Happy Ending Love Story adalah sebuah novel dengan berbagai cerita cinta di dalamnya. Setiap judul akan memiliki episode singkat.
Happy Ending Love Story memiliki tema acak dan berfokus pada cerita romansa manis yang pastinya berakhir bahagia.
"Cerita cinta itu memang harus berakhir bahagia, sesuai dengan judulnya Happy Ending Love Story." Eva IM.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva IM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jungkir Balik Dunia Jessy #2
"Perkenalkan ini adalah Jessy, karyawan baru di Jayanegara Group. Jessy perkenalkan dirimu." Ucap kepala karyawan Jayanegara Group.
"Selamat pagi semuanya, perkenalkan aku Jessica. Kalian semua bisa panggil aku Jessy. Mohon bantuannya."
Sesuai dengan janji Juna. Hari ini Jessy mulai bekerja di Jayanegara Group. Dia masuk ke bagian Arsitektur spesialis dekorasi ruangan. Seni adalah hidupnya. Sebelum berangkat ke Inggris Jessy telah menyelesaikan studi sarjananya di jurusan tari. Karena suatu hal dia harus ke Inggris dan disana dia mengambil kuliah lagi jurusan seni design di Royal College of Art London. Memang bukan jurusan arsitektur langsung tapi Juna percaya akan kemampuan adiknya dalam mendekorasi ruangan.
"Hai Jessy salam kenal. Aku Mario."
"Orang baru selalu diterima. Salam kenal dari Ferdi."
"Salam kenal Jessica, aku Doni."
"Aduh Doni beraksi nih, hai Jessy kenalin aku Renatha."
"Iya nih Doni baru-baru udah caper aja. Semoga betah ya Jessy, kenalin juga aku Yola."
Total ada lima orang diruangan untuk bagian arsitektur. Lebih sedikit dari yang Jessy bayangkan. Jayanegara Group adalah perusahaan induk dari Hotel Jayanegara di seluruh Indonesia. Karena kepopulerannya, banyak pihak yang meminta rekanan untuk mendesaign tempat yang akan mereka bangun. Bisa rumah, hotel, atau bangunan lainnya.
Jessy mengikuti kepala karyawan yang menunjukkan kubikel miliknya. Kerja kantornya sejajar dengan tiga seat saling berhadapan.
"Makasih ya Pak." Jessy berterima kasih pada kepala karyawan.
Ruang tempat kerjanya tidak luas namun efisien. Jessy lagi-lagi terpesona akan penataan ruang kantor pusat Jayanegara Group.
Jessy mengamati rekan kerjanya. Kini ruangan itu berisi enam orang yang lima diantaranya tampak sangat sibuk. Hanya dirinya yang masih senggang dan belum tahu apa yang harus dikerjakan.
Tiba-tiba salah satu dari mereka menghampiri Jessy dan mengajak bicara lebih dulu. Mario adalah koordinator mereka, dia dipilih karena usianya yang lebih tua dari mereka. Kemudian ada Renatha dan Ferdi yang seumuran. Doni, Yola dan Jessy ternyata juga sebaya. Mereka mengobrol sebentar tentang jobdesk masing-masing, dan Jessy juga membuka diri. Memperkenalkan dirinya lebih banyak kecuali fakta bahwa dia adalah adik dari CEO atau anak pemilik Jayanegara Group.
"Satu jam lagi tim kita ada rapat dengan tim pemasaran, ada proyek baru." Jelas Mario dengan suara yang lantang. "Kali ini tidak ada pembagian jobdesk. Kita semua akan terlibat termasuk kamu Jess. Kata tim pemasaran ini adalah proyek besar dan bekerjasama dengan perusahaan besar. Aku belum tahu apa proyeknya. Jadi segera bersiap satu jam lagi untuk rapat." Titah Mario yang dibalas dengan anggukan semua rekannya.
"Wah ini baru pertama kali lho Jess kita kerja tim. Biasanya kita dibagi-bagi, paling banyak dua orang satu job. Pasti ini proyek yang besar." Ucap Yola yang duduk di sebelahnya.
"Aku jadi gak sabar La, ini pekerjaan pertamaku." Jantung Jessy berdetak kencang. Hatinya penuh ketika bangun tidur. Membayangkan hidupnya yang normal membuatnya bersemangat.
Ruang rapat dipenuhi dengan anggota tim arsitek dan tim pemasaran. Telah ditetapkan siapa yang akan memimpin proyek ini. Bahkan CEO langsung yang menunjukkan. Jessy diam-diam tersenyum saat melihat kakaknya memberikan pengarahan. Sosok yang berbeda dengan yang dia jumpai di rumah.
Setelah memberi pengarahan singkat langsung pergi meninggalkan ruangan. Acara dilanjutkan dengan diskusi ringan dan pengenalan proyek.
"Proyek ini adalah shopping mall yang akan dibangun di bawah naungan Perusahaan Real Estate Royal Corp."
Jessy yang duduk diujung ruangan tersentak. Ketika tim pemasaran mengeluarkan nama perusahaan Royal Corp tubuhnya langsung bereaksi. Dadanya sesak dan kepalanya seperti ditinju oleh benda tumpul ribuan ton. Matanya melebar saat slide-slide presentasi tampil.
Dengan tangan gemetar Jessy mengambil ponselnya yang tergeletak di meja. Dia mengetik nama Juna kemudian mengirimkan pesan.
Mas kayaknya Jessy gak bisa ambil proyek ini.
Beberapa saat kemudian balasan datang.
Bukan orang itu yang akan menangani proyek ini Jess, setahu mas dia ada di Bali, di kantor pusat. Jadi proyen shopping mall ini ditangani oleh cabang Jakarta.
Jessy membaca pesan balasan Juna dengan mata nanar. Tangannya masih gemetar.
Kenapa masih terima proyek dari perusahaan mereka? Setahu Jessy kita sudah tidak ada hubungan apa-apa.
Balasan dari Juna cepat datang.
Tidak mungkin ditolak Jess. Publik tidak tahu hubungan kita sebenarnya. Ini hanya untuk basa-basi belaka. Kita pikirkan saja keuntungannya. Kita harus profesional Jess.
Jessy mendesah. Dia hanya fokus pada ponselnya.
Kalau ada proyek dari mereka lagi suatu saat nanti, Jessy gak mau ikut ya mas. Ini yang pertama dan terakhir. Jessy anggap ini adalah pelatihan Jessy di dunia arsitektur.
Pandangannya kembali luruh ke arah presentasi tim pemasaran. Tak ada minat sama sekali untuk mendengarkan. Mendengar nama Royal Corp disebut berkali-kali membuat Jessy muak.
Oke Jess. Makasih ya Jess udah mau bantu mas
Jessy menutup ponselnya. Dia tidak membalas pesan kakaknya.
Pertemuan berakhir tepat jam makan siang. Rapat dilanjutkan dengan diskusi para penanggungjawab. Tim arsitek diwakili oleh Mario sedanh anggota yang lain keluar untuk makan siang.
Lima orang dari mereka sepakat untuk makan bareng. Ada banyak cafe dan rumah makan di sekitar kantor. Karena Jessy karyawan baru dan hari ini adalah hari pertamanya masuk kerja, Jessy inisiatif untuk mentraktir teman-temannya makan di cafe.
"Rasanya kuliah di Inggris gimana Jess?" Tanya Doni mengawali.
"Ya gitu deh." Jawab Jessy seraya menggigit donat coklatnya. Cerita di Inggris tidak ingin dia perpanjang.
"Enak ya Jess bisa sekolah di luar negeri." Ucap Yola dengan iri. Dia menyeruput coklat hangatnya. Ucapannya tanpa kedengkian. Hanya iri pada kesempatan.
"Kita pasti bakal sibuk kalau proyek dimulai, aku pernah dengar Royal Corp itu kalau bikin proyek gak main-main." Celetuk Renatha dengan serius. Perhatian semua orang teralihkan ke Renatha.
"Iya betul, aku pernah dengan Royal Corp itu banyak permintaan. Semoga kita bisa solid ya." Ferdi menimpali.
Yang lain kompak mengangguk, termasuk Jessy yang tidak tahu apa-apa.
"Eh CEO Royal Corp baru kan? Isunya cogan lho, masih muda juga." Jelas Yola dengan mata yang berbinar.
"Kent Sadewa ya La? Ya ampun, sudah jadi CEO ya sekarang? Dia viral banget lh**o di IG." Tambah Renatha.
"Follow gak mbak? Aku follow lho, ya ampun ganteng banget tahu..." Puji Yola yang kemudian disambut oleb Renatha.
Terjadilah perbincangan tentang CEO Royal Corp yang baru yang kabarnya ganteng, masih mudah dan sexy. Rendi dan Doni tetap mendengarkan meskipun tidak antusias. Satu-satunya orang yang tidak ingin mendengarkan adalah Jessy.
Bulu kuduknya merinding saat nama Kent Sadewa disebutkan berkali-kali. Rasa nyeri terasa di kepalanya, Jessy ingin pergi. Dia ingin lari. Masa lalu gelap berkelebat di matanya.
Jungkir Balik Dunia Jessy #3 Next...
.bikin cerita juna juga dung thor
mampir lagi ..
suka alur ya. ni aku baca karya kakak lagi.. sehat selalu