Kehidupan rumah tangga Riana baik-baik saja, sampai suatu malam dia tak sengaja bertemu dengan Almeer. Seorang pemuda yang hadir ke dalam hidupnya dan membuat biduk rumah tangganya menjadi kacau.
Rumah tangga Riana tak dapat lagi diselamatkan, setelah suaminya mengetahui Riana sedang mengandung anak dari pria lain.
Bagaimana lika-liku percintaan Riana dan Almeer?
Akankah mereka menemukan kebahagiaan?
Salahkah apa yang Riana lakukan?
Ikuti kisah selengkapnya.
Follow IG : @poel_story27
Cover By : @wnc_design_didesc
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poel Story27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Licik Nyonya Agnes
Almeer kembali mendekatkan wajahnya, ingin mengulang apa yang baru saja mereka lakukan. Bibir manis Riana seolah menjadi candu baginya, dia ingin merasakan hangat dan dalamnya pergelutan memabukkan itu lagi dan lagi.
"Al, angkat dulu telponnya!" Riana memalingkan wajah, sembari mengatur deru napas yang belum beraturan.
Di sela-sela itu Riana juga mengutuk dirinya sendiri, yang begitu mudah hanyut dalam permainan Almeer. Apa mungkin penyebabnya adalah hormon dalam dirinya yang tidak bisa dibohongi? Bisa Jadi. Sebagai wanita dewasa, dia memang sudah lama merindukan sentuhan-sentuhan penuh cinta yang merupakan kebutuhan setiap orang tersebut.
Sementara itu Almeer mendecakkan bibirnya, panggilan tidak tepat waktu itu membuat permainannya terasa kentang, di saat ciuman yang mereka lakukan sedang panas-panasnya.
"Ada apa?" tanya Almeer dengan sedikit geram setelah panggilannya terhubung.
"Astaga, Bang. Za mau berangkat sekarang, apa Abang nggak mau ketemu ponakan Abang dulu?" sungut Aeyza, karena Almeer baru menjawab pangilannya setelah panggilan ke empat.
Almeer menepuk dahinya. "Ah, maaf, Za. Abang lupa, kamu di mana? Abang ke sana sekarang, ya."
"Di terminal, ya udh Abang datang sekarang, ini udah mau berangkat," balas Aeyza.
Almeer menutup panggilannya, lantas menyalakan mobilnya kembali.
"Za kenapa, Al?" tanya Riana.
"Dia mau pulang ke kampung suaminya, dan akan berangkat sekarang," jawab Almeer yang kini befokus pada jalan yang ditempuh mobilnya.
Riana hanya berdehem, setidaknya dengan kejadian ini dia bisa selamat dari permainan Almeer yang memabukkan. Dia sudah berjanji pada diri sendiri, baru mau melakukannya lagi jika mereka sudah menikah, hanya saja apa yang dilakukan Almeer tadi berhasil membuatnya kehilangan kendali, dan ikut mengharapkan lebih.
Mobil yang dikendarai Almeer melaju dengan cepat, hingga kurang dari satu jam, mereka sudah berhasil sampai di terminal keberangkatan Aeyza.
Hati Almeer teriris melihat kenyataan ini, sakit karena penghinaan mommynya membawa Aeyza membulatkan tekad untuk melepaskan semuanya.
Bahkan untuk keberangkatannya pun, Aeyza harus menggunakan transportasi umum, sesuatu yang belum pernah Aeyza rasakan seumur hidupnya.
Almeer memeluk erat adik satu-satunya itu, dengan perasaan rela tak rela, karena sebentar lagi mereka akan hidup berjauh-jauhan.
"Kamu baik-baik di sana ya, Za. Sering-sering kasih kabar," pesan Almeer sembari mengusap kepala adiknya.
"Iya, Bang," sahut Aeyza lirih, kalau bukan kecewa karena sikap keluarganya, dia juga tidak mau berpisah jauh dari saudaranya itu.
Almeer mengurai pelukannya, lalu beralih pada Zian yang sedang menggendong bayinya yang masih berumur 2-minggu. Seharusnya bayi di umur segitu belum direkomendasikan untuk melakukan perjalanan jauh, tapi tuntutan keadaan membuat mereka bertekad untuk melakukan keberangkatan.
"Jaga Aeyza dan Zico baik-baik. Za sudah memilih kamu sebagai panutannya, jangan membuatnya kecewa apa lagi menyakitinya. Karena aku pasti akan mencarimu," pesan Almeer sembari menepuk bahu adik iparnya.
"Iya, Bang. Aku pasti akan menjaga mereka," sahut Zian sembari tersenyum getir, mendengar pesan kakak iparnya yang bernada ancaman.
Sementara itu Aeyza dan Riana tampak berbincang akrab, sembari menunggu keberangkatan busnya yang hanya beberapa saat lagi.
Selang beberapa menit kemudian perpisahan itu benar-benar terjadi, bus yang ditumpangi Aezya dan suaminya perlahan beranjak meninggalkan terminal, hanya do'a yang bisa Almeer panjatkan untuk melepas kepergian adiknya itu, dan berharap mereka bisa berkumpul lagi suatu saat nanti.
Selepas keberangkatan itu, Almeer dan Riana juga beranjak meninggalkan terminal. Dan langsung mengantar Riana pulang ke rumahnya.
***
Nyonya Agnes pulang ke mansionnya dengan wajah masam, dia kesal karena putranya secara terang-terang memilih membela orang lain, dibanding mendengarkan perintahnya.
Tiba di kamarnya nyonya Agnes memilih mandi, demi meredakan emosi jiwa dan raga yang sedang melandanya.
Saat keluar dari kamar mandi, nyonya Agnes mendapati suaminya sudah pulang, dengan raut wajah yang tak kalah kusutnya dengan dirinya tadi.
"Daddy kenapa?" tanya nyonya Agnes heran.
Tuan Adrian menghela napas berat, lalu mendudukkan diri di pinggiran ranjangnya.
"Zian, pemuda miskin yang tidak tahu diri itu mengundurkan diri dari kantor, sombong sekali hidupnya," jawab tuan Adrian dengan nada geram.
"Zian mengundurkan diri?" Nyonya Agnes mengulang pernyataan sang suami, karena merasa sulit untuk mempercayainya.
Tapi pertanyaan itu langsung dijawab anggukan oleh tuan Adrian.
"Ck, percaya diri sekali dia. Memangnya dia pikir mampu menafkahi putri kita, tanpa bantuan dari kita!" sinis nyonya Anges.
"Lalu sekarang kita harus bagaimana? Tidak mungkin di umur yang setua ini daddy harus memegang penuh tanggung jawab perusahaan," keluh tuan Adrian lesu.
Nyonya Agnes terdiam, dia memijat pelipis karena kepalanya semakin pusing. Belum hilang kekesalannya karena putranya yang membangkang, kini malah ditambah menantunya yang membuat ulah.
Seperti mendapatkan kepercayaan dirinya kembali, nyonya Agnes menatap suaminya dengan penuh keyakinan. "Daddy tenang saja, ini tidak akan lama. Paling-paling dua atau tiga hari lagi, Za pasti akan datang merengek untuk meminta bantuan kita."
Tuan Adrian menggelengkan kepala. "Tidak, itu tidak mungkin. Sekarang saja Za sudah berangkat ke kampung suaminya itu, dia lebih memilih hidup sengsara bersama suami miskinnya."
"Apa? Za mau diajak pergi oleh suaminya, untuk tinggal di kampung? Tidak putriku tidak boleh hidup sengsara," desah nyonya Agnes.
Meskipun selalu bertindak semena-mena kepada putra dan putrinya, tapi sebenarnya nyonya Agnes sangat menyayangi keduanya, hanya saja dia tidak menyadari apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh anak-anaknya.
"Kita harus membawa Za kembali, Dad. Ini tidak boleh dibiarkan," sesal nyonya Agnes.
"Dia tidak akan kembali lagi, kecuali Almeer yang membujuknya," sahut tuan Adrian.
Nyonya Agnes terdiam sebentar, kemudian menatap suaminya dengan pandangan berbinar. Dia baru saja mendapatkan sebuah rencana agar putranya kembali, sekaligus memisahkannya dengan Riana secara halus.
"Dad, mommy punya ide," ujar nyonya Agnes, lalu membisikkan akal liciknya pada sang suami.
Bersambung.
Maaf, ya, upnya jadi keteter. Karna aku lagi sakit, ini juga belum sembuh sebenarnya.
Untuk novel "Cinta Untuk Luna 2" sabar dulu ya, aku belum bisa up.
Mohon pengertiannya.
semangaaaat semua perempuan