Queen lagi.
"Aku akan memenuhi rumah dengan bodyguard sehingga kau tidak bisa kabur."
"Aku bisa melumpuhkan anak buah mu tanpa kau ketahui; Terjawab sudah rasa penasaran Aorion. Kekasihnya itu bukanlah wanita biasa yang lemah dan manja;
"Ahh benarkah? wanita ku memang luar biasa.- bangunlah, Kevin sudah menunggu kita." sahut Aorion mengalihkan pembicaraan.
Ia mencium kening dan juga pipi Queen sebelum bangun dari atas tempat tidur. Jika seperti ini, mereka memang sudah seperti seorang pengantin baru.
"Aku akan menunggu mu di bawah sayang; jangan terlalu Lama membiarkan aku bersama Kevin." Seru Aorion sambil melangkah keluar dari kamar.
Setelah Aorion meninggalkan kamarnya; Queen pun bangun untuk membersihkan diri.
Tanpa sadar ia sudah masuk ke dalam jebakan Aorion.
Seharusnya Queen sadar lebih cepat; kini Aorion pasti akan mulai menyelidikinya lagi.
Tiga puluh menit kemudian, Queen sudah rapi dengan mengenakan baju formal nya; Ia dan Frank akan segera kembali ke Singapore jadi ia akan langsung bersiap.
"Morning Jane.. " Sapa Frank pelan saat Queen tiba di dasar tangga.
"Jangan berulah Frank, jangan sampai ada yang mendengar mu." peringat Queen.
"Ah- baik nona, maafkan aku." Frank berubah formal.
"Kita akan langsung pergi ke Airport setelah sarapan, aku harap kau sudah bersiap."
"Aku sudah siap sejak awal nona." sahut Frank.
Keduanya kini sedang menuju ke ruang makan, dimana yang lain nya sudah berkumpul. "Selamat pagi Ayah.. " sapa Queen mencium pipi Abraham.
"Selamat pagi my Queen." balas Abraham menyambut putri kesayangan nya.
"Morning Kev, Rion." sapa Queen seadanya;
selamat pagi juga untuk mu Uncle.." tambah Queen, jauh lebih ramah dari sebelumnya.
"Selamat pagi juga nona muda." sahut Jhon sambil menunduk kan kepalanya.
"Karena semua orang sudah berkumpul, sebaiknya sarapannya kita mulai saja." Abraham bersuara.
Semua orang pun sarapan dengan tenang, dan tidak saling mengusik satu sama lain. Dan sarapan pun berakhir dengan tenang.
"Sayang, Ayah akan pergi ke kantor sekarang, berhati-hatilah saat kembali, Ayah akan merindukan mu. Sering-seringlah datang kemari bersama Aorion." kata Abraham pada putrinya.
"Baik Ayah, akan aku usahakan, terutama jika pekerjaan ku tidak sedang padat." sahut Queen.
"Aku akan pergi bersama papa- Aorion, kau bisa menjaga tunanganmu bukan?" Tanya Kevin sambil menyunggingkan senyumnya.
"Jangan khawatir. Aku akan menjaga Lilie dengan baik." sahut Aorion.
"Baiklah kalau begitu kami akan pergi sekarang.- sela Kevin lagi.
"Sayang, Ayah pergi. I love you." Abraham mencium kening putrinya.
"I love you too Ayah, Kevin; Take care."
"Aorion, kami pergi.."tambah Kevin berpamitan.
Aorion menganggukkan kepalanya samar;
Setelah Abraham dan Kevin pergi, hanya ada mereka bertiga yang masih melanjutkan makan mereka.
"Aku selesai, aku akan mengambil tas ku." ujar Queen berlalu meninggalkan mejanya. Tak lama setelahnya, Frank juga membereskan peralatan makannya; lalu bangkit dari tempat duduknya;
"Aku juga permisi tuan, aku harus bersiap-siap juga." pamit Frank. Secara reflek Aorion menghempaskan tangan nya ke atas meja;
Namun Aorion tidak bersuara; ia juga menyeka mulutnya lalu bangkit dari kursinya meninggalkan Frank yang masih mematung di tempatnya.
"Ada apa dengan pria itu? selera Jane memang aneh!" gumam Frank menggelengkan kepalanya.
Dalam waktu kurang dari satu jam, ketiganya sudah berada di landasan pribadi keluarga Kingston; tidak ada protes yang keluar dari mulut Queen saat Aorion membawanya untuk kembali dengan Jet pribadi pria itu; bahkan sebenarnya Queen sudah bisa menebaknya dengan sempurna.
Apalagi yang akan dilakukan pria itu selain berusaha mengendalikan kehidupan Queen;
Queen merogoh kantong nya saat benda pipih di dalam sana bergetar;
"Hallo Dav..?"
"Hem. Aku baik-baik saja. Aku sedang di dalam pesawat, kami akan kembali sekarang."
"Jangan khawatir,- terimakasih Dav.."
Setelah mengakhiri panggilan dari David; Queen mematikan ponselnya.
"Kau ingin minum sesuatu sayang?" tawar Rion.
"Tidak Rion, aku akan ke cabin saja." sahut Queen lalu bangun dari tempatnya;
"Frank, jika kau ingin istirahat tanyakan saja cabin mu pada Luca, dia akan membantumu." tambah Queen.
"Baik nona, disini sudah sangat nyaman." sahut Frank Yang mengerti sorot mata sinis dari pria yang berdiri di samping Jane;
"Baiklah, terserah kau saja." balas Queen malas, kemudian berlalu. "Jangan mengikuti ku Rion, aku ingin bekerja." peringat Queen.
"Aku hanya ingin mengantarkan tunangan ku saja." balas Rion. "Luca, layani tamu kita." ujar Aorion melirik pada Frank.
"Baik Tuan." sahut Luca.
Setelahnya Queen dan Aorion berlalu, Frank memberi kode kepada Luca bahwa ia tidak membutuhkan apapun, karena itu Luca pun kembali ke posisinya.
"Kau benar-benar ingin bekerja sayang?"nTanya Aorion saat keduanya sudah tiba di Cabin utama.
"Kenapa? kau ingin mengganggu ku? atau mungkin kau ingin membagikan sedikit bocoran tentang hotel mu?" Tanya Queen pada Aorion.
"Jangan terlalu serius sayang, bukankah selama ini kau juga sudah bekerja sangat keras diluar sana, benarkan?"
"Jangan memancingku Rion, kau tidak akan mendapatkan apapun dari ku. Sebaik nya henti kan saja apa yang ada di dalam pikiran mu saat ini." sahut Queen, dengan sebenarnya.
Aorion sedikit tak mengira jika insting seorang Queen begitu tajam; sepertinya permainan berulang tidak berlaku pada wanitanya.
"Apa yang kau katakan sayang? memancing apa?- Aku tidak mengerti Yang kau pikirkan.- jika kau mengatakan tentang apa Yang ku pikirkan dan apa yang ku inginkan saat ini, - maka jawabannya hanya satu yaitu dirimu!"
Aorion merapatkan tubuh keduanya, ia melingkarkan tangan nya di pinggang Queen sambil menatap wanita itu penuh ke kekaguman.
"Lepaskan aku Rion, aku benar-benar ingin bekerja, tolong tinggalkan aku sendiri." pinta Queen berusaha melepaskan pelukan Rion.
"Oke.. oke.. aku akan melepaskan mu sayang, tapi sebelumnya berikan aku sebuah ciuman." balas Rion.
"Lakukan saja sesuka mu, tapi jangan lama-lama, aku benar-benar harus bekerja." peringat Queen. Nah lihat kan? Bagaimana Aorion bisa menganggap serius perkataan nya, jika dirinyalah yang selalu memberi peluang bagi pria itu.
"Tidak akan Lama, jika kita mulai sekarang Lilie."
Aorion menatap manik biru bercampur gelap di hadapannya saat ini. Mata yang begitu indah yang pernah ia temui dari begitu banyak wanita yang sudah pernah bersamanya.
Queen adalah yang tercantik, dan yang juga paling berbeda; wanita pertama yang membuat Aorion mau melakukan apa saja demi mendapatkannya;
"Aku benar-benar mencintaimu Lilie, sangat mencintaimu. Apakah rasa cinta ku tak bisa menggetarkan hatimu?" Aorion berkata lirih, sambil mencium cuping Queen.
''Bukankah sudah ku katakan, aku tidak hanya membutuhkan cinta mu Rion. Tapi lebih dari itu.. maka..'' Jujurlah padaku, maka aku akan mempertimbangkan pernikahan ini.
"Maka...?"
"Pergilah. Aku harus bekerja."
"Cih. Dasar wanita dingin."
...❄️...
...❄️...
...❄️...
dan perasaaan cinta David yg TDK bersambut.
oleh queen.tapi...
selamanya sahabat sejati...tiada yg mengkhianati.semuanya selesai dg baik dan masing masing dpt menerima keputusan nya.
senang lihat queen bersatu dg Rion.
pokoknya ceritamu thort....
membuatku termehek mebel..
syukurlah ternyata bukan.
Hidup memang misteri....
yg penting kita jalani aja semampu kita.
aku suka karyamu thort.
TDK membosankan bcnya.
penuh misteri...ada juga lucunya...🥰🥰🥰
bukan rion
aku curiga...
tapi kenapa dia melindungi qieeen
atau taktiknya aja
ku rasa Romero adalah megguel
ceritamu kerennn thort
cuma aku ngga tau siapa kamu thor...
kurang jelas
rahasia apa di balik pertunangan queen dan Rion...