NovelToon NovelToon
Kau Berkhianat, Aku Membalas!

Kau Berkhianat, Aku Membalas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami
Popularitas:20k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Velicia, seorang wanita yang sedang hamil delapan bulan, dipermalukan dan disiksa oleh suaminya sendiri. Michael adalah Bos Mafia yang lebih mempercayai wanita lain bernama Sania, dibanding istrinya sendiri.

Dituduh tanpa bukti dan dipaksa berlutut di depan wanita yang membencinya, Velicia akhirnya menyadari bahwa cinta yang ia perjuangkan selama dua tahun hanyalah ilusi.

Namun Michael tidak tahu satu hal, Velicia bukan wanita biasa. Di balik diam dan lukanya, ia menyimpan identitas tersembunyi sebagai bagian dari dunia mafia yang jauh lebih gelap dari keluarga Kensington.

Saat Michael akhirnya menyesal, akankah Velicia memaafkannya dan kembali padanya? Atau memilih pria lain yang datang di waktu yang tepat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter — 15.

Langit malam diselimuti hujan ketika rapat rahasia berlangsung di salah satu gedung milik Moretti Syndicate.

Dante Moretti duduk di ujung meja panjang, dan di sisi kanan duduk Michael Kensington. Puluhan petinggi organisasi memenuhi ruangan, peta wilayah kota terpampang di layar besar. Beberapa area diberi tanda merah, itu adalah wilayah organisasi Romanov dan wilayah milik Lorenzo Sullivan. Kedua wilayah adalah target operasi mereka.

"Kita mulai dari pelabuhan timur." Salah satu bawahan Moretti menunjuk layar. "Itu salah satu jalur distribusi terbesar milik Sullivan."

Michael memperhatikan tanpa bicara.

"Dua gudang senjata. Tiga pusat logistik. Satu pelabuhan utama. Kita pukul semuanya dalam waktu bersamaan."

Beberapa orang langsung mengangguk, namun Michael mengangkat tangan. "Tidak!"

Dante mengerenyit, bibirnya menipis tajam.

Michael berdiri, dia menatap dingin pada orang-orang yang ada di ruangan. "Romanov akan langsung tahu. Kalau kita menyerang terlalu banyak titik sekaligus, mereka akan menutup seluruh jalur sebelum kita menyentuh target utama."

"Lalu?" Dante menyipitkan matanya.

Michael menunjuk salah satu wilayah. "Kita buat mereka lengah, serang gudang kecil ini."

Beberapa orang terlihat bingung.

"Itu bukan target penting."

"Itu lah tujuannya! Biarkan mereka berpikir itu hanya provokasi kecil." Tatapan Michael berubah tajam, jarinya berpindah ke titik lain. "Setelah mereka mengalihkan pasukan... baru kita potong pelabuhan timur."

Dante perlahan tersenyum, karena inilah Michael Kensington yang dikenal dunia bawah. Dingin, kejam daan sangat berbahaya.

...*****...

Sementara itu, di Romanov Estate.

Ruang rapat utama yang luas itu dipenuhi para petinggi keluarga Romanov. Suasananya tenang, tetapi ketegangan terasa jelas di udara.

"Mereka mulai bergerak." Seseorang menaruh sebuah map di depan Velicia.

Velicia membuka laporan itu dan membaca isinya dengan cepat. Wajahnya tetap tenang meski laporan tersebut berisi kabar buruk.

"Gudang kecil?" tanyanya singkat.

Leon mengangguk. "Ya, salah satu gudang distribusi di pelabuhan timur diserang dini hari tadi. Kerugian material tidak besar, tetapi kita kehilangan tujuh orang."

Ruangan langsung hening, tujuh orang. Bagi organisasi lain, itu mungkin sudah cukup untuk memicu perang terbuka. Namun Velicia hanya menutup berkas itu perlahan.

"Mereka sedang menguji reaksi kita."

Leon tersenyum tipis. "Sama seperti yang diperkirakan Ayah."

Velicia menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tatapannya mengarah ke jendela besar di belakang ruangan, memperlihatkan hamparan perkebunan luas milik keluarga Romanov.

"Jangan balas mereka."

Beberapa petinggi langsung saling bertukar pandang, salah satu dari mereka akhirnya angkat bicara. "Nona, mereka telah membunuh tujuh orang kita."

"Mereka menyerang gudang kecil yang tidak penting, mereka sengaja memilih target yang mudah disentuh." Sudut bibir Velicia terangkat tipis. "Mereka ingin melihat... seberapa cepat Romanov bereaksi."

Leon menyilangkan tangan di dada. "Jadi kita diam saja?"

"Bukan diam, kita memberi mereka apa yang ingin mereka lihat." Velicia tersenyum tipis.

"Apa maksud Anda?" tanya salah satu petinggi.

"Biarkan mereka melihat kelemahan kita. Kirim pesan ke seluruh jaringan, katakan bahwa Romanov memilih untuk menahan diri." Velicia menutup laporan itu lalu berdiri.

Beberapa orang langsung mengernyit, mereka seperti keberatan. "Itu akan membuat kita terlihat lemah."

Velicia menatap mereka satu per satu, tatapan matanya dingin. "Itu justru bagus. Seseorang yang merasa lawannya lemah, akan membuat lebih banyak kesalahan."

Kali ini, tak ada yang membantah. Lalu perlahan, satu per satu para petinggi Romanov tersenyum. Mereka akhirnya mengerti, Velicia tidak sedang menghindari perang. Wanita itu sedang mengundang musuhnya melangkah lebih jauh ke dalam jebakan. Dan ketika jebakan itu akhirnya tertutup, sudah terlambat untuk melarikan diri.

..._____...

Lorenzo Sullivan sedang berdiri di depan jendela kantornya, saat salah satu anak buah masuk tergesa-gesa.

"Tuan, gudang sektor selatan diserang."

Lorenzo tetap terlihat tenang. "Korban?"

"Lima orang."

"Pelakunya?"

"Orang Moretti."

Lorenzo tersenyum tipis, senyuman yang membuat bawahannya langsung merinding. Karena mereka tahu, semakin tenang Lorenzo... dia semakin berbahaya.

"Mereka akhirnya bergerak. Kumpulkan semua kapten!" Pria itu mengambil jasnya.

"Ya, Tuan."

Lorenzo berjalan menuju pintu, tatapannya berubah dingin. "Sekarang giliranku."

Malam berikutnya.

Sebuah konvoi milik organisasi Moretti melintasi jalan industri, ada tiga belas kendaraan membawa senjata dan uang tunai. Tidak ada yang menyadari sesuatu, sampai suara ledakan mengguncang jalan.

BOOOOM!

Mobil paling depan meledak, seketika api membumbung tinggi. Konvoi berhenti mendadak, para pengawal keluar dengan wajah panik. Namun tembakan sudah datang dari segala arah.

DOR!

DOR!

DOR!

Jeritan memenuhi pekatnya malam, tubuh-tubuh berjatuhan satu demi satu. Tidak sampai lima menit, semuanya selesai. Salah satu pria Moretti yang masih hidup merangkak di antara genangan darah. Tubuhnya dipenuhi luka, ia sedang berusaha mengambil senjata.

Namun sebuah sepatu hitam menginjak tangannya.

KRAK!

Tulang tangannya langsung patah, pria itu berteriak kesakitan. Ia perlahan mendongak, wajahnya langsung pucat. Lorenzo Sullivan berdiri di depannya, tatapannya dingin tanpa emosi.

"Siapa yang mengirim kalian?"

Pria itu gemetar hebat. "T-Tuan Moretti..."

Lorenzo tersenyum tipis, kemudian mengeluarkan pistol.

DOR!

Kepala pria itu langsung pecah.

Keesokan paginya...

Dante menerima kabar tersebut, wajahnya langsung gelap. "Dua puluh tiga orang?"

"Ya, Tuan."

"Dan seluruh kiriman?"

"Hilang."

Brak!

Dante menghancurkan gelas di tangannya, pecahan kaca berhamburan.

"Brengsek!"

Michael yang duduk di seberangnya terlihat tenang. "Mereka membalas lebih cepat dari perkiraan."

Dante menatap tajam. "Lalu?"

"Kita lanjutkan."

Dante mengerutkan kening, Michael melanjutkan. "Kalau kita berhenti sekarang, kita kalah."

Beberapa detik berlalu, lalu Dante tersenyum. Mereka belum kalah, karena perang baru saja dimulai.

...*****...

Di Romanov Estate.

Velicia sedang menggendong Vincenzo yang baru tertidur, suasana kamar terasa damai. Sangat kontras dengan kekacauan di luar sana.

Pintu terbuka pelan, Antonio masuk.

"Michael turun langsung."

"Aku sudah menduganya." Velicia tidak terkejut.

Antonio menyandarkan tubuh ke dinding. "Dia berubah."

"Tidak, Michael tidak berubah." Velicia menggeleng.

Antonio mengangkat alis.

Velicia menatap putranya dengan lembut. Wajah kecil itu sangat mirip dengan Michael, seolah menjadi pengingat yang tidak bisa dihindari. Namun seorang anak tidak pernah bisa memilih siapa ayahnya.

Senyum tipis terukir di bibir Velicia, tetapi tidak mencapai matanya. "Dulu, dia melakukan apa saja demi Sania. Sekarang... dia akan melakukan apa saja demi mendapatkan apa yang dia inginkan. Aku tahu apa yang ada di pikirannya, dia ingin mendapatkanku kembali.”

Antonio langsung mengerti maksud adiknya, Michael memang menyesal. Namun penyesalan itu perlahan berubah menjadi obsesi. Dan obsesi... jauh lebih berbahaya.

Malam itu setelah kakaknya pergi dan anaknya tertidur pulas, Velicia berdiri sendirian di balkon. Angin dingin berhembus pelan. Tatapannya mengarah ke kota, ke medan perang yang semakin membesar.

Suara langkah kaki terdengar mendekat dari belakang. Tanpa perlu menoleh, Velicia sudah tahu siapa yang datang. Lorenzo berhenti di sampingnya, menatap pemandangan yang sama ke arah halaman Romanov Estate.

"Aku dengar Moretti kehilangan dua puluh tiga orang, jumlahnya jauh lebih banyak daripada kita."

Sudut bibir Velicia terangkat tipis. "Kau bergerak lebih cepat dari yang kuduga."

"Mereka terlalu berisik."

Keheningan muncul sesaat, lalu Lorenzo menatap wanita itu. "Kau tidak marah pada Michael?"

"Tidak." Tatapan Velicia masih mengarah ke langit saat menjawab pria itu.

"Kenapa?"

Karena biasanya pengkhianatan seperti itu akan memancing kemarahan besar, namun tidak pada Velicia.

"Aku sudah berhenti mengharapkan apa pun darinya."

Jawaban wanita itu membuat Lorenzo terdiam. Karena bagi seseorang seperti Velicia, ketidakpedulian jauh lebih mengerikan daripada kebencian. Itu berarti hubungan wanita itu dengan Michael benar-benar telah berakhir.

Sementara...

Di ruang kerjanya, Michael duduk dalam diam sambil menatap sebuah foto lama di tangannya, foto yang baru saja berhasil ia temukan.

Foto itu diambil dua tahun lalu, setelah ia mencarinya dengan susah payah. Di dalam foto tersebut, Velicia berdiri di sampingnya dengan senyum lembut yang menghiasi wajahnya. Saat itu, mata wanita itu masih dipenuhi cinta setiap kali memandangnya.

Michael menggenggam foto itu erat, sampai sudutnya kusut. "Aku tidak akan menyerah, aku akan membawamu pulang."

Suara pria itu rendah, penuh obsesi. Namun Michael tidak menyadari satu hal. Semakin jauh ia melangkah ke dalam perang ini, semakin besar kemungkinan Velicia akan membencinya untuk selamanya. Dan ketika hari itu tiba... bahkan penyesalan pun tidak akan cukup untuk menyelamatkannya.

1
ρυтяσ kang'typo✨
Alhamdulillah... Lorenzo sudah sadar , buka hati mu Velicia
ρυтяσ kang'typo✨
semoga Lorenzo bisa selamat
Ariany Sudjana
puji Tuhan, Lorenzo sudah mulai sadar
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih.
ρυтяσ kang'typo✨
wow keren thor... makin seru aja, semangat terus yaaaaaa
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih.
ρυтяσ kang'typo✨
(perasaan itu masih bisa tumbuh kembali pada orang lain)

apa g nyesek tuh Michael 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rere🌠: Nyesssss 🤣🤣🤣
total 1 replies
ρυтяσ kang'typo✨
Lorenzo... u. harus lebih percaya diri lagi dan jangan pernah menyerah untuk mendapatkan Velicia
ρυтяσ kang'typo✨
ok trimakasih ka....terus semangat yaaaa
Ariany Sudjana
Sania kenapa kamu harus marah sama velicia? velicia itu putri konglomerat, dan kelasnya jauh di atas kamu, yang hanya pelacur murahan 🤣🤣😂😂 dan tempat yang pantas buat kamu ya di tempat sampah 🤣🤣😂😂
Rere🌠: Udah bener di tempat sampah, skrg malah mau gaul sm kubangan darah. ampun dah ah🤣
total 1 replies
MataPanda?_
semangat trus kak lanjut terus 😅💪
gina altira
Sania ga ada kapoknya
Rere🌠: Mau jadi ratu kyk Velicia, ngimpi kali ah😬😬😬
total 1 replies
gina altira
lanjutt
gina altira
Michael bodoh
gina altira
Michael terlalu percaya diri
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih.
Diana Dwiari
pemain catur yang sangat handal....
ρυтяσ kang'typo✨
Sania mau main" sama Velicia🤣🤣🤣salah pilih lawan oooyyy
ρυтяσ kang'typo✨
hayo loh.... siapa kah yang menyerang di balik kekacauan yang sedang terjadi saat ini🤔🤔🤔
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!