Annisa, seorang TKI dari Indonesia, merantau ke Tiongkok untuk mencari nafkah. Ia bekerja sebagai pembantu di kediaman Chensi—seorang pengusaha kaya raya, pemimpin perusahaan raksasa, dan dikenal sebagai sosok yang kejam, dingin, serta tak ada yang berani menentangnya. Hidup Annisa terasa penuh ketakutan hingga suatu malam, Chensi pulang dalam keadaan mabuk berat dan melakukan perbuatan keji yang merenggut kehormatannya. Kejadian itu membuat Annisa hamil, memaksanya menghadapi pilihan sulit: bertahan atau kembali pulang dengan membawa beban yang tak terbayangkan. Akankah sang tiran yang dingin itu akhirnya berubah, atau justru menambah penderitaan bagi Annisa dan janin di dalam kandungannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diam-diam mencari pak ustadz
Sejak percakapan yang menyakitkan itu, suasana di antara mereka terasa berbeda. Annisa secara sadar menjaga jarak lebih jauh—tidak lagi manja, tidak lagi menggandeng tangan, bahkan saat berbicara pun suaranya lebih sopan dan terpisah. Bukan karena ia tidak mencintai, justru karena rasa cintanya semakin besar, ia takut terjebak lebih dalam hingga melupakan batas yang ia yakini dan takut khilaf.
“Lebih baik menjaga hati dan iman, daripada memiliki segalanya namun kehilangan arah,” batinnya setiap kali rasa rindu itu muncul. “Jika harus memilih antara dia dan Tuhanku, maka aku harus tetap setia pada Yang Maha Menjaga nyawaku ini.”
Sementara itu, di sisi lain, Chensi tidak bisa berhenti memikirkan kata‑kata Annisa. Pertanyaan itu terus terngiang di kepalanya. Kenapa harus dia yang mengikuti jalanku? Kenapa tidak aku yang memahami jalannya?
Suatu sore, ia memanggil Li Wei ke ruang kerjanya, menutup pintu rapat‑rapat agar tidak ada yang mendengar.
“Li Wei, carikan seseorang untukku. Seorang pemuka agama yang memahami ajaran yang dianut Annisa—orang yang bijaksana, tidak memihak, dan bisa menjelaskan dengan jujur tanpa memaksa. Carilah secara diam‑diam, jangan sampai ada orang lain yang tahu, apalagi Annisa sendiri.”
Li Wei terkejut, namun hanya mengangguk patuh. “Baik, Tuan. Saya akan mencarinya dengan hati‑hati.”
Dua hari kemudian, Li Wei kembali membawa kabar. Ia menemukan seorang tokoh agama yang dihormati, bernama Pak Chen Liang. Ia tinggal di sebuah lingkungan perumahan tenang di pinggiran kota, disana mayoritasnya terkenal muslim semua. Sudah lama menetap dan dikenal luas karena kebijaksanaannya. Ia bisa berbicara dengan lancar dalam bahasa Mandarin maupun bahasa Indonesia, sehingga akan lebih mudah menjelaskan segala hal secara rinci.
Malam itu juga, Chensi berangkat sendirian, tanpa pengawal berlebih, hanya ditemani Li Wei. Ia tiba di sebuah rumah sederhana namun rapi dan bersih. Di sana ia bertemu dengan Pak Chen Liang, lelaki paruh baya yang berwajah teduh, tatapannya lembut namun tajam memandang ke dalam hati.
Dengan jujur, Chensi menceritakan semuanya—perjumpaan dengan Annisa, perbedaan keyakinan, rasa sayang yang tumbuh, dan pertanyaan yang menghantuinya.
“Guru, saya ingin tahu perbedaannya. Saya ingin mengerti apa yang membuat Annisa memegang teguh jalan ini, dan apakah ada kebenaran yang belum saya lihat selama ini,” ucapnya tulus.
Pak Chen Liang tersenyum lembut, lalu mulai menjelaskan semuanya dalam bahasa Mandarin yang jelas dan mudah dipahami. Ia menjelaskan inti ajaran, tentang keesaan Tuhan Yang Maha Esa, tentang kewajiban menjaga kehormatan diri dan orang lain, tentang makna ikatan pernikahan yang suci dan teratur, serta tentang bagaimana setiap hubungan manusia harus berlandaskan pada aturan yang menjaga kebaikan dan ketenangan hati.
Ia juga menjelaskan perbedaan mendasar antara ajaran yang selama ini Chensi kenal dengan ajaran yang dianut Annisa—bukan hanya soal cara beribadah, tapi juga pandangan tentang asal usul manusia, tujuan hidup, dan cara menjalin hubungan dengan sesama.
Semakin lama Chensi mendengar, semakin ia merasa ada ketenangan yang masuk ke dalam hatinya. Semua nilai yang ia cari selama ini—keadilan, kejujuran, kesetiaan, perlindungan bagi yang lemah—ternyata terangkum dengan sempurna dalam ajaran ini. Ia mulai melihat bahwa ajaran ini bukan sekadar aturan yang membatasi, melainkan panduan hidup yang menjaga hati dan kehormatan manusia agar tidak terjerumus ke dalam kesesatan dan penyesalan.
“Ini terasa lebih nyata, lebih masuk akal, dan lebih menjawab segala pertanyaan yang ada di kepalaku,” batinnya. “Ajaran ini tidak memaksa, tapi memberikan jalan yang jelas agar hati tetap tenang dan hubungan tetap terjaga.”
Setelah berdiskusi selama berjam‑jam, Chensi pulang dengan pikiran yang jauh lebih terang. Ia tidak langsung mengambil keputusan besar, namun rasa ingin tahunya kini berubah menjadi keyakinan yang mulai tumbuh. Setiap hari ia menyempatkan waktu untuk bertanya, membaca, dan mempelajari lebih dalam, semuanya secara diam‑diam agar tidak membuat Annisa terkejut atau merasa tertekan.
Namun di sisi lain, jarak yang dibuat Annisa justru semakin terasa. Setiap kali Chensi ingin mendekat, gadis itu akan mundur selangkah, dengan alasan butuh istirahat atau ingin beribadah.
Suatu sore, Chensi memberanikan diri bertanya dengan nada sedih. “Kenapa kau menjauh, Annisa? Apakah aku sudah menyakiti hatimu lagi?”
Annisa menunduk, suaranya lembut namun tegas. “Bukan karena Tuan menyakiti saya, Tuan. Justru karena rasa sayang ini semakin besar, saya takut. Saya takut suatu saat nanti saya melupakan batas, melanggar aturan yang saya yakini, hanya karena mengikuti keinginan hati. Lebih baik saya menjaga jarak sekarang, daripada nanti harus menanggung rasa bersalah selamanya. Jika suatu saat saya harus memilih antara Tuhan dan Tuan… saya harus tetap memilih Tuhan yang telah menciptakan saya dan memberikan hidup ini.”
Kata‑kata itu menyentuh hati Chensi lebih dalam dari sebelumnya. Ia mengerti sekarang—keteguhan Annisa bukanlah sikap keras kepala, melainkan bentuk kesetiaan pada jalan yang diyakini benar. Imannya begitu kuat, sehingga dia rela meninggalkan orang yang dia cintai demi meneguhkan rasa cintanya pada sang pemilik hidupnya.
“Terima kasih sudah jujur,” jawabnya pelan. “Kau mengajarkanku satu hal lagi, bahwa iman itu bukan sekadar kata‑kata, tapi sesuatu yang dipegang teguh meski harus mengorbankan perasaan sendiri.”
Malam itu, Chensi kembali membuka buku ajaran Annisa, namun kali ini ia membacanya dengan pandangan yang berbeda—bukan hanya ingin mengerti, tapi mulai mencari kebenaran yang bisa menjawab pertanyaan hidupnya sekaligus menyatukan hati mereka berdua.